
"Ehm, ti-ti-tidak, Pak. Saya sedang bermain game."
"Kamu tidak usah berbohong, tadi saya melihat sendiri kamu mengarahkan ponselmu ke arah dalam rumah ini. Jangan-jangan kamu ingin mencuri ya?"
"Bapak jangan sembarangan menuduh!"
sentak Seno.
"Memangnya siapa yang sembarangan menuduh? Saya melihat sendiri kok kamu sedang mengarahkan kamera ponselmu ke dalam rumah ini."
"Saya bukan pencuri dan tidak bermaksud mencuri."
Rupanya kegaduhan yang terjadi di teras rumah itu memaksa penghuninya untuk keluar.
"Ada apa ini?" tanya si pria.
"Tadi saya melihat laki-laki ini sedang mengarahkan kamera ponselnya ke arah dalam rumah."
Nyonya Sofia pun membalikkan badan laki-laki yang postur tubuhnya tidak begitu tinggi itu. Tentu saja dia terkejut bukan main saat melihat wajah laki-laki itu.
"Astaga. Seto?! Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah aku memintamu untuk menunggu di dalam mobil tanpa pernah pergi meninggalkannya? Bagaimana jika ada pencuri yang mencuri mobilku emangnya kamu mau tanggung jawab?"
"Jangan-jangan laki-laki ini sudah merekam semua pembicaraan kita di dalam," ucap si pria.
"Mana ponselmu!" Nyonya Sofia berusaha merebut paksa ponsel Seto dari tangannya. Namun sopir pribadinya itu berusaha keras mempertahankannya.
Tarik menarik pun terjadi.
"Seto! Berikan ponselmu atau aku pecat kamu dari pekerjaanmu!" sentak sang nyonya.
Tiba-tiba saja Seto tertawa lantang.
"Apa yang tadi saya rekam justru bisa mendatangkan keuntungan yang begitu besar bagi saya."
"Berani bener kamu mengikutiku dan merekam semua obrolan kami?"
"Saya tidak menyangka jika Nyonya ternyata sepicik ini."
"Diam, atau kusumpal mulutmu!" sentak nyonya Sofia.
"Ingat, dengan rekaman video di dalam ponsel ini aku bisa saja membuat tuan Rayyan mendepak Nyonya dari istana itu!" ancam Seto.
"Berani kamu mengancamku 'hah?! Sopir tidak tahu diuntung! Hapus video itu sebelum aku berbuat kasar padamu!"
Bukannya menuruti ucapan sang nyonya, Seto justru beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan teras. Tentu saja sang nyonya tidak tinggal diam. Dia mengejar Seto sekaligus berusaha merebut ponselnya.
"Tamat riwayatku kalau rekaman videoku bersama Sean sampai di tangan Ray," gumam nyonya Sofia.
"Kenapa kamu diam saja. Kejar Seto! Jangan biarkan dia pergi!" seru nyonya Sofia pada Sean.
"Berhenti kamu, breng*ek!" teriak Sean.
Rupanya kemampuan berlari sopir itu cukup baik. Hanya dalam hitungan detik saja dia sudah berada di luar pintu gerbang perumahan.
"Seto! Hapus video itu!" teriak nyonya Sofia. Nafasnya tersengal lantaran kelelahan berlari.
"Aku bisa saja menghapus video ini, tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Berikan mobil itu padaku."
"Gila kamu!"
"Nyonya lebih memilih mobil itu atau rekaman video ini sampai di tangan tuan Ray?"
__ADS_1
"Sial! Dia memanfaatkanku!" umpat nyonya Sofia.
"Bagaimana dengan tawaran saya, Nyonya?"
"Sudahlah, berikan saja mobil itu daripada video kita sampai di tangan Ray," bujuk Sean.
"Bodoh sekali aku memberikan mobil seharga ratusan juta itu untuknya secara cuma-cuma."
"Ya sudah, jika Nyonya menolak permintaanku, jangan salahkan aku jika rekaman video ini sampai di tangan tuan Ray. Aku bisa memastikan tidak lama lagi Nyonya akan didepak dari istana itu."
Seto hendak berlalu dari hadapan nyonya Sofia, namun wanita itu menahannya.
"Tunggu!" serunya.
" Apa Nyonya berubah pikiran?"
"OK! Ambil saja mobil itu, tapi mulai detik ini, pergi dari hidupku dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku!"
"Tentu saja. Uang hasil penjualan mobil ini bisa kugunakan untuk memenuhi kebutuhanku selama bertahun-tahun tanpa harus bekerja."
"Sekarang juga pergi dari hadapanku!" seru nyonya Sofia.
Seto berlalu dari hadapan nyonya Sofia dan menghampiri mobil sang nyonya yang kini sudah menjadi miliknya.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Seto saat mobil itu melintas di hadapannya.
"Apa yang harus kukatakan jika Ray menanyakan di mana mobilku?" tanya nyonya Sofia sesaat setelah Seto berlalu.
"Kenapa kamu harus bingung? Kamu tinggal bilang saja mobilmu dirampok dan Seto kamu suruh pulang ke kampungnya."
"Semua ini gara-gara kamu!" seru nyonya Sofia.
"Kenapa kamu menyalahkanku?"
"Kalau saja tadi kamu tidak mengajakku bercinta di ruang tamu, Seto tidak akan merekam video kita."
"Hal yang paling mudah adalah menyalahkan orang. Kamu pikir aku mau hal ini terjadi? Sudahlah, lebih baik aku pulang sekarang."
"Taksi!" seru nyonya Sofia saat sebuah taksi melintas. Tidak berselang lama ia pun masuk ke dalamnya.
"Jangan pergi, Sayang. Aku minta maaf." Sean berusia menarik lengan nyonya Sofia namun wanita itu menepisnya dengan kasar.
"Jalan, Pak," ucapnya pada pengemudi taksi. Tidak berselang lama taksi itu pun meninggalkan tempat tersebut.
****
Sesampainya di rumah.
Pak Bondan, security di rumah itu keheranan saat mendapati sang nyonya turun dari dalam taksi.
"Bukankah tadi Nyonya pergi bersama Seto? Kenapa Nyonya pulang naik taksi?" tanyanya.
Nyonya Sofia lekas memasang ekspresi sedih.
"Mobilku … mobilku …"
"Kenapa dengan mobil Nyonya?"
"Mobilku menjadi korban perampokan."
"Innalilahi. Lalu, bagaimana dengan Seto?"
"Seto … Seto. Perampok itu juga membawa Seto."
"Apa Nyonya sudah lapor polisi?"
__ADS_1
tanya pak Bondan.
Nyonya Sofia menggelengkan kepalanya.
"Baik, biar saya yang lapor polisi." Pak Bondan mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi polisi.
"Jangan!" seru nyonya Sofia.
"Mengapa Nyonya melarang saya menghubungi polisi?" Pak Bondan mengerutkan keningnya.
"Ehm … perampok itu mengancam akan mencelakai Seto jika saya menghubungi polisi. Saya masuk kedalam dulu. Kepala saya pusing."
Nyonya Sofia berlalu dari halaman rumah. Meninggalkan pak Bondan dengan seribu pertanyaan di dalam kepalanya.
"Kenapa Nyonya terlihat lesu sekali? Apa Nyonya sakit?" tanya Zola saat keduanya berpapasan di ruang makan.
"Tidak apa, saya hanya kelelahan. Buatkan segelas minuman cokelat hangat lalu antar ke kamarku."
"Baik, Nyonya."
"Minuman itu buat siapa?" tanya mbok Asih.
"Buat nyonya."
"Memangnya nyonya sudah pulang? Saya tidak mendengar deru mobilnya.
Zola enggan menjawab pertanyaan itu. Dia meletakkan segelas minuman itu ke dalam nampan lalu membawanya menuju kamar sang nyonya.
"Sepertinya saya tidak mendengar suara mobil Nyonya di halaman rumah."
"Aku memang pulang naik taksi."
"Bukannya tadi Nyonya pergi bersama Seto?"
"Mobilku … mobilku dirampok."
"Astaga!" Zola membekap mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Apa perampok itu melukai Nyonya? Dan bagaimana dengan Seto."
"Ehm … perampok itu hanya menginginkan mobilku saja. Meskipun mereka juga membawa Seto."
"Nyonya sudah lapor polisi?"
"Aku tidak berani melapor pada polisi lantaran nyawa Seto yang menjadi taruhannya."
Zola yang memang menjadi tangan kanan nyonya Sofia itu tak sedikit pun menaruh curiga. Pun ia tidak pernah tahu perihal hubungannya dengan seorang laki-laki bernama Sean.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
Visual Suci
Visual Rayyan Bimantara
__ADS_1
Visual Arsen Bimantara