Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 27


__ADS_3

"Mbak Suci jadi kembali ke kota siang ini?" tanya Murni di sela sarapan paginya.


"Ya, Dek. Mbak tidak bisa berlama-lama di kampung. Semua orang di rumah itu sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing."


"Kapan Mbak Suci pulang lagi?" tanya Fitri.


"Mbak masih di rumah, masa sudah ditanya kapan pulang lagi." Suci terkekeh.


"Kenapa Mbak Suci harus bekerja di kota yang jauh? Mbak bekerja di kandang bebek lagi saja biar bisa pulang setiap hari."


Suci mengulas senyum.


"Katanya Fitri mau dibelikan boneka beruang yang besar. Jika mbak hanya bekerja di kandang bebek saja, uangnya tidak akan lama terkumpul."


"Oh, begitu."


"Mbak Suci janji ya. Jika pulang nanti beliin oleh-oleh yang banyak buat Fitri."


"Iya, Sayang. Kalau Mbak pulang lagi, mbak pasti akan membawakan oleh-oleh yang banyak. Sudah jam setengah tujuh. Cepat habiskan sarapan kalian, lalu berangkat sekolah."


"Kami berangkat dulu, Mbak. Mbak Suci hati-hati kalau berangkat nanti," ucap Murni.


"Kalian juga hati-hati di jalan, belajar yang benar, biar kelak bisa memperbaiki nasib keluarga kita," ucap Suci seraya membelai rambut kedua adik perempuannya itu.


"Sampai ketemu lagi, Mbak."


Suci tak bisa lagi membendung air matanya saat kedua gadis itu menghambur ke dalam pelukannya.


"Baik-baik di rumah, rawat bapak dengan baik," isaknya.


"Kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah selesai berkemas, Suci pun lantas bersiap berangkat.


"Pak Wahyu!" panggil nya saat pria paruh baya itu melintas di depan rumahnya.


"Ada apa, Nak Suci?"


"Silahkan duduk. Ada yang perlu saya bicarakan."


Pak Wahyu pun lantas duduk di bangku panjang yang berada di teras rumah.


"Ternyata benar dugaan kita. Pelaku pelecehan dan tabrak lari budhe Tini adalah pak Panji."


"Astaghfirullahaldzim. Benar-benar pria bej*t! Dari mana kamu tahu jika memang pria itu pelakunya?"


"Saat di pasar kemarin, aku tidak sengaja mendapati pak Panji tengah mengobrol dengan pelayan toko."


"Lantas?"


"Sepertinya isi kepala pak Panji memang tidak jauh-jauh dari hal me*um. Dia menawarkan uang pada pelayan toko dan mengajaknya berc*nta di dalam ruang ganti."


"Ckckckck! Apa pelayan toko itu mau menuruti na*su pak Panji?"


"Ya, gadis itu dengan senang hati melayaninya."

__ADS_1


"Yang laki-laki hidung belang, yang perempuan ja*ang! Cocok!"


"Saya melaporkan perbuatan mereka pada petugas keamanan pasar. Awalnya mereka menyangkal perbuatannya mereka, namun setelah didesak, akhirnya mereka mau mengaku."


"Lantas, bagaimana akhirnya pak Panji mengaku jika dia lah pelaku kejahatan pada budemu?"


"Pak Panji menelpon Bu Panji agar segera datang ke pasar. Rupanya bu Panji marah besar saat mengetahui suaminya ditahan lantaran telah melakukan perbuatan me*um di area pasar. Di saat itulah meluncur kalimat yang mengatakan jika dia menyesal telah menutupi perbuatan pak Panji yang telah meruda paksa budhe Tini sekaligus menabraknya untuk menghilangkan jejak."


"Astaghfirullahaldzim. Saya tidak menyangka jika ketua RT yang kita pilih ternyata seorang pria yang tidak bermoral."


"Bisa jadi Aminah pernah diganggu pak Panji hingga membuatnya takut melewati rumahnya."


"Jadi, di mana pria be*at itu sekarang?"


"Pak Panji sekarang berada di dalam tahanan."


"Syukurin! Mamp*s!" umpat pak Wahyu.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada tas berukuran besar yang berada di depan pintu.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Saya harus segera kembali ke kota, Pak. Tujuan saya pulang kampung adalah untuk menyelidiki kasus budhe Tini. Alhamdulillah Allah memberi saya kemudahan untuk menemukan siapa pelaku yang sudah mendzolimi budhe Tini."


"Tugas saya sekarang adalah mengembalikan kepercayaan diri dan semangat Aminah agar dia mau kembali sekolah," ucap pak Wahyu.


"Benar, Pak. Aminah masih begitu muda. Sayang jika dia berhenti sekolah hanya gara-gara pak Panji."


"Ya sudah, saya berangkat ke sawah dulu."


"Saya juga mau ke rumah sakit menjenguk budhe Tini sekaligus berpamitan pada bapak."


"Terima kasih, Pak."


Pak Wahyu pun lantas meninggalkan rumah Suci.


Sesampainya di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan budhe, Pak?" tanya Suci pada Bimo.


"Keadaannya mulai membaik, hanya saja ingatannya belum pulih. Dia belum bisa mengingat kejadian apapun yang menimpanya."


Suci melangkah perlahan menuju ruang perawatan Tini. Sang bibi terlihat tengah duduk melamun di tepi tempat tidurnya.


"Assalamu'alaikum, Budhe," ucap Suci seraya mencium punggung tangan Tini.


"Kamu siapa?" tanyanya dengan tatap mata kosong.


"Aku Suci, keponakan Budhe."


"Suci?"


Tini terlihat berpikir keras.


"Aku tidak kenal kamu."


"Ya sudah, Suci pamit berangkat ke kota dulu. Semoga budhe cepat sembuh," ucap Suci. Sang bibi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu, Pak," ucap Suci pada Bimo.


"Kamu benar-benar mau berangkat sekarang, Nduk?"


"Iya, Pak. Biar sampai di kota tidak terlalu sore."


"Hati-hati, Nduk. Jaga dirimu, jangan lupakan sholat lima waktu."


"Baik, Pak. Assalamu'alaikum."


Suci pun lantas meninggalkan rumah sakit.


Suci menuju terminal bis dengan menaiki angkutan umum yang kebetulan dikemudikan Yusuf.


"Kamu mau berangkat ke kota, Ci?" tanyanya.


"Ya. Aku tidak bisa berlama-lama di kampung. Lagipula kasus yang menimpa budhe Tini sudah menemukan titik terang."


"Jadi, kamu sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Yusuf lagi.


"Ya, benar dugaanku, Pak Panji lah orang yang sudah mendzolimi budhe Tini."


"Benar-benar tidak waras! Lalu di mana pria be*at itu sekarang?"


"Dia sudah berada di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Semoga dia mendapatkan hukuman yang berat."


"Sepertinya begitu. Apa yang sudah dilakukan pak Panji memang terbilang pembunuhan berencana. Hukumannya pasti tidak ringan."


Sesampainya di terminal.


"Terima kasih," ucap Suci seraya menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada Yusuf.


"Sudah, simpan saja untuk ongkos naik bus."


"Mana bisa begitu. Kamu 'kan juga harus kejar setoran."


"Sesekali tidak apa meng gratiskan tetangga sendiri."


"Semoga Allah memberikan rezeki yang berlipat untukmu."


"Aamiin. Kamu hati-hati di bus, awas kecopetan lagi."


"Ya, aku pasti akan lebih berhati-hati."


Setelah membeli tiket bus, Suci pun naik ke bus tujuan.


Suci baru saja duduk di bangkunya. Entah mengapa dia tertarik melihat pemandangan di sekitar terminal. Di saat itulah tiba-tiba netranya menangkap wajah wanita yang dulu pernah duduk di sampingnya saat pertama kali berangkat ke kota.


Wanita itu terlihat berjalan-jalan di antara penumpang yang tengah duduk di bangku tunggu. Awalnya dia hanya berjalan layaknya seorang penumpang biasa. Namun detik kemudian wanita itu mulai mendekati sebuah tas penumpang dan membuka salah satu resleting tas tersebut.


Bersambung …


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Happy reading…


__ADS_2