
"Kalian tidak bisa memaksaku bekerja di tempat ini. Sekarang juga aku mau pulang!" sentak Murni.
"Memangnya siapa yang memaksamu? Kamu mendatangi tempat ini dengan sukarela 'bukan?"
"Kalau dari awal aku tahu pekerjaan ini, aku tidak sudi mendatangi tempat menjijikkan ini!"
"Rita … kenapa kamu diam saja? Ini semua gara-gara kamu!"
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku? Kamu sendiri yang bilang ingin ikut bekerja denganku 'bukan? Aku pun tidak menyangka jika ternyata mereka menipu kita," ucap Rita.
"Aku juga nggak mau bekerja di tempat terkutuk ini!" seru Lina. Dia lantas berjalan menghampiri pintu lalu berusaha mendorong pria bertubuh kekar itu.
"Minggir! Aku mau keluar!"
"Kalian berdua tidak akan bisa kemana-mana. Sudahlah, jalani saja pekerjaan ini. Pasti lama-lama kalian menikmatinya. Ayo kita ke kamar sebelah sana."
"Cuih! Aku tidak sudi tubuhku disentuh tangan kotor sepertimu!" Lina meludah tepat di depan wajah pria hidung belang itu.
"Kurang ajar! Aku bersedia membayar mahal pada bos mu. Beraninya kamu memperlakukanku begin?!"
"Kalian bertiga cepat ganti pakaian kalian dengan bikinii itu, lalu masuk ke kamar nomor 2!" seru sang boss.
"Kami memang butuh uang, tapi maaf, kami tidak akan pernah menjual harga diri kami. Lina … Murni. Ayo kita tinggalkan tempat terkutuk ini."
"Sudah kubilang, kalian tidak akan bisa kemana-mana. Yang perlu kalian lakukan hanya melayaniku di atas ranjang hingga aku puas. Mudah 'bukan?"
"Manusia macam apa kamu 'hah! Apa kamu tidak terlahir dari rahim seorang perempuan? Hingga kamu memperlakukan kami serendah ini."
"Pandai juga kamu berceramah." Pria itu terkekeh.
"Aku harus segera meninggalkan tempat ini bagaimana pun caranya," batin Murni.
Sekali lagi dia mendorong tubuh pria itu namun hasilnya sia-sia. Hanya dengan satu kali dorongan, pria itu berhasil membuat Murni dan kedua temannya jatuh tersungkur di atas lantai.
"Masuk ke kamar itu atau kuhabisi kalian!" Pria itu mengambil pisau lipat dari dalam saku celananya lalu menodongkan pada mereka bertiga.
"Lebih baik aku mati daripada harus disentuh oleh pria sepertimu!"
"Sepertinya kalian lebih menyukai cara kasar." Pria itu meraih lengan Rita dan Lina lalu menyeretnya menuju sebuah kamar.
"Murni! Tolong! Murni tolong!" pekik kedua gadis itu bergantian. Namun keduanya tak bisa berbuat banyak. Murni hanya bisa memejamkan matanya saat keduanya benar-benar dipaksa masuk ke dalam sebuah kamar. Entah apa yang terjadi di dalam sana saat rintihan kesakitan terdengar dari luar pintu.
"Kamu masih perawan juga 'bukan? Sudah lama saya tidak main," ucap sang boss sembari berjalan mendekati Murni.
"Tidak! Jangan, Tuan." Murni berjalan mundur beberapa langkah namun kakinya justru membentur meja.
"Tidak usah melawan, nanti kamu akan kesakitan."
"Jangan mendekat!"
"Ayolah, aku tidak sabar lagi ingin menikmati keperawananmu."
"Tidak! Jangan!" pekik Murni saat pria itu tiba-tiba menarik lengannya lalu melemparnya ke atas sofa.
__ADS_1
"Diam! Atau kubunuh kamu!" ancam sang boss.
"Tidak. Aku tidak boleh pasrah. Aku tidak rela pria ini merenggut kesucianku," batin Murni. Tiba-tiba saja sepasang netranya menangkap sebuah vas bunga yang berada di atas meja. Dengan gerakan secepat kilat dia meraih benda tersebut lalu membenturkannya di meja. Potongan vas bunga itu kini telah menjadi senjata yang bisa berbahaya jika menggores kulit siapapun.
"Jangan mendekat!" seru Murni sembari menodongkan benda tersebut ke arahnya.
Rupanya usahanya berhasil. Sang boss pun mundur beberapa langkah darinya. Kesempatan itu lah yang dimanfaatkan Murni untuk kabur. Dengan gerakan secepat kilat ia pun berlari menuju pintu lalu meninggalkan ruangan yang begitu mengerikan itu.
"Woii! Jangan kabur!"
Murni mempercepat langkahnya saat sang boss mulai mengikutinya.
Murni terus berlari hingga mulai kelelahan. Di saat itulahi iah mendapati sebuah mobil pickup yang parkir di tepi jalan. Setelah ia amati, rupanya mobil itu berhenti lantaran pengemudi nya tengah makan siang di sebuah kedai. Ia pun berpikir untuk bersembunyi di dalam mobil yang kebetulan memakai terpal itu.
Beberapa saat kemudian.
Dari dalam terpal dis bisa mendengar percakapan antara pengemudi mobil dengan sang boss mesumm.
"Maaf, saya mau numpang tanya, apakah Bapak melihat seorang gadis berpakaian kuning di sekitar sini?" tanya sang boss.
"Maaf, saya tidak melihatnya. Saya baru saja makan siang di kedai itu."
"Baiklah. Terima kasih."
Beberapa saat kemudian Murni merasa jika mesin mobil itu mula dinyalakan. Namun ia memilih untuk tetap kemanapun sebelum dirasa mobil itu sudah cukup jauh meninggalkan meninggalkan tempat obrolan itu.
Entah mengapa, tiba-tiba saja rasa kantuk menyerangnya. Tidak berselang lama Murni yang masih belum beranjak dari mobil pick up itu pun tertidur.
*****
"Dari kemarin kamu berjaga di sini, kamu pasti lelah. Biar mbok saja yang gantian berjags," ucap mbok Asih saat dia mengirimkan makan siang untuk Suci.
"Tidak apa, Mbok. Ini memang sudah menjadi tugasku," ujar Suci.
Suasana hening sejenak.
"Ehm … Mbok."
"Ya, ada apa, Nduk?"
"Apa Mbok paham dengan makna mimpi?"
"Ya, mbok tahu beberapa makna mimpi. Memangnya kenapa?"
"Semalam aku bermimpi jika salah satu gigiku patah. Apa arti makna mimpu itu, Mbok?"
"Ehm … maknanya kurang bagus, Nduk. Tapi kita tidak diperbolehkan percaya penuh pada mimpi. Mimpi yang baik berasal dari Allah, sebaliknya mimpi buruk berasal dari setan."
"Memangnya apa makna mimpiku itu, Mbok?"
"Semoga saja ini hanya bunga tidur. Jika kita bermimpi gigi kita patah, maknanya kita akan kehilangan orang terdekat atau orang yang kita sayangi," jelas mbok Asih.
"Ya Allah, Mbok. Kenapa aku tiba-tiba jadi kepikiran bapak dan adik-adik ya? Apalagi kemarin Murni sempat mengutarakan niatnya untuk bekerja di luar kota."
__ADS_1
"Kamu telepon bapak kamu saja, Nduk. Tapi mbok harap keluargamu di kampung baik-baik saja," ucap mbok Asih. Suci mengangguk paham.
Suci meraih ponselnya lalu bergegas menghubungi nomor Bimo. Tidak biasanya sang ayah mengabaikan panggilannya. Padahal setiap kali ia menelpon, sang ayah akan langsung menjawabnya dengan penuh suka cita.
"Nggak diangkat, Mbok."
"Mungkin bapak kamu sedang di kebun mencari rumput. Coba kamu hubungi nomor adikmu."
Kali ini Suci menelpon nomor Murni. Namun tidak jauh berbeda dengan sang ayah, adik perempuannya itu pun mengabaikan panggilan darinya.
"Nggak diangkat juga, Mbok. Aku jadi khawatir."
"Semoga semuanya baik-baik saja. Kamu makan siang dulu, Nduk. Mbok sudah masak sayur sambal goreng kentang."
"Nanti saja, Mbok. Pikiranku belum tenang kalau aku belum mendengar suara bapak ataupun adik-adikku."
Suci mondar-mandir di ruangan itu sembari terus berusaha menghubungi nomor keluarganya hingga tiba-tiba sang ayah meneleponnya.
[Alhamdulillah, akhirnya Bapak menelpon. Aku sudah khawatir. Kabar kalian baik-baik saja 'kan, Pak?]
[Nak Suci, ini bukan pak Bimo.]
[Maaf, dengan siapa saya berbicara? Dan di mana bapak?]
[Saua pak Bayu, ketua RT yang menggantikan pak Panji.]
[Oh. Kalau saya boleh tahu kenapa Bapak menelpon saya dengan handphone bapak?]
[Ehm … sebelum saya menyampaikan kabar kurang baik ini saya harap kamu lebih dulu menyiapkan hatimu.]
[Kabar buruk apa, Pak? Insyaallah saya siap mendengarnya.]
[Fitri … adikmu.]
[Kenapa dengan Fitri, Pak?]
[Adikmu sudah pergi mendahului kita semua.]
[Pergi? Apa maksud Bapak?]
[Adikmu … meninggal dunia.]
[Tidak mungkin! Fitri tidak mungkin meninggal!]
Tubuh Suci mendadak lemas. Bahkan handphone nya pun terlepas begitu saja dari genggamannya.
"Astaghfirullahaldzim. Kamu kenapa, Nduk?" tanya mbok Asih. Raut wajahnya terlihat begitu cemas.
"Fitri … Mbok … Fitri. Hu … hu …"
"Kenapa dengan Fitri?"
"Fitri meninggal dunia. Hu … hu … hu …"
__ADS_1
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Sabar, Nduk. Semua yang bernyawa di dunia adalah milik Allah, pada saatnya semua akan diambil kembali," ujar mbok Asih.
Bersambung …