Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 110


__ADS_3

"Astaga!"


"Ada apa, Tuan?" tanya Eva.


"Ini gila. Benar-benar gila!"


Demi menjawab rasa penasarannya, Eva pun menerobos masuk ke dalam kamar yang belum genap sehati ditempati Rita dan Lina.


"Astaga!" Asisten sang big boss itu membekap mulutnya saat mendapati Lina terkapar di atas tempat tidur yang berlumuran darah nya sendiri. Tidak jauh dari tubuhnya tampak sebuah pisau lipat. Ya, Lina telah mengakhiri hidupnya dengan memotong pembuluh nadinya sendiri dengan menggunakan pisau lipat.


Tanpa menunggu perintah, Eva bergegas memeriksa apakah Lina masih bisa tertolong. Namun sayang, gadis berambut panjang itu benar-benar telah kehilangan nyawanya.


"Dia … meninggal, Tuan."


"Brengsek!" Pria yang dipanggil boss itu memukul pintu kamar dengan begitu kerasnya.


"Kamu mau kemana?" tanya sang big Boss saat Eva tiba-tiba meninggalkan kamar itu.


"Saya mau memeriksa kamar mandi, Tuan. Sudah lebih dari satu jam gadis bernama Rita itu masih belum keluar."


Eva berjalan menuju kamar mandi, sang big Boss di belakangnya mengekor.


"Rita … Rita … tolong buka pintunya," ucap Eva dari depan pintu.


Tak ada sahutan.


"Tadi saya sudah mendatangi kamar mandi ini tapi tak ada sahutan. Saya takut gadis itu juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kawannya."


"Hei! Buka pintunya!" seru sang big Boss sembari menggedor pintu.


Masih tak ada jawaban.


"Saya hitung sampai tiga. Jika saja dalam hitungan ke tiga kamu tak juga keluar, pintu ini terpaksa saya dobrak! Satu … dua …"


"Brak!" Pintu kamar mandi yang terbuat dari seng itu kini berhasil dibuka paksa.


Ternyata apa yang ditakutkan Eva benar-benar terjadi. Di dalam sana Rita tidak benar-benar mandi. Pakaian yang dikenakannya bahkan masih lengkap.


"Ya Tuhan!" pekiknya saat menyadari ada yang tidak beres dengan gadis itu. Rita tampak terkulai lemas di atas kloset duduk dalam keadaan mulut berbusa. Jika melihat keberadaan botol wadah cairan pembersih lantai di lantai, bisa dipastikan gadis itu sengaja mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan tersebut.


"Bagaimana ini, Tuan? Kedua gadis itu melakukan tindakan bunuh diri di tempat ini."


"Cepat kamu urus mereka. Saya tidak mau ada seorang pun yang mengetahui kejadian ini."


"Ba-ba-ik, Tuan."


"Bodoh sekali mereka!" umpat sang big Boss sebelum akhirnya meninggalkan tempat kamar tersebut.


Sementara itu Eva terlihat mendatangi seseorang di bagian belakang bangunan.


"Pak … Pak Husein," panggilnya.


"Ada apa, Mbak Eva? Kenapa wajah Mbak Eva pucat begitu?"


"Pak Husein tolong saya."


"Tolong apa, Mbak?"

__ADS_1


"Mari ikut saya."


Pria berusia enam puluh tahun itu bernama pak Husein. Dia bekerja di tempat ini sekitar dua tahun yang lalu. Yang ia tahu tempat ini hanyalah sebuah salon meskipun sang big Boss melarang keras dirinya untuk memasuki kamar pelanggan. Tugasnya hanyalah membersihkan halaman depan dan belakang bangunan itu. Satu-satunya ruangan yang boleh ia masuki hanyalah ruang dapur. Di tempat itulah ia terbiasa menyiapkan minuman untuk sang big Boss dan para tamu. Sementara yang bertugas menyajikannya hanyalah Eva.


Eva dan pak Husein telah sampai di kamar Lina. Pria yang kepalanya telah dipenuhi uban itu kaget bukan main saat melihat apa yang ada di hadapannya.


"Astaghfirullahaldzim! Siapa gadis ini, Mbak? Kenapa dia bisa begini?"


"Dia karyawan baru di tempat ini. Saya mendapatinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sepertinya dia mengakhiri hidupnya dengan cara memotong pembuluh nadinya. Saya minta tolong Pak Husein untuk menguburkan jenazah gadis ini di tanah kosong yang berada di bagian belakang bangunan ini."


"Mana bisa begitu, Mbak. Sebelum dikuburkan, jenazah ini harus dimandikan, dikafani, lalu disholatkan. Saya tidak bisa menguburnya begitu saja."


"Ehm … anu-anu, Pak."


"Ada apa lagi, Mbak?"


"Sebenarnya masih ada satu lagi jenazah di kamar mandi."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Sebenarnya ini ada apa, Mbak?"


"Saya juga tidak tahu kenapa mereka kompak mengakhiri hidup mereka sendiri."


"Memangnya mereka datang dari mana, Mbak?"


"Dari kota Y."


"Lebih baik kita memberitahu keluarga mereka. Mungkin lebih baik jika mereka dimakamkan oleh pihak keluarganya."


"Pak Husein sudah bosan bekerja di sini?" ucap sang big Boss yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


"Saya masih butuh pekerjaan ini untuk membiayai sekolah cucu-cucu saya."


"Tapi, Tuan, …"


"Menolak perintah sama artinya Pak Husein berhenti dari pekerjaan ini!" tegas sang big Boss.


"Baiklah, tapi sebelum menguburkan jenazah mereka izinkan saya mensucikan, mengkafani dan menyolatkan mereka."


"Terserah Pak Husein. Yang penting kedua jenazah ini cepat dimakamkan. Dan satu lagi, jangan ada seorang pun selain kita bertiga yang tahu perihal kejadian ini. Jika sampai hal ini terbongkar, Pak Husein akan tahu akibatnya."


"Baik, Tuan."


"Eva, bantu pak Husein mengurus jenazah mereka."


Gadis itu mengangguk paham.


"Ingat, jangan sampai meninggalkan jejak. Pastikan semuanya terlihat baik-baik saja dan seolah tidak terjadi apapun di tempat ini," ucap sang big Boss. Dia pun akhirnya berlalu dari hadapan keduanya.


"Siapa pun kalian … semoga Allah menerima jasad kalian," ucap pak Husein parau.


*****


Pagi hari di rumah Bimo.


"Maaf ya, Mas. Gara-gara masalah ini Mas jadi mengulur waktu untuk kembali ke kota," ucap Murni.


"Tidak apa, Sayang. Aku justru tidak akan tenang jika harus meninggalkanmu sendirian di kampung ini. Aku berjanji akan membantumu memecahkan kasus kematian Fitri."

__ADS_1


"Jadi, apa rencana Mas sekarang?" tanya Suci.


"Aku akan mendatangi kantor aplikasi ojek online. Aku yakin bisa mendapatkan petunjuk di sana."


"Sebelum kita ke sana kita ke kantor polisi dulu ya, Mas. Aku ingin memastikan bapak baik-baik saja. Aku juga ingin membawakan makanan kesukaannya," ucap Suci. Ray mengangguk setuju.


Ray dan Suci baru saja keluar dari rumah itu dan hendak memasuki mobil. Di saat itulah sebuah sepeda motor berhenti di halaman rumah.


"Loh, siapa yang pesan ojek online?" batin Suci.


"Permisi, Pak … Bu," sapanya.


"Maaf, Mas mau menjemput siapa? Di sini hanya ada kami berdua," tanya Suci.


"Oh, saya ke sini tidak untuk menjemput penumpang kok Bu. Tapi saya ingin memberikan uang kembalian."


"Uang kembalian siapa, Mas?"


"Begini, Pak … Bu. Kemarin pagi saya menjemput penumpang di depan rumah ini. Ongkosnya sampai di terminal 40 ribu, tapi dia membayar dengan uang 50 ribuan. Saat itu saya belum memiliki uang kembalian karena baru pertama menerima order."


"Kalau boleh saya tahu siapa yang kemarin Mas jemput di depan rumah ini?"


"Kalau tidak salah nama akunnya Mur … Mur … Murni. Iya, namanya Murni. Usianya sekitar 17 tahun."


"Jadi, Mas menjemput Murni di depan rumah ini dan mengantarnya ke terminal?" timpal Ray.


"Benar, Pak."


"Apa Mas ingat jam berapa saat menjemput Murni?"


"Masih pagi kok, Pak. Mungkin jam setengah delapan."


Tiba-tiba pandangan pengemudi ojek itu tertuju pada bendera berwarna putih yang masih berada di halaman rumah.


"Loh, siapa yang meninggal, Pak … Bu?" tanyanya.


"Adik saya, Fitri."


"Fitri?"


"Benar. Memangnya kenapa?"


"Begini, Bu. Saat saya sampai di tempat ini untuk menjemput mbak Murni, dia terlihat keluar dari rumah dengan buru-buru. Oh ya, saat kami hendak berangkat, saya sempat mendengar seseorang menjerit dengan menyebut nama Fitri. Saya sempat bertanya pada mbak Murni ada apa di dalam, dan siapa yang berteriak, tapi mbak Murni sepertinya tidak peduli. Dia justru meminta saya untuk cepat meninggalkan rumah ini," papar pengemudi ojek.


"Ini kembaliannya, saya permisi dulu."


"Terima kasih, Mas. Keterangan dari Mas sangat penting bagi kami."


"Saya permisi dulu, Pak … Bu. Selamat pagi."


Pengemudi ojek itu pun lantas meninggalkan halaman rumah Bimo.


"Aku yakin sekarang, Murni terlibat dalam kematian Fitri," ucap Ray.


"Kenapa Mas bisa berpikir begitu?"


"Bapak dan Fitri pasti menahan Murni agar tidak pergi. Mungkin Fitri sedikit memaksanya hingga akhirnya membuat Murni kesal dan mendorongnya hingga kepalanya membentur sesuatu di dalam rumah. Dia mungkin tidak menyangka jika apa yang dilakukannya membuat Fitri terluka parah bahkan kehilangan nyawanya. Bapak menjerit karena Fitri ternyata sudah meninggal dunia."

__ADS_1


"Ya Allah, Murni … kamu tega sekali," ucap Suci lirih.


Bersambung …


__ADS_2