Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 108


__ADS_3

"Apa kita bisa bicara, Pak?" ucap Suci pada pak Samsul usai pemakaman Fitri.


"Ada apa, Nduk?"


"Mari ikut saya."


Suci pun lebih mengajak pria paruh baya itu masuk ke dalam ruang tamu.


"Selamat sore, Pak," sapa salah satu polisi.


"Selamat sore. Maaf, ada apa ya, Pak?"


"Silahkan duduk."


"Kami membutuhkan keterangan dari Bapak. Karena Bapak adalah satu-satunya saksi yang berada di tempat ini perihal tewasnya putri pak Bimo pagi tadi."


"Kami sudah mencoba menggali keterangan dari pak Bimo, tapi jawabannya membingungkan. Tak ada kalimat lain yang diucapkannya selain mengatakan jika dia yang sudah menghabisi nyawa putrinya sendiri. Jadi, kami harap Bapak menjawab setiap pertanyaan dari kami dengan sejujur-jujurnya."


"Baik, Pak."


Salah satu polisi terlihat mengeluarkan buku nota kecil dan pulpen dari saku bajunya dan bersiap mencatat informasi yang diperoleh dari pria pemilik peternakan kambing itu.


"Jam berapa anda datang ke rumah ini dan untuk tujuan apa?" Polisi mulai melakukan interogasi.


"Saya tidak tahu pasti jam nya, tapi yang jelas sebelum jam delapan." Saya datang ke sini untuk membayar uang pakan ternak selama satu Minggu ke depan. Jumlahnya 350 ribu."


"Baik. Saat anda datang ke sini, siapa saja yang anda lihat di dalam rumah ini?"


"Saya hanya melihat pak Bimo dan Fitri yang berbaring di atas kursi ruang tamu."


"Jadi, saat itu putri pak Bimo sudah meninggal dunia?"


"Awalnya saya berpikir jika Fitri hanya sedang tidur. Tapi saya melihat gelagat yang aneh dari pak Bimo. Setelah saya desak, akhirnya dia mengatakan jika putri bungsunya itu sudah meninggal dunia," ungkap pak Samsul.


"Gelagat aneh bagaimana yang anda maksud?"


"Pak Bimo duduk terdiam dengan sorot mata kosong dan tidak bisa saya ajak berkomunikasi. Yang dikatakannya hanya kalimat "Aku sudah membunuh Fitri, panggil polisi dan tangkap aku."


"Maaf, apa anda melihat keberadaan saudari Murni di rumah ini?" tanya polisi.


"Tidak, Pak. Saya sempat bertanya pada pak Bimo di mana Murni, tapi dia mengatakan jika putri ke duanya itu sudah pergi ke kota dari kemarin malam. Tapi saya rasa jawabannya tidak masuk akal. Saat malam hari tak ada satupun kendaraan di terminal yang melayani perjalanan ke luar kota."


Suasana hening sejenak.

__ADS_1


"Pak, aku mohon ceritakan apa yang sebenarnya terjadi agar pihak kepolisian lekas mendapatkan titik terang." Suci menatap lekat mata sang ayah lalu menggenggam erat tangannya.


"Aku yang sudah membuat Fitri meninggal."


"Tidak ada seorang pun yang mempercayai pengakuan Bapak. Aku yakin bukan Bapak pelakunya," ucap Suci.


"Pak … Sebenarnya Murni ke pergi kemana? Dan kapan dia pergi?" timpal Ray.


"Murni ke luar kota. Aku yang sudah membunuh Fitri." Bimo terus menerus mengulangi kalimat yang sama.


"Maaf, apa Ibu sudah mencoba menghubungi nomor saudari Murni?"


"Dari pagi tadi saya sudah puluhan kali menelponnya. Awalnya Murni mengabaikan panggilan saya, namun beberapa jam ke belakang nomornya tidak dapat dihubungi."


"Dengan berat hati kami terpaksa membawa bapak Bimo ke kantor. Mungkin selama ini pak Bimo tak pernah berbuat kasar pada putri-putrinya, tapi anda juga harus tahu, terkadang saat gelap mata seseorang yang terlihat lemah pun bisa saja berubah menjadi sosok yang menakutkan. Bisa saja pak Bimo dibuat kesal hingga akhirnya gelap mata."


"Pak … bilang pada mereka mereka jika apa yang mereka tuduhkan tidak benar," ucap Suci.


"Saya bersedia dibawa ke kantor polisi."


"Aku mohon jangan lakukan ini. Tidak mungkin Bapak pelakunya," ucap Suci.


"Maaf, Bu. Kami mohon jangan menghalangi tugas kami," ucap salah satu polisi.


"Bapak! Bapak!" Suci hendak berlari mengejar mobil berwarna hitam itu namun Ray menahannya.


"Percayalah, suatu saat nanti kebenaran pasti akan terungkap," ujar Ray. Dia lantas merengkuh tubuh Suci ke dalam pelukannya.


Malam harinya.


"Aku minta maaf, Mas. Mungkin besok aku belum bisa kembali ke kota. Aku akan tetap di sini sampai kasus kematian Fitri menemukan titik terang," ucap Suci.


"Tidak apa, aku paham. Aku justru yang minta maaf tidak bisa berlama-lama menemanimu."


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan. Suci beranjak dari dalam kamarnya lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia pun lantas membuka pintu itu. Tampak seorang pria dan wanita yang masih asing di matanya.


"Assalamualaikum. Apa benar di sini rumah Murni Hapsari?" tanya si pria.


"Benar. Mari silahkan masuk."


Keduanya punya lantas masuk ke dalam ruang tamu.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat Nak ehm, …"

__ADS_1


"Nama saya Suci, Bu. Dan ini suami saya, Rayyan."


"Kami minta maaf sudah mengganggu istirahat Nak Suci apalagi rumah ini sedang dalam keadaan berduka. Kami melihat bendera putih di halaman rumah ini. Jika boleh tahu siapa yang meninggal, Nak?"


"Adik perempuan bungsu saya, Fitri."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Kami turut berbelasungkawa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa almarhumah serta mendapatkan tempat terindah di sisi Nya."


"Aamiin. Terima kasih, Bu. Oh ya, Bapak dan Ibu ini siapa, dan ada perlu apa?"


"Nama saya Sri, dan ini suami saya, Arman. Kami adalah orangtua dari Rita Setyani dari desa Sendangmulyo yang baru saja lulus SMA."


"Oh, orangtua temannya Murni rupanya. Ada apa ya, Pak, Bu?"


"Begini, Nak Suci. Kami ingin bertanya Bu apakah nak Murni sudah memberi kabar? Sedari sore tadi saya menunggu kabar dari Rita apakah dia sudah sampai di alamat tujuan mereka di kota S, tapi putri kami sama sekali tidak memberi kabar. Kami sudah mencoba menelponnya, tapi nomormu sulit dihubungi. Mungkin nak Murni sudah memberi kabar, jadi kami bisa merasa tenang," papar bu Sri.


"Tunggu, Bu. Saya justru baru tahu dari Ibu jika Murni pergi ke kota S. Saya tinggal di kota dan baru tiba di sini sore tadi. Saya juga sudah berkali-kali menelponnya tapi tidak bisa terhubung."


Sepasang suami-istri itu saling bertukar pandang.


"Jadi, Nak Suci ini tidak tahu jika nak Murni pergi ke kota S untuk bekerja di salon?"


"Astaghfirullahaldzim. Jadi benar, Murni nekad berangkat ke sana? Beberapa hari yang lalu Murni memang sempat menelepon saya dan mengutarakan niatnya untuk bekerja di kota S, tapi saya melarangnya dengan alasan gaji yang ditawarkan di salon itu tidak masuk akal."


"Saya juga sempat mengatakan pada Rita jangan mudah tergiur dengan pekerjaan yang menawarkan gaji besar, tapi dia bersikeras tetap berangkat. Akhirnya kami pun mengizinkannya," ungkap bu Sri.


"Maaf, Bu. Kalau boleh saya tahu jam berapa putri Bapak dan Ibu pamit dari rumah?" sela Rayyan.


"Sekitar jam delapan pagi, Nak."


Ray terdiam sejenak, Iantas berpikir.


"Jika dari kesaksian pak Samsul dan bu Sri, Murni pasti meninggalkan rumah ini antara jam 7-8 pagi. Waktu perkiraan Fitri meninggal dunia. Berarti ada kemungkinan Murni terlibat dalam kematian Fitri. Apa mungkin bapak memilih membuat pengakuan palsu pada polisi karena tidak ingin Murni terkena masalah? Tapi, jika memang Murni pelakunya, apakah kesalahan yang diperbuat Fitri hingga Murni setega itu? Tunggu! Bukankah tadi polisi sempat mengatakan Fitri mengalami pendarahan di bagian otak karena kemungkinan kepalanya membentur sesuatu dengan cukup keras? Apa ini artinya Fitri sempat menahan Murni untuk pergi namun karena kesal Murni mendorong Fitri hingga kepalanya tidak sengaja membentur dinding atau benda keras lainnya? Setelah itu Murni meninggalkan rumah," batin Ray. "Ehm … apa dari sini ada kendaraan menuju terminal?" tanyanya kemudian.


"Angkutan umum tidak masuk sampai kampung in. Biasanya kami menggunakan jasa tukang ojek. Kalau anak muda cukup memesannya melalui aplikasi," jelas Suci.


"Aku tahu sekarang. Aku harus menemukan pengemudi ojek online yang mengantar Murni ke terminal," batin Ray lagi.


"Mak Suci … Nak Ray. Bagaimana ini? Kami takut sesuatu yang buruk terjadi pada Rita," ucap bu Sri. Detik kemudian tangisnya pun pecah.


"Kita sama-sama berdo'a saja, Pak … Bu. Agar Rita dan Murni dalam keadaan baik-baik saja," ucap Ray.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2