
"Tuan muda Arsen!"
Suci menjerit histeris saat mendapati bayi berusia satu tahun itu duduk di atas lantai toilet dengan tangan terikat dan mulut ditutup kain. Rupanya suara yang didengarnya tadi berasal dari kakinya yang menendang pintu berulang dengan maksud meminta pertolongan dari orang di luar sana.
"Ya Allah, Tuan muda. Tuan muda baik-baik saja 'bukan?" Suci lekas membuka tali yang mengikat kedua tangan dan kain yang menutupi mulut Arsen. Dia lantas mendekapnya.
"Katakan pada Cici siapa yang melakukan semuanya ini."
"Ne-nek- Ola."
"Sudah kuduga. Kedua perempuan bia*ab itu pasti pelakunya!" seru Suci.
"Maaf, apa Mbak mengenal anak balita ini?" tanya penjaga toilet.
"Ya, Pak. Anak ini adalah anak yang saya asuh. Dia diculik dini hari tadi. Seharian ini saya mencarinya. Tetapi sepertinya saya sudah tahu siapa penculiknya," ucap Suci.
"Ya sudah, sebaiknya cepat Mbak beri anak ini makan dan minum, ganti juga pakaiannya. Dia pasti sudah terlalu lama terkunci di dalam toilet ini."
"Ci … Ci … mam-mam," celoteh Arsen.
"Kamu lapar ya, Sayang? Kita temui ayahmu lalu kita cari makanan," ucap Suci seraya membelai lembut pirangnya.
"Hebat sekali anak ini, dia sama sekali tidak menangis," ucap penjaga toilet.
Suci menanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.
"Ya sudah, Pak. Kami permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama, Mbak. Semoga kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi."
Suci dan Arsen pun lantas meninggalkan toilet tersebut.
"A-yah!" panggil Arsen pada Ray saat kedua menghampiri mobil Ray.
"Astaga. Arsen? Benar ini kamu, Sayang?"
Ray menyentuh wajah, tangan dan kaki bayi tampan itu. Ia juga mengucek matanya berulang untuk memastikan jika penglihatannya tidak sedang bermasalah.
"Iya, Tuan. Ini tuan muda Arsen."
"T-t-tapi … bagaimana dia bisa bersamamu? Di mana kamu menemukannya?" tanya Ray.
"Saya menemukannya di dalam toilet dalam keadaan terkunci. Coba Tuan tanya pada tuan muda siapa pelakunya."
"Siapa yang menguncimu di dalam toilet, Nak?" tanya Rain.
"Ne-nek-Ola."
"Bang*at! Mereka akan membayar mahal untuk semua ini!" seru Ray.
"Tuan muda pasti kelaparan dan kehausan, pakaiannya pun basah," ucap Suci.
"Kita ke toko pakaian bayi lalu beri dia makan dan susu," ucap Ray. Susi mengangguk setuju.
Ketiganya pun lantas meninggalkan pom bensin. Tempat pertama yang mereka datangi adalah toko pakaian bayi. Di tempat itulah mereka mendapatkan kejutan tak terduga. Ray kebingungan saat tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka. Dia tampak membawa kotak berukuran cukup besar dengan berhiaskan pita.
__ADS_1
"Silahkan hadiahnya diterima, Tuan," ucapnya.
"Apa maksudnya?" Ray mengerutkan keningnya.
"Tuan adalah pengunjung toko kami yang ke sepuluh ribu. Jadi kami memberikan bingkisan ini secara gratis."
"Begitu, ya."
Ray membuka tutup kotak berwarna biru muda itu. Tampak di dalamnya pakaian bayi, susu dan botolnya, popok, perlengkapan mandi bahkan mainan.
"Lihat, kamu mendapat hadiah, Sayang," ucap Suci yang ditanggapi Arsen dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Pak. Semoga toko ini semakin sukses," ucap Ray.
"Terima kasih kembali."
"Kalau begitu kami permisi dulu."
Mereka pun lantas meninggalkan toko tersebut.
"Arsen mau kita beri makan apa? Kita tidak mungkin memberinya makanan dewasa 'bukan?" tanya Ray beberapa saat setelah melajukan kembali mobilnya.
"Ehm … itu dia! Ada penjual sop ayam!" Suci mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah kedai bertuliskan papan "JUAL SOP AYAM"
Setelah seharian terkunci di dalam toilet, tentu saja Arsen merasa begitu kelaparan. Semangkuk sop ayam beserta nasi itu pun benar-benar habis tak bersisa.
"Hoeeek!" Suara sendawa membuat Suci dan Ray terkekeh.
"Alhamdulillah, Tuan muda sudah kenyang," ucap Suci.
Pasti dia mengira Ray dan Suci adalah kedua orangtua Arsen.
"I-i-iya, Bu. Dia paling menyukai sop ayam," ucap Suci.
"Ngomong-ngomong kalian dari mana mau kemana?" tanya pemilik kedai.
"Ehm … sebenarnya kami sedang mencari orang. Saya menduga mereka adalah pelaku perampokan di rumah saya."
"Kalau boleh saya tahu, bagaimana ciri-ciri orang yang kalian cari? Siapa tahu mereka mampir ke tempat ini."
Ray mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto Sofia dan Zola pada pemilik kedai.
"Bukankah dia yang tadi siang itu?" gumamnya.
"Apa mereka mampir ke kedai ini, Bu?" tanya Ray."
"Tidak … eh, tunggu! Saya baru ingat sepertinya wajah perempuan yang ada di foto itu tadi mampir ke kedai ini. Maaf, saya agak pangling karena dia mengenakan kacamata hitam."
Ray dan Suci saling memandang.
"Oh ya, kacamata nyonya itu tadi tertinggal. Saya sempat mengejar mobil itu namun mereka tidak mendengar seruan saya."
"Boleh saya lihat kacamatanya?" tanya Ray.
"Tunggu sebentar." Pemilik kedai membuka laci lalu mengambil sesuatu dari dalam sana.
__ADS_1
"Ini kacamatanya, Tuan."
Ray pun lantas mengamati kacamata itu.
"Benar ini kacamatanya. Perempuan itu membelinya saat liburan ke luar negeri," ucapnya.
"Mereka pasti lari ke arah sana," ucap Suci.
"Malam ini mereka pasti menginap di hotel. Kebetulan aku mengenal semua pemilik hotel di kota ini. Aku akan meminta mereka menutup akses keluar dari hotel bagi ketiga manusia tidak punya hati itu. Dengan begitu besok pagi kita akan tahu di mana keberadaan mereka," ucap Ray.
"Saya setuju, ini sudah malam, tidak baik anak sekecil tuan muda terkena angin malam," ucap Suci.
Ray melajukan mobilnya ke arah jalan pulang menuju rumahnya.
Di sepanjang perjalanan itu Ray mendapati Suci beberapa kali menguap. Semenjak Arsen terlihat begitu nyaman terlelap di pangkuannya.
"Kalau kamu mengantuk tidur saja," ucap Ray.
"Siapa yang mengantuk?"
"Daritadi kamu menguap, itu berarti kamu mengantuk 'bukan?"
"Nggak kok," bantah Suci.
"Saya bersyukur, Tuhan memberikan kemudahan bagi kita dalam menyelesaikan masalah ini," ucap Ray.
Suci diam tak menanggapi.
"Kalau saja tadi kamu tidak sakit perut, mungkin sekarang kita belum menemukan Arsen," ucap Ray.
Lagi-lagi Suci mengabaikannya.
Ray menoleh ke arah samping tempat duduknya.
"Diajak bicara malah tidur," gerutunya sebal.
Ray mengamati wajah Suci dalam lelapnya. Entah mengapa, semakin sering bersama Suci, ia merasa wajahnya semakin mirip dengan mendiang istrinya, Arini.
"Terima kasih, Tuhan, Engkau hadirkan kembali Arini sebagai pengasuh puteraku," lirihnya.
Tiba-tiba saja tangan Ray tergerak untuk menyentuh wajah Suci. Namun …
"Pergi dari hadapan kami atau saya buat kamu jadi perkedel!"
Ray terkekeh. Kalimat itu sama persis dengan apa yang diucapkan Suci pada perampok yang menghadang mereka di hutan mahoni.
Ray urung menyentuh wajah gadis tomboy itu. Secara tiba-tiba Suci yang tengah tertidur pulas itu menjatuhkan kepalanya bahu Ray.
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading..
__ADS_1