
"Memangnya siapa yang liatin kamu? Aku lihatin Arsen yang makannya lahap," bantah Rayyan.
"Hoeek…"
Tiba-tiba terdengar suara sendawa Arsen yang menandakan jika bayi berusia satu tahun itu telah kenyang.
"Alhamdulillah, Tuan muda sudah kenyang. Pasti tidak lama lagi mengantuk," ucap Suci seraya menggendong tubuh bayi tampan itu lalu mendekapnya. Benar saja, tidak butuh waktu lama untuk membuat bayi itu tertidur.
"Saya tidurkan tuan muda dulu."
Suci berlalu dari hadapan Rayyan, ia lantas masuk ke dalam kamar Arsen.
"Kamu ini pandai mencari muka rupanya," ketus Zola sesaat setelah Suci menidurkan Arsen.
"Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Tugas kamu itu mengasuh tuan muda Arsen, bukan melayani tuan Rayyan. Jangan-jangan kamu memang ingin mencari perhatiannya."
"Aku membuat bubur sumsum untuk tuan Rayyan lantaran mbok Asih belum pernah membuatnya. Dia khawatir buburnya tidak enak."
"Kamu seharusnya ngaca. Siapa kamu, siapa tuan Rayyan. Bermimpi mendapatkannya saja tidak pantas!" sungut Zola.
"Sedikit pun aku tidak pernah berpikir untuk mencari perhatian tuan Rayyan. Tujuanku datang ke sini benar-benar untuk bekerja."
"Ya. Baru beberapa hari bekerja saja sudah berani berhutang!"
"Memangnya kenapa kalau aku berhutang? Apa aku minta kamu untuk membayarnya?"
"Kamu kok nyolot sih!"
"Kamu yang lebih dulu memancing masalah."
"Dasar gadis kampung!"
"Kamu pikir aku tidak tahu dari mana asalmu? Kamu pun berasal dari kampung 'bukan? Bahkan sebelum bekerja di tempat ini kamu adalah seorang pengemis."
"Berani-beraninya mengungkit masa laluku. Kamu pikir kamu ini siapa 'hah!"
"Memang aslinya gadis kampung. Kenapa harus tersinggung?" Suci terkekeh.
"Kamu ini memang menyebalkan! Kenapa aku harus dipertemukan dengan gadis sepertimu!" gerutu Zola.
"Kalau tidak suka ya sudah. Tidak perlu mencampuri setiap urusanku."
Suci melengang dari hadapan Zola namun juru bersih itu justru menarik lengannya.
"Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara."
"Aku bosan berdebat denganmu!" seru Suci.
Tiba-tiba saja Zola mencengkeram lengan Suci. Tentu saja gadis berpenampilan tomboy itu tidak tinggal diam. Dia justru menarik salah satu tangan Zola kemudian memelintirnya hingga membuat gadis itu menyeringai kesakitan.
Di saat itulah nyonya Sofia melintas. Zola yang pandai mencari muka itu pun menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan Suci.
"Sakit! Lepaskan! Aww!" serunya lantang.
"Astaga. Suci! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan Zola!"
"Dia yang mulai duluan, Nyonya."
"Kamu ini kasar sekali. Dasar gadis kampung! Zola, menjauh darinya."
Zola berlalu dari hadapan Suci dengan senyum penuh kemenangan. Suci pun hanya bisa mendengus kesal melihat punggung itu berjalan menjauh.
"Kamu kenapa, Nduk?" Sepertinya kesal sekali," ucap mbok Asih pada Suci yang tengah menyetrika baju Arsen di ruang khusus setrika.
"Biasa lah Mbok. Gadis itu selalu mencari gara-gara denganku. Tiba-tiba saja dia menuduhku mencari perhatian tuan Rayyan. Padahal aku membuat bubur sumsum untuknya karena Mbok tidak pernah membuatnya. Ditambah lagi tadi dia mengadu pada nyonya Sofia seolah aku ini sering berbuat kasar padanya. Padahal sebenarnya dia yang lebih dulu mencengkram lenganku," ungkap Suci.
"Sudahlah, jangan dimasukkan ke hati. Kamu 'kan tahu, Zola itu kurang menyukaimu. Apapun yang kamu lakukan akan selalu salah di matanya."
Tiba-tiba ponsel Suci berdering. Ia pun mematikan setrikanya lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Raut wajahnya semakin masam saat memandang layar ponselnya. Suci justru menolak panggilan itu lalu menyimpan kembali ponselnya.
"Siapa yang menelpon? Kok nggak diangkat?" tanya mbok Asih.
"Hanafi. Pasti maksa ngajak bertemu lagi.
Lama-lama dia mengganggu."
"Ya sudah, kamu temui saja. Daripada dia terus mengganggumu."
"Bukankah Mbok bilang dia punya niat tidak baik padaku. Kenapa Mbok menyuruhku untuk menemuinya?"
"Biar nanti mbok temani. Mbok akan mengawasi kamu dari kejauhan. Kalau dia macam-macam mbok akan langsung hajar dia."
"Memangnya Mbok bisa berantem?"
"Eh … kamu jangan meremehkan mbok. Gini-gini preman di pasar takut sama simbok."
"Aman jadinya kalau pergi dengan Mbok. Berasa punya bodyguard."
Obrolan mereka kembali terhenti saat ponsel Suci kembali berdering. Tanpa memandang layar ponselnya, Suci langsung menjawab panggilan tersebut.
[Mau kamu apa sih, Han. Aku sedang bekerja]
[Assalamu'alaikum, Nduk. Ini bapak]
[Bapak? Astaghfirullahaldzim. Ma-ma-af, Pak. Aku kira kawanku yang suka mengganggu. Ada apa, Pak?]
[Kamu sedang sibuk, Nduk? Ada hal penting yang harus bapak bicarakan]
[Tidak kok Pak. Arsen sedang tidur siang. Aku juga baru selesai menyetrika bajunya. Memangnya ada apa, Pak? Kalian semua sehat 'kan?]
[Ehm … bapak menelpon kamu sebenarnya untuk menyampaikan kabar kurang baik]
[Kabar apa, Pak? Fitri, Murni, dan budhe Tini baik-baik saja 'bukan?]
[Kabar bapak dan adik-adikmu baik, Nduk]
[Alhamdulillah]
__ADS_1
[Tapi …]
[Tapi kenapa Pak?]
[Kabar budhemu kurang baik]
[Astaghfirullahaldzim. Apa yang terjadi dengan budhe, Pak?]
[Budhemu ditemukan warga tak sadarkan diri di jalan dekat persawahan. Sepertinya dia menjadi korban tabrak lari]
[Lantas, bagaimana keadaan budhe sekarang?]
[Budhemu masih berada di rumah sakit. Dia mengalami koma. Dokter mengatakan jika sudah sadar nanti kemungkinan dia kehilangan ingatannya atau mengalami amnesia]
[Astaghfirullahaldzim. Memangnya budhe mau kemana, Pak? Kok bisa ditabrak?]
[Biasanya budhemu bantu-bantu masak di rumah pak Panji. Mungkin saat berangkat itulah dia ditabrak]
[Suci usahakan untuk pulang, Pak]
[Kalau kamu memang tidak bisa pulang, jangan memaksa. Di sini sudah ada bapak yang menjaga budhemu. Alhamdulillah buhemu juga mendapat bantuan dari warga untuk membayar biaya rumah sakit]
[Tapi, Pak]
[Tidak apa, Nduk. Kamu 'kan juga baru kemarin meminjam uang pada majikanmu. Tidak enak kalau tiba-tiba izin pulang kampung. Kamu do'a kan saja budhemu cepat sadar. Ya sudah, bapak tutup dulu teleponnya. Wassalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam]
-Panggilan terputus-
"Bapak kamu yang menelpon ya, Nduk?" tanya mbok Asih.
"Iya, Mbok. Bapak memberi kabar kurang baik. Budheku sekarang dirawat di rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari. Sekarang dia koma."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
"Saya bingung, Mbok. Saya mau pulang kampung tapi saya tidak enak pada tuan Rayyan. Lagipula siapa yang akan mengasuh tuan muda Arsen."
"Mbok rasa kalau hanya satu hari saja tidak masalah. Mbok dan Zola bisa bergantian mengasuh tuan muda Arsen. Nanti mbok coba bantu bicara dengan tuan Rayyan," ucap mbok Asih.
"Terima kasih, Mbok. Hanya Mbok yang paling mengerti saya."
Mbok Asih mengulas senyum.
"Iya, Nduk. Kamu sudah mbok anggap seperti anak mbok sendiri. Jika kamu ada kesulitan, selaagi mbok bisa bantu, mbok pasti bantu."
****
Selepas makan malam.
Rayyan yang hendak memasuki ruang kerjanya keheranan saat mendapati Suci tengah mondar-mandir di depan kamar Arsen.
"Kamu kenapa mondar-mandir begitu? Seperti setrikaan saja."
"Saya-saya sedang bingung, Tuan."
"Apalagi yang membuatmu bingung? Uang yang kemarin sudah kamu kirim ke kampung 'bukan?" tanya Ray.
"Lantas?"
"Sore tadi bapak saya di kampung menelpon. Beliau memberi kabar jika budhe saya dirawat di rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari. Sekarang beliau mengalami koma. Jika Tuan mengizinkan, saya bermaksud pulang ke kampung sehari saja. Lusa saya pasti sudah kembali ke rumah ini lagi."
"Saya paham posisimu. Tapi yang jadi masalah, jika kamu pulang kampung, siapa yang akan mengasuh Arsen? Tidak mungkin juga kamu mengajaknya 'bukan?"
"Tuan jangan khawatir. Suci hanya sehari saja di kampung. Saya dan Zola yang akan bergantian mengasuh tuan muda Arsen." Mbok Asih yamg baru saja muncul dari arah dapur itu menimpali.
"Baiklah kalau begitu. Ingat, lusa kamu sudah harus kembali di rumah ini lagi."
"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya."
Rayyan berlalu dari hadapan Suci dan mbok Asih, ia lantas masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apa mbok bilang, kelihatannya saja kaku dan dingin. Tapi tuan Rayyan itu hatinya baik. Dia juga pengertian dengan anak buahnya."
"Alhamdulillah, Mbok aku bisa pulang untuk menjenguk budhe Tini," ucap Suci.
"Mbok hanya bisa membantu do'a agar budhemu cepat sadar."
"Aamiin. Terima kasih, Mbok."
"Sudah malam, kita tidur saja. Takutnya ada yang menguping pembicaraan kita," ucap Suci.
"Selamat malam, Nduk."
"Selamat malam."
*****
Keesokan paginya.
"Tuan muda Arsen jangan nakal ya. Mbak pulang kampung dulu, besok baru kembali," ucap Suci pada Arsen.
"Uci … Uci," celoteh nya. Ini pertama kalinya Arsen memanggil nama Suci.
"Mbak Suci tinggal sehari saja ya, Sayang," ucap.Suci. Seolah paham, bayi berusia satu tahun itu tersenyum lebar menanggapi ucapan tersebut.
"Ini ada sedikit uang buat ongkos," ucap mbok Asih sembari menyelipkan sejumlah uang di tangan Suci.
"Tidak usah, Mbok. Uang yang kumiliki masih cukup."
"Tidak apa, kamu pegang saja."
"Terima kasih, Mbok. Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum." Aku pun lantas meninggalkan rumah tersebut.
Suci tiba di rumah sakit menjelang adzan Dzuhur.
"Bapak."
Kemunculannya yang tiba-tiba tentu saja mengagetkan sang ayah.
__ADS_1
"Masyaallah, kamu Nduk."
Suci lekas meraih tangan sang ayah lalu menciumnya penuh takdzim.
"Apa aku boleh masuk ke dalam, Pak?" tanya Suci.
"Boleh, Nak. Tapi kamu harus mengenakan pakaian khusus pengunjung."
Setelah mengenakan pakaian khusus pengunjung, Suci pun masuk ke dalam ruang perawatan Tini. Dia tidak bisa menahan tangisnya ketika ia telah berdiri di hadapan sang bibi.
"Bangun, Budhe. Ini aku, Suci," lirihnya. Namun Tini tak bergeming.
"Apa Budhe tidak kasihan dengan Murni dan Fitri? Bukankah Budhe sudah janji mau membantu mengurus mereka saat aku bekerja?" Suci meraih tangan sang bibi lalu menggenggamnya.
"Bangun, Budhe. Jangan membuatku takut."
Sekeras apapun usaha Suci, tetap saja tidak membuat Tini terbangun. Akhirnya ia memilih menyerah dan meninggalkan ruangan itu. Di saat itulah hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja Tini bersuara.
"Minum … minum …"
"Ya Allah. Bapak! Bapak! Budhe sudah sadar!" teriaknya. Sontak Bimo pun bergegas memasuki ruangan itu.
"Minum … Minum," lirih Tini.
Dengan sigap Suci meraih gelas berisi air minum lalu memberikannya pada sang bibi. Hanya dalam hitungan detik ia mengosongkan isi gelas itu.
"Alhamdulillah, akhirnya Mbakyu sadar," ucap Bimo.
"Di mana ini? Aku siapa? Kalian siapa?"
"Ini aku adikmu, Bimo. Dan ini keponakanmu, Suci," jelas Bimo.
"Bimo? Suci? Aku tidak mengenal kalian. Aww! Sakit!"
Benar yang dikatakan dokter. Saat Tini terbangun dari koma, kemungkinan besar ingatannya akan hilang atau ia akan mengalami amnesia.
"Ini aku, Suci. Keponakan Budhe."
"Coba Mbakyu ingat-ingat. Apa yang terjadi hingga Mbakyu bisa tertabrak di jalan. Apa Mbakyu mengenal pelakunya?" ucap Bimo.
"Tertabrak? Di jalan? Aww! Sakit!"
Tiba-tiba saja Tini memekik kesakitan.
"Bagian mana yang sakit, Budhe? Tangan? Kaki?" Suci menyentuh kaki Tini kemudian memijitnya.
"Sakit … perih …"
"Bagian mana yang sakit, Budhe."
"Selangkanganku."
"Bukankah Budhe menjadi korban tabrakan? Kenapa ia mengeluh sakit di bagian bawah sana?" gumam Suci.
"Sebentar, Pak. Aku panggil dokter."
Suci meninggalkan ruangan itu. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan mengajak serta dokter beserta seorang perawat.
"Alhamdulillah, akhirnya Mbak Tini sadar," ucap dokter.
"Maaf, Dokter. Bukankah budhe saya menjadi korban tabrakan. Kenapa ia mengeluh sakit dan perih maaf di bagian intinya?" tanya Suci.
"Maaf, apa kalian bisa keluar sebentar. Saya akan memeriksa pasien," ucap dokter.
"Kenapa dengan budhe saya, Dokter?" tanya Suci setelah dokter usai memeriksanya.
"Dugaan sementara sakit di bagian ************ pasien terjadi akibat benturan yang terlalu keras saat pasien terjatuh. Tapi saya pun menemukan kejanggalan."
"Kejanggalan apa yang Dokter maksud?"
"Maaf, saya menemukan cairan spe*ma yang telah mengering di pakaian dalamnya. Sepertinya sebelum mengalami kecelakaan itu pasien sempat melakukan hubungan badan. Maaf, itu baru dugaan saya," jelas dokter.
Suci berpikir keras. Mustahil dokter memberi pernyataan tanpa bukti. Tapi, kenapa bisa ditemukan cairan spe*ma di pakaian dalamnya? Suci yakin sang bibi adalah perempuan baik-baik. Tidak mungkin ia berhubungan badan dengan laki-laki kecuali … dipaksa.
"Apa aku boleh bertanya pada Bapak?" tanya Suci.
"Kamu mau bertanya apa, Nduk?"
"Sehari-harinya kegiatan budhe apa saja belakangan ini?"
"Budhemu di rumah saja, tidak kemana-mana. Tapi ia seringkali diminta bu Panji untuk membantunya memasak jika pesanan catering sedang ramai," jelas sang ayah.
"Bu Panji?"
"Ya, Bu Panji istri pak RT."
Ingatan Suci pun tiba-tiba tertuju pada sosok pria berbadan kekar itu. Beberapa hari yang lalu sebelum berangkat bekerja di kota, ia sempat mendatangi rumahnya untuk berpamitan pada Tini. Dan di sana ia pernah mendapatkan perlakuan yang kurang sopan dari pak Panji.
"Apakah pak Panji ada hubungannya dengan peristiwa yang dialami budhe? Jangan-jangan …"
"Budhe … apa Budhe masih ingat tempat terakhir yang Budhe datangi?" tanya Suci.
Tini menggeleng lemah.
"Aku tidak ingat apapun! Aku tidak mengingat siapa pun!" teriaknya.
"Aku tidak boleh tinggal diam. Aku yakin pak Panji ada hubungannya dengan peristiwa ini," gumam Suci.
"Kamu mau kemana, Nduk?" tanya Bimo.
"Aku pulang sebentar, Pak. Nanti aku ke sini lagi."
"Kamu pulang bareng Yusuf saja, sekalian mengembalikan mobil pak Panji," ucap Bimo.
"Ini kesempatanku untuk menyelidiki pak Panji," gumam Suci.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…