Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 42


__ADS_3

Sean yang juga berada di ruangan itu pun bergegas menghampiri Sofia.


"Astaga. Sayang, kamu baik-baik saja 'kan?"


"Gelap! Semuanya gelap! Aku tidak bisa melihat apapun!"


"Kamu jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu!"


"Gelap!" Kata terakhir itu terlontar dari mulut Sofia sebelum ia kehilangan kesadarannya.


"Benny! Lihat yang kamu lakukan pada ibumu!"


"A-a-ku tidak sengaja, Yah."


"Jika sampai terjadi sesuatu pada ibumu, aku tidak akan pernah mengampunimu!" sentak Sean. Kenapa kamu diam saja? Cepat bantu angkat ibumu, kita bawa dia ke rumah sakit!" imbuhnya.


Keduanya pun lantas mengangkat tubuh Sofia dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Sean sesaat setelah dokter usai memeriksa Sofia.


"Maaf, Pak. Dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar kurang baik."


"Kabar kurang baik apa, Dok?"


"Akibat benturan yang begitu keras saat terjatuh beberapa saat yang lalu menyebabkan kerusakan di saraf mata pasien sehingga menyebabkan pasien kehilangan penglihatannya."


"Ja-ja-di, istri saya buta, Dok?" tanya Sean. Dokter itu menganggukkan kepalanya.


"Apa istri saya masih bisa sembuh, Dok?"


"Harapannya kecil bagi pasien untuk bisa melihat kembali. Saya permisi dulu."


"Anak kurang ajar! Gara-gara perbuatanmu, ibumu kini buta!" Selama ini kita bergantung hidup pada ibumu. Jika sudah begini, bagaimana kita harus melanjutkan hidup 'hah!"


"Aku tidak sengaja, Yah. Aku minta maaf. Yang kulakukan tadi hanya tindakan spontan. Aku sama sekali tidak berniat membuat ibu celaka," ungkap Benny.


"Anak durhaka! Pergi dari hadapanku sekarang! Jangan pernah berani muncul kembali!" seru Sean.


"Kumohon jangan usir aku, Yah. Aku tidak punya siapapun di luar sana." Benny menjatuhkannya lututnya di lantai dan bersimpuh di hadapan Sean, namun pria itu justru menendang Benny dengan salah satu kakinya hingga membuatnya jatuh terjengkang.


"Ayah! Maafkan aku!" pekik Benny.


Sean enggan menanggapi ucapan anak kandungnya itu. Dia justru memilih masuk ke dalam ruang perawatan Sofia.


Sofia sadar hanya selang beberapa saat setelah Sean masuk ke dalam ruangan itu.


"Sayang, kamu sudah sadar?"


"Gelap … gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Apa listriknya padam?" Sofia beranjak dari tempat duduknya sembari meraba di sekelilingnya. Di saat itulah tanpa sengaja salah satu tangannya mendorong gelas hingga membuatnya terjatuh di atas lantai."


"Di mana saklar lampu nya? Kali ini Sofia mulai meraba dinding di ruangan itu.


"Cukup, Sofi, Cukup!" pekik Sean seraya merengkuh tubuh Sofia ke dalam pelukannya.


"Kenapa kamu membiarkan ruangan ini gelap? Cepat nyalakan lampunya."


"Bukan lampu nya yang padam, Sayang, tetapi … kamu yang kehilangan penglihatanmu," bisik Sean.


"Tidak! Aku tidak mungkin buta! Aku tidak mau buta! Dokter! Tolong saya!" teriak Sofia histeris.

__ADS_1


Sean bergegas menekan tombol yang memang disediakan untuk memanggil dokter atau perawat.


"Ada apa, Pak?" tanya dokter yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Istri saya terus berteriak histeris."


"Saya paham, sebagian pasien yang tidak siap menerima kondisinya akan mengalami shock. Jalan satu-satunya adalah dengan memberikan suntikan penenang bagi pasien."


Dokter itu pun lantas mengambil sebuah jarum suntik lalu menyuntikkannya di lengan Sofia. Tidak berselang lama Sofia pun terlelap.


"Kenapa nasibmu jadi begini, Sofi," ucap Sean parau.


*****


Menjelang sore.


Seisi rumah itu terlihat panik lantaran nyonya Sofia belum juga kembali ke rumah. Terutama Zola, ia tidak berhenti memeriksa halaman rumah berharap sang Nyonya segera pulang.


"Apa Pak Bondan tahu nyonya pergi ke mana?" tanyanya.


"Saya mana pernah tahu ke mana nyonya pergi. Bukankah kamu yang biasa tahu setiap urusannya?"


"Setahu saya nyonya paling sering mengunjungi saudaranya yang berada di perumahan Anyelir."


"Ya sudah, kita tunggu saja. Bukankah tidak jarang Nyonya pulang sampai larut malam."


Zola mendengus kesal sebelum akhirnya memilih berlalu dari hadapan Pak Bondan.


"Kamu ini kenapa sih Zol? Aku lihat dari tadi kamu seperti orang kebakaran jenggot," ucap Suci saat keduanya berpapasan di taman belakang.


"Nyonya belum pulang."


"Hanya itu kamu bilang?"


"Kenapa kamu harus sepanik ini? Bukankah nyonya sudah seringkali pulang malam? Bahkan beberapa hari yang lalu dia baru pulang saat dini hari."


"Kalian memang tidak pernah peduli pada nyonya!" gerutu Zola kesal seraya berlalu dari hadapan Suci.


"Nona judes itu kenapa, Nduk?" tanya Mbok Asih.


"Dia bingung kenapa sampai saat ini nyonya Sofia belum pulang."


"Kenapa dia harus bingung? Bukankah ini masih sore? Nyonya seringkali pulang larut malam bahkan dini hari."


"Namanya juga tangan kanan, Mbok." Suci terkekeh.


****


"Ibu belum pulang, Mbok?" tanya Ray ketika dia baru saja pulang dari kantornya.


"Belum, Tuan."


"Mungkin nyonya pergi ke rumah saudaranya itu."


"Dari tadi saya sudah mencoba menghubungi Nyonya Sofia namun tidak ada jawaban. Saya khawatir sesuatu terjadi padanya," ucap Zola.


"Tidak perlu secemas itu. Ibu berada di tempat yang aman kok."


"Maksud Tuan? Apa Tuan tahu di mana keberadaan nyonya?"


"Ehm … Mbok. Tolong buatkan secangkir teh hangat lalu antarkan ke ruangan saya."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Merasa diabaikan, Zola pun akhirnya memilih meninggalkan ruangan itu dan menuju dapur.


Langkah Rayyan terhenti saat melintasi kamar Arsen. Dilihatnya putra semata wayangnya itu tengah asik bermain dengan Suci. Entah apa yang dilakukan pengasuh itu hingga membuat Arsen terkekeh berulang.


"Sepertinya anak ayah senang sekali," ucapnya seraya melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tu-Tu-Tuan? Ehm … ini saya dan tuan muda Arsen sedang bermain bayangan."


Pandangan Ray pun tertuju pada sebuah lampu senter yang berada di tangan Suci.


Dengan jari-jari tangannya dia membentuk bayangan sehingga menyerupai binatang. Hal itulah yang membuat Arsen begitu senang hingga terkekeh.


"Kamu memang pintar mengambil hati Arsen," ujar Ray.


"Sumpah loh, Tuan. Saya tidak menggunakan aji-aji atau mantra apapun," ucap suci yang sontak membuat tawa Ray meledak.


"Tuan bisa tertawa juga ternyata."


"Ya sudah, lanjutkan bermain nya, saya ke kamar dulu," ucap Ray. Tidak berselang lama dia pun meninggalkan kamar tersebut.


Entah mengapa Ray merasa udara malam itu terasa begitu panas. Ia pun memutuskan keluar dari kamarnya dan mencari udara segar di balkon. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat kendaraan yang melintas di jalan raya tidak jauh dari tempat tinggalnya.


Tiba-tiba saja pendengarannya menangkap obrolan dari arah pos security.


"Kamu ini siapa? Di mana tempat tinggalmu? Kenapa malam-malam begini berkeliaran?" tanya pak Bondan.


"Tolong saya, Pak. Sejak sore tadi saya belum makan."


"Memangnya di mana rumahmu?"


"Saya-saya diusir oleh ayah saya karena sebuah kesalahan yang tidak saya sengaja."


Demi menjawab rasa penasarannya, Ray pun beranjak dari balkon dan menuju pos security.


"Ada apa ini, Pak?" tanyanya.


"Ehm … ini Tuan. Pemuda ini tiba-tiba muncul. Dia mengatakan jika dirinya kelaparan dan diusir dari tempat tinggalnya oleh ayahnya."


"Kasihan sekali kamu. Pak Bondan."


"Ya, Tuan."


"Ajak dia masuk ke dalam, lalu bangunkan mbok Asih agar memberinya makan dan minum."


"Baik, Tuan."


"Mari ikut saya." Pak Bondan membuka pintu gerbang lalu mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumah.


"Silakan tunggu di sini, saya akan membangunkan Mbok Asih untuk mengambilkan makanan dan minuman untukmu."


Pemuda itu lalu duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Ia mengedarkan pandangannya di ruangan yang cukup luas itu hingga tiba-tiba netranya menangkap sebuah bingkai foto berukuran besar yang tertempel di dinding ruangan itu. Matanya terbelalak saat memandang wajah seseorang yang begitu dikenalnya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2