Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 87


__ADS_3

"Kamu perhatikan saja wajah anak ini," ucap perempuan itu.


Security itu pun lantas mengamati wajah Arsen.


"Loh, kok wajahnya mirip Tuan Rayyan ya?"


"Tentu saja mirip, tuan muda Arsen ini 'kan memang puteranya tuan Rayyan. Dan nyonya ini adalah istri beliau."


"Astaga! Mati aku!" batin Dion.


"Ehm … Nyonya … Tuan muda … Saya minta maaf sudah bersikap tidak sopan pada kalian," ucap Dion.


Suci mengulas senyum tipis.


"Tidak apa. Oh ya, di mana ruangan Mas Rayyan?" tanya Suci.


"Mari, Nyonya … Tuan muda. Biar saya antar ke ruang tuan Rayyan," ucap perempuan berpenampilan rapi itu.


Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya mengikuti perempuan tersebut.


"Terima kasih, Nona, ehm, …"


"Nama saya Rossa, sekretaris tuan Ray. Silahkan."


Rossa membuka pintu bertuliskan CEO itu. Suci dan Arsen pun lantas masuk ke dalamnya.


"Ayah!" serunya.


Kedatangan suci dan Arsen yang mendadak tentu saja mengagetkan Rayyan.


"Astaga! Kalian? Kenapa kalian ada di sini?"


"Ibu ingin mengantarkan makan siang untuk Ayah," jelas Arsen.


"Kenapa kamu harus repot-repot? Aku bisa kok makan di cafe atau di restoran."


Suci mengulas senyum tipis.


"Tidak apa, Mas. Kebetulan mbok Asih memasak sayur lodeh dan aku membuat sambal ikan teri. Ini makanan kesukaan Mas 'kan? Jadi aku mengantarnya ke sini."


Rei menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Mas sudah lapar belum?" tanya Suci.


"Sebenarnya aku sudah lapar dari tadi, tapi aku belum sempat keluar karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku."


"Mas jangan menyepelekan makan. Terkadang penyakit datang karena pola makan kita yang tidak teratur," ujar Suci.


"Hemmmm … aroma sambal ikan teri ini membuatku semakin lapar saja."


"Mas matiin dulu laptop nya, lalu kita makan bersama."


"Memangnya kamu belum makan?" tanya Ray.


Suci menggelengkan kepalanya.


"Aku sengaja tidak makan di rumah karena ingin makan bersama Mas di sini."


"Kamu memang istri yang baik," puji Ray seraya menyentuh puncak kepala Suci.


"Ya sudah, ayo kita makan dulu," ucap Ray. Keduanya pun lantas menuju sofa yang berada di ruang kerja tersebut.


"Bagaimana, apa kalian sudah hafal puisinya?" tanya Ray di sela santap siangnya.


"Sedikit lagi, Yah. Aku masih kesulitan menghafalkan yang bagian bahasa Inggris nya."


"Love does not need a reason."

__ADS_1


"Memangnya apa artinya, Yah?"


"Cinta tidak butuh alasan."


"Oh …"


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Ray.


"Sudah tadi di rumah, sama ikan gurame."


"Nggak mencoba sambal ikan teri nya?"


"Nggak ah. Pedas, nanti aku sakit perut."


"Siapa bilang pedas."


"Dari warnanya yang merah saja sudah kelihatan kalau cabe nya banyak."


"Ini tidak pedas kok. Lihat wajah ayah, tidak tampak kepedasan 'kan?"


"Tetap saja aku nggak berani."


"Ya sudah, mungkin lidah kamu belum kuat untuk makan pedas."


"Ayah, aku boleh nggak pinjam laptop nya?"


"Untuk apa?"


"Aku ingin melihat video."


"Oh, boleh. Tapi kartu anak-anak saja ya."


Arsen mengangguk setuju.


"Enak nggak, Mas sambal ikan teri nya?" tanya Suci.


Ray menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada sambal yang lebih enak dari sambal buatanmu."


"Aku pikir nggak enak. Oh ya, Mas. Tadi aku bertemu dengan nyonya Sofia." Tiba-tiba Suci mengalihkan pembicaraan.


"Uhuk! Uhuk!"


Rupanya kalimat terakhir yang baru saja meluncur dari bibir Suci membuat Ray tersentak kaget hingga dia tersedak oleh makanan yang baru saja melewati kerongkongannya.


"Hati-hati dong, Mas." Suci dengan sigap menuangkan air putih dari botol ke dalam sebuah gelas lalu memberikannya pada Ray."


"Aku hanya kaget saja. Memangnya di mana kamu bertemu dengannya?"


"Di sekolah Arsen. Ternyata perempuan yang diceritakan Arsen itu benar nyonya Sofia. Dia dan suaminya sudah bebas dari penjara dua minggu belakangan."


"Lantas, sekarang mereka tinggal di mana?"


"Nyonya Sofia bilang kalau sekarang mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan tidak jauh dari sekolah. Dia hanya menjadi ibu rumah tangga biasa sementara suaminya bekerja sebagai sopir pribadi," papar Suci.


Suasana hening sejenak.


"Aku merasa nyonya Sofia sudah berubah."


"Berubah?"


"Benar, Mas. Cara bicaranya sekarang lebih halus dan lembut."


"Aku mengenal betul siapa perempuan itu, dia pasti berpura-pura baik agar kamu merasa iba padanya, lalu kamu akan memintanya untuk tinggal kembali di rumah kita."


"Tapi, Mas, bagaimanapun dia adalah keluarga kita. Apa Mas tega membiarkannya hidup kesusahan?"

__ADS_1


Ray tersenyum getir.


"Kalaupun dia dan suaminya hidup kesusahan, itu karena ulah mereka sendiri yang serakah dan ingin menguasai harta peninggalan ayah," ujarnya.


"Setiap manusia bisa berubah 'bukan? Mungkin nyonya Sofia dan suaminya pernah berbuat jahat pada keluarga kita. Mungkin saja penjara telah membuatnya sadar dan dia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik."


"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah membiarkan dua penghianat itu masuk kembali ke dalam rumahku. Aku justru ingin berpesan padamu agar kamu tetap hati-hati dan waspada dengannya. Bukan tidak mungkin dia sedang menyusun rencana untuk membalas dendam pada keluarga kita," ungkap Ray.


Suci mengangguk paham.


"Buka mulutmu," titah Ray.


"Ngapain?"


"Sudah buka saja."


"Aaaa." Suci pun membuka lebar mulutnya.


Secara tak terduga Ray mengambil sesendok nasi beserta sambal ikan teri lalu memasukkannya ke dalam istrinya itu.


Suci pun sontak menundukkan wajahnya karena malu.


"Malu, Mas. Nanti Arsen lihat."


"Biarin aja. Justru dia harus tahu jika ayahnya adalah seorang laki-laki yang romantis." Ray terkekeh.


Senyum mengembang di bibir Suci. Iya tak menyangka jika pria yang pernah menjadi majikannya itu bisa bersikap semanis itu padanya.


"Ayah," sela Arsen.


"Ya, Nak."


"Security yang di depan itu tadi galak pada kami."


"Galak?"


"Ya. Dia nggak percaya kalau kami adalah istri dan anak Ayah. Dia bahkan mengusir kami."


"Kelewatan si Dion. Nanti ayah akan beri teguran keras untuknya."


"Tidak usah, Mas. Jangan terlalu keras pada bawahan. Dia bersikap begitu karena belum tahu saja," sergah Suci.


"Begitulah jika orang hanya menilai orang lain dari penampilan luarnya saja. Dia tidak tahu saja jika di balik penampilan sederhana perempuan yang kini berada di hadapanku ini tersimpan hati yang tulus dan suci bak malaikat."


"Namaku 'kan memang Suci."


"Siapa bilang. Namamu sekarang adalah nyonya Ray Bimantara."


"Aku nggak mau dipanggil nyonya."


"Kenapa?"


"Terdengar aneh saja di telingaku."


"Memangnya kamu mau dipanggil apa?"


"Apa sajalah, selain nyonya."


"Iya … iya. Tunggu sebentar."


Tiba-tiba Ray mengamati wajah Suci.


"Kenapa?"


"Ada sisa makanan di dekat bibirmu."


Ray mengambil selembar tisu lalu menyeka bibir Suci.

__ADS_1


"Ah, Kenapa setiap hari kamu membuatku semakin jatuh cinta saja, Mas," gumam Suci.


Bersambung …


__ADS_2