
"Bagaimana jalan-jalan nya tadi, Tuan muda?" tanya mbok Asih sesaat setelah Arsen memasuki ruang tamu.
"Awalnya menyenangkan, tapi jadi menyebalkan setelah bertemu dokter Kinara."
"Memangnya dokter Kinara ngapain?"
"Tadi dokter Kinara marah-marah sama ibu."
"Arsen Sayang, masuk ke kamar dulu ya. Ibu mau bicara dengan mbok Sumi," bujuk Suci.
"Baik, Bu."
Bocah tampan itu pun lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Apa benar dokter Kinara marahin kamu, Nduk?" tanya mbok Asih.
"Mbok 'kan tahu, dari dulu dokter Kinara tidak pernah menyukaiku."
"Ya, mbok juga tahu kalau dia menaruh hati pada tuan Rayyan. Mbok jadi penasaran bagaimana ekspresi wajahnya saat tahu kamu sudah menjadi istri tuan Ray."
"Sepertinya dia cukup kaget, sampai-sampai menuduhku menggunakan guna-guna."
"Dia hanya iri kenapa tuan Ray menikahimu."
Tiba-tiba mbok Asih mengamati penampilan Suci.
"Loh, bukannya saat berangkat tadi kamu memakai dress berwarna peach? Kok pulang nya baju nya beda."
"Ehm … tadi aku tersiram air saat di toilet. Kran air yang tadinya mati tiba-tiba menyala."
"Mbok nggak percaya. Ini pasti ulah dokter angkuh itu 'kan?"
"Tidak kok, Mbok. Aku saja yang kurang hati-hati."
"Aku juga berpikiran sama dengan Mbok. Pakaian Suci basah kuyup pasti bukan karena tersiram air kran, tapi disiram oleh Kinara dengan sengaja." Ray yang tiba-tiba muncul di ruangan itu menimpali.
"Ehm … sebenarnya-sebenarnya tadi dokter Kinara memang menyiramku dengan selang air saat di toilet."
"Keterlaluan!"
"Sudahlah, tidak apa. Mungkin dia hanya iseng."
"Setelah jalan-jalan, kalian pasti lapar. Mbok sudah menyiapkan makan siang."
"Mbok masak apa?" tanya Rayyan.
"Sop iga sapi dan udang goreng tepung untuk tuan muda Arsen.
"Kenapa Mbok nggak menungguku pulang? Jadi kita bisa masak bersama," ucap Suci.
Mbok Asih mengulas senyum tipis.
"Kamu lupa ya? Sekarang 'kan kamu bukan pengasuh lagi. Kamu sudah menjadi nyonya Rayyan, jadi kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah lagi."
"Aku pasti bosan kalau tidak melakukan apapun di rumah ini. Aku ingin kita tetap berbagai tugas seperti biasanya."
"Mana bisa begitu. Tidak ada nyonya yang mengerjakan pekerjaan rumah."
"Sudah kubilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku Suci, selamanya tetap Suci."
"Silakan kalian berdebat dulu, aku mau makan siang. Perutku sudah lapar." Ray beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
"Mari, Mbok. Makan siang bersama," ucap Suci.
"Mbok sudah makan tadi."
"Ayolah, Mbok. Aku tidak suka kalau Mbok menjaga jarak dariku."
"Mbok memang sudah makan kok."
"Ya sudah, aku panggil Arsen dulu."
Suci beranjak dari ruang tamu lalu menuju kamar putera sambungnya itu.
"Sayang, makan siang dulu," ucapnya setelah membuka pintu kamar.
"Loh, kok malah tidur. Kamu 'kan belum makan siang."
"Aku mengantuk, Bu. Nanti saja makan siangnya."
"Makan siang dulu, baru tidur siang. Itu yang benar. Ayo ibu gendong."
"Malu ih. Masa sudah gede digendong."
"Malu sama siapa? Paling yang melihat hanya ayah dan Mbok Asih saja yang melihat. Ayo cepat naik."
Arsen pun lantas menaiki punggung Suci.
"Pesawat terbang siap mengudara."
Suci menggendong Arsen lalu mengajaknya menuju ruang makan.
"Pesawat terbang mendarat," ucap Suci sembari mendudukkan Arsen di salah satu kursi.
"Ayah kok nggak diajak naik pesawat nya?" protes Rayyan.
Entah mengapa kalimat itu membuat Suci dan Ray salah tingkah.
"Ya sudah, kamu mau makan sama apa? Biar ibu ambilkan."
"Udang goreng tepung sama sayur sop."
"Makan yang banyak biar cepat besar," ucap Suci seraya menyodorkan piring berisi makanan itu ke arah Arsen.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Sayang."
Suci mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Ia pun lantas memulai santap siangnya.
"Oh ya, aku baru ingat. Guru keterampilan di sekolahku meminta kami membuat kerajinan tangan dari bahan bekas, tapi aku bingung harus membuat apa," ucap Arsen.
"Ehm … nanti ibu tanya ke mbok Asih apa ada barang bekas di rumah ini. Sekarang habiskan dulu makananmu."
Setelah makan siang Suci dan Arsen pun menemui mbok Sumi yang tengah berada di ruang menyetrika.
"Mbok Asih masih menyimpan botol bekas nggak?" tanya Suci.
"Botol bekas untuk apa, Nduk?"
"Untuk membuat kerajinan tangan. Guru keterampilan Arsen yang menyuruh membuatnya."
"Ada banyak, Nduk. Mbok menyimpannya di dalam gudang."
__ADS_1
"Kunci gudang nya mana, Mbok? Biar kuperiksa sekarang."
"Tunggu sebentar."
Mbok Asih masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian ia memberikan sekumpulan anak kunci pada Suci.
"Kunci gudang yang paling kecil, soalnya pakai gembok," jelasnya.
"Baik, Mbok. Terima kasih."
"Ayo, Sayang."
Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya menuju gudang.
"Kita mau membuat kerajinan tangan apa dari botol-botol bekas ini?" tanya Arsen.
"Kita mau membuat bunga beserta vas nya."
"Bagaimana caranya?"
"Nanti kita buat bersama ya. Sekarang bantu ibu membawa botol-botol ini."
Suci mulai mengeluarkan satu persatu botol bekas wadah minyak goreng dari dalam karung. Di saat itulah seekor kelabang tiba-tiba muncul dari dalam karung tersebut.
"Ibu, awas! Kalajengking!" jerit Arsen.
Dengan sigap Suci meraih balok kayu yang tergeletak di atas lantai lalu digunakannya untuk memukul binatang beracun tersebut.
"Untung saja kamu lihat. Sengatan dari binatang ini sangat berbahaya, bahkan bisa berakibat fatal. Sepertinya botol nya sudah cukup. Ayo kita mulai saja membuatnya."
Setelah merapikan kembali karung berisi botol bekas, keduanya pun lantas meninggalkan gudang tersebut.
"Bagaimana cara membuat vas dan bunga dari botol-botol bekas ini?" tanya Arsen saat keduanya telah berada di ruang keluarga."
Suci pun lantas memberi tahu Arsen bagaimana caranya membuat kerajinan tangan yakni bunga beserta vas nya.
"Terima kasih, Bu. Aku sungguh beruntung memiliki ibu sepertimu," ucap Arsen.
Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Ya sudah, sekarang bereskan tempat ini lalu tidur siang."
"Baik, Bu."
Suci tengah membersihkan ruang tengah itu ketika terdengar obrolan dari arah teras. Rupanya pak Bondan yang tengah mengobrol dengan mbok Sumi.
"Kalian serius sekali. Apa ada masalah?" tanyanya.
"Tadi ada seorang gadis seusia Mbak Suci yang berusaha memanjat pagar besi" jelas pak Bondan.m
"Sungguh? Lalu, di mana gadis itu?"
"Sepertinya sudah pergi."
Entah mengapa Suci begitu penasaran dengan gadis yang dimaksud pak Bondan. Ia pun beranjak dari dalam rumah lalu berjalan menuju halaman rumah. Tak ada siapa pun di dekat pintu gerbang. Namun tiba-tiba netranya menangkap seorang gadis yang tengah duduk di tepi jalan. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Permisi, Mbak," sapanya.
Gadis itu pun sontak menoleh ke arahnya.
"K-ka-kamu?"
__ADS_1
Bersambung …