
"Nyonya?"
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa menyebut nama tuan Bayu?" Nyonya Sofia mengulangi pertanyaannya.
"Ti-ti-tidak, Nyonya. Sepertinya Nyonya salah dengar. Nama Bayu yang tadi Nyonya dengar adalah nama salah satu kawan Suci di kampung," jelas mbok Asih.
"Benar, Nyonya. Di dunia ini nama Bayu tidak hanya seorang saja 'bukan?" Suci menimpali.
"Oh ya, dengar-dengar mobil Nyonya dirampok, apa Nyonya sudah meminta Tuan Rayyan untuk membeli mobil baru?" tanya Mbok Asih yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran itu.
"Bukan urusanmu!" ketus sang nyonya.
"Nyonya sudah lapor polisi atau belum?" Suci menimpali.
"Kalian ini selalu saja ingin tahu urusan saya. Sudah! Lanjutkan saja pekerjaan kalian!"
"Memangnya Nyonya mau ke mana pagi-pagi begini?"
Sang nyonya hanya mendengus kesal, ia lantas berlalu dari hadapan suci dan Mbok Asih.
"Oh ya tadi mbok sempat menyebut nama mendiang Tuan Bayu. Apa yang Mbok maksud rahasia tentang beliau?" tanya Suci sesaat setelah nyonya Sofia berlalu.
"Ya. Mbok sudah mengungkap semua rahasia tentang mendiang tuan Bayu pada tuan Rayyan termasuk hubungan Nyonya Sofia dengan seorang laki-laki bernama Sean."
"Lantas bagaimana tanggapan Tuan Rayyan?" tanya Suci.
"Bagaimanapun tuan Rayyan hanyalah manusia biasa. Dia begitu marah saat mbok mengungkap tentang pengkhianatan yang dilakukan Nyonya Sofia pada mendiang tuan Bayu."
"Lantas Apa rencana Tuan Rayyan? Apakah dia akan mendesak nyonya Sofia untuk mengakui semua perbuatannya?"
"Jika itu pemikiranmu, kamu salah besar, Nduk. Tuan Rayyan justru berencana untuk menghancurkan nyonya Sofia secara perlahan."
"Apa yang Nyonya Sofia lakukan memang sudah melewati batas, dia memang pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal," ujar Suci.
*****
Di sebuah ruang tahanan.
Terjadi percakapan antara pak Panji dengan seorang tahanan lain.
"Apa yang membuatmu hingga bisa berada di tempat ini? Mencuri, membunuh atau merampok?" tanya pria bertato itu.
"Bukan ketiga-tiganya," jawab pak Panji.
"Lantas?"
"Aku berada di tempat ini setelah aku menikmati keperawanan seorang gadis, lebih tepatnya perawan tua." Pak Panji terkekeh. Tak terlihat sedikitpun rasa bersalah apalagi penyesalan disorot matanya.
Entah mengapa jawaban yang terlontar dari mulut pak Panji itu justru menyulut emosi si pria. Tanpa basa-basi dia melayangkan sebuah bogem mentah di pelipis pak Panji hingga membuatnya menyeringai kesakitan.
"Bangs*t! Baj*ngan!" sentaknya.
"Kenapa kamu memukulku? memangnya apa salahku?" protes pak Panji seraya mengelus pelipisnya yang terasa panas.
__ADS_1
"Kamu tahu, aku berada di tempat ini karena menghabisi nyawa seorang pria yang sudah merenggut kesucian adik perempuanku. Tempatmu bukan di sini, tapi di neraka!"
"Bugg!" Kali ini sebuah hantaman yang cukup keras mendarat di perut pak Panji. Ia pun jatuh tersungkur di atas lantai yang dingin. Aksi kekerasan pria itu tak berhenti hanya sampai di situ saja. Dia menarik tubuh pak Panji lalu menyeretnya hingga ke sudut ruangan. Pria yang menjabat sebagai ketua RT itu hanya bisa memekik kesakitan saat pria bertato itu menghadiahinya dengan puluhan kali tamparan di wajahnya. Sementara beberapa orang yang juga berada di dalam sel tersebut hanya mampu memandangi aksi tersebut tanpa memiliki keberanian untuk melerainya.
Akhirnya salah satu tahanan memilih untuk memanggil sipir yang saat itu berjaga di ruangan yang berada di sebelah sel tersebut.
"Tolong, Pak. Ada yang berkelahi teriaknya!"
Pria berseragam itu pun berkas menghampiri sel.
"Jangan membuat kegaduhan di tempat ini!" serunya.
"Pria ini terus memukuli saya, Pak," rintih pak Panji.
"Sekali lagi kalian membuat keributan, kalian akan tahu akibatnya!" ancam sipir sebelum berlalu meninggalkan sel tersebut.
Pria itu bermaksud melayangkan sebuah pukulan di wajah pak Panji namun salah satu kawannya menahannya.
"Cukup, Max. Kamu akan terkena masalah besar jika sudah sampai penjahat kelam*n ini mati karena kamu pukuli," ucapnya.
Pria yang memukul pak Panji bernama Max. Dia harus mendekam di dalam jeruji besi selama lebih dari 10 tahun lantaran terbukti bersalah telah menghabisi nyawa seorang pria yang diduga sudah merenggut kesucian adik perempuannya. Jika ditanya apakah dia merasa menyesal dengan perbuatannya, Max akan menjawab dia lebih menyesal karena tidak bisa melindungi adik perempuannya. Akibat peristiwa itu sang adik mengalami depresi hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.
Setengah jam kemudian, sipir kembali ke sel tahanan itu.
"Saudara Panji," panggilnya.
"Ada apa, Pak? Apa saya dibebaskan?"
Sipir itu menggeleng pelan.
"Akhirnya istriku mau menjengukku," gumam pak Panji.
Dengan langkah penuh semangat pak Panji mengikuti sipir tersebut menuju ruang kunjungan. Namun senyumnya seketika sirna saat mengetahui pengunjung yang ingin menemuinya bukanlah istrinya melainkan salah satu tetangganya.
"Pak Wahyu? Mau apa dia ke sini?" batinnya.
"Bagaimana kabar anda, Pak Panji?" tanya pria paruh baya itu.
"Tidak usah basa-basi. Cepat katakan saja apa maksud dan tujuan anda datang menemui saya."
"Saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan, saya harap Bapak bisa berkata jujur."
"Sebenarnya apa maksud Bapak?"
"Apa yang sudah anda lakukan terhadap putri saya, Aminah?"
"Aminah siapa yang Bapak maksud?"
"Kita sudah puluhan tahun bertetangga, tidak mungkin Bapak tidak mengenal Aminah yang saya maksud."
Pak Panji terlihat berpikir beberapa saat.
"Oh, Aminah gadis yang masih SMP itu?"
__ADS_1
"Apa yang sudah Bapak lakukan terhadap putri saya itu?"
"Saya tidak melakukan apa-apa saya hanya bermain-main saja."
"Brakk!" Pak Wahyu menggebrak meja dengan teramat keras sehingga mengundang perhatian dari beberapa pengunjung yang berada di ruangan itu.
"Main-main katamu?!" Pak Wahyu meraih kerah baju yang dikenakan Pak Panji dan sedikit menariknya.
"Saya hanya memegang beberapa bagian tubuhnya, itu saja. Tidak sampai seperti yang saya lakukan pada Tini yang bahenol itu." Pak Panji terkekeh.
"Plak!" Sebuah tamparan yang teramat keras baru saja mendarat di pipi pak Panji.
"Bang*at! Apa kamu tahu apa akibat dari perbuatanmu yang tidak bermoral itu?! Putriku tidak mau lagi berangkat sekolah. Sepanjang hari dia merasa ketakutan dan rasa kepercayaan dirinya pun menurun."
"Masa hanya dipegang-pegang saja sampai begitu." Pak Panji kembali terkekeh.
"Saya pastikan, anda akan mendapatkan hukuman berat!" ancam pak Wahyu.
"Memangnya kamu ini siapa, berani mengancam saya."
"Saya memang hanya seorang petani, tetapi saya mencari keadilan untuk puteri saya."
"Orang miskin sok-sokan bicara tentang keadilan." Untuk kesekian kalinya pak Panji kembali terkekeh.
"Saya bersumpah Bapak akan mati membusuk di dalam penjara!" seru pak Wahyu sebelum ia meninggalkan tempat tersebut.
Pak Wahyu baru saja beranjak meninggalkan ruang kunjungan, di saat itulah dia berpapasan dengan seseorang.
"Pak Wahyu? Apa yang Bapak lakukan di sini?" tanya perempuan bertubuh gempal itu.
Pak Wahyu hanya mendengus kesal sebelum ia berlalu di hadapannya.
"Ibu?"
Melihat kedatangan sang istri tentu saja membuat pak Panji merasa begitu senang.
"Akhirnya kamu datang juga, Bu," ucapnya dengan sorot mata berbinar.
Ya, perempuan itu adalah bu Panji yang lain adalah istri pak Panji.
Bu Panji menyeringai kecut.
"Kamu jangan senang dulu. Aku datang ke sini bukan untuk menjengukmu."
"Lantas?"
Bu Panji mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Apa ini, Bu?" tanya pak Panji penasaran.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…