
"Ehm … ti-ti-tidak apa, Bu. Aku hanya ingin mengobrol dengan Ibu.
"Mengobrol tentang apa?"
"Bagaimana dengan toko pakaian yang Ibu bilang kemarin?" tanya Ray yang sontak membuat nyonya Sofia kebingungan.
"Ehm … kamu 'kan tahu, membuka toko itu tidak mudah. Harus mempersiapkan ini dan itu."
"Jadi, toko itu belum buka?"
"Be-be-lum, Nak.
"Aku semakin curiga dengan jawaban Ibu," gumam Ray.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan toko pakaian itu? Apa kamu tidak percaya pada ibu?"
"Bukan begitu, Bu. Aku hanya ingin tahu saja."
Tiba-tiba Ray mengamati penampilan ibu angkatnya itu.
"Pagi-pagi begini Ibu sudah rapi sekali. Memangnya Ibu mau kemana?" tanya Ray.
"Ehm … ibu … ibu mau mengunjungi saudara ibu."
"Saudara yang mana? Bukankah Ibu pernah bilang padaku jika Ibu ini anak tunggal dan kedua orangtua Ibu sudah meninggal."
"Ehm …sepertinya ibu belum pernah bercerita jika belum lama ini ibu bertemu kerabat jauh dari keluarga mendiang ayah."
"Saudara Ibu itu laki-laki atau perempuan?" tanya Ray lagi.
"Perempuan."
"Di mana tempat tinggalnya?"
"Apa jawaban itu penting buatmu?"
Rayyan tersenyum tipis.
"Memangnya aku salah jika aku ingin tahu di mana tempat tinggal saudara Ibu itu? Keluarga Ibu berarti keluargaku juga 'bukan?"
"Ehm … saudara ibu tinggal di perumahan Edelweiss."
"Tadi Seto bilang saudara ibu tinggal di perumahan Anyelir. Tapi ibu bilang di perumahan Edelweiss. Siapa yang harus kupercaya?" batin Ray.
"Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Tidak, Bu. Itu saja."
"Sepertinya Seto sudah selesai membersihkan mobil. Ibu harus pergi sekarang."
"Aku juga harus bersiap berangkat ke kantor."
Nyonya Sofia beranjak dari balkon. Tidak berselang lama dia pun meninggalkan kamarnya sementara Ray mengikuti di belakangnya.
"Mbok …" panggil Rayyan saat ia melintasi ruang makan. mbok Asih terlihat tengah membereskan meja makan.
"Ada apa, Tuan?"
Rayyan menarik sebuah kursi kemudian mendudukinya.
__ADS_1
"Duduk lah, ada hal penting yang harus saya bicarakan," ucap Ray.
Mbok Asih pun lalu duduk persis di sebelah Rayyan.
"Saya mulai curiga pada ibu."
"Apa yang membuat Tuan curiga pada nyonya Sofia?"
"Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan ibu dengan seseorang di sambungan telepon."
"Memangnya apa yang mereka bicarakan?"
"Dari cara ibu berbicara dengan orang itu, saya yakin jika lawan bicara ibu adalah seorang laki-laki."
"Laki-laki?"
"Nada bicara ibu terdengar mesra, bahkan ini memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Benarkah? Apa Tuan tidak salah dengar?"
"Tidak, Mbok. Saya yakin sekali dengan apa yang saya dengar. Yang lebih membutuhkan saya curiga, ibu sempat menyebut mobil baru. Padahal beberapa hari yang lalu ibu sempat meminta uang yang jumlahnya cukup besar untuk membuka cabang baru toko pakaian."
"Apa Tuan sudah bertanya pada nyonya Sofia tentang toko pakaian itu?" tanya mbok Asih.
"Tadi saya sempat bertanya pada ibu perihal toko pakaian itu. Namun ibu terlihat kebingungan menjawabnya."
Suasana hening sejenak.
"Apa Mbok mengetahui sesuatu tentang Ibu?"
Ray tak pernah tahu, mbok Asih lah pemegang kartu As sang nyonya. Bukan hanya tahu siapa sebenarnya pria yang tadi mengobrol dengannya di telepon. Dia juga tahu semua kelicikan sang nyonya.
"Sebenarnya … ehm …"
Tiba-tiba ponsel Ray berdering.
"Sebentar, Mbok. Saya angkat telepon dulu."
Rayyan meraih ponselnya lalu beranjak meninggalkan ruang makan.
"Maaf, Mbok. Saya harus pergi sekarang. Salah satu klien saya sudah menunggu."
"Hati-hati, Tuan."
Rayyan pun lantas berlalu dari hadapan Mbok Asih.
*****
"Apa Ray pernah bertanya sesuatu padamu?" tanya nyonya Sofia pada sopir pribadinya, Seto di tengah perjalanan.
"Ya, Nyonya. Tadi tuan Rayyan sempat bertanya pada saya mau pergi kemana sepagi ini."
"Lantas kamu jawab apa?"
"Saya jawab apa adanya. Hari ini saya akan mengantar Nyonya ke rumah saudara Nyonya yang tinggal di perumahan Anyelir."
"Astaga. Kenapa kamu harus menyebut nama perumahan itu?"
"Memangnya kenapa, Nyonya?"
__ADS_1
"Lain kali jika Ray bertanya apapun padamu, bilang saja kamu tidak tahu."
"Aneh! Kenapa dengan nyonya Sofia ini? Kenapa dia harus main kucing-kucingan dengan anak sendiri?" batin Seto.
"Dengar tidak apa kata saya?!" sentak sang nyonya.
"I-iya, Nyonya. Saya paham."
Seperti biasanya, nyonya Sofia akan meminta Seto memarkir mobilnya cukup jauh dari perumahan Anyelir. Namun ucapan nyonya Sofia tadi justru membuatnya penasaran.
"Aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya nyonya sembunyikan dari semua orang termasuk anaknya sendiri," gumam Seto.
Demi menjawab rasa penasarannya, Seto pun memutuskan untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang yang disebutnya saudara itu dengan mengikutinya secara diam-diam.
Setelah hampir sepuluh menit berjalan kaki, tiba lah sang nyonya di depan sebuah rumah berlantai dua yang terbilang mewah bagi seorang sopir sepertinya.
Seto hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Rupanya penghuni rumah tersebut adalah seorang laki-laki!
"Astaga. Siapa laki-laki itu?" batinnya.
Dari tempat pengintaiannya dia bisa melihat dengan cukup jelas bagaimana cara laki-laki berbadan tinggi itu menyambut kedatangan sang nyonya. Mustahil jika hubungan keduanya hanya seorang saudara atau kerabat.
Setelah saling memeluk beberapa saat, keduanya pun memasuki rumah tersebut.
Rupanya rasa penasaran Seto tidak berhenti sampai di situ saja. Dia ingin tahu apa yang dilakukan keduanya di dalam rumah itu. Lagi-lagi dia dibuat tercengang saat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Dari salah satu kaca jendela yang tertutup tirai tipis itu ia bisa melihat sang nyonya yang kini tengah duduk di pangkuan si pria.
"Benar-benar edan!" umpatnya.
Seto berpikir sejenak. Entah apa yang melintas di kepalanya. Tiba-tiba saja dia terpikir untuk merekam obrolan sekaligus perilaku keduanya.
Seto mengambil ponselnya lalu mengarahkan kamera tepat ke arah keduanya. Ponselnya telah siap merekam apa yang dilakukan keduanya di dalam ruangan tersebut.
"Terima kasih, Sayang. Sudah mengabulkan permintaan Benny untuk memiliki mobil baru," ucap pria itu sembari memainkan rambut sang nyonya yang dibiarkan tergerai.
"Kamu tenang saja, Sayang. Apapun yang kalian inginkan pasti aku kabulkan. Bukankah tujuanku memang ingin menguras harta anak pungut itu?" Sang nyonya mulai meraba dada si pria yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu."
"Anak pungut? Jadi, tuan Ray bukan anak kandung nyonya Sofia?" gumamnya.
"Kalimat itu yang sedari dulu kamu bilang. Tapi entah kapan kamu benar-benar bisa mendepak Ray dari rumah peninggalan Bayu itu."
"Sabar, Sayang. Semua butuh proses."
Tiba-tiba saja si pria ******* bibir nyonya Sofia hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Astaga! Kenapa kamu selalu bermain kasar begini?!" Nyonya Sofia mendorong wajah si pria lalu beranjak dari pangkuannya.
"Maaf, Sayang. Aku sudah kebelet."
Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang nyonya. Dari pinggang yang ramping itu tangannya lantas bergeser ke tubuh bagian atas sang nyonya sementara bibir si pria tak berhenti menc*mbu leher jenjangnya.
"Woii! Apa yang kamu lakukan di sini 'hah?!"
Seto nyaris menjatuhkan ponselku saat tiba-tiba seseorang muncul dan menepuk punggungnya.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Happy reading…