
Sementara itu di tempat tinggal Widya yang baru.
Semenjak kedatangan ibu mertuanya, Kanaya merasa tidak nyaman lagi tinggal di rumahnya sendiri. Bukan karena keberatan menampungnya, tetapi sikapnya pada Widya yang dianggap berlebihan. Sang ibu selalu selalu saja menyuruh ini dan itu, membeli ini dan itu, itu semuanya dilakukan demi Widya yang kini memang tengah mengandung benih dari suaminya, Aldi.
Widya sendiri sepertinya merasa keenakan dengan perlakuan itu. Jangankan mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci baju miliknya sendiri saja enggan melakukannya. Jika ditanya siapa yang menggantikan tugasnya, tentu saja Kanaya lah jawabannya.
"Loh, Nak. Kamu mau kemana?" tanya perempuan paruh baya yang kerap disapa bu Asti itu saat mendapati Widya berjalan
mendekati pintu.
"Saya mau membeli rujak, Bu."
"Di mana?"
"Di depan perumahan."
"Jalan kaki?"
"Ya, Bu."
"Kamu 'kan lagi hamil. Jangan jalan jauh-jauh, nanti kecapekan. Ehm … Naya."
"Ya, ada apa, Bu?"
Kanaya yang tengah mengepel lantai itu pun berhenti sejenak.
"Kami belikan rujak untuk Widya."
"Aku sedang mengepel, Bu. Nanti saja."
"Widya inginnya Sekarang. Kamu mana tahu rasanya orang ngidam. Kalau kepingin apa-apa harus cepat keturutan."
"Ya, aku mengerti, Bu. Lantainya masih basah. Aku takut kalau mas Aldi bangun nanti tiba-tiba menginjak lantainya dan terpeleset."
"Memangnya Aldi anak kecil? Kepleset lantai basah. Sudah sana cepat belikan rujaknya, nanti keburu ilang pinginnya."
Meski sambil menahan kesal, Kanaya pun akhirnya menuruti perintah ibu mertuanya itu.
"Bu Kanaya mau kemana?" tanya seorang tetangganya.
"Mau ke depan, Bu. Beli rujak."
"Pagi-pagi begini beli rujak, seperti orang ngidam saja. Atau memang Bu Naya sedang hamil?"
"Ehm … ehm …tidak kok Bu."
__ADS_1
"Kirain."
Setelah mendapatkan rujak yang diinginkan Widya, Kanaya pun bergegas kembali ke rumahnya.
"Aku tidak mau lagi rujaknya," ucap Widya
saat makanan pedas itu tersaji di hadapannya.
"Aku sudah capek-capek membelinya. Hargai dong usahaku," protes Naya.
"Sekarang aku ingin makan bubur ayam."
"Sana beli sendiri!" Naya mendengus kesal.
"Kamu kok gitu sih Nay. Widya ini kan saudaramu. Perempuan hamil yang sedang ngidam itu kalau pingin ya begitu. Sudah, sekarang belikan dia bubur ayam," ucap sang ibu mertua.
"Di daerah dekat sini tidak ada yang jual bubur ayam."
"Ya cari dong. Kamu 'kan bisa naik mobil."
"Sedari pagi alu sudah capek membersihkan rumah. Sekarang aku harus menjadi pelayan Widya, begitu?"
"Apa salahnya menolong saudara yang sedang hamil."
Sekitar setengah jam kemudian Widya tiba di rumahnya dengan membawa satu box berisi bubur ayam.
"Kenapa buburnya dingin begini? Aku tidak mau memakannya. Aku mau makan bubur kacang hijau saja," ucap Widya.
"Dengar, aku sudah jauh-jauh mencari bubur itu. Sekarang seenaknya saja kamu bilang makanan itu sudah dingin dan tidak mau memakannya?"
"Perutku mual kalau makan makanan dingin."
"Sudahlah, Nay. Turuti saja kemauan Widya. Kasihan nanti kalau bayinya sampai ngiler," ucap bu Asti.
Kanaya yang sedari tadi mengalah dan bersabar itu rupanya terlihat mulai kesal. Iantaran merasa Widya mempermainkannya.
"Brak!! Kanaya menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat kedua perempuan itu berjingkat.
"Silahkan cari sendiri apa yang kamu mau. Aku bukan pelayanmu!"
"Kanaya, kasar sekali kamu. Apa begitu tingkah laku seorang guru? Widya ini saudaramu, loh. Tidak sepantasnya kamu bersikap begitu padanya.
Kesabaran manusia ada batasnya. Begitu pun dengan Kanaya. Meskipun dikenal sebagai guru yang penyabar, ada kalanya ia memberontak jika mendapatkan perlakuan yang melewati batas. Bagaikan gunung berapi yang siap memuntahkan laharnya, amarah Kanaya pun benar-benar meledak.
"Widya ini bukan saudaraku! Aku menyesal menolongnya tinggal di sini! Aku juga menyesal meminta mas Aldi menikahinya!"
__ADS_1
"Apa kamu bilang?!"
"Widya ini istri muda mas Aldi! Aku menyuruh mas Aldi menikahinya karena mereka sudah melakukan hubungan menjijikkan!"
"Astaghfirullahaldzim!" Bu Asti membekap mulutnya. "Ja-ja-di, kamu istri Aldi?" tanyanya kemudian.
"I-i-iya, Bu. Sebenarnya aku bukan saudara ataupun kerabat Kanaya dan mas Aldi. Aku hanyalah orang asing yang dibawa mereka masuk ke dalam rumah ini. Malam itu bu Kanaya dan pak Aldi berdebat sampai-sampai pak Aldi meninggalkan rumah dalam keadaan mabuk hingga akhirnya memaksaku melayaninya. Sekarang kutanya, di mana ma salahku? Aku hanya korban kebej*tan pak Aldi. Seharusnya kamu introspeksi diri, Nay. Hanya melakukannya sekali padaku saja, aku bisa hamil. Artinya kamu memang mandul."
"Plak! Dasar perempuan tak tahu balas Budi!" Sebuah tamparan baru saja mendarat di pipi Widya.
"Sekarang juga angkat kaki dari rumah ini!" sentaknya.
"Bu … Kenapa Ibu diam saja? Ibu menginginkan cucu 'bukan? Di perutku sekarang ada bayi, calon cucu Ibu," ucap Widya. Namun bu Asti hanya diam.
"Ibu tidak ingin aku pergi dari rumah ini 'kan?" Widya meraih tangan bu Asti, namun ia justru menepisnya dengan kasar.
"Pergi kamu! Perempuan ja*ang! Aku tidak sudi memiliki cucu dari rahim mu!"
Tidak berselang lama Aldi terlihat keluar dari dalam kamarnya.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Tolong aku, Mas. Kanaya mengusirku. Kamu pasti tidak mau selamanya hidup dengan perempuan mandul 'bukan?"
"Dari awal aku tidak pernah menginginkanmu tinggal di rumah ini. Sekarang juga aku jatuhkan talak padamu. Kita bukan suami istri! Sekarang juga beresi barang-barang kamu dan angkat kaki dari hadapanku!"
"Kenapa kamu setega ini, Mas. Di dalam perutku sekarang ada bayimu, bayi kita," lirih Widya.
"Aku tidak sudi memiliki anak dari wanita j*lang sepertimu!"
Kanaya mengambil tas milik Widya dari dalam kamarnya lalu melemparkannya tepat di hadapannya.
"Pergi dari rumah ini! Dan jangan pernah berani muncul di hadapan kami lagi!" serunya.
Dengan langkah lesu Widya mengangkat tas nya lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Aku bersumpah akan membalas perlakuan menyakitkan ini!" batinnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..
__ADS_1