Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati

Pengasuh Tomboy Si Pencuri Hati
BAB 120


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Siska muncul.


"Dari mana saja kamu?" tanya Suci.


"Memangnya kamu saja yang punya urusan? Aku juga punya."


"Apa benar selama aku dan mas Ray tidak di rumah, kamu tidak pernah membantu mbok Asih? Lalu, apa saja yang kamu lakukan?" cecar Suci.


"Kamu 'kan tahu dari dulu mbok Asih ingin menjatuhkanku? Apa yang dia katakan sama sekali tidak benar. Aku mau kok mengerjakan ini dan itu."


"Tidak usah kebanyakan bicara, sekarang juga kamu bersihkan halaman belakang. Aku yakin tempat itu sudah dipenuhi daun kering."


"Nanti saja lah. Aku capek, baru pulang."


"Apa kamu mau menunggu sampai mas Ray marah-marah jika dia tahu taman belakang rumahnya begitu kotor?"


"Iya-iya. Aku bersihkan sekarang."


Setelah menyimpan tas miliknya di dalam kamar, Siska pun lantas menuju taman belakang rumahnya.


"Gadis pemalas sepertinya memang tidak bisa diajak bicara baik-baik, harus dikerasi. Kalau tidak begitu dia akan ngelunjak," ucap mbok Asih.


"Ya sudah, Mbok. Aku ke kamar Arsen dulu." Suci berlalu dari hadapan mbok Asih lalu berjalan menuju kamar Arsen.


"Suka sama mainannya?" tanya Suci.


"Suka sekali, Bu. Ayah pintar sekali memilih mainan untukku."


"Besok kamu masuk sekolah 'kan? Rapikan dulu buku-bukumu, nanti main lagi," ucap Suci.

__ADS_1


"Baik, Bu."


"Ya sudah, ibu ke kamar dulu."


Suci meninggalkan kamar Arsen lalu berjalan menuju kamar utama.


"Mas kenapa leduy begitu? Mas sakit ya," tegur Suci lantaran mendapati suaminya, Rayyan berbaring di atas tempat tidurnya.


"Entahlah, tiba-tiba aku merasa badanku lemas dan tidak bertenaga."


"Sepertinya Mas kelelahan. Sini, biar aku pijit."


Suci meletakkan kedua tangannya di atas pundak Ray dan mulai memijitnya.


"Ya, di sana pegal sekali," ucap Ray saat jari-jari tangan Suci memijit bagian lehernya.


"Aku panggilkan tukang urut saja ya, Mas," ucap Suci.


"Tukang urut pasti lebih paham. Siapa tahu ada bagian tubuh Mas yang keseleo."


"Aku mau tukang urut yang spesial."


"Ehm … tapi tukang urut kenalan mbok Asih biasa saja, bukan tukang urut spesial."


"Siapa juga yang mau dipijit kenalannya mbok Asih."


"Memangnya Mas mau dipijit tukang urut yang mana?"


"Tukang urutnya sekarang ada di hadapanku."

__ADS_1


"Maksud Mas … aku?"


"Ya. Tukang urut spesial."


"Ah, Mas bisa saja."


Tiba-tiba Ray beranjak dari tempat tidur lalu mengunci pintu kamar.


"Loh, kok dikunci, Mas. Ini 'kan masih siang."


"Kalau tidak dikunci nanti Arsen tiba-tiba masuk ke dalam kamar ini."


Jantung Suci berdegup kencang saat Ray tiba-tiba menatapnya lekat.


"Setelah beberapa kali tertunda, apa aku boleh meminta hakku sekarang?" tanyanya.


"Ehm … aku-aku, …"


Suci tak bisa berkata-kata lantaran Ray tiba-tiba mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Menahannya beberapa detik kemudian memainkannya dengan nakal.


Ini sedikit membuat Suci geli namun ia menyukainya.


Puas bermain di bagian bibir, jari-jari tangan Ray mulai membuka satu persatu kancing baju Suci lalu memijit gumpalan daging di dalamnya. Suci mendesaah nikmat saat lidah Rain mulai bermain dengan daging kenyal di bagian dadanya.


Sentuhan demi sentuhan Ray membuat Suci melayang hingga akhirnya sampailah keduanya di bagian puncak permainan.


Suci memekik kesakitan saat untuk pertama kalinya lubang sempitnya dimasuki pusaka Ray. Cairan kental berwarna merah pun terlihat membercak di sprei.


"Ah! Akhirnya aku buka segel juga," ujar Ray.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menunaikan kewajibanmu sebagai seorang istri," ucap Ray. Dia lantas mengecup lembut kening Suci.


Bersambung …


__ADS_2