
Ray tiba di rumah sakit ketika Suci baru saja selesai menyuapi makan malam Arsen.
"Kenapa tidak dihabiskan makanannya, Nak?" tanyanya saat mendapati kotak tempat makanan di atas meja belum benar-benar kosong.
"Lidahku pahit, Yah. Jadi makanannya juga terasa pahit," ucap Arsen. Suaranya terdengar lemah.
"Tidak apa, Mas. Yang penting ada makanan yang masuk, daripada perutnya kosong sama sekali."
"Ya sudah, sekarang diminum dulu obatnya, lalu istirahat." Ray meraih dua butir obat yang telah disiapkan perawat di atas meja lalu membantu Arsen meminumnya.
"Ibu … kapan aku boleh pulang? Aku bosan sepanjang hari hanya berbaring di kasur."
"Sabar ya, Sayang. Dokter bilang kamu harus dirawat di sini selama 3-4 hari sampai kondisimu benar-benar membaik," jelas Suci.
"Kamu jadi tahu 'kan sekarang, kalau sakit itu tidak enak. Makanan seenak apapun akan terasa pahit di mulut. Sepanjang hari kamu harus berbaring di kasur dan minum obat," timpal Ray.
"Aku janji tidak akan jajan sembarangan lagi," ujar Arsen.
"Iya. Ayah percaya padamu, Nak," ucap Ray sembari mengusap lembut rambut putera semata wayangnya itu.
Tidak berselang lama Arsen mulai menguap. Menandakan jika dia mulai mengantuk. Hanya perlu beberapa saat setelah Suci membelainya, bocah tampan itu pun terlelap.
"Kamu kenapa, Mas? Sepertinya sedang kesal," tanya Suci sesaat setelah Arsen tertidur.
"Bagaimana aku tidak kesal. Aku mendapati gadis tidak tahu tata krama itu tidur di dalam kamar kita. Bukan hanya itu saja, dia juga mengenakan gaun dan alat make up mu," papar Ray.
"Ya Allah, Siska … Siska. Apa kamu tidak bisa sehari saja tidak membuat masalah?" ucap Suci.
"Tadi aku sempat mengusirnya."
"Astaghfirullahaldzim!"
"Apa Siska benar-benar meninggalkan rumah, Mas? Di luar sana dia tidak punya tempat tinggal lagi."
"Dia memohon sambil bersujud, aku pun iba padanya. Jadi dia batal pergi."
"Terima kasih, Mas."
"Kamu terlalu baik padanya, tapi dia tidak pernah bisa menghargai kebaikanmu," ujar Ray.
"Semoga saja kejadian itu membuatnya sadar dan bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik."
Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perut Ray yang menandakan jika dia mulai diserang rasa lapar.
"Mas belum makan ya?" tanya Suci.
"Bagaimana aku mau makan kalau Arsen sakit begini."
"Jangan begitu, Mas. Kamu harus tetap makan. Apa Mas tidak kasihan padaku, kalau harus merawat dua orang sakit sekaligus?"
Detik kemudian giliran perut Suci yang berbunyi.
"Astaga. Rupanya kamu lapar juga."
"Ehm … iya. Aku belum sempat ke kantin. Aku tidak tega meninggalkan Arsen sendirian."
"Ya sudah, aku beli makanan di kantin dulu. Kamu mau makanan apa? Bakso, mie ayam, soto, atau nasi rames?"
"Apa saja yang Mas belikan pasti kumakan."
"Kamu semakin pandai merayu saja." Ray mencolek dagu Suci.
"Ini bukan rayuan, Mas. Hanya kalimat yang berarti aku setuju dengan pilihan Mas."
Ray mengulas senyum tipis.
"Apalah itu aku menyukainya," ujarnya.
Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang.
"Selagi menunggu Mas membeli makanan, aku shalat Maghrib dulu."
"Di mana?"
__ADS_1
"Di sana." Suci mengacungkan jari telunjuknya pada tempat kosomg di dekat sofa.
"Kenapa Mas senyum-senyum sendiri?" tanya Suci penasaran.
"Kamu yakin tidak paham dengan makna senyum ini?"
"Memangnya ada yang lucu ya?"
"Sini aku bisikin."
"Apa sih Mas?"
Ray mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Suci.
"Buka segel."
"Ah, itu ternyata." Wajah Suci tiba-tiba memerah.
"Dari kemarin kita gagal terus."
"Tapi, kita tidak mungkin melakukannya di tempat ini 'bukan?"
"Memangnya kamu mau?"
Tiba-tiba Arsen mendekap tubuh Suci.
"Ah! Lepaskan!"
"Ssst! Kenapa malah teriak-teriak sih! Nanti Arsen bangun."
"Mas yang jahil."
"Jahil sama istri sendiri 'kan sah-sah saja. Justru bisa jadi pahala."
"Sudah sana, jangan menggodaku terus. Nanti waktu buat shalat Maghrib nya keburu habis."
"Iya deh, aku ke kantin dulu. Sampai bertemu lagi, istriku."
"Kamu tidak menggombal lagi?"
"Menggombal apa? Aku tidak bisa menggombal."
"Siapa bilang? Kemarin bisa kok."
"Kapan? Yang mana?"
"Coba kamu ingat-ingat lagi."
Suci terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengingat kalimat yang dimaksud suaminya itu.
"Jangan lama-lama, Mas. Nanti aku rindu."
"Nah, itu dia yang aku maksud." Ray terkekeh.
"Sudah sana, keburu adzan Isya'." Kali ini Suci mendorong tubuh Ray sampai di dekat pintu.
"Aku ke kantin dulu."
"Harus berapa kali Mas pamit. Aku mau ambil air wudhu dulu." Suci berlalu dari hadapan Ray lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruang perawatan itu.
Suci baru saja selesai mengerjakan shalat Maghrib bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.
"Cepat sekali memesan makanan nya, Mas. Apa di kantin nggak an-... Dokter Kinara?"
Rupanya yang baru saja memasuki ruangan itu bukanlah Ray melainkan dokter Kinara.
"Aku membawa buah-buahan untuk Arsen." Dokter Kinara meletakkan parcel buah di atas meja.
"Dari mana Dokter tahu jika Arsen dirawat di sini?" tanya Suci.
"Tentu saja aku tahu. Sore tadi Ray mengajakku pulang bersama. Awalnya aku menolak karena takut ada yang salah paham jika ada yabg melihat kami. Tapi karena Ray memaksa, akhirnya aku mau ikut," papar Kinara.
"Mana mungkin Mas Ray memaksa. Dia memang paling pintar memutar balikkan fakta," batin Suci.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Arsen? Apa dia sudah membaik?"
"Alhamdulillah, panasnya sudah turun. Hanya selera makannya saja yang masih kurang."
"Pasti Arsen sakit karena kecerobohanmu."
"Anda jangan asal menuduh. Saya begitu menyayanginya, saya selalu merawatnya dengan baik."
"Jika benar begitu, mana mungkin dia jatuh sakit dan harus diopname?"
"Sebagai seorang dokter, saya yakin anda sering menemukan pasien seumuran Arsen. Sakit adalah hal wajar yang dialami setiap orang."
"Perempuan tidak berpendidikan sepertimu mana paham cara merawat atau membesarkan Arsen," ucap Kinara ketus.
"Mungkin saya memang bukan perempuan berpendidikan. Tapi saya tidak pernah sembarangan merawat Arsen."
"Oh ya di mana Ray?"
"Mas Ray sedang membeli makanan di kantin."
"Mas Ray? Kamu memanggilnya dengan sebutan itu?"
"Memangnya kenapa? Kami sudah menjadi pasangan yang sah. Tidak ada yang salah sama sekali dengan panggilan itu."
"Kapan kamu akan sadar kalau kamu itu sama sekali tidak pantas bersanding dengan Ray? Kamu lebih pantas menjadi pengasuh atau pembantu."
Obrolan mereka terhenti lantaran Arsen tiba-tiba terbangun.
"Anda bicara terlalu keras hingga membuat Arsen terbangun," ucap Suci.
"Kenapa, Sayang? Kamu haus atau mau ke toilet?"
"Tidak, Bu. Kepalaku pusing," jawab Arsen yang sontak membuat Suci kebingungan.
"Minggir! Biar kuperiksa." Kinara berjalan menghampiri ranjang pasien dengan sedikit mendorong Suci. Dokter angkuh itu pun lantas memeriksa suhu tubuh Arsen.
"Tidak apa, Sayang. Ini hanya reaksi obat yang tadi kamu minum."
"Ibu … aku haus."
Suci hendak meraih gelas berisi air putih namun ternyata ia kalah cepat. Kinara pun akhirnya membantu Arsen meminumnya.
"Kamu mau makan buah, Sayang?" tanya Kinara. Bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau buah apa? Jeruk, pisang, atau apel?"
"Apel."
"Biar dokter yang mengupasnya untukmu."
"Aku mau ibu yang mengupasnya."
"Dokter atau ibumu sama saja."
"Ibu saja yang mengupas buah apel nya," rengek Arsen.
"Maaf, mana pisau nya? Arsen meminta saya yang mengupas buahnya," ucap Suci sembari mengambil alih pisau buah itu dari tangan Kinara. Tanpa diduga dokter angkuh itu merebut kembali pisau tersebut dari tangan Suci dengan cukup kasar. Alhasil tangan Suci tergores dan berdarah.
"Aww!" pekiknya.
Di saat itulah pintu ruangan terbuka. Rupanya Ray yang memasuki ruangan. Dia cukup terkejut mendapati jari tangan kanan istrinya berdarah.
"Astaga! Kenapa dengan tanganmu?" tanyanya.
"Dia merebut paksa pisau ini dariku, tapi pada akhirnya tangannya terluka," jelas Kinara.
"Dokter Kinara bohong. Dia yang merebut pisau dari tangan ibu dengan kasar," sela Arsen.
"Sebentar, aku panggil dokter." Ray meletakkan dua kantong plastik yang dibawanya dari kantin di atas meja lalu keluar dari ruangan itu.
"Ray! Apa kamu lupa kalau aku ini juga dokter?" protes Kinara.
Bersambung …
__ADS_1