
Sementara itu di rumah Rayyan.
Siska dan Davin terlihat berada di ruang tamu.
"Bagaimana, sudah mendingan pusing nya?" tanya Siska.
"Lebih baik daripada sebelum minum obat."
"Syukurlah."
"Memangnya kamu sering sakit kepala begini?"
"Nggak juga sih, mungkin ini gara-gara aku belum sarapan."
"Astaga. Jadi kamu belum sarapan?" tanya Siska lagi. Davin menggelengkan kepalanya.
"Tunggu sebentar, biar kuambilkan makanan untukmu." Siska beranjak dari ruang tamu lalu menuju ruang makan. Tidka lama kemudian dia kembali dengan membawa sepiring makanan dan segelas air putih."
"Kenapa kamu tidak menyempatkan diri untuk sarapan?"
"Semalam aku begadang mengerjakan tugas kuliah hingga membuatku bangun kesiangan, jadi tidak sempat membeli sarapan."
"Makan lah," ucap Siska sembari menyodorkan piring tersebut pada Davin.
"Terima kasih."
Davin yang memang tengah diserang rasa lapar itu pun lantas menyantap sarapan paginya yang terlambat. Hanya dalam waktu sekejap dia sudah mengosongkan piringnya.
"Masakan asisten rumah tangga mu enak sekali."
"Mbok Asih sudah begitu lama bekerja di rumah ini, jadi lumayan paham selera makan penghuni rumah ini."
Tiba-tiba Davin mengamati wajah Siska hingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Kenapa kamu ngeliatin aku begitu? Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?"
Davin menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang salah, kamu bahkan terlalu sempurna."
"Ah, jangan membuatku ke GR an."
"Siska, aku menyukaimu."
"A-a-pa?"
"Aku jatuh hati padamu sejak pandangan pertama."
"Ehm … aku-aku, …"
"Aku tidak butuh jawabanmu. Aku sudah merasa lega karena sudah mengungkapkannya. Lagipula aku sadar diri siapa aku dan siapa kamu."
"Aku-aku juga menyukaimu sejak pertama bertemu."
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Kamu tidak salah dengar. Aku memang sudah jatuh cinta padamu."
"Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Jadi mulai sekarang status kita pacaran 'kan?"
Siska menganggukkan kepalanya.
Dua pasang netra itu di pun lalu bersitatap. Entah disadari atau tidak keduanya nyaris tak berjarak lagi. Siska membiarkan saja saat Davin mulai mendekati wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipinya. Siska memejamkan mata seolah siap menerima sentuhan-sentuhan berikutnya.
Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka kini telah beradu. Bahkan jemari tangan Davin mulai berkelana di paha mulus Siska.
"I want more," bisik Davin.
"Yeah," balas Siska.
Jari-jari nakal Davin perlahan menerobos masuk ke dalam rok mini Siska dan memainkan segitiga bermuda miliknya.
"Sshhh," desisnya.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari arah teras.
Keduanya sontak menghentikan aksi mereka ketika tiba-tiba Arsen berdiri di ambang pintu. Siska bergegas berlari ke dalam rumah sementara Davin berpura-pura merintih kesakitan.
"Mas Davin sakit ya?" tanya Arsen.
"Ya. Maaf tadi saya tidak bisa menjemput Tuan muda karena tiba-tiba saya sakit."
"Tidak apa kok. Sekarang Mas Davin sudah sembuh 'kan?"
"Iya, lebih baik setelah minum obat."
"Siska dan mbok Asih kemana?" tanya Suci.
"Ehm … mbok Asih sedang ke pasar, Siska mungkin sedang mandi. Ehm … Nyonya, …"
"Tidak usah memanggilku nyonya."
"Ehm … Bu. Sepertinya saya sudah lebih baik, saya mau minta izin pulang sekarang. Siang ini saya harus berangkat kuliah," ucap Davin.
"Kamu yakin? Kalau kepalamu masih pusing biar diantar pak Bondan saja."
__ADS_1
"Tidak apa, Bu. Saya bisa mengendarai sepeda motor saya."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan."
"Saya pamit dulu, Tuan muda."
"Sampai jumpa besok."
Davin pun lantas meninggalkan ruang tamu.
Tidak lama kemudian terdengar seseorang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum."
Rupanya mbok Asih yang baru saja pulang dari berbelanja di pasar.
"Tuan muda sudah pulang," sapa nya pada Arsen.
"Sudah, Mbok. tadi ibu yang menjemput."
"Loh, kok ibu yang menjemput. Memangnya Davin kemana?"
"Davin tiba-tiba tidak enak badan, jadi aku yang menjemput Arsen dengan menaiki taksi," jelas Suci.
"Oh, begitu."
"Arsen Sayang, kamu ganti dulu ya. Nanti jika mbok Asih sudah selesai memasak, ibu panggil kamu," ucap Suci. Bocah tampan itu mengangguk paham. Dia lantas meninggalkan ruang tamu lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Mari, Mbok. Aku bantu memasak," ucap Suci.
"Ah, tidak perlu. Biar Siska saja yang membantu. Sekarang memasak 'kan bukan pekerjaanmu."
"Tidak apa, Mbok. Aku sedang ingin sekali makan sambal teri."
"Sepertinya di kulkas masih ada ikan teri."
"Ya sudah, kita mulai memasak sekarang saja, nanti Arsen keburu lapar," ucap Suci.
Mbok Asih mengangkat keranjang belanjaannya lalu membawanya ke dapur diikuti Suci di belakangnya.
"Mbok mau masak apa siang ini?" tanya Suci.
"Sayur lodeh, Nduk. Masakan kesukaan tuan Rayyan."
"Wah, pas sekali kalau lauknya sambal ikan teri," ujar Suci.
"Untuk tuan muda mbok buatkan ikan goreng saja."
"Ehm … aku jadi kepikiran untuk mengantar makan siang ke kantor mas Ray," ucap Suci.
"Oh ya, Mbok. Tadi aku bertemu nyonya Sofia."
"A-a-pa? Nyonya Sofia?" Mbok Asih terlihat begitu kaget hingga ia nyaris menjatuhkan pisau yang kini digenggamnya.
"Benar, Mbok. Nyonya Sofia ibu angkatnya mas Ray."
"Di mana kamu bertemu dengannya?"
"Di sekolah Arsen. Benar dugaanku, perempuan yang dilihat Arsen ternyata nyonya Sofia."
"Jadi, dia benar-benar sudah bebas dari penjara?"
"Iya, Mbok. Nyonya Sofia, suaminya, dan Zola baru dua Minggu belakangan ini bebas dari penjara."
"Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Nyonya Sofia bilang jika sekarang dia dan suaminya tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari sekolah Arsen. Dia hanya mengurus rumah, sementara suaminya bekerja menjadi sopir pribadi."
"Mbok sama sekali tidak merasa iba pada mereka. Apa yang mereka alami sekarang adalah hukuman dari Allah atas kejahatannya."
"Aku merasa nyonya Sofia sudah berubah," ujar Suci.
"Berubah?"
"Benar, Mbok. Caranya berbicara lebih lembut, bahkan dia memintaku memanggilnya dengan sebutan ibu."
"Mbok yakin pasti ada udang di balik batu."
"Apa maksud Mbok?"
"Bisa saja dia berpura-pura baik agar kamu merasa iba, lalu kamu mengajaknya tinggal kembali di rumah ini."
"Sepertinya dia benar-benar sudah berubah."
"Mau terlihat sebaik apapun, kita harus tetap berhati-hati. Mbok kenal betul siapa perempuan itu," ujar mbok Asih.
Suci mengangguk paham.
Setengah jam kemudian satu panci sayur lodeh, semangkuk sambal ikan teri dan ikan gurame goreng sudah siap tersaji di meja makan.
"Arsen Sayang, makan dulu, Nak," ucap Suci dari ruang makan.
Tidak lama kemudian Arsen pun muncul.
"Asyik! Ikan goreng!" soraknya saat mendapati tiga ekor ikan gurame goreng di atas meja.
__ADS_1
"Duduk lah, biar ibu ambilkan." Suci mengambil sebuah piring lalu menuangkan nasi, sayur lodeh, serta sepotong ikan goreng ke dalamnya. Ia pun lantas menyodorkannya pada Arsen.
"Terimakasih, Bu."
"Dihabiskan ya."
Tiba-tiba pandangan bocah laki-laki itu tertuju pada kotak bekal yang berada di atas meja.
"Kotak bekal itu mau dibawa kemana, Bu?" tanyanya.
"Oh, ibu akan mengantarnya untuk ayahmu di kantor."
"Aku ikut!"
"Kamu di rumah saja ya. Setelah makan siang 'kan kamu harus tidur siang," bujuk Suci.
"Aku mau ikut Ibu. Aku 'kan juga ingin melihat kantor ayah yang tingkat nya banyak," rengek Arsen.
"Ehm … boleh nggak ya? Boleh deh!"
"Asyik!"
"Sekarang habiskan dulu makananmu, ibu mau siap-siap."
"Ibu tidak makan?"
"Nanti saja di kantor menemani ayahmu."
Beberapa saat kemudian Siska keluar dari dalam kamarnya.
"Nona besar sudah bangun rupanya," sindir mbok Asih.
"Memangnya siapa yang tidur? Aku tidak tidur kok," bantah Siska.
"Tidak tidur tapi berbaring di kasur sambil bermalas-malasan. Begitu 'kan?"
Siska hanya menanggapi ucapan itu dengan mendengus kesal.
"Makan siang dulu, Sis," ucap Suci.
"Loh, sudah siap ya makanannya? Padahal aku baru berencana ke dapur untuk membantu mbok Asih memasak."
"Basa-basi! Kalau jam segini baru mulai memasak ya tuan muda sudah kelaparan," gerutu mbok Asih kesal.
"Kok ada kotak bekal di sini. Memangnya mau dibawa kemana makanannya?" tanya Siska.
"Sayur lodeh dan sambal ikan teri ini adalah masakan kesukaan mas Ray. Jadi aku mau mengantarnya ke kantor."
"Sok sweet banget sih! Tuan Ray pasti sudah makan siang di cafe atau restoran."
"Semoga belum, aku memang berniat memberi kejutan untuknya."
"Tunggu! Kamu yakin dengan penampilan begini mau mendatangi kantor suamimu?"
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan pakaianku?"
"Penampilanmu kuno banget. Bisa-bisa kamu jadi bahan ejekan di kantor."
"Siska! Tidak sepantasnya kamu bicara begitu pada Suci!" sentak mbok Asih.
"Aku hanya menyampaikan pendapatku saja kalau penampilan Suci kuno banget. Tidak pantas mendatangi kantor tuan Ray."
"Kamu pikir tuan Ray memilih Suci untuk menjadi istrinya karena penampilannya? Bukan. Tuan Ray jatuh cinta pada Suci karena kebaikan dan ketulusan hatinya."
"Sudah, kalian jangan ribut lagi. Kami pergi dulu," ucap Suci sembari mengangkat kotak bekal dari atas meja lalu memasukkannya ke dalam tasnya.
"Hati-hati ya, Nduk … Tuan muda," ucap mbok Asih.
"Assalamu'alaikum."
Suci menggandeng tangan Arsen lalu mengajaknya meninggalkan ruang makan.
"Kantor ayah jauh ya, Bu?" tanya Arsen saat di perjalanan.
"Lumayan, kalau naik taksi mungkin sekitar lima belas menit."
Taksi terus melaju hingga akhirnya berhenti lantaran lampu lalu lintas berwarna merah.
"Bu, aku haus," rengek Arsen.
"Tunggu sebentar. Di depan sana ada yang menjual minuman dingin." Suci menurunkan kaca jendela taksi lalu memanggil seorang penjual minuman yang tengah berkeliling menjajakan dagangannya.
"Minuman dinginnya satu, Dek!" ucapnya setengah berteriak.
"Lima ribu, Bu," ucapnya sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Suci.
"Ini uangnya, kembaliannya ambil saja," ucap Suci setelah ia memberikan uang pecahan sepuluh ribu pada seorang anak laki-laki berusia belasan tahun itu.
"Terima kasih, Bu."
Suci hendak menaikkan kembali kaca jendela taksi namun tiba-tiba saja netranya menangkap seorang peminta-minta yang tengah duduk di tepi jalan. Ia terlihat duduk di atas sebuah papan beroda sementara salah satu kakinya diperban mungkin saja kaki tersebut cacat. Tiba-tiba saja Suci mengamati wajah perempuan itu.
"Sepertinya wajah itu tidak asing bagiku," gumam nya.
Bersambung …
__ADS_1