
Sementara itu di tempat lain.
Murni terbangun lantaran mobil yang ditumpanginya berguncang hebat. Rupanya ban belakang mobil pick up itu melintasi jalan berlubang yang cukup besar. Entah sudah berapa lama dia tidur, saat itu langit sudah begitu gelap.
"Astaga! Di mana ini?"
Murni baru menyadari jika dirinya kini berada di tempat asing yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Beberapa saat kemudian mobil itu pun berhenti di sebuah warung makan. Dibacanya alamat yang tertera di papan nama warung makan tersebut.
"Jalan lintas Jawa-Sumatera KM 10."
"Astaga! Ini sudah begitu jauh dari kota S," batinnya.
Beberapa sat kemudian pintu depan terbuka. Seorang pria berusia empat puluh tahunan terlihat menuju bagian belakang bak mobil untuk memastikan jika barang bawaannya dalam keadaan aman. Alangkah terkejutnya saat mendapati sesosok manusia berada di bak mobilnya.
"Siapa kamu! Kenapa kamu bisa berada di mobilku?"
"Ehm … maaf, Pak. Tadi aku berlari dari kejaran priai hidung belang. Lalu aku bersembunyi di dalam bak mobil ini. Tapi aku malah ketiduran," jelas Murni.
"Jadi kamu berada di dalam bak mobilku sejak di kota S?"
"Iya, Pak."
"Memangnya kamu dari mana dan mau kemana?"
"Aku-aku … hu … hu … hu…"
"Aduh! Piye to iki? Ditakoni kok malah mewek." (Aduh! Gimana ini, ditanya kok malah menangis)
"Ini sudah hampir jam sembilan malam. Kamu pasti belum makan. Ayo ikut aku ke warung itu."
"T-t-tapi, Pak. Aku tidak punya uang. Tas berisi pakaian, handphone, dan dompet terpaksa kutinggalkan di tempat itu."
"Sudahlah, biar aku yang traktir. Wajahmu sudah pucat begitu. Nanti kamu pingsan."
"T-t-tapi, Pak, …"
"Ayo kita makan dulu. Aku juga sudah lapar."
Meski ragu, Murni akhirnya memilih mengikuti pria itu masuk ke dalam toko.
"Dua porsi nasi sayur lauk dan dua gelas teh hangat, Mak," ucap pengemudi mobil pick up pada pemilik warung.
"Weladalah! Koe nggondol anak e sopo kui, Wan?" (Weladalah! Kamu bawa kabur anak siapa itu, Wan?)
"Nggak tahu, Mak. Tiba-tiba saja dia ada di bak mobilku saat aku berhenti di warung ini."
"Omahmu ngendi, Nduk? Kepiye critane koe isoh mlebu Ng bak montore si Wawan? Rumahmu di mana, Nak? Bagaimana ceritanya kamu bisa masuk di dalam bak mobil si Wawan)
"Aku-aku berasal dari kampung kecil di kota Y."
"Loh, tapi tadi mobilku ngambil barang di kota S."
"I-i-iya, Pak. Aku baru saja sampai di kota S untuk bekerja, tapi ternyata aku ditipu. Tempat kerja yang dijanjikan adalah sebuah salon khusus wanita, tapi, hu … hu … hu …"
"Yongalah … nangis maneh," gerutu Wawan.
"Minum lah biar kamu sedikit lebih tenang." Pemilik warung yang kerap disapa mak Inah itu menuangkan teh hangat lalu menyodorkannya pada Murni.
__ADS_1
"Terima kasih, Mak." Murni pun lantas meneguk minumannya.
"Coba ceritakan apa yang kamu alami sampai kamu berada di kota ini," ucap mak Inah.
"Aku diajak teman untuk bekerja di sebuah salon di kota S. Tapi setelah aku dan kedua temanku mendatangi alamat itu, tempat itu bukanlah salon melainkan tempat prostitusi. Kami melihat sendiri saat seorang pria di dalam sebuah kamar dilayani oleh tiga orang gadis sekaligus. Mereka sedang melakukan aktivitas seksuall. Aku dan kedua kawanku dipaksa mengenakan bikinii dan melayani pria hidung belang, tapi kami menolak. Mungkin aku lebih beruntung karena berhasil lolos dari tempat mesuum itu. Aku tak tahu bagaimana nasib kedua temanku karena pria itu berhasil memaksa mereka masuk ke dalam kamar," papar Murni.
"Ya Allah Gusti, malang sekali nasib kedua gadis itu," ujar mak Inah.
"Aku sempat dikejar boss pemilik tempat mesuum itu hingga akhirnya aku bersembunyi di bawah terpal yang berada di dalam bak mobil pak Wawan."
"Jadi kamu sengaja ingin menumpang mobilku?" tanya Wawan.
Murni menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, Pak. Aku ketiduran dan baru terbangun beberapa saat yang lalu."
"Bagaimana ini, Mak? Aku nggak bisa kalau harus mengantar gadis ini pulang ke rumahnya di kota Y. Pagi ini aku harus menyeberang ke pulau S dan mungkin baru kembali Minggu depan."
"Kamu berani 'kan pulang sendiri? Biar Mak yang kasih ongkos."
"Aku ggak berani, Mak. Aku trauma bepergian jauh. Hu … hu … hu."
"Trs gimana ini, Mak? Masa aku harus bawa dia ke pulau S. Bisa digeprek aku sama istriku."
"Ehm … begini saja. Untuk sementara kamu tinggal di sini sama bantu-bantu emak. Nanti kalau giliranmu mengambil atau mengirim barang ke kota Y, barulah kamu jemput ehm, …"
"Namaku Murni."
"Nanti kamu jemput Murni."
"Kamu nggak apa-apa 'kan tinggal di warung ini untuk beberapa waktu? Kamu jangan takut, mak Inah orangnya baik kok," ucap Wawan.
Murni menganggukkan kepalanya.
"Duh Gusti, mak sampai lupa menyiapkan pesanan kalian." Wanita bertubuh gempal itu terkekeh. Ia pun lantas menyiapkan makanan untuk keduanya.
Murni yang sedari tadi diserang rasa lapar itu pun dengan lahap menyantap santap malamnya. Dia beruntung bisa lolos dari tempat mesuum itu dan dipertemukan dengan orang-orang baik.
Buliran bening menetes begitu saja di pipinya saat tiba-tiba wajah sang ayah dan kedua saudara perempuannya, Suci dan Fitri melintas di kepalanya.
"Aku menyesal tidak mengikuti kata-kata kalian. Maafkan aku, Bapak … Mbak Suci … Fitri," gumamnya.
Sementara itu di dalam sebuah kamar.
Rita dan Lina terlihat tengah terisak di sudut ruangan sembari berpelukan. Bagaimana tidak? Kesucian mereka sudah direnggut secara paksa oleh seorang pria yang menjadi tamu panti pijit plus-plus itu.
"Mau sampai kapan kalian menangis hah! Diam atau kuhabisi kalian!" sentak sang boss sesaat setelah pelanggan yang "memakai" kedua gadis itu meninggalkan kamar tersebut.
"Eva! Kamu urus mereka. Setelah makan malam nanti mereka harus melayani pelanggan lagi," titah sang boss.
"Baik, Tuan. Ayo bersihkan diri kalian lalu makan malam," ajaknya.
"Rasa perih di bagian intiku bahkan belum hilang, aku harus melakukannya lagi? Tidak! Aku tidak bisa. Daripada aku harus melanjutkan hidup dengan keadaan ternoda begini, lebih baik aku mati saja," batin Rita.
Rita menyeka air matanya lalu beranjak dari kamar itu.
"Kamar mandinya di sebelah sana. Handuk dan sabunnya juga sudah saya siapkan," jelas Eva.
Meski berat, Rit berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak Eva."
"Sudahlah, Lin. Jangan menangis lagi. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir kita," ucap Rita.
Lina hanya menanggapinya dengan senyum getir.
"Sekarang kamu mandi dulu, nanti gantian," ucap Rita.
"Kamu duluan saja, badanku masih pegal-pegal. Aku mau istirahat di kamar dulu."
Rita berjalan menuju kamar mandi sementara Lina menuju kamarnya.
Satu jam kemudian.
"Di mana anak baru itu? Mereka harus sudah siap di kamar sekarang," tanya big Boss pada asisten pribadinya, Eva.
"Mereka masih bersiap, Tuan."
"Memangnya apa saja yang mereka lakukan? Apa waktu satu jam belum cukup untuk makan dan membersihkan diri?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Silahkan masuk."
Tidak berselang lama pintu terbuka. Tampak seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu.
"Selamat malam, Tuan Zack."
"Apa semuanya sudah siap?"
"Ehm … hampir. Silahkan Tuan tunggu di kamar 03."
"Jangan membuatku kecewa."
"Jangan khawatir, Tuan. Saya jamin malam ini Tuan akan mendapatkan pelayanan yang memuaskan."
Pria yang mengenakan setelan jas itupun lantas memasuki kamar yang ditunjuk sang big Boss.
Sementara itu Eva terlihat tengah menuju kamar mandi. Dari luar pintu dia bisa mendengar jika Rita masih berada di dalam sana.
"Astaga. Apa dari tadi gadis itu belum selesai mandi?" gumamnya.
"Rita … cepatlah. Kamu sudah ditunggu tamu di kamar," ucapnya.
"Mungkin kawannya yang lain sudah siap," gumamnya lagi.
Dari kamar mandi gadis itu beranjak menuju kamar Rita dan Lina.
"Cepatlah, kalian sudah ditunggu," ucapnya dari depan pintu.
Tak ada jawaban.
"Lina … apa kamu sudah siap?" tanya Eva. Namun masih tak ada sahutan dari dalam sana.
"Lina … "
"Mana kedua anak baru itu? Aku tidak ingin membuat pelanggan kita kecewa," ucap sang big Boss yang kini sudah berdiri di hadapan Eva.
"Ehm … mungkin sebentar lagi mereka siap, Tuan."
__ADS_1
"Ini sudah lebih dari satu jam sejak aku menyuruh mereka membersihkan diri. Aku harus memeriksanya Sendiri." Sang big Boss memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Matanya terbelalak saat melihat apa ada di hadapannya.
Bersambung …