
"Ternyata gadis ini adik tuan Rayyan. Dia sudah punya pacar belum ya?" batin Davin.
"Mas Davin ada perlu apa ya?"
"Begini, jam sepuluh nanti 'kan saya harus menjemput tuan muda Arsen. Ehm … boleh nggak kalau aku menunggu di sini, soalnya rumah saya cukup jauh."
"Boleh kok. Mas Davin mau aku buatkan minum?"
"Memangnya di rumah ini nggak ada asisten rumah tangga nya?"
"Ehm … ada kok, Mas. Mereka sedang berbelanja ke pasar."
"Oh, begitu."
"Mas mau minum apa?" tanya Siska.
"Apa saja, yang penting tidak mengandung racun". Davin terkekeh.
"Ah, Mas Davin bisa saja. Silahkan tunggu di teras, saya buatkan minumannya dulu."
Siska berlalu dari hadapan Davin lalu masuk ke dalam rumah.
"Silahkan, Mas," ucap Siska sembari meletakkan segelas sirup jeruk dingin di atas meja.
"Jadi ngerepotin."
"Nggak kok," ucap Siska. Dia lantas menduduki sebuah bangku di teras tersebut.
Tiba-tiba pandangan Davin tertuju pada baju Siska.
"Kenapa ganti baju? Padahal baju yang tadi bagus banget."
"Ehm … itu … anu … bajuku tadi basah kena air, jadi aku ganti baju ini."
"Siska. Kamu masih kuliah?"
"Oh, iya. Aku masih kuliah semester empat."
"Di mana?"
"Di Universitas Negeri J."
"Jurusan apa?"
"Jurusan hukum."
"Aku juga kuliah di sana tapi di fakultas ekonomi."
"Kamu kuliah juga?"
"Iya, aku bekerja untuk biaya kuliahku."
"Hebat."
Davin mengulas senyum tipis.
"Bukan hebat, tapi keadaan yang memaksaku bekerja sambil kuliah karena aku sudah tidak memiliki orangtua. Ngomong-ngomong kamu belum berangkat ke kampus?"
"Ah, hari ini aku libur. Kamu sendiri?"
"Aku masuk jam tiga sore."
"Ehh … Siska. Aku boleh nggak minta nomor handphone kamu?"
"Ini yang aku tunggu dari tadi," gumam Siska.
"Boleh nggak?"
"Oh, boleh. Ini nomor handphone ku," ucap Siska sembari memperlihatkan nomornya pada Davin. Laki-laki itu pun lantas menyalin nomor tersebut ke dalam ponselnya.
"Kalau aku menelpon ada yang marah nggak?"
"Marah?"
"Ya, mungkin pacar kamu."
__ADS_1
"Aku tidak punya pacar."
"Masa gadis secantik kamu tidak punya pacar."
"Aku sudah lama putus dari pacarku."
"Bagus lah, kalau begitu. Jadi aku bisa menelponmu kapan saja."
Siska menanggapi ucapan Davin dengan senyum simpul di bibir.
"Kamu makin cantik kalau tersenyum," puji Davin.
"Apa pujian itu berlaku bagi pacarmu?" sindir Siska
"Pacar? Aku tidak punya pacar."
"Masa laki-laki seganteng kamu tidak punya pacar."
"Beneran."
Obrolan mereka terhenti saat Suci dan mbok Asih tiba-tiba saja muncul di teras.
"Mas Davin sudah mengantar Arsen di sekolahnya?" tanya Suci.
"Sudah, Nyonya. Saya boleh 'kan menunggu di sini sampai sekolah tuan muda selesai?"
"Boleh kok. Ya sudah, kami masuk ke dalam dulu. Mari, Mbok."
Suci dan mbok Asih pun lantas masuk ke dalam rumah.
"Wanita itu istrinya tuan Rayyan 'bukan?" tanya Davin setengah berbisik.
"Benar. Memangnya kenapa?"
"Ehm … tidak apa. Kurasa dia terlihat biasa saja untuk menjadi istri seorang pengusaha besar."
"Jelas saja, dia memang bukan berasal dari keluarga pengusaha. Bahkan bisa dibilang dia berasal dari gadis kampung yang miskin."
"Astaga. Apa benar begitu?"
"Ya, dulu nya gadis itu adalah pengasuh Arsen."
"Aku sudah mengingatkan mas Rayyan, tapi dia bersikeras menikahi gadis kampung itu."
"Siska! Siska!" teriak mbok Asih dari arah dapur.
"Nggak sopan banget sih. Masa memanggil adik majikan teriak-teriak begitu," ujar Davin.
"Ya, begitu lah. Mbok Asih kalau bicara memang suaranya nyaring."
"Sepertinya aku harus pergi sekarang. Sebentar lagi jam sekolah tuan muda selesai," ucap Davin.
"Diminum dulu sirup jeruk nya."
"Oh maaf, hampir lupa."
Davin meraih gelas berisi sirup dingin itu lalu meneguknya dengan cepat.
"Terima kasih, aku pergi dulu," ucapnya.
"Sampai bertemu lagi," ucap Siska.
Davin menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Dia pun lantas meninggalkan rumah tersebut.
"Kamu tidak bicara yang macam-macam 'kan sama sopir tuan muda Arsen itu?" ucap mbok Asih pada Siska menghampirinya di ruang dapur.
"Apa maksud Mbok Asih bicara begitu?"
"Siapa tahu kamu mengatakan cerita karanganmu sendiri."
"Ada apa memanggilku?"
"Masukkan barang-barang belanjaan ini ke dalam kulkas. Untuk bahan kering masukkan saja ke dalam lemari."
"Begini saja harus memerintahku sih! Memangnya tidak bisa melakukannya sendiri!" gerutu Siska kesal.
__ADS_1
"Kamu bilang apa barusan?"
"Nggak ngomong apa-apa kok."
"Kalau kamu masih suka bermalas-malasan mengerjakan pekerjaan rumah, nanti aku adukan pada tuan Ray agar kamu disuruh angkat kaki dari rumah ini!"
"Dasar penjilat!" umpat Siska.
Meskipun sambil menahan kesal, Siska tidak punya pilihan selain menuruti perintah mbok Asih.
"Setelah selesai kamu buang sampah ini ke depan. Sekarang hari Rabu, biasanya truk pengangkut sampah datang," ucap mbok Asih.
"Iya … iya. Setelah itu nyuruh apalagi?"
"Oh ya, aku hampir lupa. Ambil bedcover di laundry."
"Laundy mana?"
"Laundry ACB."
"Mana uangnya?"
"Ini." Mbok Asih mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam saku celananya lalu memberikannya pada Siska.
"Ingat, setelah dari laundry langsung pulang. Kita harus memasak untuk makan siang," ucap mbok Asih.
"Ish! Cerewet banget sih!" sungut Siska. Dia pun lantas meninggalkan ruang dapur.
"Siska? Kamu mau kemana?" tanya Suci saat mendapati Suci hendak keluar rumah.
"Buang sampah, terus ke laundry ambil bedcover. Kamu mau nyuruh aku juga?"
"Nggak kok."
"Ya sudah, aku pergi dulu."
Siska lantas berlalu dari hadapan Suci.
Setelah meletakkan kantong plastik berisi sampah di depan pintu gerbang, Siska pun lalu berjalan menuju laundry pakaian yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Rayyan.
"Bedcover atas nama Asih," ucapnya pada salah satu karyawan laundry.
"Tunggu sebentar."
Karyawan itu masuk ke dalam ruangan. Tidak lama dia kembali dengan membawa serta sebuah kantong plastik.
"Ini bedcover nya, Mbak. Biaya laundry nya 25 ribu."
"Ini uangnya. " Siska menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada petugas laundry.
"Terima kasih."
"Saya permisi dulu, selamat siang."
Siska pun lalu meninggalkan Laundry.
Siska baru saja melangkah keluar dari laundry, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Senyum mengembang di bibirnya saat memandang layar ponsel miliknya. Ia pun bergegas menjawab panggilan tersebut.
[Halo]
[Halo, Siska. Kamu lagi ngapain? Aku kangen nih. Kita ketemuan yuk]
[Aku-aku sedang mengambil selimut di tempat laundry di dekat rumah]
[Ya sudah, aku jemput kamu sekarang ya]
[Memangnya Tuan mau mengajak saya kemana?]
[Ke suatu tempat yang pastinya kamu sukai]
[Tapi, …]
[Sudah, kamu jangan kemana-mana, aku sedang menuju ke tempatmu]
Panggilan terputus
__ADS_1
"Untung saja kamu banyak duitnya, kalau nggak aku malas bertemu denganmu," gumam Siska.
Bersambung …