
Minggu ujian berlangsung dalam sekejap mata. Mungkin karena tidak ada hal lain yang Harsa lakukan selain belajar sihir, belajar bahasa Kasarewang, belajar bersama, dan berlajar sendiri. Pokoknya belajar, belajar, dan belajar. Ketika dia sampai di akhir musim ujian, Harsa merasa ada yang salah ketika tidak mendapati bahan pelajaran untuk besoknya.
“Benar-benar sudah selesai.” Kata Harsa di kantin, menunggu dijemput. Seperti biasa, dia duduk dengan Elis dan Barasa.
“Iya, sekarang tinggal menunggu kabar buruk aja.” Kata Barasa lemas.
“Jangan ngomong gitu. Kamu kan setiap hari sudah belajar dengan serius. Pasti bisa dapat baguslah.” Harsa mencoba memberikan harapan.
Barasa melihatnya dengan tatapan berterima kasih, tapi tidak mampu mengiyakan kata-kata Harsa.
“Sudah! Kita cuma bisa maju ke depan. Acara selanjutnya pentas seni. Mulai hari ini, kita bisa latihan mati-matian untuk pentas seni.” Elis, yang tidak mengkhawatirkan nilainya, sangat bersemangat untuk pertunjukkan seni. “Hasilnya akan dimasukkan ke Youtube loh. Kalau bagus siapa tahu viral.”
“Kayaknya prioritasmu salah deh.” Kata Barasa. “Yang harusnya mati-matian itu untuk ujian.”
“Sudah, sudah. Jangan mulai lagi.” Harsa memotong pembicaraan mereka. Selama satu minggu, dia sudah cukup bersabar menangani perdebatan antara dua sahabatnya itu.
“Eish. Tapi kamu sudah janji kan, mau bantu?” Elis mengingatkan.
“Iya, iya. Aku bantu kok.” Janji Berasa.
__ADS_1
“Hehe. Karena tinggal satu minggu lagi, kita bakal latihan setiap hari. Sabtu Minggu kalian kosong nggak?” tanya Elis serius.
“Kosong, kok.” Kata Barasa. “Latihannya di sekolah?”
“Kalau hari Sabtu sama Minggu kita bakalan sewa studio.” Jelas Elis. “Harsa gimana?”
“Ehm, maaf.” Harsa tidak enak karena tidak bisa menepati janjinya, namun dia tidak mungkin bisa lepas dari latihan sihir bersama Adi setiap minggunya. “Aku nggak bisa kalau Sabtu sama Minggu, tapi kalau setiap pulang sekolah, aku janji aku bisa kok.” Katanya tanpa ragu.
Elis mengangguk. “Ya, gak apa-apa sih sebenarnya, selama pada hafal kapan harus taruh dan keluarkan properti dari panggung.”
“Tenang, pasti kuhafalkan.”
“Santai aja.” Selama ini, Harsa sudah lumayan bisa menebak-nebak nada. Walaupun begitu, dia terus berlatih karena belum sampai ke tahap dimana Harsa bisa berbicara dan mendengarkan bahasa Kasarewang dengan lancar.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, dari arah tangga, anak-anak kelas dua mulai bermunculan setelah menyelesaikan ujian mereka. Salah satu dari mereka, Aster, langsung datang pada Harsa dan Barasa begitu melihat sosok mereka. Seperti biasa, perempuan berambut panjang diikat satu itu berjalan sendirian.
“Hai!” Sapa Aster dengan senyum kecil meski dia tampak lelah.
“Aster? Gimana ujiannya?” Harsa langsung mengajak mengobrol dengan mulusnya dengan Aster.
__ADS_1
“Yah, gitulah, yang penting sudah lewat.” Kata Aster. “Aku mau ngomongin soal acara untuk pentas seni nanti. Dari OSIS kan wajib aturannya setiap klub buat bikin pertunjukkan di pentas seni, kamu ada ide?” Dia melihat ke Barasa. “Menurut Barasa juga gimana?”
Tanpa merasa bersalah, Barasa mengangkat tangannya. “Sorry. Aku udah janji buat bantuin klub teater dan klub musik untuk bikin pentas musikal. Aku mendahulukan keanggotaanku di klub musik, ya.”
“Oh.” Aster berusaha menyembunyikan kekecewaannya baik-baik, namun tak juga lepas dari telinga Harsa. “Kalau Harsa?”
Harsa sungguh tidak enak pada Aster. Dari awal dia mendengar kabar tentang adanya pentas seni, tak sedikitpun terpikir dalam kepalanya mengenai nasib pentas seni dari klub sihir. “Hm. Aku belum kepikiran’sih. Kamu gimana?”
“Aku ada rencana untuk buat pertunjukkan sulap. Mungkin yang kemarin buat demonstrasi di acara MOS. Untuk detailnya, aku butuh bantuanmu sih.” Jelas Aster. “Hm, kalau sekarang ganggu, mungkin nanti minggu depan kita ngomongin pas kegiatan klub.”
Dalam sekejap Harsa melirik Elis, lalu kembali menatap Aster penuh dengan rasa bersalah. “Eeee, sebelumnya juga aku sudah janji untuk ikut bantu klub musik dan klub teater.” Harsa berusaha mengeluarkan kata-katanya dengan sejujur mungkin pada Aster. “Aku nggak bisa janji minggu ini bisa ikut kegiatan klub. Hmmm. Soal pentas seni, nanti di grup chat aja. Kalau ada waktu, aku pasti bantu kok.”
Mata Aster tidak bisa terllihat lebih sedih lagi. Bagaimana tidak? Harsa secara resmi tergabung dalam klub sulap, tapi anak itu malah mendahulukan membantu klub lain.
“Okay.” Jawab Aster menjaga nada suaranya tetap tenang, namun malah terdengar tanpa emosi. “Nanti aku hubungi kamu lewat grup chat. Kamu nggak perlu maksa ikut kalau nggak sempat. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa menyiapkan acara seperti ini sendiri.” Kata Aster. Usahanya menenangkan Harsa gagal total ketika nada biacaranya tidak bahagia. Tanpa membiarkan Harsa menjawab, Aster melambaikan tangan. “Sudah, ya. Aku pulang duluan.”
“Apa nggak apa-apa?” tanya Elis khawatir setelah Aster pergi.
“Kamu jangan buat janji yang nggak bisa dipenuhi loh ya. Lebih baik mengecewakan sekarang daripada mengecewakan nanti.” Barasa menasehati.
__ADS_1
Harsa menghela nafas panjang. Dia melihat Elis dengan senyum yakin, menyembunyikan rasa bersalahnya. “Nggak apa-apa, kok. Aku akan cari waktu buat bantu Aster juga.”