Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 66


__ADS_3

"Kamu mau tahu apa saja yang dilakukan di malam pertama 'bukan?"


"Memangnya ngapain aja?"


"Balikkan badanmu."


"Tu-Tu-Tuan mau apa?"


"Sudah, balikkan badanmu."


Suci pun lantas membalikkan badannya.


"Tuan mau ngapain?!" pekiknya saat Ray tiba-tiba menarik resleting gaunnya.


"Astaga. Kamu ini kenapa. Memangnya kamu bisa melepas resleting ini tanpa bantuan orang lain?"


"Ehm … maaf. Aku pikir, …"


"Ayo cepat keluar, jangan membuat Arsen menunggu lebih lama lagi. Oh ya, aku sudah menyiapkan lemari baru di kamar ini lengkap dengan baju-baju dan sepatu. Kamu harus mulai membiasakan diri dengan benda-benda itu."


Ray yang telah mengganti setelan jas nya dengan kaos berlengan pendek itu pun beranjak dari kamarnya.


Suci berjalan menghampiri lemari bercat putih itu lalu membuka salah satu pintunya. Tampak di dalamnya puluhan pakaian wanita dengan berbagai model yang sama sekali belum pernah dipakainya. Dari semua pakaian itu, pilihannya jatuh pada sepotong


dress berlengan pendek dengan panjang selutut. Ia pun lantas menanggalkan gaunnya lalu mengenakan dress berwarna peach tersebut.


"Ternyata aku cantik juga kalau memakai pakaian model begini," batinnya saat memandang pantulan dirinya di cermin.


Suci baru saja hendak melangkah keluar dari kamar itu namun ia baru sadar jika dirinya masih bertelanjang kaki. Ia baru ingat jika tadi Ray sempat menyebutkan kata sepatu di dalam lemari.


"Ah, ternyata di sini sepatu nya."


Suci mengamati satu persatu sepatu yang berderet rapi di ruang sebelah kanan lemari bajunya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan sepatu berwarna senada dengan dress yang dipakainya.


"Apa baju dan sepatunya kekecilan?" tanya Ray sesaat setelah Suci keluar dari dalam kamarnya.


"Ehm … ukurannya pas. Tapi, dari mana Tuan bisa tahu ukuran baju dan sepatuku?"


"Itu bukan hal yang sulit bagiku."


"Ibu, ayo berangkat sekarang."


Arsen menggandeng tangan Suci lalu mengajaknya menuju mobil Ray yang berada di halaman rumah.


"Kamu mau kita jalan kemana, Sayang?" tanya Suci pada Arsen.


"Ke taman bermain lalu makan es krim."


"Tapi kami janji jangan banyak-banyak makan es krim nya."


"Ya, Bu."


Setibanya di taman.


"Ayah, aku mau naik bianglala itu," rengek Arsen.


"Ehm … kamu naik nya sama mbak … eh, ibumu saja ya."


"Ayah ikut dong."

__ADS_1


"Ayah nggak ikut, kepala ayah pusing."


"Ya sudah, ayo, Bu. Kita naik berdua saja."


Suci dan Arsen pun lantas menaiki wahana tersebut.


"Kenapa ayahmu tidak mau naik wahana ini?"


"Ayah 'kan takut ketinggian."


"Apa?"


"Badan ayah gemetar kalau di ketinggian."


"Yang benar saja, masa kalah sama anaknya," batin Suci.


"Ayah bilang waktu kecil pernah naik pohon di belakang rumah tapi nggak bisa turun. Dia menangis hampir satu jam tapi di rumah tidak ada yang menolong karena mbok Asih sedang ke pasar."


"Oh, jadi itu sebabnya ayahmu takut ketinggian. Kasihan juga."


"Setelah naik bianglala kamu mau mau naik wahana yang mana lagi?" tanya Suci.


"Itu yang jalannya cepat banget."


"Oh, roller coaster. Memangnya kamu berani?"


"Aku belum pernah naik, tapi penasaran ingin mencobanya."


"Ehm … bagaimana kalau kita ajak ayahmu?"


"Jangan, Bu. Ayah 'kan takut ketinggian. Bagaimana kalau dia pingsan?"


Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya menghampiri Rayyan yang kini tengah duduk di sebuah bangku taman.


"Sudah bermain nya? Kok cepat banget?" tanya Ray.


"Ibu mau mengajak Ayah naik roller coaster," ucap Arsen.


"Yang benar saja. Aku punya phobia pada ketinggian, kenapa kamu ngajak aku naik wahana ekstrem itu? Kamu mau buat aku jantungan?"


Suci mengulas senyum tipis.


"Aku sudah tahu kalau Tuan memiliki phobia pada ketinggian. Aku ingin Tuan terlepas dari ketakutan itu."


"Kalau kamu mau bilang aku harus naik roller coaster itu, aku tidak mau."


"Tuan … ketakutan itu berasal dari pikiran kita sendiri. Jadi Tuan harus melawannya. Jangan biarkan rasa ketakutan itu terus membersamai Tuan hingga seumur hidup."


"Ibu benar. Ayah tidak boleh terus terusan takut pada ketinggian. Bagaimana kalau suatu saat pekerjaan Ayah mengharuskan menaiki pesawat?"


"Arsen benar juga. Aku tidak boleh kalah dengan ketakutan ini. Aku harus bisa lepas!" gumam Ray.


"Ayo, Ayah."


Ray hanya bisa pasrah saat Arsen mengajak menuju loket penjualan tiket wahana roller coaster.


"Tiga tiket, Mas," ucap Suci pada petugas yang berjaga di loket tersebut.


Ray terlihat ragu sebelum memasuki wahana itu namun Suci meyakinkannya jika semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Tarik nafas panjang, lalu keluarkan perlahan. Tuan harus yakin pada diri Tuan sendiri," ucap Suci.


Ray yang awalnya ragu itu akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Ayah harus berani!" Arsen memberi semangat.


Rayyan memilih kursi persis di samping Suci. Setelah petugas memasangkan sabuk pengaman, perlahan kereta yang mereka tumpangi pun mulai melaju. Semakin cepat … semakin cepat … semakin cepat, hingga akhirnya mencapai kecepatan tertinggi.


Ray menutup matanya sementara salah satu tangannya menggenggam tangan yang dipikirnya tangan Arsen.


"Aaaaaaaaaaa! Aku berani! Aku tidak takut ketinggian lagi!" teriaknya bersamaan dengan roller coaster yang terus melesat dan berputar di jalurnya.


Beberapa menit kemudian roller coaster yang mereka naiki pun berhenti.


"Ayo kita turun, Sayang."


Ray menarik tangan yang dipikirnya tangan Arsen. Alangkah terkejutnya saat tahu jika tangan yang sedari tadi digenggamnya bukanlah tangan Arsen, melainkan tangan istrinya, Suci.


"Ma-ma-af."


"Ti-ti-tidak apa, Tuan."


"Dia ini kan sekarang sudah menjadi istriku, kenapa memegang tangannya saja harus minta maaf?" Ray merutuki kekonyolannya sendiri.


"Ayah hebat, sudah tidak takut ketinggian," puji Arsen.


"Ehm … terima kasih. Berkat kamu, aku bisa mengalahkan rasa ketakutanku pada ketinggian," ucap Arsen pada Suci.


"Sama-sama, Tuan."


"Astaga. Aku ini 'kan sudah menjadi suaminya. Kenapa dia masih memanggilku dengan sebutan tuan?" gumam Ray.


"Ayah, aku mau es krim," rengek Arsen sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah kedai es krim yang berada tidak jauh dari taman.


"Iya, Nak. Kamu boleh makan es krim sepuasmu."


"Mana bisa begitu, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Arsen hanya boleh makan satu cup es krim saja."


"Iya satu cup tapi yang ukurannya paling besar 'kan, Bu?" Arsen meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Iya, Sayang."


"Asyik! Terima kasih, Bu."


Arsen melepaskan tangannya dari gandengan Suci dan Ray lalu berlari menuju kedai es krim.


"Ehm … Maaf, Tuan. Sepertinya aku harus ke toilet," ucap Suci.


"Ya sudah, aku tunggu di kedai saja."


Suci berlalu dari hadapan Ray lalu menuju toilet yang masih berada di area taman.


Siang itu toilet tampak sepi, hanya terlihat seorang perempuan saja yang mengantre di sana.


Suci berdiri persis di belakang perempuan itu hingga suatu ketika netranya menangkap sebuah sapu tangan yang berada persis di dekat kaki perempuan tersebut.


"Maaf, Mbak. Sapu tangannya terjatuh," ucapnya.


Sontak perempuan itu berbaju kuning itu membalikan badannya. Detik kemudian sepasang netra keduanya pun bersitatap.

__ADS_1


"Kamu?"


__ADS_2