
"Berapa semuanya, Mas?" tanya Ray pada Hanafi.
"60 ribu, Pak."
Ray mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribuan dan sepuluh ribuan dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada Hanafi.
"Terima kasih. Ehm … Suci."
"Ya, Han."
"Aku boleh nggak minta nomor handphone mu? Nomor lamamu tidak dapat dihubungi."
"Ehm, …"
"Memangnya buat apa kamu minta nomor handphone istri saya? Kamu 'kan sudah punya istri," sela Ray.
"Buat saling kasih kabar saja, Pak. Kami kan berteman sejak kecil."
"Sepertinya itu tidak perlu," ujar Ray.
"Ayolah, Ci. Aku minta nomor barumu," rengek Hanafi.
"Maaf, Han. Aku harus menurut apa kata mas Ray."
"Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, kamu sombong gitu ya."
"Bukan begitu, Han. Aku hanya, …"
"Aku memang orang miskin. Tidak pantas berteman dengan orang kaya sepertimu," ucap Hanafi. Dia pun lantas masuk ke bagian dalam warung.
"Kita jadi nggak pergi ke rumah teman kamu?" Ray mengalihkan pembicaraan.
"Oh, jadi, Mas."
"Kami permisi dulu, Pak. Terima kasih," ucap Suci pada pemilik warung.
"Terima kasih kembali."
Suci dan keluarga kecilnya pun lantas meninggalkan warung tersebut untuk selanjutnya menuju rumah kawan lama Suci.
"Sebenarnya laki-laki yang tadi itu siapa?" tanya Ray saat di perjalanan.
"Namanya Hanafi. Dulu dia kawanku saat masih di kampung."
"Dari caranya menatapmu sepertinya dia menyukaimu."
"Mana mungkin, Mas. Dia 'kan sudah punya istri. Sudahlah, nggak usah bahas dia."
"Rumah temanmu masih jauh?"
"Sepertinya sudah dekat. Nanti kalau sudah sampai pasar kita tanya saja sama warga."
Lima menit kemudian mereka mulai memasuki area pasar.
"Maaf, Pak. Saya mau tanya. Apa Bapak tahu rumah Dina?" tanya Suci pada seorang pedagang buah.
"Dina yang mana ya, Bu?"
"Dina yang tinggal di rumah kontrakan dan punya anak kembar," jelas Suci.
"Oh, rumahnya di sebelah sana. Tapi mobil nggak bisa masuk karena harus melewati gang kecil. Paling hanya sepeda motor yang bisa masuk sampai sana."
"Oh, baik, Bu. Ehm … saya beli buah jeruk nya dua kilo, Bu."
"Boleh."
Pedagang itu pun dengan sigap menimbang buah jeruk pesanan Suci lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.
"Semuanya tiga puluh ribu."
Setelah membayar jeruk yang dibelinya, Suci pun lantas berlalu dari hadapan pedagang tersebut.
"Mobilnya nggak bisa masuk ke dalam, Mas," ucap Suci pada Ray.
"Biar aku parkir di toko swalayan saja. Sepertinya akan lebih aman daripada diparkir di pinggir jalan," ucap Ray.
Suci mengangguk setuju.
Setelah memasuki gang sempit yang ditunjukkan pedagang buah itu, ketiganya pun tiba di sebuah rumah di mana ada warung di bagian depannya. Tampak dua orang anak perempuan tengah bermain boneka di teras rumah.
"Sepertinya benar ini rumah Dina," batin Suci.
"Permisi, Adik-adik. Apa kalian bisa memanggil ibu kalian?"
Sepasang bocah kembar berusia dua tahun itu pun lantas berlari masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama mereka keluar dengan mengajak serta ibunya. Benar saja, perempuan itu kawan lama Suci, Dina.
__ADS_1
"Anak kamu pintar sekali," puji Suci.
"Astaga! Suci. Bagaimana kamu bisa sampai di rumahku?" Dina tampak terkejut dengan kedatangan Suci yang tiba-tiba di depan rumahnya.
"Rumah kamu nggak sulit dicari kok. Aku nanya sama pedagang buah saja."
Tiba-tiba Suci mengalihkan pandangannya pada dua bocah perempuan yang bersembunyi di balik badan Dina.
"Hai Anak cantik, nama kalian siapa?" tanyanya.
"Keisya."
"Keyra."
"Nama yang bagus. Oh ya, ini untuk kalian." Suci menyodorkan kantong plastik berisi jeruk itu pada keduanya.
"Telima kasih, Bibi."
"Oh ya, ini suami kamu ya?" tanya Suci.
"Iya. Kenalkan, namanya mas Rayyan."
Dina mengulurkan tangan kanannya.
"Dina."
"Rayyan."
"Ya Tuhan, tampan sekali pria ini. Kaya dan mapan lagi. Seandainya saja dia yang jadi suamiku, aku pasti tidak akan tinggal di rumah kontrakan sempit begini. Aku bisa membeli barang-barang mewah sesuka hatiku," batin Dina.
"Sejak kapan kamu membuka warung ini?" tanya Suci.
Dina yang tengah melamun itu tentu saja tak menanggapi pertanyaanya. Ia justru tersentak kaget saat Suci memanggil namanya.
"Dina."
"I-i-iya. Kenapa?"
"Sejak kapan kamu membuka warung ini?"
Suci mengulangi pertanyaannya.
"Sejak kamu memberi uang itu, aku langsung membelanjakannya. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Warung ini sangat membantu keluargaku. Aku tidak perlu lagi mengemis di jalanan," ungkap Dina.
"Syukurlah, jika uang itu bermanfaat bagi keluargamu," ujar Suci.
"Ada tamu rupanya."
"Ini kawanku yang namanya Suci itu, Mas," jelas Dina.
"Terima kasih, Nyonya. Nyonya benar-benar sudah membantu keluarga saya," ucap pria bernama Herry itu.
"Tidak usah panggil saya nyonya."
"Oh, terima kasih, Bu Suci. Mari silahkan masuk."
"Tidak usah, di sini saja."
"Sudah dong, Mas ngerokok nya. Mentang-mentang sekarang punya warung kamu merokok sesuka hatimu. Kalau begini caranya bagaimana kita bisa dapat untung," tegur Dina saat mendapati suaminya mengambil sebungkus rokok dari etalase.
"Alah, satu bungkus saja kok."
"Satu bungkus kamu bilang? Di asbak saja sudah penuh dengan puntung rokok."
"Warung ini nggak bakalan rugi kok," ucap Herry dengan entengnya.
"Kalau setiap hari begini ya paling-paling nggak sampai tiga bulan warung ini sudah bangkrut. Kamu ini bisanya hanya nyusahin, nggak pernah nyenengin anak istri!"
"Cuma rokok sebungkus saja jadi perkara. Ini aku kembalikan!" Herry melempar sebungkus rokok tersebut dengan kasar di atas etalase lalu memutar kursi rodanya ke dalam rumah.
"Kamu lihat sendiri 'kan, bagaimana sikap suamiku. Bagaimana tubuhku nggak makin kurus. Setiap hari aku hanya makan hati," gerutu Dina.
"Kamu jangan bicara begitu sama suamimu. Bagaimana pun dia punya perasaan. Saat kakinya belum cacat, dia pasti mau bekerja untuk keluargamu 'bukan? Dengan keadaannya sekarang mungkin dia akan kesulitan menemukan pekerjaan baru."
"Mau sampai kapan dia jadi beban bagiku?"
Suci mengulas senyum tipis.
"Ini bukan beban, tapi ujian. Tuhan memberi ujian karena sayang sama kamu.
Tuhan juga tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan umat Nya."
"Kamu enak. Punya suami kaya, mau apa saja tinggal minta. Nggak kaya aku yang harus mikir besok ada nggak yang buat makan. Hidup ini nggak adil! Tuhan nggak adil!"
"Istighfar, Din. Kamu nggak boleh bicara begitu."
__ADS_1
"Memang nyatanya begitu kok, masa aku harus bilang Tuhan sudah baik ngasih aku uang yang berlimpah."
"Dina, rezeki itu tidak selamanya hanya tentang uang dan harta. Kamu punya dua anak kembar yang pintar dan sehat juga salah satu rejeki yanag harus kamu syukuri. Mungkin di luar sana ada pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum memiliki momongan, atau punya anak tapi sakit-sakitan."
"Mungkin selama ini aku terlalu banyak mengeluh."
"Ya, dan kamu lupa cara bersyukur."
"Nanti aku minta maaf sama mas Herry. Aku tidak akan pernah merendahkannya lagi," ucap Dina.
Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Ibu ayo pulang," rengek Arsen.
"Kenapa, Sayang? Kamu pasti capek ya. Ehm … maaf, Din. Sepertinya kami harus pulang sekarang. Lain kali aku main ke sini lagi."
"Sekali lagi terima kasih. Tuhan yang akan membalas kebaikanmu. Oh ya, aku do'akan semoga kalian cepat dapat momongan."
"Aamiin."
"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."
Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya meninggalkan rumah Dina.
"Oh ya, Mas. Bagaimana keadaan Rossa?" tanya Suci saat mereka baru saja memasuki mobil.
"Entahlah, aku belum menanyakan kabarnya lagi."
"Coba mas telepon saja."
Ray mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor sekretaris nya itu.
Ia sengaja menyalakan loud speaker agar Suci dan Arsen bisa mendengar serta obrolan mereka.
[Halo, Rossa]
[Ya, Tuan.]
[Bagaimana keadaanmu? Kamu sudah baikan?]
[Sudah, Tuan. Dokter sudah mengizinkan saya pulang. Ini saya sedang di perjalanan pulang ke rumah.]
[Kamu dijemput suami kamu 'bukan?]
[Ehm … tidak, Tuan. Saya naik taksi. Suami saya beralasan sibuk di toko, jadi dia tidak bisa menjemput saya di rumah sakit.]
[Suami kamu memang benar-benar keterlaluan. Tidak punya rasa peduli sama sekali dengan pasangannya.]
[Tidak apa, Tuan. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir saya. Ehm … Tuan ada di kantor ya? Maaf jika saya belum bisa masuk kantor.]
[Ah, tidak. Saya dan keluarga saya baru saja pulang dari sekolah Arsen. Ada acara pentas seni di sana.]
[Oh, begitu.]
[Setelah sampai di rumah kamu langsung istirahat. Jangan memikirkan pekerjaan kantor dulu.]
[Baik, Tuan.]
[Saya tutup dulu teleponnya. Selamat sore.]
Ray kemudian mengakhiri percakapan.
"Syukurlah kalau Rossa sudah pulang. Semoga rumah tangganya selalu baik-baik saja," ujar Suci.
"Terkadang aku kasihan saat dia bercerita jika suaminya terlalu acuh padanya," ucap Ray.
"Dan aku bersyukur memiliki suami yang begitu perhatian dan romantis seperti Mas."
"Memangnya aku romantis?"
"Ya. Setidaknya Mas tidak terlalu dingin."
Tiba-tiba Ray mendekati wajah Suci.
"Ada Arsen, malu," bisiknya.
"Lihat, dia tidur di pangkuanmu."
Wajah Suci memerah saat Arsen mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipinya.
"I love you," bisiknya.
"Ehm … love you too."
Untuk pertama kali semenjak menjadi pasangan suami istri Suci memberanikan diri memberi kecupan di bibir Ray.
__ADS_1
Bersambung …