
"Bimo! Bimo!" teriak seseorang dari kejauhan.
Bimo yang tengah mencari rumput itu pun sontak menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Ada apa?"
"Cepat kamu pulang ke rumah."
"Sebenarnya ada apa?" desak Bimo.
"Itu … Itu … mbakyumu."
"Kenapa dengan mbak Tini?"
"Sudahlah, kamu pulang saja dulu."
Bimo pun lantas meninggalkan tempat itu dan melajukan sepeda motor tuanya ke arah pulang. Ia kaget bukan main saat mendapati banyak orang berada di teras rumahnya .
"Astaghfirullahaldzim! Apa yang terjadi pada mbak Tini?" gumamnya.
"Mbakyumu … Mbakyumu …" ucap salah satu tetangganya.
"Mbakyu Tini kenapa?"
"Aku menemukan mbakyumu tergeletak tak sadarkan diri di jalan dekat persawahan. Sepertinya dia menjadi korban tabrak lari," ungkap salah satu warga.
Bimo lekas masuk ke dalam ruang tamu. Benar saja, kakak semata wayangnya itu tampak terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Ya Allah, Mbak. Siapa yang tega melakukan ini?" ucapnya parau.
"Daritadi kami ingin membawa mbakyumu ke rumah sakit tapi bingung bagaimana cara membawanya."
"Bagaimana kalau kita minta tolong pak Panji saja?" usul salah satu warga.
"Baiklah, kalau begitu saya akan ke rumahnya sekarang."
Bimo kembali menaiki sepeda motornya lalu mendatangi rumah pak Panji.
"Assalamu'alaikum, Pak Panji," sapanya dari luar pagar.
"Waalaikumsalam. Eh, Pak Bimo. Ada apa, Pak?" ucap bu Panji.
"Maaf jika saya merepotkan. Kedatangan saya ke sini bermaksud minta tolong pada pak Panji."
"Kalau boleh saya tahu, Bapak mau minta tolong apa?"
"Ehm … anu … anu, Bu. Saya ingin minta tolong untuk mengantar mbakyu saya ke rumah sakit."
"Ru-ru-mah sakit?"
"Iya, Bu. Warga menemukan mbak Tini tak sadarkan diri di jalan persawahan. Sepertinya dia menjadi korban tabrak lari," jelas Bimo.
Tentu saja bu Panji kebingungan. Bagaimana mungkin Tini menjadi korban tabrak lari? Atau jangan-jangan ini ulah suaminya sendiri.
"Bagaimana, Bu? Apa saya bisa minta tolong sekarang?"
"I-i-iya, tunggu sebentar. Saya panggilkan bapak dulu." Wanita bertubuh gempal itu pun lantas masuk ke dalam rumahnya.
"Di luar ada pak Bimo," ucap bu Panji pada suaminya yang tengah berbaring santai di depan televisi seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
"Mau apa dia?"
"Dia minta tolong untuk membawa Tini ke rumah sakit. Katanya dia menjadi korban tabrak lari di dekat persawahan."
"Kenapa kamu tidak langsung tolak saja," ucap pak Panji. Tiba-tiba raut wajahnya berbuat panik.
"Apa Bapak yang menabrak Tini?" tanya bu Panji penuh selidik.
"Sembarangan kamu!"
"Bapak 'kan takut Tini melapor ke polisi karena dia telah menjadi korban n*fsu be*at Bapak."
"Bapak minta maaf, bapak khilaf, Bu."
"Jadi, bagaimana itu pak Bimo?"
"Bilang saja saya sedang sakit dan tidak kuat menyetir. Apa Ibu mau Bapak terkena masalah?"
"Benar juga. Ibu juga tidak ingin Bapak dipenjara."
"Ya sudah, cepat temui Bimo."
Bu Panji berlalu dari hadapan suaminya, ia lantas kembali menuju teras rumahnya.
"Saya minta maaf sekali, Pak. Suami saya tidak bisa menyetir karena sedang tidak enak badan."
"Jadi, bagaimana dengan mbakyu saya? Di desa ini hanya pak Panji dan pak Lurah yang punya mobil, sementara pak Lurah sedang dinas ke luar kota."
"Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa bantu."
"Bagaimana ini? Aku takut mbak Tini terlambat mendapatkan pertolongan," gumam Bimo.
"Bagaimana jika saya meminjam mobil Ibu saja?"
"Memangnya Pak Bimo bisa menyetir?"
"Bukan saya yang menyetir, Bu. Tapi salah satu warga yang bekerja menjadi sopir angkutan desa."
"Ya sudah, terserah Pak Bimo saja."
Akhirnya Tini sampai di rumah sakit dengan diantar mobil pak Panji yang dikendarai salah satu warga.
"Bagaimana keadaan mbakyu saya, Dok?" tanya Bimo sesaat setelah dokter usai memeriksa Tini.
Dokter menghela nafas berat.
"Pasien mengalami koma."
"Astaghfirullahaldzim."
"Luka yang dialami di bagian kepalanya cukup parah hingga menyebabkan kerusakan di beberapa bagian organ dalam kepalanya. Besar kemungkinan saat siuman nanti pasien akan mengalami hilang ingatan atau amnesia," ungkap dokter.
Bimo terduduk lesu di atas bangku. Ia tak menyangka Tini akan mengalami nasib se tragis ini.
"Kira-kira siapa yang menabrak mbakyumu, Bim?" ucap Yusuf yang duduk persis di sampingnya.
"Entahlah. Sehari-harinya mbakyuku hanya menghabiskan waktunya dengan bekerja di rumah pak Panji bantu-bantu masak kalau lagi ada pesanan catering."
"Atau mbakyumu punya musuh?"
__ADS_1
"Kalau itu aku bisa memastikan tidak. Mbakyuku itu tidak pernah neko-neko. Rasanya tidak mungkin ada yang ingin mencelakai dia. Siapapun yang menabrak dia semoga tergerak hatinya untuk bertanggung jawab."
"Ya, semoga saja."
*****
Tiga hari setelah dirawat di rumah sakit, kondisi Rayyan mulai membaik. Dokter pun mengizinkannya pulang.
"Saya ingin sekali makan bubur sumsum, Mbok," ucap Rayyan pada mbok Asih.
"Kalau sudah sudah siang begini tidak ada lagi yang menjualnya, Tuan."
"Mbok bisa membuatnya 'bukan?"
"Maaf, Tuan. Saya belum pernah membuatnya, takut tidak enak."
"Ada apa, Mbok?" tanya Suci yang kebetulan melintas di ruang tamu.
"Tuan Ray ini ingin sekali makan bubur sumsum, tapi saya tidak bisa membuatnya.
Suci mengulas senyum.
"Oh, bubur sumsum? Itu makanan kesukaan adik-adik saya. Saya sering membuatnya."
"Jadi, kamu bisa 'kan buat bubur sumsum?"
"Bisa dong."
"Ya sudah. Sini Arsen main sama ayah dulu," ucap Ray seraya mengulurkan kedua tangannya ingin menggendong putera semata wayangnya itu.
"Mari mbok bantu masak."
"Saya permisi ke dapur dulu."
Suci sedikit membungkukkan badannya, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Rayyan.
Wangi aroma pandan dan gula merah seketika menyeruak memenuhi ruang tamu saat Suci menghidangkan bubur sumsum buatannya itu di atas meja ruang tamu. Lantaran tak sabar, Ray pun mencicipi bubur sumsum yang masih mengepulkan asap itu. Akibatnya lidahnya pun terasa terbakar. Rayyan lantas meletakkan kembali sendok makannya.
"Tuan kenapa?" Apa bubur buatan saya tidak enak?"
"Bukan begitu, saya yang tidak sabaran ingin cepat-cepat menyantap bubur ini."
"Ayah … mam," celoteh Arsen.
"Tuan muda mau juga? Biar saya ambilkan lagi." Suci masuk kembali ke dalam dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur sumsum hangat untuk sang tuan muda. Dengan penuh ketlatenan ia menyuapi sendok demi sendok makanan halus itu ke dalam mulut kecil Arsen hingga mangkuk tersebut benar-benar kosong.
"Anak pintar," ucap Suci seraya membelai lembut rambut pirang Arsen.
Tanpa sengaja untuk pertama kalinya Rayyan memandang dan mengamati wajah Suci. Tiba-tiba saja ia merasa jika wajah gadis tomboy itu memiliki kemiripan dengan mendiang istrinya, Arini.
"Kenapa Tuan ngeliatin saya begitu?"
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1