Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 105


__ADS_3

Sekeras apapun Bimo menjerit, tidak akan membuat Fitri membuka matanya kembali. ocah perempuan rajin dan periang itu meregang nyawa di tangan kakak kandungnya sendiri.


Dengan berurai air mata Bimo mendekap tubuh yang kini tak mampu bergerak lagi itu lalu membaringkannya di atas kursi di ruang tamu. Ia membutuhkan beberapa saat sebelum benar-benar menyadari jika si bungsu telah menyusul mendiang sang ibu ke pangkuan Rabb Nya.


"Assalamu'alaikum … Pak Bimo." Seseorang mengucap salam dari arah teras.


Rupanya pak Samsul, salah satu tetangganya yang sering membeli pakan rumput darinya. Dia berniat membayar pakan kambing miliknya selama satu Minggu ke depan.


"Assalamu'alaikum, Pak Bimo."


Pak Bimo baik-baik saja 'bukan?"


Pria bertubuh gempal itu keheranan lantaran mendapati Bimo yang tengah duduk termenung di ruang tamu.


"Saya pikir Pak Bimo kemana. Ini saya mau membayar pakan rumput kambing-kambing saya untuk satu Minggu ke depan," ucapnya seraya menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu padanya. Alih-alih menerima uang tersebut, Bimo masih saja diam dengan sorot mata kosong.


"Pak Bimo kenapa? Sakit?" tanya pak Samsul. Ayah dari tiga anak itu menggeleng lemah.


"Kenapa Pak Bimo diam saja? Tolong bicara, Pak." Raut wajah pak Samsul mulai terlihat cemas.


Tiba-tiba pandangan pemilik peternakan kambing itu tertuju pada Fitri yang terbaring di atas kursi panjang.


"Kamu belum siap-siap ke sekolah, Nduk? Ini sudah siang," ucapnya.


Sama seperti Bimo, bocah perempuan yang kini duduk di bangku kelas enam SD itu tak menanggapi ucapannya.


Aneh. Itulah satu kata yang ada di pikirannya saat ini.


"Ya sudah, uangnya saya letakkan di atas meja saja ya, Pak. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."


"Fitri … Fitri … Hu … hu … hu …"


Pak Samsul sontak memandang ke arah pak Bimo. Tentu saja ia keheranan lantaran tetangganya itu tiba-tiba saja tersedu.


"Pak Bimo kenapa menangis? Kenapa dengan Fitri?" tanyanya.


"Tolong buat pengumuman berita lelayu," ucap Bimo.


"Pak Bimo ini bicara apa? Memangnya siapa yang meninggal?" cecar pak Samsul.


"Fitri, dia sudah tiada, dia sudah pergi. Hu … hu … hu …"


Perlu beberapa saat bagi pak Samsul untuk mencerna kalimat yang baru saja meluncur dari mulut sang pencari rumput itu.


"Maksud Pak Bimo, Fitri putri Bapak ini sudah, …"


Pak Samsul menyentuh lengan Fitri lalu bergeser di bagian kakinya. Dingin itulah yang dirasakannya. Hingga suatu ketika ia meletakkan jarinya di dekat lubang hidung bocah perempuan itu. Namun ia tak merasakan hembusan nafasnya.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Putri Bapak kemarin baik-baik saja 'bukan? Apa yang menyebabkan dia meninggal?" tanya pak Samsul.


Bimo mematung.


"Pak … Pak Bimo paham dengan pertanyaan saya 'kan?"


"Aku-aku yang sudah membuatnya meninggal."


"Pak Bimo … ini sama sekali tidak lucu. Tolong bicara yang jelas," desak pak Samsul.


"Fitri meninggal karena saya. Panggil polisi dan tangkap saya," ucapnya masih dengan tatapan kosong.


"Tidak! Pak Bimo pasti bohong. Saya akan memanggil warga untuk mengurus jenazah Fitri." Pak Samsul pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian ia kembali bersama beberapa orang tetangganya. Salah satunya pak Bayu yang menggantikan pak Panji sebagai ketua RT yang saat ini masih berada di dalam tahanan.


"Kita urus jenazah Fitri sekarang, Pak," ucap pak Samsul."


"Jangan."


"Kenapa, Pak?"


"Saya yakin ada yang tidak beres dengan kematian nak Fitri. Saya tidak percaya jika pak Bimo yang telah membuatnya meninggal."


"Aku sudah membunuh Fitri, panggil polisi, dan tangkap aku," ucap Bimo. Detik kemudian tangisnya kembali pecah.


"Istighfar, Bimo," ucap salah satu warga.


"Tunggu! Kemana si Murni?"

__ADS_1


"Murni bekerja di luar kota."


"Kapan berangkatnya? Kemarin sore saya masih melihatnya main handphone di teras kok."


"Tadi malam."


"Apa Pak Bimo sadar apa yang sudah Pak Bimo ucapkan? Saat malam hari tidak ada kendaraan dengan tujuan luar kota," ucap salah satu warga.


"Ini membingungkan sekali. Sepertinya kita membutuhkan bantuan polisi," ucap pak Bayu. Warga yang berada di dalam ruangan itu mengangguk setuju. Salah satu warga pun lantas mengambil kain dari salah satu kamar lalu digunakannya untuk menutupi jenazah Fitri.


"Kita jangan apa-apakan dulu jenazah ini sampai polisi datang," ucap pak Bayu. Warga mengangguk paham.


*****


Sementara itu Murni baru saja tiba di terminal.


"Kamu lama sekali sih, Mur. Kita-kita sudah hampir kering nungguin kamu," ucap Lina.


"Sorry, ada sedikit drama tadi. Bokap sama adik sempat menahanku pergi."


"Jadi kamu kabur dong dari rumah."


"Nggak juga. Aku sudah pamitan juga kok sama bokap."


"Ngobrol nya nanti lagi. Sekarang kita beli tiket terus berangkat," timpal kawan lainnya.


Ketiga gadis yang baru tamat SMA itu pun lantas menuju agen tiket untuk kemudian menuju kota S.


"Gaji pertamaku nanti mau kubelikan ponsel baru," ucap Lina.


"Kalau aku, mau kutabung saja untuk beli sepeda motor," timpal Murni. "Kalau kamu, Rit?" tanyanya kemudian.


"Sampai di tempat kerja saja belum, kalian sudah berkhayal," tukas Rita.


"Ini bukan khayalan, Rit. Tapi tujuan agar kita lebih semangat bekerja."


Sekitar tiga jam kemudian ketiganya tiba di tempat tujuan.


"Lin, alamatnya sudah benar 'kan?" tanya Murni sesaat setelah mereka turun dari bus.


"Iya, alamat ini kudapat dari akun yang memasang iklan lowongan pekerjaan di di sosial media."


"Ini 'kan baru bagian luarnya saja. Kita belum melihat bagian dalamnya."


"Apa kita langsung masuk saja?" tanya Murni.


"Tunggu! Aku hubungi dulu nomor si pemasang iklan."


Rita mengambil handphone lalu menghubungi seseorang.


[Halo, Pak. Kami bertiga sudah sampai di alamat yang Bapak berikan. Apa kami langsung masuk ke dalam saja?]


[Tunggu. Nanti akan ada orang suruhan saya yang datang ke sana. Dia akan menunjukkan kamar yang akan kalian tempati selama bekerja di salon saya.]


Hampir satu jam menunggu, namun orang yang dimaksud tak kunjung muncul.


"Mana orangnya, Rit? Aku capek banget, mau rebahan," ucap Murni.


"Sabar dong, mungkin orangnya lagi di jalan."


"Aku sudah lapar nih. Mana pagi tadi buru-buru tidak sempat sarapan," timpal Lina.


"Ehm … kalian yang dari desa itu ya?" sapa seorang perempuan berpakaian ketat yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


"Iya, Mbak. Nama saya Rita. Ini kedua teman saya, Murni dan Lina."


"Panggil saya Eva. Mari ikut saya ke dalam." Eva masuk ke dalam bangunan berlantai dua, ketiga gadis yang baru lulus SMA itu di belakangnya mengekor.


"Ini kamar kalian bertiga." Eva mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah kamar. Tampak di dalamnya sebuah kasur busa berukuran sedang dan lemari susun tiga di sudut ruangan.


"Maaf, apa hanya ada satu kasur, Mbak? sepertinya kasur ini tidak akan cukup untuk kami bertiga," protes Rita.


"Hanya ruangan ini saja satu-satunya kamar bagi karyawan yang tersisa."


"Baiklah. Kami akan berbagi tempat tidur. Kami boleh beristirahat 'kan, Mbak?"


"Ya. Saya beri waktu dua puluh menit untuk beristirahat. Setelah itu kalian langsung ke lantai dua. Ini makan siang untuk kalian." Eva memberikan kantong plastik pada Rita.


"Terima kasih, Mbak."

__ADS_1


"Saya tinggal dulu," ucap Eva. Dia pun lantas berlalu dari hadapan mereka.


"Kenapa kita disuruh ke lantai atas ya? Apa salonnya ada si sana?" tanya Lina.


"Mungkin kita diminta menghadap pemilik salon," timpal Murni.


"Sudah, jangan kebanyakan ngobrol. Mbak Eva hanya memberi kita waktu 20 menit untuk makan siang dan beristirahat," ucap Rita.


Murni mulai membuka kantong plastik yang tadi diberikan Eva. Tampak tiga nasi kotak di dalamnya.


"Makanan apa ini, Rit … Lin. Kok merah begini?" Murni keheranan saat mendapati daging berwarna kemerahan di dalam sana.


"Itu daging sapi mungkin."


"Aku pernah makan daging sapi, tapi tidak begini."


"Makan saja lah apa yang ada."


Meski ragu, Murni tidak punya pilihan selain menyantap makan siangnya itu.


Dua puluh menit kemudian Eva kembali menghampiri kamar itu. Ia tampak membawa sebuah paper bag yang entah apa isinya.


"Waktu istirahat kalian sudah habis. Sekarang ikut saya ke lantai dua," titahnya.


Eva mulai menapaki anak tangga, sementara Murni dan kedua kawannya mengikuti di belakangnya.


Sesampainya di lantai dua, Eva mengajak mereka memasuki sebuah ruangan.


"Tuan, ini karyawan baru Itu," ucapnya.


Pria yang dipanggil tuan itu terlihat duduk di kursi malasnya dengan posisi membelakangi mereka.


"Baik, kamu boleh pergi."


"Permisi, Tuan."


Setelah meletakkan paperbag, Eva pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Berapa usia kalian?" tanya pria itu masih dalam posisi yang sama.


"Ehm … delapan belas tahun, Tuan. Kami baru lulus SMA tahun ini," jawab Rita.


"Dari mana kalian tahu jika di tempat ini membuka lowongan pekerjaan?"


"Ehm … dari sosial media, Tuan."


"Baiklah. Sekarang kalian buka paperbag yang berada di atas meja itu."


"Memangnya apa isinya, Tuan?"


"Bukalah. Kalian akan tahu nanti."


Rita yang begitu penasaran pun bergegas meraih paperbag berwarna biru muda itu lalu memeriksa isi di dalamnya. Rupanya isinya tiga potong pakaian. Bukan kemeja ataupun gaun melainkan bikini.


"A-a-pa ini, Tuan?" tanyanya.


"Satu potong untuk satu orang."


"Maksud Tuan kami harus memakai pakaian mini ini?" tanya Rita lagi.


"Benar. Setelah itu kalian akan mulai bekerja."


"Tuan mau menipu kami ya?"


Beberapa saat kemudian pria yang dipanggil tuan itu memutar kursinya. Kini ketiga gadis itu bisa dengan jelas melihat wajahnya. Pria itu berperawakan tinggi, berkulit putih dan bermata sipit.


"Menipu? Di iklan lowongan pekerjaan yang saya pasang tertulis dengan jelas jika tempat usaha saya adalah di salon dengan gaji dengan nominal yang cukup besar."


"Maaf, kami sana sekali tidak menemukan keberadaan salon di sini."


"Siapa bilang? Kalian perhatikan baik-baik." Pria paruh baya itu terlihat meraih sebuah remote lalu mengarahkannya pada sebuah pintu. Sepersekian detik kemudian pintu yang mirip lift itu pun terbuka. Murni dan kedua kawannya dibuat tercengang saat melihat apa isi di dalam ruang tersembunyi itu. Tampak seorang pria berbaring di atas ranjang berukuran King dikelilingi beberapa orang gadis muda berpakaian bikinii sama persis dengan yang mereka lihat di dalam paperbag.


Seorang gadis tampak memijat bagian punggungnya, sementara gadis lainnya berdiri di hadapannya. Ia terlihat begitu menikmati saat pria itu memainkan lidahnya di bagian dadanya. Bergeser ke bawah. Di sana gadis ke tiga terlihat tengah memainkan senjata si pria dengan mulutnya.


Menjijikkan. Bahkan membuat Murni ingin muntah.


"Aku nggak bisa kerja di tempat seperti ini!" Murni membalikkan badannya hendak meninggalkan ruangan itu namun seorang pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kamu tidak akan bisa kemana-mana, Nona manis," ucapnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2