
Keesokan paginya.
"Mbok, tolong nanti bantu Suci membereskan baju-baju lama Arini," titah Ray pada mbok Asih di sela sarapan paginya.
"Memang mau dikemanakan baju-baju mnediang nyonya Arini, Tuan?"
"Mbok bisa sumbangkan di tempat yang membutuhkan, di yayasan peduli bencana, misalnya."
"Baik, Tuan."
"Siska belum bangun ya, Mbok?" tanya Suci.
"Semalaman dia mengobrol di sambungan telepon. Paling-paling sekarang masih tidur." Mbok Asih menuangkan susu segar ke dalam gelas lalu menyodorkannya pada Arsen.
"Ya sudah, biar aku bangunkan dulu." Suci beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan meja makan tapi Ray menahannya.
"Habiskan dulu makananmu, baru kamu urusi hal lain," ucap Ray.
"Baik, Mas."
"Siska memang masih kerabatmu tapi saya tidak menyukai sikapnya yang sesuka hati di rumah ini. Tolong kamu sampaikan padanya jika masih ingin tinggal di rumah ini bersikap lah sebagai mana mestinya," imbuhnya.
Tidak berselang lama Siska muncul di ruang makan.
"Selamat pagi semua," sapanya.
"Aku pikir kamu belum bangun."
"Aku sudah bangun dari tadi kok."
"Kalau kamu memang sudah bangun dari tadi, kenapa tidak membantu mbok Asih menyiapkan sarapan?" timpal Ray.
"Ehm … saya-saya, …"
"Kamu pasti malas bangun karena kurang tidur," ketus mbok Asih.
"Apa maksud Mbok Asih?"
"Kamu lupa ya, kamar kita 'kan bersebelahan. Jadi aku tahu kalau kamu semalaman mengobrol dengan seseorang di sambungan telepon."
"Nggak kok. Aku nggak menelpon siap-siapa," bantah Siska.
"Sudah, jangan berdebat di meja makan. Kamu mau sarapan, Sis?" tanya Suci.
"Boleh."
Siska baru saja menarik kursi dan hendak mendudukinya namun mbok Asih justru mendorong kembali kursi tersebut.
"Kamu mau ngapain?"
"Sarapan lah. Barusan Mbok dengar sendiri 'kan, Suci yang nawari."
"Enak saja. Aku yang capek-capek memasak saja belum sarapan kok. Kamu baru buka mata mau langsung makan. Sana, bereskan dapur dulu."
"Wanita tua ini memang menjengkelkan!" umpat Siska.
"Ehm … Siska. Saya mau tanya."
"Boleh, Tuan."
"Kamu sadar 'kan posisimu di rumah ini?"
"Iya, Tuan. Saya tinggal di sini untuk bantu-bantu Mbok Asih mengerjakan pekerjaan rumah."
"Setelah satu Minggu tinggal di rumah ini, apa kamu belum paham juga dengan kebiasaan mbok Asih? Dia bangun paling awal lalu menyiapkan sarapan untuk keluarga saya. Lantas, kenapa kamu selalu bangun di saat sarapan sudah terhidang di atas meja?"
"Ehm, saya-saya, …"
"Jangan mentang-mentang kamu pernah menjadi saudara tiri Suci, kamu bisa berbuat seenaknya di rumah ini. Kalau kamu masih ingin tinggal di sini, saya harap kamu bisa menyesuaikan diri."
"Ba-ba-ik, Tuan."
"Kenapa Suci diam saja sih! Bela in kek!" batin Siska.
"Tunggu apalagi? Sana ke belakang," ucap mbok Asih.
"Iya, bawel. Ini juga sudah mau ke belakang!" sungut Siska. Dia pun lantas meninggalkan ruang makan.
"Setelah diomelin tuan Ray saja, baru nurut," gerutu mbok Asih.
"Ehm … Arsen."
"Ya, Ayah."
"Mulai hari ini kamu berangkat dan pulang sekolah dengan pak sopir ya," ucap Ray.
"Memangnya kenapa, Yah?"
"Tidak apa. Ayah 'kan tidak selalu bisa menjemputmu."
"Memangnya siapa sopir yang akan menjemput Arsen, Mas?" tanya Suci.
__ADS_1
"Namanya, …"
"Permisi," ucap seseorang dari arah teras.
"Itu pasti dia." Ray beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ruang tamu, Suci dan Arsen di belakangnya mengekor.
"Selamat pagi, apa benar di sini kediaman tuan Rayyan?" tanya laki-laki muda itu.
"Benar, apa kamu sopir yang direkomendasikan pak Davis?"
"Benar, Tuan."
"Siapa nama kamu?"
"Nama saya Davin."
"OK, Davin. Ini putera saya, namanya Arsen. Tugas kamu mengantar dan menjemputnya sekolah. Kamu tahu 'kan Sekolah Internasional?"
"Tahu, Tuan."
"Kamu tidak boleh terlambat sedetik pun mengantar atau menjemputnya. Untuk mobil sudah saya siapkan di garasi."
"Baik, Tuan."
"Arsen Sayang, kamu sudah selesai sarapannya?" tanya Suci.
"Sudah, Bu."
"Mulai hari ini kamu diantar jemput mas Davin ya."
"Iya, Bu."
"Kita berangkat sekarang, Mas Davin," ucap Arsen.
"Baik, Tuan muda."
"Setelah menyalami Suci dan Ray secara bergantian, bocah laki-laki itu pun meninggalkan teras dan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Sepertinya saya juga harus berangkat sekarang," ucap Ray.
Suci beranjak dari teras lalu masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa koper milik Ray.
"Ini, Mas, kopernya."
"Terima kasih."
"Hati-hati." Suci meraih tangan Ray lalu mencium punggung tangannya.
Ray pun lalu melangkah meninggalkan rumahnya.
"Mbok, setelah sarapan Mbok langsung ke kamar utama ya," ucap Suci pada mbok Asih yang tengah membereskan meja makan.
"Memangnya kamu mau mengajak mbok Asih ngapain?" tanya Siska yang baru saja muncul dari arah dapur.
"Oh, mas Ray memintaku untuk membersihkan lemari milik mendiang nyonya Arini."
"Mbok Asih masih mau nyuci piring 'kan? Biar saya saja yang membantu Suci," ucap Siska.
"Tapi tuan Ray memintaku untuk membantu Suci."
"Alah, aku atau Mbok sama saja. Ayo kita ke kamarmu sekarang."
Suci dan Siska pun lantas meninggalkan ruang makan kemudian menuju kamar utama.
Kagum. Itulah perasaan Siska saat memasuki kamar utama yang kini juga menjadi kamar Suci. Begitu luas dan nyaman, tidak seperti kamarnya di belakang sana yang sempit dan pengap.
"Beruntung sekali gadis kampung ini menjadi istri pengusaha tampan dan mapan seperti tuan Ray. Sementara aku? Hanya menjadi babu nya saja," batinnya.
"Ini lemari mendiang nyonya Arini," ucap Suci seraya membuka pintu lemari berbahan kayu jati itu. Tampak lah puluhan gaun dan dress yang tergantung rapi di dalam sana. Semuanya indah dan bisa dipastikan harganya per potong nya mencapai jutaan rupiah.
"Astaga. Gaun dan dress sebagus ini mau diberikan secara cuma-cuma ke yayasan peduli bencana? Sayang banget," ucap Siska.
"Mas Ray yang bilang begitu, jadi aku menurut saja." Suci mengambil sebuah kardus berukuran cukup besar yang sudah disiapkan Ray lalu meletakkannya di dekat lemari bercat cokelat itu.
"Ini buat apa?" tanya Siska.
"Tolong bantu aku memindahkan baju-baju dari lemari ke dalam kotak ini."
"Tunggu! Aku boleh 'kan mengambil beberapa potong? Sepertinya baju-baju ini pas di badanku."
"Lebih baik kamu jangan mengambilnya. Mas Ray bisa marah besar kalau tahu."
"Ish! Beberapa potong saja kok. Tidak jadi masalah 'bukan, kalau aku memakainya saat di luar?" Tiba-tiba saja Siska melepaskan beberapa potong gaun dan dress dari gantungannya lalu meletakkannya di atas ranjang.
"Siska, kumohon jangan ambil baju-baju itu. Mas Ray bisa marah besar kalau tahu baju-baju itu kamu ambil."
"Tenang saja, tuan Ray nggak akan tahu. Lagipula ini hanya sebagian kecil dari isi lemari ini kok. Nanti kardus ini tinggal ditutup pakai lakban, selesai. Aku simpan baju-baju ini dulu ya." Siska meninggalkan kamar utama lalu berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya mbok Asih saat keduanya berpapasan di ruang makan.
"Ehm … bukan apa-apa kok." Siska cepat-cepat menyembunyikan baju-baju itu di balik badannya.
__ADS_1
"Itu apa? Jangan-jangan kamu mencuri barang dari kamar tuan Ray."
"Jangan sembarangan menuduh. Siapa juga yang mencuri. Permisi, aku mau lewat." Siska berlalu dari hadapan mbok Asih lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Aneh," gumam mbok Asih.
"Ehm … Mbok. Aku minta tolong panggilkan pak Bondan untuk mengangkat kardus di kamarku," titah Suci.
"Baik, Nduk." Mbok Asih beranjak dari ruang makan lalu berjalan keluar menuju halaman rumah. Tidak berselang lama dia kembali dengan mengajak serta pak Bondan.
"Pak Bondan, tolong antarkan kardus ini ke yayasan peduli bencana," titah Suci.
"Kalau boleh saya tahu isinya apa, Nyonya?"
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu, panggil saja saya seperti biasanya," ucap Suci.
"Saya tidak enak hati. Masa saya memanggil istri tuan Ray dengan sebutan mbak."
Suci mengulas senyum tipis.
"Tidak apa, Pak. Mbok Asih pun masih memanggil saya dengan sebutan nduk."
"Ya sudah, saya panggil ibu saja."
"Terserah Pak Bondan saja".
"Kardus ini isinya apa, Bu?"
"Oh, kardus ini berisi baju-baju milik mendiang nyonya Arini. Mas Ray yang meminta saya menyumbangkannya," jelas Suci.
"Oh, begitu."
"Oh ya, Pak. Nyonya Sofia dan suaminya sudah bebas dari penjara. Saya harap Pak Bondan lebih hati-hati dan waspada. Pak Bondan masih ingat 'bukan, apa yang dilakukan mereka pada kita beberapa tahun yang lalu?"
"Iya, Bu. Saya paham. Ya sudah, saya permisi dulu," ucap pak Bondan. Dia pun lantas mengangkat kardus berisi pakaian lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
"Mbok mau kemana?" tanya Suci saat mendapati wanita paruh baya itu membawa keranjang belanja.
"Mbok mau ke pasar. Persediaan bumbu dapur dan sayuran sudah mulai menipis."
"Aku ikut, Mbok."
"Kamu di rumah saja, sekarang belanja di pasar bukan menjadi tugasmu lagi."
"Aku bosan di rumah nggak melakukan apapun."
"Tapi, bagaimana kalau tuan Ray tahu kamu pergi ke pasar?"
"Mas Ray tidak akan marah kok."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Siska, aku dan mbok Asih ke pasar dulu!"
"Ya!" sahut Siska dari dalam kamarnya.
Suci dan mbok Asih pun lantas berangkat menuju pasar.
Sementara itu di dalam kamar Siska.
Siska tengah memandang pantulan dirinya di cermin. Benar saja, gaun milik mendiang nyonya Arini pas melekat di badannya.
"Dengan gaun ini kamu terlihat seperti nyonya besar, Siska," gumamnya.
"Permisi," ucap seseorang dari arah teras.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumamnya.
Tanpa melepas gaunnya lebih dulu, Siska keluar dari dalam kamarnya kemudian menuju pintu depan. Tampak di hadapannya seorang laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh darinya.
"Maaf, Mas siapa, dan ada perlu apa?" tanyanya.
"Nama saya Davin."
Siska pun lantas mengamati penampilan laki-laki berperawakan tinggi itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Ehm … ganteng juga," batinnya.
"Kamu ada perlu apa?" tanya Siska lagi.
Giliran Davin mengamati penampilan Siska.
"Gadis ini cantik sekali, andai saja dia jadi pacarku," gumamnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Davin.
"Namaku Siska."
"Nama yang bagus. Kamu siapa nya tuan Rayyan?"
"Ehm … aku-aku adiknya."
Bersambung …
__ADS_1