
"Siapa orang yang kamu panggil nyonya di sambungan telepon tadi?" tanya Suci.
"Apa maksudmu? Kamu pasti salah dengar. Aku sedang mengobrol dengan kawanku," bantah Zola.
"Kamu tidak usah bohong. Aku mendengar sendiri kamu memanggil nyonya tadi."
"Sepertinya pendengaranmu sudah bermasalah."
"Jangan sembarangan kalau bicara. Telingaku masih normal kok. Aku tidak mungkin salah dengar," bantah Suci.
"Minggir! Aku mau ke belakang!" Zola berlalu dari hadapan Suci lalu berjalan menuju taman belakang.
Meskipun nyonya Sofia sudah tidak tinggal di rumah ini, bukan berarti semuanya aman. Bisa saja nyonya Sofia yang picik itu justru berniat balas dendam dengan menggunakan tangan Zola.
****
Sore harinya.
Suci dan mbok Asih tengah berada di kamar Arsen. Keduanya terlihat tengah mengajari Arsen berjalan.
"Ayo, Sayang. Ke sini. Nanti mbak Suci kasih Hadiah."
"Tuan muda ke sini," ucap mbok Asih dari sudut yang lain.
Dengan langkah perlahan Arsen menginjakkan kaki mungilnya di atas lantai lalu menuju mbok Asih yang sudah bersiap menjemputnya di sudut sana. Ia lalu kembali menuju Suci, begitu seterusnya hingga langkah kakinya mulai cepat.
"Tuan muda hebat! Sudah bisa berjalan."
"Plok plok plok!" Suci memberi tepuk tangan yang ditanggapi sang tuan muda dengan senyum lebarnya hingga memperlihatkan deretan giginya yang baru tumbuh empat biji.
Di saat itulah Ray melintas.
"Ada apa ini? Sepertinya saya mendengar suara tepuk tangan," ucapnya.
"Ini, Tuan. Tuan muda sudah lancar berjalan," jelas Suci.
"Anak pintar." Ray membopong tubuh mungil itu lalu mengecup pipinya. Bukannya senang karena mendapatkan kecupan lembut dari sang ayah, Arsen justru menangis.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Suci.
"Takut …takut."
"Takut? Apa yang kamu takuti? Dia ayah kamu, Sayang."
"Takut … takut," ucapnya seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Ray. Suci tersenyum tipis. Kini dia paham apa yang membuat bayi tampan itu menangis ketakutan.
"Ehm … sepertinya saya tahu apa yang membuat tuan muda menangis."
"Apa?"
"Jambang di wajah Tuan."
"Astaga, Arsen. Masa begini saja takut."
"Tidak ada salahnya Tuan mencukur jambang di wajah Tuan agar terlihat lebih rapi," ucap mbok Asih.
"Saya ke kamar dulu," ucap Rayyan sembari berlalu meninggalkan kamar Arsen.
"Sepertinya tuan Rayyan belum bosan memelihara jambangnya," ucap mbok Asih sesaat setelah Ray berlalu.
"Aku heran, mengapa tuan Rayyan begitu menyayangi jambangnya. Bagus nggak, serem iya. Arsen saja sampai ketakutan lihat bapaknya sendiri," ucap Suci.
"Sepertinya sampai saat ini tuan Ray masih belum bisa mup on dari mendiang nyonya Arini."
"Move on, Mbok," ralat Suci.
"Ya, pokoknya itu. Mungkin dia mau merubah kembali penampilannya saat dia menemukan sosok pengganti nyonya Arini."
"Oh ya, Mbok. Aku curiga pada Zola."
__ADS_1
"Curiga kenapa, Nduk?"
"Siang tadi aku sempat mendengar Zola berbicara dengan seseorang. Dia memanggil lawan bicara dengan sebutan nyonya. Apa mungkin itu nyonya Sofia?"
"Memangnya apa yang mereka bicarakan di sambungan telepon?" tanya Mbok Asih.
"Aku tidak sempat mendengar percakapan mereka, hanya saja sebelum menutup teleponnya, Zola memanggil orang itu dengan sebutan nyonya. Aku curiga meskipun Nyonya Sofia tidak lagi tinggal di rumah ini, dia belum menyerah untuk menghancurkan tuan Ray meskipun tidak dengan tangannya sendiri."
"Pemikiranmu masuk akal juga, Nduk. Mbok mengenal betul sifat nyonya. Dia perempuan yang ambisius dan obsesif. Jika menginginkan sesuatu, harus ia dapatkan bagaimanapun caranya."
"Jadi apa yang harus kita lakukan Mbok?"
"Kita berdua harus lebih mengawasi Zola," ucap mbok Asih. Suci mengangguk setuju.
"Ya sudah, mbok mau buatin minuman dulu untuk tuan Ray."
Mbok Asih pun lantas meninggalkan kamar Arsen.
Mbok Asih terlihat membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang hendak ia bawa ke menuju kamar Rayyan. Namun langkahnya berhenti saat melintasi ruang kerja majikannya itu. Zola terlihat berjalan mengendap-endap di depan ruangan tersebut.
"Zola! Kamu ngapain di sini?" tanyanya.
Zola yang membawa sapu lantai itu pun cepat-cepat bersikap sekolah tengah membersihkan lantai di depan ruangan tersebut.
"Memangnya Mbok nggak lihat aku lagi ngapain? Pakai ditanya,"gerutunya.
"Mbok tadi lihat sendiri kok kamu berjalan mengendap-ngendap seperti sedang memperhatikan sesuatu di dalam ruangan ini."
"Kenapa aku harus berjalan mengendap-endap? Kurang kerjaan saja."
"Mbok Asih berlalu dari hadapan Zola dan menuju kamar Ray."
"Minum nya, Tuan," ucap mbok Asih seraya membuka pintu.
"Taruh saja di meja, Mbok. Nanti saya minum."
Rayyan terlihat tengah mengamati pantulan wajahnya sendiri di cermin meja riasnya.
"Ya, Tuan."
"Apa wajah saya menakutkan dengan jambang ini?" tanyanya.
Mbok Asih mengulas senyum.
"Menakutkan sih tidak, hanya saja Tuan terlihat lebih baik jika berpenampilan rapi seperti dulu, saat nyonya Arini masih hidup."
"Arini, …" Tiba-tiba raut wajah Ray berubah sedih.
"Ma-ma-af, Tuan. Saya tidak bermaksud mengingatkan Tuan pada mendiang nyonya Arini. Saya hanya, …"
"Tidak apa, Mbok. Nyatanya setelah dia pergi meninggalkan saya, saya malas untuk merawat diri saya sendiri. Tidak ada yang marah-marah saat rambut saya mulai lebat, tidak ada yang diam-diam mencukur kumis saya saat saya tidur, dan tidak ada yang menegur saya saat saya memakai kaos lengan pendek. Arini selalu membuat saya tampil sempurna. Kini di telah tiada, aku tidak lagi peduli pada penampilanku."
"Setidaknya rubah lah penampilan Tuan demi tuan muda Arsen. Tuan pasti tidak mau dia selalu ketakutan saat melihat Tuan 'bukan?"
Ray hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, Tuan. Tadi Suci bicara pada saya. Dia mengatakan mendengar Zola berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dia memanggil lawan bicaranya dengan sebutan nyonya. Saya curiga nyonya yang dimaksud itu adalah nyonya Sofia. Barusan saya juga melihat Zola tengah mengendap-ngendap di depan ruang kerja Tuan. Entah mengapa saya merasa jika nyonya Sofia masih menyimpan niat buruk pada Tuan. Meskipun tidak lagi tinggal di sini, bukan tidak mungkin dia menggunakan Zola sebagai tangan untuk menghancurkan Tuan," ungkap mbok Asih.
"Jadi, menurut Mbok, apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus memberhentikan Zola?"
"Zola pasti menolak jika Tuan memberhentikannya tanpa alasan yang jelas. Kita lihat saja, jika memang omongan saya dan Suci terbukti, Tuan bisa langsung memberhentikannya."
"Baik, Mbok. Saya setuju dengan usul Mbok."
*****
Sementara itu di rumah Aldi dan Kanaya.
Sore itu Aldi pulang lebih dulu dari Kanaya. Berusaha merebut perhatiannya, Widya pun menyambutnya dengan membuatkan secangkir kopi untuk suaminya Itu.
__ADS_1
"Kopinya diminum, Mas," ucapnya.
"Aldi yang tengah asyik memainkan ponselnya itu tak sedikitpun melirik ke arah Widya. Dia justru memalingkan wajahnya.
"Mas mau mandi dengan air hangat?" tanya Widya.
Aldi masih enggan bersuara.
"Mas pasti capek ya? Sini kupijit."
Widya mulai menyentuh bahu Aldi namun pria itu justru menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Aku jijik padamu!" sentaknya.
"Aku ini istrimu yang sah, Mas. Aku berhak mendapatkan nafkah lahir batin darimu."
Pria yang menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan ekspor-impor itu menyeringai kecut.
"Istri kamu bilang? Apa kamu lupa, kita menikah karena sebuah kesalahan? Jangan pernah berharap lebih! Sampai kapanpun istriku hanya satu, Kanaya."
"Agama kita mengajarkan suami yang memiliki istri lebih dari satu, diharuskan memperlakukan istri-istrinya secara adil," ujar Widya.
"Tahu apa kamu tentang agama? Sudahlah, saya sedang malas berdebat."
Aldi berlalu dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.
Tidak berselang lama terdengar seseorang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum."
Rupanya Kanaya yang baru pulang mengajar di sekolahnya.
"Waalaikumsalam."
"Mas Aldi sudah pulang ya, Wid?"
"Sudah, Nay. Baru beberapa menit yang lalu."
"Loh, itu kopi buat siapa?"
"Ehm … aku sedang ingin minum kopi."
"Ya sudah, aku naik ke kamar dulu."
"Sampai kapan Mas akan memperlakukan Widya begini?" tanya Kanaya sesampainya di kamar.
"Maksud kamu apa?"
"Mas menolak meminum kopi buatan Widya 'bukan?"
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri!"
"Tidak sepantasnya Mas bicara begitu."
"Kamu 'kan tahu dari awal aku tidak ingin jika dia tinggal di sini. Karena keras kepalamu itu, semua ini harus terjadi. Ini semua adalah kesalahanmu!"
"Kalau kamu tidak mabuk malam itu, kamu tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan itu pada Widya!"
"Jika sedari awal kamu menuruti ucapanku, ini semua tidak akan terjadi!"
"Hoeek! Hoeeek!"
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara Widya yang tengah muntah-muntah di toilet.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading..