Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (1)


__ADS_3

Seorang pria kekar berambut biru cepak tiba-tiba berada di ruang makan keluarga Harsa. Seketika aura di ruang makan berubah, seoalah-olah ada tekanan mental yang menyelimuti mereka. Rasanya seperti mendadak disuruh berpidato tanpa persiapan di depan seluruh kelas.


Tujuh tahun lalu, pertama kali Harsa bertemu pria itu, dia juga mendadak muncul dari udara kosong seperti saat ini. Saat itu Harsa sedang sakit dan terbaring di sofa ruang keluarga. Tanpa sedikitpun rasa belas kasihan, pria itu menatap Harsa dengan dahi berkerut dan berkata,


“Kau aneh.” Kemudian menghilang tanpa penjelasan. Tentu saja, Harsa tidak punya kesan baik akan kedatangannya yang kali ini.


Tujuh tahun seolah tak ada bedanya bagi pria itu. Penampilannya tak berubah sama sekali.Penampilan pria itu bukan hanya mencolok, tapi eksentrik. Selain warna rambutnya yang biru terang, warna iris matanya putih susu. Pupil matanya hanya bisa dibedakan dari bola mata karena ada garis hitam di sekitarnya. Pakaiannya seperti petualang yang baru pulang dari hutan, kotor terkena tanah. Pria tinggi dengan bahu lebar itu mengenakan baju spandex lengan panjang berwarna hitam ketat yang menutupi hingga ke lehernya. Sebagai luaran, dia mengenakan rompi kulit coklat yang dipenuhi kantong. Celananya terbuat dari celana kulit ketat dan dia mengenakan sepatu boots coklat panjang yang menutupi tumitnya. DI jari-jarinya, setidaknya dia mengenakan delapan cincin batu akik. Ekspresinya datar seolah sedang melihat berita pagi.


“Adi?” panggil Erik yang paling terbiasa dengan sihir. “Akhirnya kamu sampai juga.”


Pria yang tampak berumur dua puluh delapan tahun itu menengok ke arah Harsa dan orangtuanya dengan mata biru yang tak bergeming, “Aku lelah. Kalau sudah mau berangkat, panggil saja.”


Dia melambaikan tangannya, kemudian udara di depannya terbelah, menampilkan kotak panjang seperti pintu terbuka yang berkilauan seperti mozaik di sensor film.


“Kamu nggak mau ikut makan malam dulu?” tanya Ayah ramah.


Dia melihat meja makan keluarga Harsa dengan tatapan meremehkan dan meletakkan salah satu cincin batu akiknya di meja pajangan.


“Aku tak butuh.” Kemudian dia melangkah masuk ke pintu bermozaik itu, hilang entah ke mana. Mengikuti sosoknya, tekanan mental di ruang makan pun lenyap. Harsa mendengar nafas lega dari Darma, ibunya.


“Uahh. Aku nggak akan pernah terbiasa dengan ini. Apakah Adi nggak bisa masuk ke rumah dengan mengetuk pintu?” tanyanya dengan dahi berkerut pada ayahku.


Menanggapi keluhan istrinya, Erik tersenyum memaklumi. “Lebih aman kalau dia langsung masuk dalam rumah.”


"Kalau begitu, apa kamu bisa kabari aku dulu tiap kali Adi akan masuk rumah?" Pinta Darma memelas.


Erik tersenyum, namun dia menggelengkan kepalanya. "Maaf, sejak kecelakaan itu, aku tidak bisa menggunakan sihir lagi."


“Eng? Maksud papa apa?" tanya Harsa. "Bukankah papa bisa sihir karena papa itu Kasarewang?"


"Uh, yah."


Menghela nafas karena pertanyaan tidak dijawab, Harsa merilik pintu bermozaik warna-warni yang baru saja dilewati oleh Adi. "Apa dia benar harus ikut liburan keluarga kita?” tanya Harsa dengan nada yang tak mengenakan.


“Yah, aku sengaja mengajaknya supaya kamu bisa kenal kakakmu lebih baik.”

__ADS_1


“Kakak tiriku.” Harsa membenarkan.


“Hush. Jangan bilang begitu.Tidak ada bedanya.” Kata Darma menegur.


“Aku dapat dengar percakapan kalian dari sini!” Suara Adi terdengar dari pintu bermozaik itu.


“Kamu tidak harus tidur di apartemen portabelmu, Adi. Di rumah ini ada kamar kosong kok.” Kata Erik dengan nada membujuk.


“Tidak!” Tolak Adi tegas.


Harsa kembali mendesah. Rasa masakan ibunya menjadi lebih hambar. Dia tidak mengerti kenapa setelah sekian tahun ayahnya ingin agar dia dekat dengan kakak satu ayahnya. Selain kedatangan dan kepergiannya yang tiba-tiba tujuh tahun lalu, dia dan Adi tidak pernah berinteraksi. Hidupnya sudah baik-baik saja tanpa orang yang menyebutnya ‘aneh’ pada saat pertama kali bertemu. Apalagi tatapan meremehkannya pada saat melihat masakan Darma. Urgh! Harsa tak tahan. Tak terasa tangan kanannya terkepal. Awas saja kau! Pikir Harsa dalam hati. Akan kubuktikan siapa yang ‘aneh’.


Erik ikut mendesah. Tangannya menyalakan lilin kue ulang tahun dengan lilin mati lampu yang selalu dinyalakan Darma di saat makan malam bersama. Ekspresi wajah Erik membaik setelah menelan lidah api mungil di lilin kecil itu.


Harsa melihatnya dengan ingin.


“Hush. Makan dulu, baru nyemil.” Kata Darma menyadari padangan tergoda Harsa.


Remaja lima belas tahun itu mengangguk, menahan keinginannya untuk ikut memakan api-api kecil itu.


“Enak?” tanya Harsa yang berumur enam tahun melihat Erik makan api di dapur.


Mata coklat terang ayahnya berbinar-binar. “Enak. Mau coba?”


Darma, yang waktu itu sedang mencuci piring, bertanya dengan nada khawatir. “Apa gak apa-apa? Lidahnya gak akan terbakar?”


“Aku nggak tahu. Kurasa harus dicoba, tapi firasatku sih nggak masalah.” Erik kemudian berpaling pada Harsa. “Kamu mau coba?”


Dengan semangat Harsa mengangguk, lalu Erik membiarkannya menelan lidah api itu. “Manis!” Harsa berteriak bersemangat. “Aku mau lagi, Pa! Ma, coba nih! Enak loh!”


Dahi Darma berkerut, tapi dia tetap mempertahankan senyum. “Kayaknya aku nggak bisa makan itu, Sayang.”


“Eh, kenapa? Enak loh!”


“Nanti, mamamu luka, Har.” Kata Erik sambil membawa Harsa pergi keluar dari dapur dengan lilin di tangannya. Harsa kecil, tidak menyadari perbedaan mendasar antara ayah dan ibunya.

__ADS_1


Sejak pertama kali mencoba makan lidah-lidah api, Harsa jadi ketagihan. Akan tetapi, ibunya mengharuskan Harsa tetap makan nasi seperti biasa karena takut anak semata wayangnya akan kekurangan gizi. Erik, yang memang bukan ‘manusia’, tidak punya masalah hanya makan lidah-lidah api, tapi Harsa berbeda. Erik sendiri tidak tahu pasti baiknya nutrisi untuk anak bungsunya yang unik.


Ya, Harsa memang sedikit berbeda dari remaja lima belas tahun lainnya. Sekilas dia tampak normal. Rambut hitamnya dipangkas rapi dan matanya berwarna coklat tua seperti Darma. Tubuhnya tidak sembuh secara ajaib ketika terluka. Akan tetapi, Harsa punya kemampuan unik, ‘sihir’ yang lama tersegel dalam dirinya. Ayahnya, Erik, merupakan seorang Kasarewang, manusia abadi yang mampu menggunakan sihir. Begitu juga Adi, kakak satu ayah Harsa. Sementara itu, Darma, ibu Harsa, merupakan satu-satunya manusia biasa dalam keluarga mereka. Meskipun begitu, Harsa tidak pernah merasa berbeda. Baginya seluruh keunikan keluarganya hanyalah keseharian biasa. Selama lima belas tahun ke belakang, dia menghidupi hari-harinya bagai manusia biasa.


Kembali ke masa kini, Harsa yang telah menghabiskan makan malamnya, menyemil lidah-lidah api dengan lahap. Raut mukanya yang murung sudah tak tampak ketika dia sedang menikmati rasa manis lidah-lidah api itu. Darma sedang mencuci piring dan Erik melihat-lihat ponsel cerdasnya, membaca berita terkini, masih di meja makan.


Menyadari mood putra bungsunya membaik, dia mengambil kesempatan. “Harsa.” Panggilnya dengan suara rendah, matanya melirik ke pintu mozaik warna-warni.


Harsa mendongak ke arah ayahnya. Matanya bertanya, ‘Apa?’


“Sini.” Erik berdiri, tangannya melambai, dia mengajak Harsa ke teras rumah.


Harsa mengikuti. Tak lama, mereka berdua sudah duduk di kursi teras depan rumah, menatap langit hitam disertai sedikit bintang. Semilir angin malam langsung membangunkan panca indra Harsa.


“Kenapa, Pa?”


Senyum kecil tampak di balik bayang-bayang wajah Erik yang mulai penuh kerutan. Ayah Harsa itu tak pernah terasa berbeda dari manusia manapun juga. Dia selalu membawa diri seperti pekerja kantoran biasa. Rambutnya coklat kehitaman dan mata coklat karamel seperti keturunan bule, tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia bisa melakukan sihir. Tidak akan ada yang menyangka pria setengah baya itu suka memakan lidah-lidah api. “Harsa, apa kamu nggak suka dengan Adi?” tanyanya pelan.


Dahi Harsa berkerut. “Lebih tepatnya dia yang gak suka sama aku’kan?”


“Aku rasa nggak begitu. Dia hanya nggak terbiasa dekat kamu dan nggak tahu gimana cara bersikap depan kamu.” Kata Erik penuh pengertian.


“Yah, salah sendiri nggak pernah di rumah.”


“Justru itu, kakakmu bukan orang yang suka ambil cuti. Jadi dia jarang pulang. Aku mengajaknya liburan kali ini, biar dia sekalian istirahat juga.”


Tujuh tahun nggak menginjak rumah dibilang ‘jarang pulang’ bukannya harusnya ‘nggak pernah pulang’? Lagian kenapa aku yang harus memahami dia? Bukankah kak Adi yang lebih tua? Pikir Harsa sarkas, tapi dia tidak mengungkapkannya. Dia tidak ingin membantah ayahnya.


“Kamu baik-baik, ya, sama dia.” Pesan ayahku.


Harsa menarik nafas panjang. “Iya, akan kucoba.”


Erik tersenyum dan mengacak-acak rambut Harsa dengan senang. “Sudah, istirahat sana. Besok kita berangkat pagi-pagi!”


Harsa mengangguk. Dirinya kembali bersemangat. Ada Adi atau tidak, liburan tetaplah liburan yang harus dinikmati. Begitulah pola pikir Harsa. Dia sudah tak sabar ingin pergi bersantai di pantai, tanpa tahu apa yang menunggunya di akhir minggu ini.

__ADS_1


__ADS_2