Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Kota Drestha (2)


__ADS_3

Mata Harsa mengerjap-ngerjap kaget. Sejak Harsa menginjakkan kakinya di Kota Drestha, dia langsung menyadari bahwa kakaknya bukanlah orang paling kuat di dunia ini. Banyak orang yang berlalu-lalang di Kota Drestha yang menyimpan physis besar di dalam tubuh mereka. Namun, tak terbayang jika terdapat Kasarewang yang memiliki keselarasan dengan lima dekrit sihir.


“Wow… Dia kuat sekali, kalau begitu?” tanya Harsa dengan rahang yang terbuka lebar.


“Kuat? Hah? Tentu nggak. Dia peneliti teori-teori sihir. Dia tidak pernah belajar ataupun berlatih bertarung.” Jawab Adi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Tapi kakak pernah bilang punya dua dekrit saja sudah jarang!”


“Ya, di antara rakyat jelata seperti kita. Bagi para keturunan kerajaan, sering lahir orang yang memiliki berbagai macam dekrit.”


“Tunggu dulu, sebenarnya siapa orang ini?” Tanya Aster menyusul Harsa dari belakang.


“Namanya Adipati Aakil. Dia merupakan keponakan dari Raja Kasarewang. Orangnya sangat rendah hati, tapi aku berharap kalian semua berbicara dengan sopan padanya.”


“Wow… Dia benar-benar bukan orang biasa.” Kata Aster mulai merasa tegang.


Adi tersenyum lebar. “Ya. Berterimakasihlah pada ibuku. Adipati Aakil menyukaiku karena ibu dulu pernah menjadi ksatrianya selama beberapa dekade.”


Dahi Aster mengerut. “Aku pikir ibumu dokter.” Katanya ada Harsa.


Remaja laki-laki itu menggeleng. “Aku dan kak Adi punya ibu yang berbeda.”


“Ibuku seorang Kasarewang juga. Dia bekerja sebagai tentara kerajaan.” Katanya penuh dengan kebanggaan.


“Memangnya apa bedanya tantara kerajaan dan tentara biasa?” tanya Harsa penasaran.


“Untuk menjadi tentara kerajaan, perlu pendidikan yang lebih tinggi. Tentara kerajaan lebih berfokus untuk melindungi raja dan kastil kerajaan, sementara tentara biasa melindungi kota Drestha. Keduanya sama-sama bersumpah setia pada keluarga kerajaan. Perbedaan paling besar mungkin tentara kerajaan dapat mendapat gelar bangsawan yang tidak bisa diturunkan jika telah mengabdi janji setia pada salah satu anggota kerajaan.” Jelas Adi.


“Tapi kalau memang Adipati Aakil ini memang keluarga kerajaan, mengapa dia tidak tinggal di Kastil Kerajaan?”

__ADS_1


“Yah, memang orangnya seperti itu. Setelah beberapa kali meledakkan beberapa bagian kastil dengan percobaan sihirnya, dia memutuskan untuk tinggal di gubuk sebelum Raja benar-benar mengusirnya dari kastil.” Kata Adi sambil tersenyum. “Tapi beruntung karena itu, jadi lebih mudah untuk menemuinya.”


Semakin mereka berjalan, perumahan Kasarewang semakin jarang. Sampai di dekat kaki gunung, di hadapan mereka terhampar hutan tropis yang dikelilingi oleh pagar besi pendek. Di jalan utama ke hutan itu, terdapat gerbang di atasnya terdapat batu besar berisi mantra tertentu. Mereka terus berjalan menyusuri hutan itu. Di tengah-tengah jalan, pada saat mereka mendaki, Adi berhenti lalu menghadap Harsa.


“Tunggu sebentar. Aku lupa aku belum bilang akan membawa kamu.” Kata Adi. “Uuuh. Kalau kamu menunggu di hutan apa tidak apa-apa?”


“Apa?!” Mulut Harsa terbuka kecewa. “Sendirian?”


“Ya… Maksudku, aku harus menemani Aster untuk menerjemahkan dari bahasa Kasarewang ke bahasa Indonesia.”


Harsa melihat ke kanan-kiri. Gunung itu terasa damai, tanpa ada satu pun yang membahayakan, namun dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menunggu Aster dan Adi selesai berbicara dengan Adipati Aakil.


“Tidak apa-apa, kan?”


Harsa ragu, tapi dia tidak merasa punya pilihan lain. “Ya udah.” Kata Harsa sambil menghela nafas panjang.


Dahi Harsa berekrut. “Masa hadiah ulang tahun harus usaha sendiri?”


“Apa kamu mau hadiahnya atau tidak?”


Harsa menyerah. “Iya, deh, mau. Aku boleh pakai sihir kan?”


“Iya…?” Jawab Adi tampak tidak yakin. “Tentu saja. Kalau tidak pakai sihir mungkin tidak akan bisa, tapi jangan sampai melebarkan auramu sampai ke Kastil Kerajaan.”


“Baiklah. Siap. Rusa sihir ini seperti apa?”


“Yaa… rusa sihir.” Kata Adi. “Sudah, coba saja. Aku yakin kamu bisa.”


Ditinggal sendiri, Harsa melakukan pemanasan otot. Dengan sedikit sentuhan mental, Harsa membuka Kai dalam dirinya dan melebarkan auranya hingga seratus meter. Physis dirinya bertabrakkan dengan physis-physis di sekitarnya. Aura Harsa seperti memberikan indra keenam baginya, memberikannya informasi-informasi tentang mahkluk hidup apa saja yang berada di jangkauan auranya.

__ADS_1


Setelah semakin lama berlatih menggunakan aura, Harsa menyadari pentingnya aura dalam bertarung. Sekarang, ketika auranya aktif, Harsa bisa mendeteksi lalat yang terbang di kejauhan. Seratus meter di sekitarnya, Harsa tidak merasakan keberadaan mahkluk lain selain tumbuhan dan serangga. Tanpa arah, Harsa pergi mengelilingi hutan itu memperhatikan binatang-binatang yang berada di sana. Berbulan-bulan berlatih di Tepi Dunia Roh, Harsa menyadari semua binatang yang berada di Tepi Dunia Roh mempunyai insting untuk mengendalikan physis.


Tak lama setelah Harsa mencari-cari acak, dia bisa mendeteksi seekor binatang yang berbentuk seperti rusa. Mulut Harsa tersenyum tanpa sadar. Akan tetapi, tak lama, rusa tersebut berlari jauh dari Harsa, keluar dari jangkauan auranya.


“Ch.”


Terpaksa, Harsa memulai dari awal. Kejadian yang sama terus berulang-ulang hingga entah berajpa jam lamanya. Harsa sampai melebarkan auranya beberapa kali dan bahkan mencoba mencari-cari dengan auranya terlebih dahulu, namun ketika dia cukup dekat dengan rusa itu, mereka semua lari dari Harsa. Harsa menonjok salah satu pohon jati di sebelahnya, tanpa physis, tentu saja. Harsa tidak mau membuat keributan, dia hanya ingin melepaskan rasa stresnya.


“Argh. Kenapa?! Ya, ampun. Aku cuma pengen hadiah ulang tahun!!”


Harsa menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. “Okay. Aku bisa. Aku bisa.” Ulang Harsa pada dirinya sendiri. Dia mencoba mendekati mereka tanpa sihir, tanpa sihir, bahkan sampai menyerang dengan laser dari jauh. Usaha Harsa sia-sia.


Jongkok di tengah gunung, Harsa merasa putus asa. Pada saat itulah, dia mendengar suara rerumputan. Tak jauh dari hadapannya, seekor rusa jantan dengan dua tanduk lurus mencuat ke atas berdiri di hadapan Harsa dengan tatapan waspada. Harsa terdiam tak bergerak ketika matanya berpandangan dengan rusa itu. Harsa menahan nafasnya, berpikir keras akan bagaimana untuk tidak melepaskan kesempatan ini.


Saat itu lah, Harsa menyadari bahwa tanduk rusa itu memiliki aksen kuning yang mengikuti lekukan tanduk lurus itu. Sedikit saja gerakan alis Harsa memancing rusa itu. Bukannya lari seperti rusa-rusa lain, dia menyerang Harsa dengan tanduknya dengan kuat. Untunglah Harsa menyimpan physis di sekeliling tubuhnya. Dari tanduk rusa itu, serangan gelombang yang tak terlihat mendorong Harsa dengan keras. Dia terlempar ke belakang hingga badannya menabrak batang pohon besar.


“Urgh.” Harsa tak punya waktu untuk beristirahat. Harsa bisa merasaka elemen yang rusa itu gunakan untuk menyerangnya secara intuitif. Harsa seperti tahu, tapi tidak bisa menjelaskannya. Sementara Harsa berpikir, rusa itu membantingnya ke udara. Kiri-kanan. Atas-bawah. Dia berputar putar di udara hingga pusing dan ingin muntah, tapi Harsa semakin memahami elemen yang digunakan oleh rusa itu.


Aku seperti mengikuti satu arus…. Arus yang berjalan ke salah satu arah kemudian ke arah lain dengan sangat cepat.


Jika saja tak ada physis, Harsa bisa terluka karena seberapa cepat dia dibanting. Dengan kepala berputar seperti itu, Harsa tidak bisa melancarkan serangan apapun. Dia bahkan tidak bisa lagi membedakan apakah dia sedang di banting ke atas atau ke bawah.


Ayo, Harsa! Kamu sudah bisa menghadapi formskitter! Ini juga pasti bisa! Harsa menyemangati dirinya sendiri.


Lalu, seperti ada klik di kepalanya, Harsa teringat pelajaran fisika di kelasnya.


Aku mengikuti arus induksi magnet. Elemen yang dia gunakan adalah elektromagnetik dan dia membuat medan magnetnya sendiri!!


Harsa meliputi sekitarnya dengan aura dan mengambil alih medan magnet yang diciptakan oleh rusa sihir itu. Dia menetralkan medan magnet itu dan dirinya langsung jatuh ke tanah. Dunia di sekitarnya masih berputar ketika Harsa mencoba bangun dan gagal. Harsa memuntahkan makan siangnya tanpa bisa ditahan. Rusa sihir itu menyerang Harsa tanpa ragu ketika melihatnya lengah seperti itu. Namun, Harsa juga tidak tinggal diam. Tanpa bisa memberikan serangan terarah, dia melepaskan ledakan api dari dirinya, yang membakar semua yang berada sepuluh meter dari tubuh Harsa, termasuk rusa sihir itu. Harsa merasa lega karena melihat rusa itu tak lari jauh sebelum akhirnya jatuh masih dengan terbakar. Harsa ingin berdiri dan memastikan bahwa dia telah berhasil memburu rusa itu, jika saja kepalanya berhenti berputar. Harsa menutup matanya untuk menghilangkan rasa pusingnya. Pada saat itu, pikirannya terasa berat dan Harsa kesadarannya perlahan mulai hilang….

__ADS_1


__ADS_2