
Di tempat tinggal Widya yang baru.
Pagi itu Aldi terlihat tengah duduk di meja makan bersama istrinya, Kanaya.
"Widya di mana, Mas?" tanyanya.
Aldi hanya mengangkat kedua bahunya.
"Mas jangan acuh begitu, dong. Widya itu 'kan sudah jadi istri sah nya Mas. Mas juga harus memperlakukannya sebagaimana mestinya," ucap Kanaya.
"Dari awal aku tidak mau dia ada di rumah ini. Aku menikahinya juga bukan karena kemauanku. Semua itu hanya kesalahan."
Tidak berselang lama Widya muncul dari arah dapur.
"Kamu sudah makan, Wid?" tanya Kanaya.
"Be-be-lum, Bu."
"Tidak usah memanggilku ibu, panggil saja Naya. Sini makan bareng kita. Masa yang memasak tidak ikut makan," ucap Naya seraya menarik sebuah kursi.
Meski sedikit kikuk, Widya mendekati meja makan lalu menduduki kursi tersebut.
"Aku berangkat dulu, sudah terlambat," ucap Aldi.
"Habiskan dulu makananmu, Mas."
"Aku sudah kenyang." Aldi mengecup kening Kanaya lalu melengang begitu saja dari ruangan itu.
"Tunggu, Mas! Mas nggak pamit juga sama Widya? Dia istri kamu juga loh."
"Aku sudah terlambat." Aldi melirik sinis pada Widya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan rumah tersebut.
Menyakitkan memang. Meski sudah resmi sebagai istri Aldi, namun ia selalu memperlakukan Widya seperti orang asing. Ketika istri pertamanya, Kanaya menyuruhnya tidur di kamar Widya, Aldi justru memilih tidur di sofa ruang tamu. Baginya pernikahannya dengan Widya hanyalah sebuah formalitas saja lantaran sebuah kejadian di malam itu.
"Wajah kamu pucat, apa kamu sakit?" tanya Naya.
"Nggak kok, Bu … eh, Nay."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu makan yang banyak, aku berangkat mengajar dulu. Kalau ada perlu apa-apa telepon saja dengan telepon rumah di ruang tamu. Nomorku ada di buku telepon."
"Baik, Nay."
"Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum."
Kanaya pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
Seperti biasanya, saat rumah itu kosong, Widya akan membersihkannya tak terkecuali bagian teras. Hingga suatu ketika dua orang tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah itu melintas.
"Loh, perempuan itu siapa?" tanya perempuan berbaju biru.
"Nggak tahu, aku juga baru lihat," jawab perempuan berbaju kuning.
"Maaf, Ibu ini siapa?" tanya perempuan berbaju kuning.
"Ehm … saya-saya adiknya mbak Naya."
"Oh, adiknya. Sejak kapan tinggal di sini?"
"Ehm … satu Minggu."
"Ti-ti-tidak apa kok Bu."
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu."
Kedua perempuan itu pun meninggalkan rumah Aldi.
"Hufht! Sampai kapan aku harus berpura-pura sebagai adiknya Naya? Jadi istri siri, eh, laki ku begitu banget, dingin kaya kulkas," gerutu Widya sebal.
Berada di rumah sendirian, tentu saja membuat Widya bosan. Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar dari komplek perumahan itu.
Setelah beberapa saat berjalan kaki, ia pun memilih berhenti di sebuah taman.
Di waktu yang belum terlalu siang taman masih cukup ramai dengan pengunjung yang sekedar berjalan-jalan ataupun membeli makanan di gerobak yang berjejer mengelilingi taman tersebut.
"Sendirian saja, Bu?" sapa seorang pria yang tanpa seizinnya duduk begitu saja di sampingnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Widya singkat."
"Apa Ibu tidak punya kesibukan?" tanya pria itu lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Ehm … bagaimana kalau Ibu temani saya?"
"Maksudnya?"
"Kita bersenang-senang. Ibu tinggal sebutkan saja tarifnya."
"Astaga. Kamu pikir aku ini wanita apa? Aku masih punya harga diri."
"Ayolah, tidak usah jual mahal begitu. Saya tahu, Ibu berada di sini karena Ibu merasa kesepian." Tiba-tiba saja pria itu memegang tangan Widya. Sontak Widya pun menepisnya dengan kasar.
"Pergi kamu! Jangan ganggu saya!"
"Ayolah, satu jam saja," bujuk pria itu.
"Pergi dari hadapanku atau aku akan meneriakimu pencuri!" ancam Widya.
Bukannya takut, pria itu justru berusaha melingkarkan tangannya di pinggang Widya.
"Tolong! Pencuri!" teriak Widy yang sontak membuat pria itu panik. Dia pun berlari dari hadapan Widya. Karena kurang berhati-hati, tidak sengaja ia menabrak sebuah kereta bayi yang juga berkunjung ke taman itu. Akibatnya pria itu pun jatuh tersungkur di atas rerumputan.
"Tangkap pria itu! Dia ingin melecehkan saya!" teriak Widya dari kejauhan. Entah mengapa suara teriakannya mengundang perhatian perempuan yang berdiri di dekat kereta bayi tersebut. Ia pun memutuskan untuk menghampiri Widya.
"Maaf ada ap- …"
Alangkah terkejutnya perempuan muda itu saat melihat wajah Widya.
Bersambung
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading..