
"Bagaimana tuan muda bisa diculik, Mbok?"
"Selain menculik tuan muda Arsen, para perampok itu juga mengambil surat-surat berharga di ruang kerja tuan Ray. Bahkan mereka juga berhasil membobol brankas yang berada di dalam ruangan itu," ungkap mbok Asih.
"Kapan peristiwa itu terjadi, Mbok?" tanya Suci lagi.
"Dini hari tadi, Nduk."
"Apa Mbok sempat menghubungi tuan Ray?"
"Ya. Mbok sempat berusaha menghubungi tuan Ray, namun belum sempat bicara apapun, perampok itu merebut gagang telepon lalu memutus kabel nya."
"Dini hari tadi Ray memang membangunkanku karena Mbok menelponnya. Dia mengajakku kembali ke kota saat itu juga. Ah! Seandainya aku tidak sakit, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tuan Arsen tidak mungkin diculik. Ini semua salahku."
"Kenapa kamu jadi menyalahkan diri begitu? Apa yang terjadi di rumah ini sama sekali bukan salahmu."
"Apa Mbok bisa menceritakan kejadian itu dari awal?"
"Entah mengapa malam itu mbok rasanya ngantuk berat, padahal mbok cuma minum teh buatan Zola."
"Tunggu! Teh buatan Zola?"
"Ya, memang tidak biasanya dia bersikap baik pada mbok. Tapi mbok coba menghargainya saja."
"Mbok yakin ngantuk berat setelah minum teh buatan Zola? Mbok makan atau minum minuman yang lain, mungkin."
"Tidak, Nduk. Mbok bahkan belum sempat makan malam. Tuan muda juga tidurnya pulas sekali."
"Mbok yang membuatkan susu untuk tuan muda Arsen 'bukan?"
"Ehm …mbok terakhir membuat susu untuk tuan muda sekitar jam lima sore. Oh ya, Zola juga membuatkan susu formula untuk tuan muda tidak lama setelah dia membuatkan teh hangat untuk mbok."
"Sepertinya Zola terlibat dalam peristiwa perampokan itu," ucap Suci.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu, Nduk?"
"Sekarang mbok pikir. Zola yang biasanya angkuh tiba-tiba berbaik hati membuat minuman untuk Mbok, juga membuat susu untuk tuan muda. Aku yakin Zola memasukkan obat tidur ke dalam minuman Mbok dan susu tuan muda Arsen. Itulah sebabnya Mbok ngantuk berat dan tuan muda tidur begitu pulas."
"Benar juga katamu, Nduk. Mbok sama sekali tidak berpikir ke arah sana."
__ADS_1
"Aku yakin sekali Zola juga melakukan hal yang sama pada pak Bondan. Jika pak Bondan terpengaruh obat tidur, dia tidak bisa mengawasi pos security. Dengan begitu siapapun bisa bebas masuk ke dalam rumah ini tak terkecuali perampok itu. Zola lah yang membuka akses bagi mereka untuk masuk ke dalam rumah ini dan menguras harta milik tuan Ray."
"Tapi, Nduk. Zola ditemukan dalam kondisi tangan terikat dan mulut ditutup lakban di dalam kamarnya."
Suci menyeringai kecut.
"Sungguh drama yang luar biasa sempurna.
"Zola pasti menyuruh perampok itu untuk mengikat tangan dan menutup mulutnya agar peristiwa yang terjadi di rumah ini mirip seperti sebuah perampokan. Padahal dia sendiri otak perampokan di rumah ini. Mbok pasti paham untuk siapa Zola bekerja."
"Maksudmu nyonya Sofia?"
"Siapa lagi kalau bukan dia."
"Kamu memang cerdas. Gadis sepertimu cocok sekali menjadi detektif."
"Aku hanya menggunakan akal dan logika saja, Mbok. Oh ya, apa tuan Ray sudah melaporkan kejadian ini pada polisi?"
"Mbok nggak tahu, Nduk. Dari pagi tadi tuan Ray pergi, mbok tidak tahu dia pergi kemana."
"Di mana Zola sekarang?"
"Sekitar setengah jam sebelum kamu sampai di rumah ini dia pamit pulang kampung."
"Apa mungkin dia mendatangi rumah suami nyonya Sofia?"
"Bisa jadi."
"Jadi, apa rencanamu, Nduk?
"Aku perlu bertemu dan bicara langsung dengan tuan Ray. Aku tidak akan mampu bergerak sendiri."
Tidak berselang lama terdengar suara deru mobil dari arah halaman.
"Itu pasti tuan Ray, mari kita temui dia."
Mbok Asih meninggalkan taman belakang dan mengajak Suci menuju ruang tamu. Tentu saja Ray terkejut saat mendapati Suci sudah kembali ke rumahnya.
"Kamu? Bagaimana kamu bisa ada di sini?"
__ADS_1
"Suci ini baru sekitar satu jam yang lalu tiba dari kampungnya."
"Bukannya kamu masih sakit? Kenapa kamu nekat kembali ke sini?"
"Setelah minum obat aku merasa lebih baik. Lagipula aku tidak bisa berlama-lama jauh dari tuan muda Arsen."
Tiba-tiba pandangan Ray tertuju pada sebuah kantong plastik yang ditenteng Suci.
"Apa itu?" tanyanya.
"Ini mainan untuk tuan muda."
"Di mana tuan muda sekarang? Apa dia baik-baik saja? Ataukah perampok itu justru menyakitinya?" lirih mbok Asih.
"Ehm … Tuan. Ada hal yang ingin saya bicarakan."
"Bicara saja."
Suci pun menyampaikan semua analisa nya serta kecurigaannya pada Zola jika dialah otak dari perampokan di rumah ini di bawah perintah nyonya Sofia.
"Saya rasa Pemikiranmu cukup masuk akal."
"Jadi, apa rencana Tuan? Apa kita perlu mendatangi rumah suami nyonya Sofia?"
"Aku yakin mereka sudah pergi meninggalkan rumah itu."
"Apa Tuan sudah lapor polisi?" tanya Suci.
"Aku tidak memiliki bukti apapun. Perampok itu sengaja mematikan kamera pengawas. Lagipula laporan kehilangan anggota keluarga harus menunggu 2x24 jam."
"Saya takut mereka menyakiti tuan muda Arsen," ucap Suci.
"Pikiran mereka memang licik tetapi saya yakin mereka masih punya hati. Mereka tidak akan menyakiti Arsen," ujar Ray.
"Semoga."
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..