Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 69


__ADS_3

"Siska? Kamu Siska 'bukan? Kenapa kamu jadi begini?"


Ya, gadis itu rupanya saudara tiri Suci yang bernama Siska. Siska yang dulu selalu berpenampilan modis itu tiba-tiba saja berubah menjadi Siska yang lusuh dan jauh dari kata terawat.


"Su-Su-Suci? Ini benar kamu?"


"Iya, ini aku, Suci."


"Bukankah kamu bekerja sebagai pengasuh? Tapi penampilanmu kok begini?"


"Mengobrol nya dilanjutkan nanti saja. Sekarang ayo kita masuk ke dalam."


Suci meraih tangan Siska lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Siapa gadis ini?" tanya Ray saat mereka telah berada di ruang tamu.


"Namanya Siska, Tuan. Dia saudara tiri saya. Apa saya boleh memberinya makanan dan pakaian yang layak?"


"Silahkan," ucap Ray. Dia lantas berlalu dari ruangan itu.


"Mbok, tolong siapkan makanan untuk Siska, aku mau mengambil pakaian untuknya," ucap Suci pada mbok Asih yang kini berada di dapur.


"Siska siapa, Nduk?"


"Ternyata gadis yang tadi diceritakan pak Bondan itu adalah saudara tiri saya, Siska."


"Oh ya. Nanti mbok ambilkan makanan untuknya."


"Terima kasih, Mbok."


Suci beranjak dari dapur lalu masuk ke dalam kamarnya. Tidak berselang lama dia kembali ke ruang tamu dengan membawa sepotong baju untuk Siska bersamaan dengan mbok Sumi yang membawakan makanan untuknya.


"Sekarang kamu makan dulu, lalu bersihkan dirimu," ucap Suci.


Siska menyantap makanan itu dengan begitu lahap seperti orang yang kelaparan selama berhari-hari.


"Maaf, aku lapar sekali. Sudah dua hari tidak makan," ucapnya setelah mengosongkan isi piringnya.


"Bukannya kamu bekerja sambil kuliah di kota ini, tapi kenapa penampilan kamu jadi begini?"


Siska menghela nafas berat.


"Aku tidak bisa melanjutkan kuliahku karena aku kehabisan uang. Ehm … saat aku mencuri uang dari cafe tempatku bekerja pun malah ketahuan. Aku sudah berbulan-bulan hidup jadi gelandangan," paparnya.


Suci memandang saudara tirinya itu penuh rasa iba. Dia tak pernah menyangka jika nasib seorang Siska yang dulunya selalu dibanggakan oleh sang ibu tiri itu kini begitu menyedihkan.


"Kamu juga sudah mendengar kabar tentang ibu 'kan?" tanya Siska.


"Ya, aku dengan ibu Widya meninggal setelah tertabrak truk."


"Lantas, di mana makamnya?"


"Ada warga yang berbaik hati membelikan tanah untuk pemakaman ibu."


"Syukurlah kalau begitu."


"Suci." Tiba-tiba Siska meraih tangan Suci.


"Aku minta maaf jika selama ini sudah melakukan banyak kesalahan sama kamu."


"Sudahlah, lupakan yang telah lalu. Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf."

__ADS_1


"Terima kasih, kamu memang saudaraku yang paling baik."


Obrolan mereka terhenti saat Arsen tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya.


"Ibu, kakak ini siapa?" tanyanya.


"Oh, namanya kak Siska. Dia saudara ibu, Sayang." Suci mengangkat tubuh Arsen lalu meletakkannya di atas pangkuannya.


"Pasti kalian sudah dekat sekali sampai-sampai kamu memanggil pengasuhmu dengan sebutan ibu," ucap Siska.


"Dia memang ibuku kok."


"Hah?! A-a-pa?"


"Mbak Suci 'kan sudah menikah dengan ayah. Artinya dia sekarang ibuku." Tiba-tiba Arsen mendekap tubuh Suci.


"Mujur sekali nasibnya. Dari pengasuh, jadi ibu sambung. Mana ayahnya anak ini tampan dan mapan lagi. Sedangkan aku? Tempat tinggal saja tidak punya," batin Siska.


"Oh, jadi begitu. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian."


"Aamiin."


"Oh ya, di mana kamar mandi nya?"


"Dari sini kamu lurus, lalu di ujung ruang itu belok kanan," jelas Suci.


Siska beranjak dari ruang tamu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tamu. Sepanjang langkahnya ia tak berhenti berdecak kagum dengan semua yang berada di dalam rumah itu. Baginya rumah ini adalah rumah paling mewah yang pernah ia temui di seumur hidupnya.


"Enak sekali si Suci bisa tinggal di rumah sebesar ini, jadi nyonya pula. Aku harus merayunya agar diperbolehkan tinggal di sini juga," gumamnya.


"Jadi, kamu sekarang tidak punya tempat tinggal?" tanya Suci saat Siska kembali dari kamar mandi.


"Kamu tahu 'bukan? Aku tidak punya saudara di kota ini. Satu-satunya keluargaku adalah ibu dan kini sudah tiada."


"Sial! Kenapa wanita tua ini ikut-ikutan nimbrung sih!" batin Siska.


"Suci … aku boleh 'kan, ikut tinggal di sini? Nggak masalah kok kalau aku harus bekerja."


"Gimana ini, Mbok?" tanya Suci.


"Yang berhak memutuskan siapa yang boleh tinggal di sini hanya lah tuan Ray," ujar mbok Asih.


"Ya kamu bilang dong sama suami kamu biar aku boleh tinggal di sini. Aku memilih kuliah di kota karena apa? Aku tidak betah tinggal di kampung."


"Kenapa kamu ngotot begitu sih!" sungut mbok Asih.


"Siapa yang ngotot? Aku hanya bilang sama Suci biar ngomong sama suaminya kok."


"Sudah, kalian jangan ribut. Nanti aku coba bicara pada ayahnya Arsen," ucap Suci.


"Ehm … aku boleh 'kan numpang istirahat sebentar?"


"Boleh. Ayo kuantar ke kamar bekas Zola."


"Siapa Zola?"


"Zola dulu pernah bekerja di sini sebagai juru bersih-bersih sekaligus menjadi asisten nyonya Sofia."


"Nyonya Sofia, siapa lagi dia?"


"Nyonya Sofia adalah ibu angkat tuan Ray."

__ADS_1


"Lantas, di mana mereka sekarang? Sepertinya dari tadi tidak kelihatan."


"Mereka sekarang ada di dalam penjara."


"Astaga! Di penjara? Memangnya mereka berbuat apa?"


"Waktu itu Arsen baru berusia satu tahun. Nyonya Sofia bersama suaminya dan Zola merampok harta tuan Ray. Mereka juga menculik Arsen dan meninggalkannya di dalam toilet SPBU," papar Suci.


"Rupanya kamu dikelilingi orang-orang licik," ucap Siska sembari melirik sinis ke arah mbok Asih.


"Ayah mau kemana?" Arsen bergeser dari pengakuan Suci lalu menghampiri Ray yang kini telah rapi dengan setelan jas nya.


"Ayah harus menemui klien sekarang. Mungkin ayah baru pulang tengah malam nanti."


"Ehm … Tuan Ray," panggil Suci.


"Ada apa?"


"Boleh nggak kalau Siska tinggal di sini?"


"Tinggal di sini?"


"Ya. Siska ini 'kan tidak punya tempat tinggal. Jadi sementara biar dia tinggal di sini."


"Mbok juga perlu satu orang lagi untuk bantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau sudah ada Siska 'kan,mbok tidak perlu susah-susah mencari orang lagi," timpal mbok Asih.


"Menjengkelkan sekali wanita tua ini. Aku 'kan hanya basa-basi saja bilang mau bekerja di rumah ini. Masa anak kuliahan disuruh jadi babu? Sedangkan si Suci yang hanya tamatan SMP malah jadi nyonya besar," gumam Siska.


"Begitu ya. Kalau memang saudara kamu ini mau bantu-bantu mengerjakan pekerjaan di rumah ini, boleh saja dia tinggal di sini."


"Terima kasih, Tuan."


"Aku pergi dulu."


"Hati-hati."


Ray cukup kaget saat Suci tiba-tiba meraih tangannya kemudian mengecupnya.


"I-i-iya."


"Dadah, Ayah," ucap Arsen seraya melambaikan tangannya.


"Baik-baik di rumah sama ibu ya, Nak. Ayah berangkat dulu," ucap Ray. Dia lantas meninggalkan ruang tamu.


"Ibu, aku mengantuk," ucap Arsen.


"Mbok … tolong ajak Siska ke kamar bekas Zola. Aku mau menemani Arsen di kamarnya.


"Baik, Nduk. Ayo, ikut saya ke kamar belakang."


Mbok Asih berjalan menuju kamar pembantu yang berada di dekat dapur, Siska di belakangnya mengekor.


"Ini kamar kamu," ucap mbok Asih setelah membuka pintu kamar itu.


"Kok sempit begini sih kamarnya?" protes Siska.


"Jadi orang kok tidak tahu bersyukur! Sudah bagus punya tempat tinggal. Daripada kamu jadi gelandangan di luar sana. Oh ya, habis ini kamu cuci piring bekas makanmu tadi. Saya mau ngangkat Jemuran."


Siska merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.


"Aku harus tidur di kamar sempit begini, sementara Suci tidur di kamar yang luas dan ber-AC. Nggak! Aku nggak boleh tinggal diam. Aku harus mencari cara agar aku bisa menyingkirkan Suci. Aku lebih pantas menjadi nyonya besar dibandingkan dirinya," ucapnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2