Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 80


__ADS_3

"Beneran nih, aku boleh belanja apa saja?" tanya Siska pada Freddy saat keduanya tiba di Mall.


"Beneran lah. Kamu bisa belanja sepuasmu." Freddy mengambil kartu kredit dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada Siska.


"Siska … nggak usah permasalahkan wajah ataupun usianya. Kapan lagi kamu bisa belanja tanpa mikir harga?" gumam Siska.


"Sementara kamu berbelanja, aku bermain bilyard di lantai tiga," ucap Freddy.


"Iya, Mas."


Freddy menaiki lift menuju lantai tiga, sementara Siska berbelanja di lantai dasar yang menyediakan kebutuhan fashion dari pakaian, sepatu, hingga tas branded.


"Berapa, Mbak?" tanyanya pada kasir setelah menghitung total belanjaannya.


"Sepuluh juta rupiah."


"Pakai kartu ini ya, Mbak." Siska menyodorkan kartu kredit milik Freddy pada sang kasir.


"Transaksi nya sudah selesai ya, Mbak," ucap kasir.


"Apa uang di kartu ini masih banyak?"


"Masih ada sekitar tujuh puluh juta."


"Hah?! Seharusnya aku berbelanja lebih banyak lagi. Tapi barang-barang ini sudah cukup bagiku. Besok 'kan aku bisa minta uang lagi pada si Freddy," batin Siska.


"Kenapa, Mbak? Apa Mbak masih ingin menambah berbelanja lagi?"


"Ehm … tadi aku sempat tertarik pada mantel bulu. Sepertinya aku ingin membelinya."


"Silahkan Mbak ambil mantel bulu nya lalu bawa ke meja kasir."


Siska baru saja membalikkan badannya hendak mengambil baju yang diinginkannya itu namun ia tersentak kaget lantaran tiba-tiba saja Freddy sudah berdiri di belakangnya.


"Aku telepon kamu tidak diangkat. Sudah selesai belum belanja nya?" ucapnya.


"Ah, su-su-dah. Ini kartu kredit nya." Siska menyodorkan benda itu pada Freddy.


"Apa saja yang kamu beli?"


"Ini. Baju, sepatu, tas, dan produk perawatan wajah. Totalnya ehm … sepuluh juta."


"Tidak masalah, yang penting kamu senang."


Suasana hening sejenak.


"Ehm … Siska. Saya ingin menemuii kaluargamu," ucap Freddy.


"A-a-pa, Mas? Mas ingin menemui keluarga saya?"


"Ya. Kenapa kamu panik begitu?"


"Ehm … saya tidak memiliki orangtua lagi. Mas juga sudah tahu 'kan, kalau saya hanya seorang asisten rumah tangga?"


"Itu sama sekali bukan masalah bagi saya. Saya bisa menemui majikanmu."


"Astaga. Kenapa urusannya jadi begini sih?! Bagaimana kalau dia menemui tuan Ray dengan maksud ingin melamarku? Nggak! Walaupun dia kaya, aku nggak mau jadi istrinya," gumam Siska.


"Bagaimana? Kapan saya bisa menemui majikanmu?"


"Ah! Saya baru ingat kalau hari ini kedua majikan saya sedang berlibur ke luar kota. Mereka baru kembali dua Minggu lagi."


"Baiklah, kalau majikanmu sudah kembali jangan lupa memberi tahu saya."


"I-i-iya, Mas."


"Baiklah, saya antar kamu pulang sekarang," ucap Freddy. Siska mengangguk setuju. Keduanya pun lantas meninggalkan mall.


Sementara itu di rumah Rayyan.


"Memangnya tempat laundry nya sudah pindah ke Hongkong ya? Kenapa daritadi Siska belum pulang juga. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai," gerutu mbok Asih kesal.


"Mungkin antre, Mbok."

__ADS_1


"Kalaupun antre pasti tidak sampai berjam-jam. Masa Mbok harus mnjemput? Merepotkan saja."


"Laundry nya hanya di depan komplek saja 'kan? Kalau Mbok banyak pekerjaan, biar aku saja yang menjemputnya," ucap Suci.


"Tapi, Nduk, …"


"Tidak apa kok, Mbok. Tempatnya 'kan dekat," ucap Suci. Dia lantas meninggalkan ruang dapur.


"Ibu, aku pulang!" seru Arsen yang tiba-tiba saja muncul dari ruang tamu.


"Eh, anak ibu sudah pulang."


"Ibu mau kemana?" tanya Arsen.


"Ibu mau menjemput mbak Siska."


"Maaf, memangnya Siska kemana, Nyonya?" timpal Davin yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Oh, Siska sudah dari tadi ke laundry, tapi belum pulang juga," jelas Suci.


"Kenapa tidak ditelepon saja?"


"Saya belum menyimpan nomor handphone nya. Apalagi sudah lama dia tidak memegang handphone."


"Saudara ipar macam apa dia ini? Masa tidak punya nomor Siska," gumam Davin.


"Biar saya telepon Siska. Kebetulan saya menyimpan nomornya," imbuhnya.


"Baiklah."


Davin meraih ponsel dari dalam saku celananya lalu menelepon Siska.


Nada sambung memang terdengar, namun gadis itu mengabaikan panggilannya.


"Tidak diangkat, Nyonya. Maaf, saya tidak bisa membantu lebih karena saya harus segera berangkat ke kampus."


"Kamu kuliah juga?"


"Benr, Nyonya. Saya bekerja untuk membiayai kuliah saya sendiri."


"Terima kasih, Nyonya. Oh ya, ini kunci mobilnya." Davin menyodorkan kunci mobil pada Suci.


"Terima kasih. Kamu bekerja dengan baik."


"Sampai bertemu besok, Tuan muda Arsen," ucap Davin sembari melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa," balas Arsen.


Davin pun lantas meninggalkan rumah Rayyan.


"Arsen Sayang, kamu ganti baju lalu makan siang ya. Ibu ke laundry sebentar."


"Baik, Bu."


Suci baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan pintu gerbang. Tidak berselang lama pintu mobil terbuka. 


"Siska? Dari mana dia? Dan siapa pemilik mobil itu?" batinnya.


"Akhirnya kamu pulang juga. Aku baru mau menjemputmu," ucap Suci.


Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada beberapa paper bag berukuran cukup besar yang ditenteng Siska.


"Mbok Asih hanya memintamu mengambil bedcover saja 'bukan? Lalu apa isi paper bag itu?" tanyanya penasaran.


"Ehm … ini-ini camilan. Aku lama karena membeli camilan ini di supermarket di sebelah sana."


"Ya sudah kalau begitu. Dari tadi kamu dicari mbok Asih."


"Paling-paling aku disuruh mencuci piring dan beres-beres," gerutu Siska. Dia lantas masuk ke dalam rumah.


"Kamu keluyuran kemana saja sih? Sudah tahu pekerjaan di rumah ini banyak, main kabur-kaburan saja," sungut mbok Asih saat Siska memasuki ruang dapur.


"Mbok ini lupa ingatan ya? Tadi 'kan Mbok sendiri yang menyuruhku mengambil bedcover di laundry."

__ADS_1


"Laundry nya pindah ke Hongkong atau ke Arab? Pergi dari pagi baru pulang jam segini," gerutu mbok Asih kesal.


"Laundry nya ramai, jadi aku antre. Aku juga ke supermarket membeli camilan."


"Memangnya kamu punya uang? Kamu 'kan belum gajian."


"Memangnya pertanyaan itu harus banget dijawab ya?!"


"Cepat cuci baju mumpung cuacanya cerah. Baju yang sudah kering kamu angkat lalu kamu setrika."


"Mbok mau ngapain?"


"Apa kamu nggak lihat? Aku baru selesai memasak untuk makan siang. Tuan muda Arsen juga sudah pulang sekolah. Aku harus segera menghidangkannya di meja makan."


"Ya sudah, aku saja yang menyiapkan makanannya, Mbok yang nyuci baju."


"Jadi orang kok maunya enak sendiri. Aku capek dari tadi mengerjakan ini itu, sekarang mau istirahat." Mbok Asih mengangkat wadah berisi makanan yang baru saja matang lalu membawanya menuju meja makan. Meski kesal, Siska tidak punya pilihan selain melakukan perintah mbok Asih.


"Hmmm … aroma nya sedap sekali. Masak apa, Mbok?" tanya Suci sesaat setelah mbok Asih muncul dari ruang dapur.


"Sop ayam dan ayam goreng tepung, Nduk."


"Asyik! Ayam goreng. Ibu, aku lapar," rengek Arsen.


"Iya, Sayang. Ibu ambilkan ya."


Suci mengambil sebuah piring lalu menuangkan nasi dan sepotong ayam goreng ke dalamnya. Ia pun lantas menyodorkannya pada Arsen.


"Terima kasih, Bu."


Suci mengambil sebuah piring lagi lalu mengisinya dengan makanan untuk dirinya sendiri.


"Siska itu sebenarnya dari mana sih, Nduk? Apa benar dia hanya ke supermarket membeli camilan?" tanya mbok Asih.


"Bilangnya sih begitu."


"Dia sudah sering berbohong, mbok susah percaya sama dia lagi," ujar mbok Asih.


"Mungkin dia memang membeli camilan, Mbok."


"Ibu," sela Arsen.


"Ada apa, Sayang?"


"Dua hari lagi sekolahku akan mengadakan acara pentas seni dalam rangka hari ulang tahun sekolah."


"Lantas?"


"Setiap siswa diwajibkan tampil di atas panggung bersama keluarganya."


"Ehm, begitu ya. Memangnya kamu mau menampilkan apa?" tanya Suci.


"Ehm … apa ya?"


"Tuan Rayyan 'kan pintar memainkan gitar, kenapa kalian bertiga tidak menyanyi saja?" timpal mbok Asih.


"Suaraku tidak bagus, aku tidak percaya diri kalau harus menyanyi di depan umum."


"Tidak perlu suara bagus kok Bu. Yang penting kita sekeluarga tampil di acara itu," ujar Arsen.


"Nanti kita bicarakan ini dengan ayahmu ya, Nak. Sekarang kita lanjutkan makan lagi."


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang begitu nyaring dari arah kamar Siska.


"Siska, Handphone mu," ucap Suci.


"Dia lagi mencuci di belakang. Pasti pendengarannya terganggu mesin cuci," ucap mbok Asih.


"Aku lihat dulu, takutnya telepon penting."


Suci beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar gadis yang pernah menjadi saudara tirinya itu.


Suci memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Ia berniat menutupnya kembali lantaran handphone Siska sudah berhenti berdering. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada barang-barang yang berada di atas tempat tidur. Tampak di sana beberapa potong pakaian, sepatu, dan tas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. 

__ADS_1


"Apakah barang-barang ini milik Siska? Dari mana dia mendapatkan uang untuk membelinya?" gumamnya.


Bersambung …


__ADS_2