Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 76


__ADS_3

"Tuan … eh, Mas, mulai besok pagi saya akan mengantar jemput Arsen. Aku khawatir nyonya Sofia kembali berniat jahat pada Arsen," ucap Suci pagi ketika Ray tengah bersiap berangkat ke kantornya.


"Daripada kamu repot mengantar jemput, lebih baik kita pakai jasa sopir pribadi saja."


"Tapi, Mas, …"


"Sekarang juga aku akan menghubungi asistenku agar secepatnya mencari sopir pribadi untuk Arsen."


"Ehm … Tuan, eh … Mas. Tiba-tiba saya kangen sama bapak dan kedua adik saya. Apa aku boleh menelpon bapak?"


"Boleh kok. Masa menelpon saja dilarang."


"Terima kasih, Tuan, eh Mas."


Suci meraih ponselnya lalu menghubungi nomor sang ayah, Bimo.


[Assalamu'alaikum, Pak]


[Waalaikumsalam, Nduk. Bagaimana kabarmu?]


[Alhamdulillah, kabarku baik, Pak. Murni dan Fitri mana, Pak?"


"Sepertinya mereka sedang mengerjakan PR di dalam kamarnya]


[Kalau mereka perlu uang untuk membayar uang sekolah, Bapak bilang saja sama aku]


[Uang yang diberi nak Ray saat pernikahan kalian kemarin masih ada kok, Nduk. Insyaallah cukup untuk biaya sekolah mereka sampai akhir semester ini]


[Kalau Bapak butuh uang, aku harap Bapak jangan sungkan untuk bilang padaku]


[Kamu 'kan sekarang sudah berumahtangga, bapak tidak ingin merepotkanmu]


[Bapak jangan bilang begitu. Aku hanya ingin sedikit meringankan beban Bapak]


Suasana hening sejenak.


[Oh ya, Pak. Sekarang Siska tinggal bersamaku]


[Apa?!]


[Iya, Pak. Siska sekarang tinggal di rumah mas Ray]


[Bagaimana mungkin dia bisa tinggal bersamamu?]


[Siska dipecat dari pekerjaannya dan menjadi gelandangan. Tiba-tiba saja dia muncul dalam keadaan lusuh dan kelaparan. Itulah sebabnya aku mengajaknya tinggal bersamaku]


[Kamu sudah mengenal bagaimana sifatnya 'bukan? Bapak harap kamu tahu bagaimana bersikap]


[Ya, Pak. Aku tidak tega jika harus membiarkannya hidup tanpa tempat tinggal]


[Hatimu begitu baik, jangan sampai kebaikanmu itu dimanfaatkan orang lain]


[Ya sudah, Pak. Aku tutup dulu teleponnya. Sampaikan salamku untuk untuk Murni dan Fitri]


[Baik, Nduk. Nanti bapak sampaikan]


[Assalamu'alaikum]


Suci mengakhiri obrolan.


"Sudah menelponnya?" tanya Ray.

__ADS_1


"Sudah, Tuan … eh, Mas."


"Mari kita tidur."


"Ti-ti-ti-dur?"


"Iya, tidur. Saya sudah mengantuk."


Oh, saya pikir, …"


"Saya tahu kamu belum siap, jadi saya tidak akan memaksa," ujar Ray.


"Ma-ma-af," lirih Suci.


Ray naik di atas ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Di saat itulah Suci mendapati seekor kecoa yang entah dari mana datangnya hinggap di sana.


"Mas diam, jangan bergerak," ucap Suci.


"Memangnya kenapa?"


"Anu … ada kecoa."


"Hah?! Di mana?"


"Itu … di sana." Suci menunjuk ke arah selimut.


"Astaga!"


Alih-alih menurut ucapan Suci, Ray justru bergegas menyibak selimutnya. Sialnya serangga kecil itu justru berpindah ke bagian tubuhnya dan kini sudah berada di balik pakaian tidurnya.


Ray terus membuat gerakan agar kecoa itu segera keluar dari dalam sana. Bukannya pergi, dari dalam pakaian kini binatang itu justru berpindah ke ke dalam celananya.


"Enyah kau serangga menjijikkan!" umpatnya seraya menginjak binatang tersebut lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah.


Menyadari Suci yang salah tingkah, Ray pun cepat-cepat mengenakan kembali celananya.


"****** ******** warna biru muda," batin Suci. Ia lantas menertawai kekonyolannya sendiri.


"Sebagai suami istri yang sah seharusnya tidak masalah kalau kami saling memperlihatkan tubuh masing-masing 'bukan?" batinnya.


"Bagaimana bisa ada kecoa di kamar ini?" gumam Ray.


"Kenapa kamu cekikikan begitu? Jangan-jangan tadi kamu melihat celanaa dalamku ya?" tanya Ray.


"Ah, tidak kok, Mas. Saya hanya heran saja kenapa kecoa bisa masuk ke dalam kamar ini, padahal saya membersihkannya setiap hari."


"Sejak kematian Arini, saya tak pernah lagi membuka lemari itu." Ray menunjuk ke arah lemari bercat cokelat muda yang berada persis di lemari pakaiannya. "Mungkin saja kecoa itu itu berasal dari sana," imbuhnya.


"Biar besok saya bersihkan lemari itu."


"Ada mbok Asih dan Siska, biar mereka saja yang mengerjakannya."


"Tidak apa kok, Mas. Biar saya saja. Ehm … tapi mau dikemanakan baju-baju milik mendiang nyonya Arini?"


"Sumbangkan saja ke yayasan peduli bencana. Mungkin di sana lebih bermanfaat," ucap Ray.


Suci mengangguk paham.


Sekali lagi Ray menyibakkan selimutnya sebelum dia naik ke atas tempat tidur lalu mengenakannya kembali.


"Saya tidur dulu, selamat malam," ucapnya.

__ADS_1


"Selamat malam."


****


Sementara itu di rumah dokter Kinara.


"Usiamu sudah hampir tiga puluh tahun, apa sampai sekarang kamu belum memiliki kawan dekat laki-laki?" tanya pria paruh baya itu pada Kinara.


Kinara yang tengah asyik memainkan ponselnya itu pun lalu meletakkan gawai pipih tersebut di atas meja ruang tamu.


"Aku belum menemukan laki-laki yang cocok. Rayyan yang sudah lama kukagumi pun kini sudah menikah lagi."


"Rayyan? Apa Ray kamu maksud anak Bayu itu? Memangnya kapan dia menikah? Kenapa tidak mengundang kita?"


"Sepertinya dia tidak mengundang banyak orang di acara pernikahannya."


"Lantas, siapa perempuan yang menjadi istrinya? Dia pasti pengusaha juga."


"Apa Ayah mau tahu siapa perempuan yang menjadi istri Ray?"


"Memangnya siapa?" tanya pria bernama Freddy itu.


"Mantan pengasuh anaknya."


"Apa ayah tidak salah dengar? Mana mungkin Ray menikahi pengasuh anaknya sendiri."


"Kenyataannya memang begitu. Aku yang mendengarnya langsung dari mulut Ray."


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba ponsel Freddy yang berada di dalam kamarnya berdering.


"Sebentar, ayah jawab telepon dulu."


Freddy beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.


Sudah lebih dari lima belas menit, namun sang ayah belum juga mengakhiri percakapannya di telepon.


"Siapa sih yang menelpon ayah berlama-lama?" gumamnya.


Demi menjawab rasa penasarannya, Kinara pun memutuskan untuk mendatangi kamar sang ayah. Dari pintu yang tidak tertutup rapat itu dia bisa mendengar jika sang ayah tengah mengobrol dengan seorang perempuan.


Kinara memilih menegur sang ayah setelah dia keluar dari dalam kamarnya.


"Siapa yang menelepon Ayah malam-malam begini? Dia pasti bukan rekan bisnis Ayah."


"Ehm … itu. Dia kawan lama ayah. Dia mengundang ayah ke acara pembukaan kantor cabang barunya."


"Ayah tidak sedang berbohong 'kan?"


"Tentu saja tidak. Memangnya kapan ayah berbohong?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan setuju Ayah dekat dengan perempuan manapun apalagi jika Ayah sampai menikahinya."


"Tidak, Nak. Ayah juga tidak pernah berpikir untuk menikah lagi." Freddy merengkuh kepala Kinara lalu meletakkannya di bagian dadanya.


"Ayah janji 'kan? Tidak akan pernah mengkhianati almarhumah ibu?" tanya Kinara.


"Ya, Nak. Ayah janji."


"Maafkan ayah, Nak. Ayah harus berbohong padamu. Saat ini ada seorang gadis yang sudah membuatku tergila-gila padanya. Perasaan yang telah sekian lama mati tumbuh kembali setelah aku bertemu dengannya," batin Freddy.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2