
Ray meraih ponselnya hendak menghubungi pak Bondan, security yang berjaga di rumahnya. Namun tiba-tiba Siska menahannya.
"Ti-ti-tidak usah, Tuan. Sakit kepala saya sudah sembuh kok."
"Tiba-tiba sembuh? Memangnya bisa begitu?"
"Siska, kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Suci.
"Tidak apa kok."
"Ayah, aku ingin makan bubur ayam," rengek Arsen tiba-tiba.
"Bubur ayam? Di mana?"
"Itu di sana." Arsen mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah kedai bubur ayam yang berada tidak jauh dari area taman.
"Ya sudah, ayah belikan tapi dibungkus dan dibawa pulang saja ya," bujuk Ray.
"Kenapa kita semua tidak sarapan saja di sana?"
"Arsen Sayang, mbok Asih pasti sudah susah payah memasak untuk sarapan kita. Kalau kita sarapan bubur ayam itu, siapa yang akan memakan masakannya?" ucap Suci.
"Hanya semangkuk bubur ayam saja, berapa sih harganya. Kenapa tidak dibelikan saja." Siska menimpali.
"Ehm … aku nurut ibu saja deh. Bu guru juga pernah bilang kalau makanan yang dimasak di rumah lebih baik daripada yang dijual di pinggir jalan."
"Nah, apa yang dikatakan ibu guru selalu hal yang baik, jadi harus kamu ikuti. Nanti ibu buatin bubur ayam yang enak deh buat kamu."
"Benar ya, Bu."
Suci mengulas senyum.
"Benar dong, Sayang. Memangnya kapan ibu pernah bohong?"
"Ya sudah, kita pulang sekarang saja, aku sudah lapar," ucap Arsen.
"Nggak jadi bubur ayam nya?" tanya Ray.
"Nggak jadi. Aku mau makan bubur ayam buatan ibu saja, pasti lebih enak."
"Anak pintar," ujar Suci seraya membelai rambut Arsen.
Suci tak menyadari jika sedari tadi pandangan Ray tak sedikit pun beralih darinya.
"Aku memang tidak salah memilih Suci sebagai ibu sambung bagi Arsen," batinnya.
Setibanya di rumah.
"Kamu ini dari mana saja? Pagi-pagi sudah menghilang," cecar mbok Asih pada Siska.
"Loh, tadi Siska bilang Mbok sudah mengizinkannya ikut jogging," ucap Suci.
"Mbok malah nggak tahu dia pergi ke mana."
"Siska ikut jogging bersama kami, Mbok."
"Ya sudah, sana kamu cuci perabotan kotor di dalam wastafel itu."
"Aku yang harus mencucinya? Memangnya Mbok mau ngapain?"
"Mau ngapain kamu bilang. Memangnya kamu pikir pekerjaan di rumah ini hanya memasak saja? Masih ada pekerjaan mencuci pakaian, mengepel, membersihkan taman belakang, menyirami tanaman bunga, dan lain-lain. Semuanya harus kita kerjakan berdua."
"Sial! Kalau begini caranya judulnya anak kuliahan jadi babu," batin Siska.
"Kok masih diam di sini? Sana cuci piringnya, setelah itu kamu bersihkan taman belakang."
__ADS_1
"Iya, cerewet!" umpat Siska. Dia lantas berjalan menuju dapur.
Sementara itu di ruang makan.
"Arsen, siang nanti kamu di rumah dengan mbok Asih ya," ucap Ray di sela sarapan paginya.
"Memangnya Ayah mau mengajak ibu kemana?"
"Ayah mau mengajak ibu ke acara jamuan makan siang dari salah satu rekan bisnis ayah."
"Hanya makan siang saja 'kan? Tidak sampai malam?"
"Tidak kok. Setelah acara makan siang selesai ayah dan ibu akan segera pulang."
Arsen mengangguk paham.
"Tu-Tu-Tuan yakin mau mengajak saya ke acara jamuan makan siang itu?" tanya Suci.
"Kamu istri saya, kalau bukan kamu lalu siapa yang kuajak?"
"T-t-tapi, Tuan. Saya malu."
Ray mengulas senyum tipis.
"Saya justru akan malu kalau datang ke acara jamuan makan siang tanpa didampingi siapa pun."
"Saya memakai baju apa, Tuan?"
"Astaga. Di dalam lemarimu ada puluhan gaun. Kamu tinggal pilih saja mana yang menurutmu pantas dipakai di acara formal."
"Mungkin Siska lebih paham. Aku minta bantuannya saja," batin Suci.
"Ibu, makan siang nanti aku mau sama bubur ayam," rengek Arsen.
*****
"Siska di mana, Mbok?" tanya Suci pada mbok Asih usai sarapan pagi.
"Lagi bersihin taman belakang. Memangnya kenapa?"
"Aku ada perlu sama dia."
Suci berlalu dari ruang dapur lalu menju taman kecil yang berada di belakang rumah.
"Siska," panggil Suci.
"Ada apa? Kamu mau nyuruh aku apalagi?" sungutnya.
"Nggak kok. Siang ini tuan Ray mengajakku ke acara jamuan makan siang dari salah satu rekan bisnisnya."
"Lantas, apa urusannya denganku?"
"Aku bingung memilih baju mana yang nanti akan kukenakan di acara itu. Aku pikir kamu lebih paham dalam urusan ini."
Siska terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Membantumu ya? Tentu saja tidak. Aku justru akan mempermalukanmu," batinnya.
"Siska, kamu mau 'kan membantuku?"
"Oh, tentu saja. Jika perlu aku juga akan membantu meriasmu."
"Sungguh? Ya sudah, setelah pekerjaanmu selesai, kamu ke kamarku ya," ucap Suci. Dia pun lantas berlalu dari hadapan Siska.
Setelah selesai membersihkan taman, Siska pun menuju kamar utama.
__ADS_1
"Tok. Tok. Tok. Suci, ini aku, Siska," ucap Siska dari depan pintu kamar.
Suci pun membuka pintu lalu mengajak saudara tirinya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Ranjang berukuran king, pendingin udara, TV LED, lemari ukir, semua lengkap di dalam kamar ini. Tidak seperti kamar yang sekarang kutempati, sempit dan pengap," batinnya.
"Menurutmu baju yang mana yang pantas kupakai siang nanti?" tanya Suci sesaat setelah membuka pintu lemari pakaiannya.
"Gila. Beruntung banget gadis kampung ini, dinikahi pria tampan dan mapan, sudah gitu dimanjakan begini. Gaun-gaun dan dress ini pasti harganya mahal," batin Siska lagi.
"Siska."
"I-i-iya."
"Baju mana yang pantas untukku? Semuanya bagus, aku jadi bingung."
Siska terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil sepotong dress dari dalam lemari tersebut. Tentu saja dia tidak benar-benar ingin membantu Suci, namun, ia justru ingin mempermalukannya di hadapan rekan bisnis Ray.
"Dress ini sepertinya cocok untukmu," ucapnya sembari menyodorkan dress berlengan panjang berwarna hitam pada Suci.
"Ini 'kan siang hari? Masa aku memakai baju lengan panjang. Warna hitam lagi," protes Suci.
"Kamu pasti nggak tahu. Kalau gaya berpakaian ini sedang diminati."
"Oh ya? Ya sudah, aku nurut kamu deh."
"Make up nya mau sekalian nggak?"
"Boleh."
"Aku akan merias wajahmu supaya kamu terlihat lebih tua dari usiamu," batin Siska.
"Ehm … aku mau masak untuk Arsen dulu. Setelah selesai nanti aku panggil kamu," ucap Suci.
Keduanya pun lantas meninggalkan kamar tersebut.
Siang harinya.
Siska baru saja selesai merias wajah Suci ketika mbok Asih mengetuk pintu kamarnya. Wanita paruh baya itu kaget bukan main saat memandang wajah dan penampilan majikannya itu.
"Astaghfirullahaldzim!"
"Kenapa, Mbok? Melihatku kok langsung istighfar.
"Ya Allah, Nduk. Siapa yang meriasmu?"
"Siska, Mbok. Dia baru saja keluar dari kamar ini. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan riasanku?"
Mbok Asih menggandeng tangan Suci lalu mengajaknya menghampiri meja riasnya.
"Lihat, wajahmu seperti nenek-nenek. Sepertinya Siska sengaja mengerjaimu. Apa dress itu juga Siska yang memilihnya?"
"Iya, Mbok."
"Dress itu pantasnya dipakai untuk menghadiri acara pemakaman. Kalau kamu memakainya, kamu pasti akan dianggap tidak menghargai orang yang mengundangmu."
"Terus, bagaimana ini, Mbok?"
"Kamu hapus saja make up nya. Lalu pakai make up lagi yang tidak terlalu tebal lalu ganti pakaianmu dengan gaun yang warnanya lebih cerah."
"Terima kasih, Mbok."
"Siska benar-benar keterlaluan! Awas saja kamu!" gumam mbok Asih.
Bersambung …
__ADS_1