
Ray membiarkan saja bahunya menjadi bantal bagi Suci. Sepertinya memang begitu nyaman, hingga mobil Ray memasuki pekarangan rumahnya pun, Suci masih saja terlelap. Tak jauh berbeda dengan Suci, Arsen juga masih tertidur pulas di dekapan pengasuhnya.
"Alhamdulillah, tuan muda sudah ditemukan," ucap pak Bondan.
"Ssssst." Ray menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Sementara itu mbok Asih yang mendengar deru mobil Ray di halaman rumah bergegas menghampirinya.
"Alhamdulillah … tuan muda ditemukan," ucapnya.
Sekali lagi Ray menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Ia lantas memberi kode kecil agar mengangkat tubuh Arsen dari dekapan Suci.
"Apa Tuan akan membiarkan Suci tertidur di dalam mobil?" tanyanya setengah berbisik.
Ray mengulas senyum.
Tanpa diduga pria itu membopong tubuh Suci yang masih terlelap dan membawanya keluar dari dalam mobilnya.
"Ayo, Mbok, bawa Arsen masuk ke dalam kamar. Sepertinya mereka begitu kelelahan. Sudah sampai di rumah saja mereka belum juga bangun," ucap Ray.
Mbok Asih menidurkan Arsen di ranjang bayi, sementara Ray menidurkan Suci di tempat tidur yang berada di dekatnya.
Tidak lama kemudian mereka pun meninggalkan kamar Arsen dan menuju ruang tamu.
"Tuan sudah makan malam?" tanya mbok Asih.
"Sudah, Mbok. Tadi kami mampir di warung makan. Buatkan saya teh hangat saja."
"Baik, Tuan."
Mbok Asih meninggalkan ruang tamu dan melangkah menuju dapur. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat.
"Duduk, Mbok," ucap Ray.
"Di mana Tuan menemukan tuan muda Arsen?" tanya mbok Asih.
"Bukan saya yang menemukannya, tapi Suci."
"Apa maksud Tuan? Bukankah kalian mencarinya bersama?"
Ray membuang nafas.
"Kami sudah bertanya tentang keberadaan ketiga manusia picik itu di hampir semua cafe, namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya Suci memaksa saya berhenti di sebuah pom bensin karena perutnya mendadak terasa mulas. Di dalam toilet itulah dia menemukan Arsen dalam keadaan tangan terikat dan mulut ditutup kain."
"Siapapun yang melakukannya sungguh tak punya hati!"
"Apa Mbok mau tahu jawaban dari Arsen saat aku menanyakan siapa yang menguncinya di toilet itu?"
"Siapa pelakunya, Tuan?" tanya mbok Asih penuh selidik.
"Arsen menyebutkan dua nama, nenek dan Ola."
"Astaghfirullahaldzim! Ja-ja-di benar nyonya Sofia dan Zola pelakunya?"
__ADS_1
Ray menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Benar-benar keterlaluan! Lantas, apa Tuan sudah mengetahui keberadaan mereka?"
"Meskipun tidak tahu pasti keberadaan mereka saat ini, tapi saya yakin malam ini mereka menginap di salah satu hotel yang berada di kota ini."
"Bagaimana jika mereka berhasil meninggalkan kota ini?"
"Itu hal yang mustahil. Kebetulan saya mengenal semua pemilik hotel di kota ini. Saya sudah memberitahu pada mereka untuk menutup akses keluar bagi mereka bertiga. Dengan begitu mereka tidak bisa bergerak lebih jauh lagi."
"Mereka harus mendapatkan hukuman yang berat atas apa yang sudah mereka lakukan. Mereka juga nyaris membunuh tuan muda Arsen. Kalau saja Suci tidak memasuki toilet Itu, mungkin sampai sekarang tuan muda Arsen belum ditemukan. Sepertinya Suci memang berjodoh dengan tuan muda Arsen,"ucap mbok Asih. Ray menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Silahkan kalau Mbok mau istirahat. Saya juga segera ke kamar saya. Hari ini benar-benar melelahkan," ucap Ray.
"Tuan tidak perlu apa-apa lagi?"
"Tidak, Mbok."
"Ya sudah, saya ke kamar saya dulu, selamat malam."
Mbok Asih beranjak dari ruang tamu lalu masuk ke dalam kamarnya.
Menjelang tengah malam Suci terjaga dari tidurnya lantaran suara tangisan Arsen. Tentu saja dia kebingungan mendapati Arsen dan dirinya sudah berada di dalam kamar Arsen.
"Seingatku tadi aku berada di dalam mobil tuan Ray. Kenapa aku bisa ada di sini?
Apa dia yang memindahkanku ke kamar?" gumamnya.
Suci bergegas membuat susu untuk Arsen lalu menggendongnya. Hanya dalam hitungan detik saja bayi berusia satu tahun itu sudah mengosongkan botol susunya. Setelah menimangnya sebentar, bayi itu pun kembali terlelap.
" Mungkin Mbok Asih lupa mematikannya," pikirnya.
Suci hendak mematikan lampu di ruangan itu, namun ia dikejutkan dengan sesosok pria yang tengah tertidur lelap di atas sofa.
"Bukankah itu tuan Ray? Sepertinya dia terlalu lelah hingga ketiduran di tempat ini," gumamnya.
Suci masuk kembali ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa selimut. Ia pun lantas menutupi tubuh Ray dengan selimut tersebut.
"Aku yakin tuan Ray akan lebih tampan dengan penampilan lamanya," lirihnya sesaat setelah memandang bingkai foto berukuran besar yang berada di ruangan tersebut.
"Ah, bicara apa aku ini. Memangnya aku siapa? Aku sama sekali tidak memiliki hak untuk berkomentar atas penampilannya," gumamnya.
Setelah mematikan lampu, Suci pun meninggalkan ruangan itu dan melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Ia lantas kembali ke kamar setelahnya.
Keesokan paginya.
Suci masih penasaran dengan dengan siapa orang yang sudah memindahkan dirinya dari mobil ke dalam kamarnya.
Ia pun memutuskan bertanya pada mbok Asih.
"Apa Mbok tahu siapa yang memindahkanku dari mobil ke dalam kamarku?" tanyanya.
"Tu- …"
__ADS_1
"Saya yang minta tolong pak Bondan untuk memindahkanmu ke kamar," potong Ray yang baru saja memasuki ruang dapur.
"Oh, begitu."
"Di mana Arsen?"
"Dia belum bangun, Tuan."
"Apa dia rewel semalam?"
"Tidak, Tuan. Tuan muda hanya bangun sekali karena haus."
"Setelah sarapan, kamu bersiap, lalu ikut saya."
"Kemana, Tuan?"
"Jalan-jalan. Tentu saja mencari keberadaan tiga manusia pengkhianat itu."
"Ba-ba-baik, Tuan."
Sekitar setengah jam kemudian Suci terlihat sudah bersiap keluar rumah.
Ia baru saja beranjak dari ruang tamu, ketika tiba-tiba terdengar suara tangisan Arsen.
"Ci … Ci … Ci …"
Suara tangis Arsen adalah kesedihan bagi Suci. Ia pun membalikkan badannya dan menghampiri kamar sang tuan muda.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya.
"Ci ... ikut …Ci …"
"Sepertinya tuan muda ingin ikut kamu, Nduk."
"Tuan muda sama mbok Asih dulu yuk," ucap mbok Asih.
"Ci … Ci… ikut. Hu.. hu .. hu."
"Y sudah, nggak apa-apa, Mbok. Biar tuan muda ikut." Suci mengambil alih Arsen dari gendongan mbok Asih.
Suci tidak punya pilihan selain mengajak Arsen untuk pergi bersamanya.
"Loh, kok Arsen diajak. Saya takut hari ini kita pulang kemalaman lagi," ucap Ray saat Suci sampai di halaman rumah.
"Ehm …ini, Tuan. Tuan muda Arsen menangis ingin ikut saya."
Ray tersenyum dalam hati.
"Sepertinya Arsen memang tidak bisa jauh-jauh dari Suci," gumamnya .
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..