Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Regu Adi


__ADS_3

Mereka bersiap kembali ke Drestha setelah regu mata-mata Kasarewang datang ke fasilitas rahasia untuk menyelidiki kegiatan apa saja yang formskitter lakukan dalam fasilitas  rahasia itu. Salah satu anggota dari tim mata-mata itu, menanyai detail apa saja yang terjadi pada Harsa ketika penculikan itu terjadi, terutama bagian ketika formskitter itu saling berbicara satu sama lain.


“Maaf, aku banyak tidak ingat. Waktu itu stres banget dan aku tak paham juga kode-kode yang mereka berikan.” Kata Harsa sambil menunduk. "Lagipula, waktu itu, aku tidak dapat mengeluarkan auraku, jadi aku tidak bisa mengalami pergerakan physis itu sendiri, aku hanya memperkirakan saja."


Kasarewang yang bekerja di bidang intel itu menghela nafas lelah, namun tidak memaksa Harsa lebih jauh lagi. “Aku mengerti. Pasti berat untukmu mengingat semua kejadian itu. Tapi kalau kamu ingat sesuatu, tolong hubungi aku ya.” Katanya sambil memberikan cairan kecil. “Karena informasi tentang kode yang dipakai oleh formskitter sangat berguna untuk memprediksi pergerakan mereka selanjutnya.”


Harsa menerimanya tanpa pikir panjang. “Baik.”


Kasarewang mata-mata itu tersenyum sebelum meninggalkannya dan kembali memeriksa fasilitas itu. Dia sedikit khawatir mendengar ada formskitter yang dapat menyembunyikan keberadaannya sama sekali. namun dia tidak banyak menunjukkan pada Harsa. Setelah itu, Harsa mengelurkan tangannya pada Harsa dan wanita Kasarewang bos regu Adi. “Ayo, kembali ke Drestha.”


Kedua orang itu melihat Harsa dengan tatapan bingung. “Ya, ayo kembali, tapi kenapa kamu mengangkat tangan begitu?’


“Kita akan teleport ke sana kan?”


“Bicara apa kamu? Tentu tidak! Di regu ini tidak ada yang menguasai dekrit ruang.” Jawab Adi.


Mereka benar-benar harus pergi ke kota Drestha secara manual. Regu Adi terdiri dari lima orang Kasarewang. Pemimpin regu itu merupakan Costa, seorang kasarewang wanita dengan rambut panjang yang diikat dan mata biru muda terang. Dia memiliki keselarasan dengan dekrit material. Elemen yang paling dia kuasaiadalah elemen angin. Dengan physis dan elemen anginnya, dia da dapat membuat transparan di belakang punggungnya. Dia juga dapat membuat satu sayap transparan di belakang punggung Adi. Harsa tak bisa menahan ekspresi ‘wow’nya mellihat bagaimana physis dapat terbentuk dengan begitu  rumit. Wakil ketu dalam regu itu merupakan Adi sendiri. Walau masih muda, Adi dipilih menjadi wakil karena prestasinya. Anggota regu lainnya adalah Resa, syang memiliki keselarasan dengan dekrit hidup. Dia dapat membuat satu gerombolan raksasa serigala dengan physisnya. Jika dia tidak mengalirkan physisnya, maka serigala-serigala itu akan hilang. Anggota yang terakhir adalah Gilda.


“Apa tidak masalah kamu membuat dua pasang sayap seperti ini?” tanya Adi tak enak, melihat kaitan rumit antara physis yang ada di punggunggnya. “Meski aku bisa membantu sedikit-sedikit physisnya, tapi yang akan menerbangkan dan menggendalikan dua pasang sayap ini.”


“Hei!! Jangan pikir aku nggak cukup handal untuk itu!”


“Bukan!!” Adi langsung panik. “Maksudku pari melelahkan untukmu.”


Costa menggeleng-geleng. “Sudahlah. Lagipula semakin banyak kamu punya pengalaman dengan elemen angin, semakin cepat kamu menguasainya. Sedikit lagi kamu bisa menguasai elemen angin bukan? Coba ambil cuti satu bulan saja untuk belajar elemen angin. Kamu pasti bisa.”

__ADS_1


Adi menghela nafas. “Aku tak mau. Aku harus menabung untuk beli rumah.” Kata Adi bersikeras..


Costa tertawa. “Perilakumu seperti orang mau menikah saja.”


“Bagaimana kalau iya?”


Costa terkejut. “Eh? Serius sama siapa? Semuda ini, kamu mau nikah?”


“Belum tahu dia mau atau tidak, tapi kalau bersamanya aku harus cepat.” Jawab Adi galau.


“Secepat apa sampai kamu harus begitu?”


“Kurang dari satu dekade.”


Adi menggeleng. “Aku bahkan belum tahu dia mau jadian sama aku atau nggak.”


“Cieee!!” Teriak Gilda. “Hah, aku nggak percaya kamu mendahuluiku.”


“Sudah nanti aku ceritakan.” Kata Adi memerah malu.


Mereka pergi ke Drestha dalam dua tim. Costa dan Adi terbang dengan sayap buatan mereka untuk melihat kondisi dari mata elang. Sementara itu., Resa, Gilda, dan Harsa mengendarai gerombolan serigala raksasa yang dibuat dan dikendalikan oleh Resa. Jika terdapat formskitter atau binatan sihir yang agresif, Costa atau Adi akan memberitahu tim di bawah untuk bersiap-siap. Selama perjalan mereka menghadapi satu-dua formskitter. Namun, Harsa tidak perlu bertarung. Dia hanya duduk di atas serigala raksasa hitam sambil melihat bertapa efektifnya Gilda dan Resa bertarung menghadapi formskitter yang bahkan jauh lebih kuat dari yang pernah dia hadapi. Tak ada satupun gerakan mereka yang tidak efektif. Jika ada serangan tak terlihat, maka Adi akan menghujani  serangan itu dengan bola api atau bola air dari atas. Ini merupakan pertama kalinya Harsa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana satu unit tentara Kasarewang bertarung, dan Harsa kagum dengan taktik dan kemampuan mereka.


Harsa tak heran lagi mereka dapat membasmii seluruh musuh di fasilitas rahasia formskitter itu. Akan tetapi, mereka tidak bertemu dengan dua formskitter yang bereksperimen dengannya. Mereka menangkap manusia yang telah bergabung dengan formskitter, tapi tidak menemukan dua formnskitter itu. Tampaknya mereka berhasil kabur di luar radar regu Adi.


Regu itu sampai di sebuah menara yang dilindungi oleh mantra-mantra penghapus jejak sihir dan mantra agar menara itu tak telihat. Mereka masuk ke atas menara itu. Di lantai paling tinggi, ada sebuah batu akik lain yang di dalamnya tersimpan mantra teleportasi.

__ADS_1


“Kita bisa langsung ke Kota Drestha dari menara ini.” Kata Costa. Dia lanjut sambil melihat Harsa. “Lebih baik kita menghindari garis depan jika membawa warga sipil yang terluka.”


Melalui menara itu, mereka langsung sampai di pinggir kota Drestha. Ketika sampai di Kota Drestha, Adi tak berlama-lama. Dia langsung membawa Harsa ke rumah sakit Drestha. Harsa tak dapat menghindari tatapan terkejut dari dokter-dokter di sana yang seolah berakta, “Kenapa masih hidup?!” Meski begitu, mereka tak banyak bertanya dan mengusahakan agar tangan Harsa dapat digerakan dengan lebih lancar.


“Bagaimana?” tanya Adi pada dokter setelah beberapa jam mengutak-atik lengan Harsa.


Dokter itu menggeleng putus ada. “Aku hanya bisa memperbaikinya sampai sejauh ini.” Katanya sambil mengelap keringat di dahinya.


Sekarang, Harsa sudah dapat mencengkram. Dia masih tidak dapat mengalirkan physis ke sana dan tangannya masih terasa berat seperti batu, namun sudah tidak terlalu kaku lagi. Selain itu, setelah diberi waktu untuk beristirahat, tenaga Harsa sudah kembali seperti semula. Setelah Harsa merasa cukup nyaman di rumah sakit, Adi pamit. “Aku akan ke rumah dulu untuk mengambari ayah dan menjemput Aster, oke?”


“Eh, iya, kak.” Kata Harsa sedikit ragu karena pertama kalinya ditinggal di Drestha sendirian saja.


“Jangan khawatir, aku akan segera kembali.”


“Nggak apa-apa, kok. Justru kak Adi yang nggak apa-apa kah? Baru pulang misi langsung pergi lagi ke Bandung gak capek?”


Adi hanya melambaikan tanggannya. “Tidak ada waktu lagi.”


Harsa baru menyadari, mereka memakan waktu satu hari untuk sampai ke Drestha dan setengah hari lebih untuk menyembuhkan tangannya di rumah sakit. Harsa sudah mendapat waktu tidur di perjalanan dan pengobatan, namun Adi tidak mendapatkan kemewahan itu. Kantung matanya telah menghitam dan ekspresi wajahnya cukup mengerikan.


“Oke, kak.” Harsa tak tahu harus berkata apa lagi.


“Kamu istirahat sebisanya, setelah ini, kita akan langsung berangkat ke lokasi ujian.” Kata Adi tegas.


Mendengar kata-kata seperti itu, Harsa mulai merasa tegang. Dia mengangguk, lalu Adi beranjak keluar dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2