
"Ehm … maaf, tempat ini sudah lama tidak menerima karyawan baru," ucap gadis itu.
"Saya yakin sekali jika adik perempuan saya mendatangi tempat ini. Alamatnya bahkan sama persis dengan yang tertera di iklan lowongan pekerjaan yang dipasang di sosial media."
"Bu. Saya sudah bertahun-tahun bekerja di tempat ini. Jadi saya paham betul kapan tempat ini membuka lowongan kerja atau tidak."
"Apa saya boleh memeriksa ke dalam?" sela Ray.
"Saya harap anda bersikap sopan saat bertamu ke rumah orang lain."
"Anda bersikap seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Jelas-jelas saya membaca iklan lowongan pekerjaan di sosial media, dan adik saya memang mendatangi tempat ini, kenapa Mbak bilang jika tempat ini sudah lama tidak menerima karyawan?"
"Apa saya bisa bertemu dengan pemilik tempat usaha ini?" tanya Ray.
"Maaf, Boss sedang tidak di tempat."
"Baiklah, kami akan menunggu hingga boss mu itu datang."
"Ehm … Boss sedang keluar kota mengunjungi bisnisnya yang lain. Kemungkinan hari ini tidak datang."
"Apa kami boleh meminta nomor ponselnya?"
"Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor Boss pada sembarangan orang."
"Sikap anda semakin membuat saya curiga. Jangan-jangan anda menyembunyikan sesuatu."
"Tidak ada yang saya sembunyikan. Saya berkata apa adanya."
"Jika memang tidak ada yang disembunyikan, tentunya anda tidak akan keberatan untuk memberikan nomor handphone pemilik tempat usaha ini."
"Kenapa anda jadi memaksa? Boss tidak memperbolehkan saya memberikan nomor handphone nya pada sembarangan orang apalagi dengan orang yang tidak dikenal."
"Oh ya, bukankah di iklan lowongan pekerjaan itu tertulis jika tempat ini adalah salon? Tapi kenapa tempat ini lebih menyerupai sebuah gudang," ucap Ray.
"Selamat siang, Nona Eva," sapa seorang pria yang baru saja muncul di teras.
Ray dan Suci pun lantas menoleh ke arahnya.
"Selamat siang, Tuan," sahut Eva.
"Bagaimana? Apa semua sudah siap? Saya ingin mendapatkan pelayanan terbaik."
"Oh, sudah, Tuan."
"Saya dengar tempat ini baru saja kedatangan tiga gadis belia yang baru lulus SMA. Apa saya bisa meminta mereka untuk melayani saya?" bisik pria berkemeja itu pada Eva.
"Ma-ma-af, Tuan. Jadwal mereka hari ini malam nanti. Mari, Tuan silahkan masuk."
Eva beranjak dari teras lalu masuk ke dalam bangunan, di belakangnya pria berkemeja mengekor.
"Tiga gadis belia baru lulus SMA? Melayani? Apakah yang dimaksud pria itu adalah Murni dan kedua kawannya? Jangan-jangan mereka tidak dipekerjakan di salon, melainkan di, …" batin Ray.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Suci lantaran mendapati suaminya melamun.
"Aku yakin sekali ada yang tidak beres dengan tempat ini."
"Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Sementara kita tidak diizinkan masuk ke dalam bangunan ini."
Ray tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membisikkan sesuatu di telinga Suci.
"Nggak! Aku nggak setuju!" Tiba-tiba Suci memberengutkan wajahnya.
"Mengertilah, hanya ini satu-satunya cara yang bisa ku lakukan agar aku bisa masuk ke dalam bangunan ini. Aku harus memastikan Murni dan kedua kawannya bekerja baik-baik."
"Tapi Mas janji 'kan,nggak akan macam-macam di dalam? Gimana kalau Mas dirayu gadis cantik?"
"Dengar, tujuanku berpura-pura menjadi pengunjung adalah untuk mencari keberadaan Murni. Kamu ingin segera bertemu dengannya 'bukan?"
Suci menganggukkan kepalanya.
"Sekarang yang perlu kita lakukan adalah berbelanja di toko."
"Untuk apa?"
"Memangnya dari mana kita akan mendapatkan perlengkapan untuk menyamar?"
"Benar juga." Suci meringis memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Krucuk … krucuk …"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perut Suci menandakan jika dirinya kini diserang rasa lapar.
"Rupanya ada yang lapar," sindir Ray.
"Nggak kok."
"Yang barusan itu suara cacing di dalam perutmu yang sedang demo 'kan?"
Suci menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ini memang sudah jam makan siang. Ayo kita ke cafe atau restoran terdekat. Aku juga sudah lapar."
"Rencana yang tadi gimana?"
"Kita pikirkan lagi nanti setelah makan siang." Ray menggandeng tangan Suci lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Ray sesaat setelah melajukan mobilnya.
"Apa saja. Kalau makan bareng Mas, makanan apa saja pasti enak."
"Amboi … makin pandai saja kau merayu," ujar Ray.
"Beneran. Ngapain saja kalau sama Mas aku selalu merasa bahagia dan nyaman."
"Cukup merayu nya, nanti rasa laparku hilang."
"Aku ingin makan pecel lele."
"Yang benar saja, siang bolong begini mana ada yang jualan pecel lele."
"Ada, Mas. Di warung makan."
"Padahal aku ingin mengajakmu makan siang di restoran Jepang."
"Aku ini orang Jawa tulen loh, Mas. Lidahku tidak cocok dengan makanan orang sana."
"Sesekali lidahmu perlu sesuatu yang tidak biasa. Biar kamu tahu bagaimana rasa makanan luar negeri."
"Nggak mau ah! Pokoknya aku mau pecel lele!"
"Astaga. Jelek sekali wajahmu kalau lagi ngambek. Ya sudah, kita cari warung makan. Tapi kalau nggak ketemu jangan ngambek lagi."
"Pecel lele satu porsi dan nasi rames satu porsi," ucap Ray pada pemilik warung.
"Maaf, lele nya habis, tinggal pecel nya saja."
"Yaaah … kok habis sih."
"Ya sudah, pesan makanan yang lain saja. Masih banyak menu yang lain kok."
"Benar, Bu. Masih ada soto, nasi goreng, dan rica-rica."
"Soto saja deh. Minumnya es jeruk."
"Bapak minumnya apa?" tanya pemilik warung pada Ray.
"Air putih saja, Bu."
"Baik, silahkan duduk, biar saya siapkan pesanannya."
Ray dan Suci pun lantas duduk berhadapan di sebuah meja.
"Bagaimana kalau di dalam sana Murni dipekerjakan tidak baik?" ucap Suci.
"Itulah sebabnya aku membuat rencana untuk berpura-pura sebagai pengunjung agar bisa tahu apa yang ada di dalam sana."
"Permisi, ini pesanan Bapak dan Ibu," ucap pemilik warung sembari meletakkan nampan berisi makanan dan minuman pesanan mereka lalu memindahkannya di atas meja.
"Terima kasih, Bu."
"Sepertinya Bapak dan Ibu bukan warga sini."
"Ya, Bu. Kami berasal dari kota Y."
"Masyaallah, jauh sekali. Kalian mengunjungi teman, saudara, atau hanya jalan-jalan saja?"
Suci dan Ray saling bertukar pandang.
"Ehm … maaf, Bu. Apa kami boleh bertanya sesuatu?"
__ADS_1
"Mau tanya apa, Pak?"
"Apa Ibu tahu bangunan berlantai dua bercat abu-abu di jalan Dahlia?"
"Tunggu sebentar. Bangunan berlantai dua di jalan Dahlia? Setahu saya tempat itu adalah salon. Tapi sudah dua tahun belakangan tempat itu berubah menjadi tempat yang tidak jelas."
"Tidak jelas bagaimana, Bu?"
"Semua karyawan salon diberhentikan dan tidak ada yang tahu kegiatan apa yang terjadi di dalam bangunan itu. Tapi saya sempat mendengar jika yang yang memasuki tempat itu hanyalah pria bermobil."
"Jadi, tempat itu bukan salon lagi?"
"Entahlah. Pak Husein yang bekerja di sana pun tidak pernah diizinkan masuk ke dalam bangunan itu. Tugasnya tidak jauh dari membersihkan bagian depan dan belakang serta bagian dapur saja. Memangnya kenapa kalian bertanya tentang bangunan itu?"
"Begini, Bu. Sebenarnya kami sedang mencari adik kami dan dua orang kawannya. Mereka berangkat ke kota ini kemarin pagi. Tapi seharian kami kesulitan menghubunginya. Itulah sebabnya kami mendatangi tempat itu," papar Ray.
"Kami sudah bertanya pada salah satu orang yang bekerja di tempat itu tapi di bilang tempat itu sudah lama tidak membuka lowongan pekerjaan. Entah kenapa kami merasa ada yang ditutup-tutupi. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan," timpal Suci.
"Mungkin kalian harus mencari cara agar bisa memasuki tempat itu," ucap pemilik warung.
"Benar, Bu. Saya yakin ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana."
"Kita makan dulu, Mas. Baru kita pikirkan rencana kita selanjutnya," ucap Suci.
"Berapa semuanya, Bu?" tanya Ray setelah menyelesaikan santap siangnya.
"Tiga puluh ribu, Pak."
"Ini uangnya."
"Terima kasih."
"Kami juga mengucapkan terima kasih atas informasinya. Itu sangat penting bagi kami."
"Semoga masalah ini cepat menemukan jalan keluar dan adik kalian bisa ditemukan dalam keadaan baik-baik saja."
"Terima kasih, Bu. Kami permisi dulu."
Ray dan Suci pun lantas meninggalkan warung makan tersebut.
Dari warung makan, tempat selanjutnya yang mereka tuju adalah sebuah toko. Di tempat itu mereka berencana membeli perlengkapan untuk menyamar. Di antaranya kacamata, kumis, serta jambang tiruan.
"Kamu tunggu di sini sebentar, aku ke ruang ganti," ucap Ray.
Beberapa saat kemudian.
Suci terkekeh saat Ray baru saja keluar dari ruang ganti. Bagaimana tidak? Dalam hitungan menit saja suaminya itu kini telah berubah wujud menjadi pria yang usianya jauh lebih tua.
"Astaga. Kenapa kamu tertawa begitu? Aku melakukannya demi kamu," protes Ray.
"Mas terlihat lucu dengan penampilan begini."
"Sepertinya aku lebih tampan dengan kumis dan jambang begini."
"Tentu saja tidak. Mas malah seperti om-om mafia." Suci terkekeh.
"Ayo, kita segera eksekusi rencana kita," ucap Ray.
Setelah membayar barang belanjaannya, keduanya pun lantas meninggalkan toko tersebut untuk selanjutnya kembali ke bangunan berlantai dua itu.
"Biar aman kamu menunggu di mobil saja, sengaja memarkir nya agak jauh," ucap Ray.
"Tapi, Mas. Aku takut."
"Apa yang kamu takutkan? Ini masih siang.
"Aku takut terjadi sesuatu pada Mas."
Ray mengulas senyum tipis.
"Aku yakin tidak ada yang lebih baik dari do'a seorang istri untuk suaminya," ujarnya.
"Hati-hati, Mas." Suci meraih tangan Ray lalu menciumnya.
Beberapa saat kemudian Ray pun berlalu dari hadapannya.
"Ya Allah, lindungi lah suami Hamba, mudahkan lah urusannya," ucap Suci.
Bersambung …
__ADS_1