
"Kamu yakin mau kembali ke kota hari ini, Nduk?" tanya pak Bimo saat melihat Suci mengikat tali sepatunya.
"Ya, Pak. Setelah minum obat aku merasa lebih baik. Lagipula aku tidak bisa meninggalkan tuan muda Arsen terlalu lama. Seisi rumah akan dibuat kebingungan saat bayi itu menangis."
"Ya sudah, kamu hati-hati."
"Murni, rawat bapak baik-baik. Fitri, mbak minta maaf belum bisa memenuhi janji mbak untuk membelikanmu boneka beruang yang besar," ucap Suci pada kedua adik perempuannya. Keduanya mengangguk paham.
Setelah berpamitan pada ayah dan kedua adik perempuannya, Suci pun meninggalkan rumahnya.
Suci menumpangi angkutan kota yang kebetulan dikemudikan Yusuf.
"Baru semalam pulang kampung, sudah mau kembali ke kota lagi?" tanyanya.
"Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di kampung. Aku juga masih kangen dengan kedua adik perempuanku. Tapi aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaanku."
"Aku tidak menyangka nasib budhemu berakhir tragis begini."
"Mungkin ini memang sudah suratan takdir budhe," ujar Suci.
Yusuf menghentikan laju mobilnya saat di depan sana ada beberapa orang penumpang yang ingin menaiki angkutan umum miliknya. Dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Suci pun bergeser hingga ke bagian paling ujung. Keadaan angkutan umum yang penuh sesak membuatnya merasa tidak nyaman. Aroma keringat, balsem, dan parfum bercampur jadi satu hingga membuatnya perutnya terasa mual. Untung lah dia selalu menyimpan masker kain di dalam tas nya. Setidaknya dengan menutup hidung dan mulutnya aroma tidak sedap itu sedikit berkurang.
"Owalah, kamu to, Nduk? Kamu sudah mau berangkat ke kota lagi?" tanya seorang perempuan paruh baya yang duduk di dekat pintu. Ia kerap disapa bu Ninit.
"Iya, Bu."
"Loh, bukannya kemarin kamu diantar laki-laki ganteng yang punya mobil mengkilap itu? Kok kamu balik ke sana sendiri?" Tetangga lainnya menimpali.
"Beliau sudah kembali ke kota sehabis subuh tadi karena ada pekerjaan penting."
"Oh, begitu. Ngomong-ngomong kasihan nasib keluarga pak Panji. Dulu keluarga itu cukup disegani, tapi sekarang begitu memprihatinkan."
"Bagaimana dengan Adi dan Ari?"
"Saya dengar bapak kepala desa mau mengangkat mereka menjadi anak. Dia juga sudah sepuluh tahun lebih menikah tapi belum memiliki momongan."
"Kira-kira di antara pak Panji dan bu Panji siapa yang hukumannya lebih berat?"
"Sudah pasti bu Panji. Dia yang mencekik leher si Tini sampai meninggal."
"Tapi kejahatan yang dilakukan pak Panji juga cukup berat. Selain melakukan pelecehan seksual, dia juga sudah menabrak Tini."
"Paling-paling mereka keluar dari penjara kalau mereka sudah menjadi kakek-nenek," ucap si provokator yang sontak disambut gelak tawa dari seisi angkutan umum.
Tiba-tiba angkutan umum itu berhenti.
"Loh, Suf. Kok berhenti?" tanya salah satu penumpang.
"Memangnya ibu-ibu mau ke pasar atau ikut Suci ke terminal?" Yusuf balik bertanya.
"Owalah, sudah sampai ternyata."
"Ngomongin orang itu memang asyik. Sampai-sampai lupa waktu," Sindir Yusuf.
"Kami turun dulu, Ci. Hati-hati, banyak copet di terminal," ucap salah satu warga.
Semua penumpang angkutan umum itu pun turun tak terkecuali laki-laki yang sepertinya berasal dari kampung sebelah.
"Ongkosnya masih lima ribu ,'kan, Suf?" tanya bu Ninit sesaat setelah turun dari angkutan umum.
"Masih kok, Bu. Bensin belum naik."
Perempuan bertubuh pendek itu pun lantas merogoh tas selempang miliknya.
Ia kaget bukan main saat mendapati resleting tas miliknya dalam keadaan terbuka.
"Gusti! Di mana dompetku?!"
__ADS_1
"Di dalam keranjang belanja mungkin, Bu," ucap salah satu penumpang.
"Tidak, Bu. Saya yakin sekali menyimpan dompet saya di dalam tas ini."
Beberapa penumpang ikut membantu Bu Ninit mencari keberadaan dompetnya bahkan ada yang mencarinya hingga di bawah tempat duduk penumpang. Namun hasilnya nihil.
"Gusti … bagaimana ini? Uang hasil penjualan kambingku dicopet. Aku gagal membeli emas. Hu … hu … hu …"
Bagaikan anak kecil yang kehilangan mainannya, bu Ninit duduk begitu saja di jalan beraspal sambil terus meratapi uangnya.
"Pasti laki-laki tadi pencopetnya. Ia beraksi saat ibu-ibu itu asyik menggunjing keluarga pak Panji," batin Suci.
"Makanya jangan kebanyakan ngomongin orang, sampai-sampai tidak sadar dompet dicuri," ucap Yusuf sebelum melajukan kembali mobilnya.
Sepuluh menit kemudian angkutan itu pun tiba di terminal.
Suci baru saja melangkah turun dari angkutan umum. Di saat itulah seorang pedagang mainan melintas. Entah mengapa ia terpikir untuk membelikan mainan bagi Arsen.
"Beli mainannya, Pak!"
Pria itu pun sontak menoleh ke arahnya.
"Silahkan dipilih, Mbak," ucapnya.
Suci pun mengamati mainan yang disusun sedemikian rupa di atas sepeda tua itu. Dari puluhan jenis mainan, pilihannya jatuh pada mainan berbentuk kucing yang mampu bergerak dan mengeluarkan suara.
"Yang ini berapa Pak?" tanyanya.
"Tiga puluh ribu, Mbak. Nanti saya kasih bonus baterai."
"Tuan muda Arsen pasti menyukai mainan ini," batinnya.
"Tidak bisa kurang, Pak?"
"Maaf, Mbak, tidak bisa. Itu sudah harga pas."
"Baterainya sudah saya pasang sekalian," ucapnya seraya menyodorkan plastik berwarna hitam ke arah Suci.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Setelah memasukkan mainan itu ke dalam tas, Suci pun menuju agen yang menjual tiket bus. Tak lupa ia juga membeli oleh-oleh untuk mbok Asih dan pak Bondan.
Siang itu penumpang bus cukup banyak. Suci sendiri memilih duduk di samping seorang perempuan.
"Mau kemana, Bu?" tanyanya.
"Menjenguk anak saya di kota."
"Sendirian saja?"
"Mau bagaimana lagi. Dia anak perempuan saya satu-satunya. Setelah menikah dia tinggal bersama suaminya. Tadi pagi saya mendapat kabar jika anak saya sudah melahirkan."
"Kenapa Ibu tidak ikut tinggal di kota saja?" tanya Suci.
Perempuan itu mengulas senyum.
"Tinggal di desa itu lebih ayem, Nduk. Kamu sendiri mau ke mana?"
"Saya bekerja di kota sebagai pengasuh bayi, Bu. Saya pulang kampung karena budhe saya baru saja meninggal dunia."
"Kenapa kamu harus bekerja jauh-jauh di kota?"
"Kalau boleh jujur, saya pun berat meninggalkan bapak dan kedua adik perempuan saya. Semua ini saya lakukan agar keluarga saya bisa terbebas dari hutang."
"Saya salut sama kamu, Nduk. Kamu rela berkorban demi keluargamu. Saya do'akan semoga hidupmu selalu dipenuhi kebahagiaan."
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih do'a nya, Bu."
****
Suci tiba di rumah Ray tepat pukul empat sore.
"Assalamu'alaikum, Pak Bondan," sapanya.
"Waalaikumsalam, Mbak Suci."
Entah mengapa Suci merasa wajah security itu terlihat sedikit murung.
"Pak Bondan sehat?" tanyanya.
"Alhamdulillah, sehat, Mbak."
"Ini sedikit oleh-oleh untuk Bapak," ucap Suci seraya menyodorkan sebuah kantong plastik ke arah security itu.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama. Saya masuk ke dalam dulu ya, Pak."
Suci beranjak dari halaman lalu masuk ke dalam rumah berlantai tiga itu.
"Tuan muda Arsen … Cici pulang," ucapnya saat melintasi ruang tamu. Ia berpikir bayi tampan itu akan berlari menyambutnya. Namun ia justru merasa suasana rumah itu begitu sepi.
"Tuan muda Arsen, Cuci punya mainan loh," ucapnya lagi.
Aneh, tak terdengar sama sekali suara mbok Asih ataupun celoteh Arsen dari ruangan manapun.
"Mungkin mereka di taman belakang," gumamnya.
Suci pun melangkahkan kakinya menuju taman yang berada di bagian belakang rumah. Benar saja, mbok Asih tengah duduk di bangku taman belakang itu. Tapi tunggu! Kenapa mbok Asih duduk sendirian saja? Di mana Arsen?
"Mbok," panggilnya.
Mbok Asih pun menoleh ke arahnya. Suci keheranan mendapati sang juru masak itu tengah memegang pakaian Arsen. Matanya pun terlihat sembab seperti terlalu banyak menangis.
"Apa tuan muda Arsen sedang tidur, Mbok?" tanya Suci.
Mbok Asih menggeleng pelan.
"Apa dia sedang bersama tuan Ray?"
Sekali lagi mbok Asih menggelengkan kepalanya.
"Apa sedang bersama Zola? Tumben sekali dia mau mengasuh tuan muda. Ya sudah, aku ke kamar Zola dulu. Tadi aku membelikan mainan untuk tuan muda. Dia pasti menyukainya."
Suci beranjak dari taman belakang itu hendak menuju kamar Zola.
"Tuan muda Arsen tidak bersama Zola, dia tidak ada di rumah ini," ucap mbok Asih.
Suci pun membalikkan badannya.
"Apa maksud Mbok?"
"Dini hari tadi tuan muda diculik," ucap mbok Asih dengan suara bergetar.
"Apa, Mbok? Diculik?!"
Tubuh Suci seketika terasa lemas. Kantong plastik berisi mainan itu pun terlepas begitu saja dari genggamannya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading..