Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 111


__ADS_3

Suci dan Ray tiba di kantor polisi tempat Bimo ditahan.


"Pak, aku sudah tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Murni yang sudah mendorong Fitri hingga kepalanya terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Begitu 'bukan?"


Bimo terdiam sambil menundukkan wajahnya.


"Aku tahu Bapak melakukan ini demi Murni. Bapak tidak mau Murni sampai masuk penjara gara-gara masalah ini. Begitu 'kan, Pak?" cecar Suci.


Akhirnya Bimo menganggukkan kepalanya.


"Bapak melakukan ini demi Murni. Orangtua mana yang rela jika anaknya masuk jeruji besi?"


"Tapi Bapak sudah membuat pengakuan palsu. Hal itu juga termasuk perbuatan yang melanggar hukum," timpal Ray.


"Bapak mohon, jangan sampai polisi tahu hal ini. Apapun akan bapak lakukan agar Mueni tidak ditangkap."


"Tapi, Pak, …"


"Jika kamu ada di posisi bapak, bapak yakin kamu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang bapak lakukan."


Suci tak mampu berkata-kata lagi. Tiba-tiba saja dia menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


"Bapak memang ayah terbaik bagi kami," ujarnya.


"Oh ya, semalam orangtua Rita datang ke rumah."


"Rita siapa, Nduk?"


"Rita kawan Murni yang mengajaknya ke kota S."


"Memangnya kenapa mereka mendatangi rumah kita?" tanya Bimo lagi.


"Mereka kebingungan karena nomor Rita sulit dihubungi."


"Lantas, bagaimana dengan adikmu? Apa kamu sudah menghubungi nomornya?"


"Itu dia, Pak. Aku pun khawatir pada Murni. Aku sudah berkali-kali menghubungi nomornya tapi tidak bisa terhubung."


Bimo membuang nafas.


"Dari awal bapak sudah merasa keberatan kalau Murni mengambil pekerjaan itu. Bapak takut kalau ternyata lowongan pekerjaan itu hanyalah tipuan."


"Sekarang kami harus bagaimana, Pak?" tanya Suci.


"Tidak ada cara lain selain mencari alamat salon itu. Perasaan bapak benar-benar tidak enak."


"Sebenarnya beberapa hari yang lalu Murni sempat menelponku dan mengutarakan niatnya untuk bekerja di luar kota. Aku sempat melarangnya dengan alasan gaji yang ditawarkan tidak masuk akal untuk pekerjaan di salon, tapi Murni tak menggubris. Dia bersikeras ingin tetap berangkat ke kota itu," papar Suci.


"Entah bagaimana pergaulannya di sekolah, Semenjak naik kelas XII, sifatnya berubah menjadi keras kepala dan pembangkang."


"Ehm … Pak. Mumpung masih pagi aku dan Suci mau langsung mencari alamat salon itu."


"Bapak minta maaf, Nak. Gara-gara masalah ini pekerjaanmu jadi terganggu," ucap Bimo.


"Tidak apa, Pak. Untuk masalah pekerjaan, aku sudah menyerahkannya pada orang kepercayanku."


"Oh ya, lalu bagaimana dengan Arsen?"


"Bapak tidak perlu khawatir, ada mbok Asih yang akan mengurusnya dengan baik."


Beberapa saat kemudian seorang petugas menghampiri mereka.


"Maaf, jam besuk sudah habis," ucapnya.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Bapak jaga kesehatan, jangan melewatkan waktu makan, dan jaga shalat lima waktu," ucap Suci. Sang ayah menganggukkan paham.


"Kalian hati-hati."


"Assalamu'alaikum."


Suci dan Ray pun lantas meninggalkan kantor polisi.


"Bagaimana kita mencari alamat salon tempat bekerja Murni, Mas?" tanya Suci.


"Ehm … apa Murni pernah bilang dari mana dia mendapatkan informasi tentang pekerjaan itu?"


Suci tampak berpikir sejenak.


"Oh ya, aku ingat. Saat meneleponku Murni bilang melihat iklan itu di media sosial."


"Baiklah, aku akan mencoba mencari alamat salon itu."


Ray mengambil handphone nya dan mulai menjelajahi sosial media yang biasanya digunakan untuk memasang iklan lowongan pekerjaan. Setelah cukup lama berselancar di dunia maya, akhirnya dia menemukan sebuah akun yang memasang lowongan pekerjaan di salon dengan gaji yang ditawarkan sebesar 10 juta per bulan.


Ray semakin yakin jika salon itulah yang mereka cari setelah mendapati akun bernama Rita Hapsari menuliskan beberapa pertanyaan di kolom komentar di antaranya alamat salon itu dan bertanya apa boleh jika dia mengajak dua kawan lainnya.


"Aku sudah mendapatkan alamat salon itu," ucap Ray.


"Secepat ini?"

__ADS_1


"Di zaman serba canggih ini menemukan alamat bukanlah hal yang sulit," ujar Ray.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanyanya kemudian.


"Selain baik dan pengertian, Mas juga pintar. Aku semakin mencintai Mas."


"Kamu benar-benar sudah jago merayu."


"Ini bukan rayuan, Mas. Tapi ungkapan isi hatiku. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu." Suci meraih tangan Ray lalu menggenggamnya.


"Ayo kita berangkat sekarang."


"Tidak bisa."


"Kenapa tidak bisa?"


"Kamu pikir aku bisa menyetir mobil dengan satu tangan saja?"


"Ah, iya. Maaf." Suci pun lantas melepas tangan Ray dari genggamannya.


"Bismillah, kita berangkat sekarang."


"Ya Allah, permudahkan urusan kami," ucap Suci.


"Aaminn."


Mobil Ray baru beberapa saat melaju ketika tiba-tiba handphone Suci berdering. Rupanya nomor asing yang menghubunginya.


[Halo, selamat pagi. Maaf, dengan siapa saya berbicara?]


[Ibu… ini Arsen. Aku menelpon Ibu dari rumah sakit.]


[Arsen Sayang. Ibu dan ayah minta maaf, belum bisa pulang hari ini karena urusan kami belum selesai.]


[Tidak apa, Bu.]


[Bagaimana keadaanmu, Nak?]


[Aku sudah tidak pusing lagi. Tadi aku juga menghabiskan sarapanku.]


[Sungguh? Ibu senang mendengarnya. Itu artinya sebentar lagi kamu sembuh dan diperbolehkan pulang. Oh ya, di mana mbok Asih?]


[Ada di sini, sedang mengupas buah mangga untukku.]


[Bisa kamu berikan teleponnya pada mbok Asih, Nak?]


Beberapa saat kemudian.


[Halo, Assalamu'alaikum, Nduk.]


[Wa'alaikumsalam, Mbok. Bagaimana kabar Mbok?]


[Alhamdulillah, mbok sehat. Mbok harus selalu sehat agar bisa mengurus tuan muda Arsen.]


[Terima kasih Mbok sudah merawat Arsen dengan baik.]


[Tidak perlu berterima kasih. Tuan muda sudah mbok anggap seperti cucu mbok sendiri. Sudah pasti mbok akan merawatnya dengan baik.]


[Kami minta maaf belum bisa pulang dalam waktu dekat. Masih banyak hal yang harus kami selesaikan.]


[Apa ada masalah, Nduk?]


[Mbok bisa keluar sebentar? Apa yang akan aku sampaikan kurang baik jika didengar Arsen.]


Beberapa saat kemudian.


[Mbok sudah di luar.]


[Ada yang tidak beres dengan kematian Fitri.]


[Tidak beres bagaimana, Nduk?]


[Fitri meninggal dunia karena pendarahan di otaknya yang disebabkan kepalanya membentur sesuatu yang cukup di dalam rumah. Dengan kata lain Fitri meregang nyawa karena seseorang mendorongnya dengan begitu kasar.]


[Astaghfirullahaldzim! Siapa yang tega melakukannya, Nduk?]


[Murni, Mbok. Dia bersikeras tetap berangkat ke kota S, meskipun bapak dan Fitri melarangnya.]


[Ya Allah. Jadi sekarang Murni ditahan?]


[Bapak yang ditahan.]


[Loh, kok bisa bapak kamu yang ditahan?]


[Bapak membuat pengakuan palsu agar Murni tidak ditangkap. Tapi aku dan mas Ray sepakat untuk tetap mencari keberadaannya di kota S. Aku ingin semuanya jelas.]


[Semoga Allah memudahkan urusan kalian.]


[Aamiin. Makasih, Mbok. Aku tutup dulu teleponnya ya, Mbok. Aku dan mas Ray sedang dalam perjalanan menuju kota S. Alhamdulillah mas Ray sudah mengantongi alamat salon yang didatangi Murni.]

__ADS_1


[Ya sudah, kalian hati-hati. Tidak perlu mengkhawatirkan tuan muda, mbok akan merawatnya dengan baik.]


[Ya, Mbok. Kami percaya pada Mbok. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum.]


-Suci mengakhiri percakapan-


"Alhamdulillah, keadaan Arsen semakin membaik. Tadi dia bilang tidak pusing lagi, sarapannya juga habis," ucap Suci.


"Syukurlah, aku jadi lega mendengarnya," ujar Ray.


"Masih jauh ya, Mas tempatnya?"


"Lumayan, mungkin dua jam perjalanan lagi."


"Hoammm." Suci cepat-cepat menutup mulutnya saat kantuk tiba-tiba datang menyerangnya.


"Kalau kamu mengantuk, tidurlah. Nanti aku bangunkan setelah kita sampai di tempat tujuan."


"Aku nggak ngantuk kok."


"Barusan menguap, apa artinya kalau bukan ngantuk?"


"Aku hanya menguap saja. Lagipula kalau aku tidur nggak ada yang mengajak Mas mengobrol. Nanti mas ikut ngantuk juga 'kan bahaya."


Beberapa saat kemudian mobil Ray berhenti lantaran lampu lalu lintas berwarna merah.


"Rujak rujak! Rujak nya, Pak … Bu," ucap seseorang dari luar mobil.


"Mas, beli rujak ya," rengek Suci.


"Itu makanan pedas. Bagaimana kalau kamu sakit perut?"


"Aku 'kan bisa pesan yang sambalnya tidak terlalu pedas. Ini camilan biar aku nggak ngantuk. Ya Mas ya," rayu Suci.


Ray pun menurunkan kaca jendelanya.


"Rujak nya lima wadah, Pak," ucapnya pada di penjual.


"Itu kebanyakan, Mas. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian."


"Nggak apa-apa, biar kamu puas makannya."


"Tetap saja kebanyakan. Satu wadah saja, Mas."


"Satu saja, Pak," ralat Ray.


"Sepuluh ribu."


Ray mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada si penjual rujak tersebut.


"Maaf, Pak. Uang kecil saja. Saya belum punya kembalian. Dari pagi baru Bapak yang beli rujak saya."


"Ah, kalau begitu ambil saja kembaliannya."


"Mana bisa begitu. Lima puluh ribu berarti lima wadah rujak."


"Bapak mau istri saya sakit perut karena kebanyakan makan rujak? Sudahlah, ambil saja kembaliannya. Ini rejeki dari Allah melalui saya."


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak … Bu. Semoga Allah memberikan rejeki yang berlimpah untuk keluarga Bapak dan Ibu serta memudahkan setiap urusan kalian," ucap si penjual rujak.


"Aamiin …"


Lampu lalu lintas berganti menjadi warna hijau. Ray pun kembali melajukan mobilnya.


Sekitar pukul satu siang mereka tiba di alamat tujuan.


"Mas … kenapa tempatnya begini? Ini tidak seperti salon," ucap Suci.


"Tapi alamatnya sudah benar. Mungkin kita bisa menanyakannya pada orang yang berada di tempat ini. Permisi!"


Tidak berselang lama seorang gadis keluar dari dalam bangunan bercat abu-abu itu.


"Selamat siang, Mbak."


"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apa benar di sini salon Beauty and Young?" tanya Ray.


"Benar, Pak."


"Alhamdulillah, kita sudah mendatangi tempat yang benar," ujar Suci.


"Memangnya kenapa, Pak … Bu?"


"Kemarin adik perempuan saya dan kedua kawannya mendatangi tempat ini untuk bekerja sebagai karyawan salon. Tapi sejak siang kemarin nomor handphone mereka sulit dihubungi. Apa saya bisa bertemu dengan adik saya, Mbak?"


Raut wajah gadis itu pun tiba-tiba berubah kebingungan. Bahkan sedikit pucat.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2