
Keringat mengalir dari dahi ke pipi Harsa di hari yang sangat menyengat. Hari itu merupakan hari pembagian rapor untuk evaluasi pembelajaran mereka setengah tahun ke belakang. Harsa tidak terkejut melihat nilai-nilainya, namun dadanya tetap berdetak dengan kencang melihat angka-angka di rapornya. Angka-angka terburuk yang pernah dia dapatkan selama bersekolah.
“Yes!” Di depannya, Barasa bersorak pelan.
“Nilai kamu bagus, Barasa?” tanya Harsa langsung penasaran.
“Um, setidaknya nggak ada yang merah.” Jawab Barasa tersenyum. “Kamu gimana?”
Harsa menggeleng. “Turun jauh. Kemarin UASku kacau.”
“Yah, mau gimana lagi. Kemarin kan kamu fokus belajar buat lomba biologi. Kamu menang juga kemarin.”
Harsa mengangguk sambil menghela nafas. “Yah… kurasa memang gak dapat dua-duanya. Maksudku, menang lomba dan nilai bagus.” Harsa hanya berharap kalau ibunya akan memaklumi penurunan nilai Harsa.
Mereka pulang cepat di hari terakhir sekolah di semester satu itu. Seperti biasa, Harsa menunggu hingga sore agar Erik dapat menjemputnya. Dia sudah mengobrol dengan setiap teman yang belum pulang, tapi pada akhirnya Harsa duduk sendirian di kantin. Saat itu, perempuan yang belum lama ini baru dibicarakan di keluarganya datang.
“Sa!” Sapa Aster ramah.
Meski Harsa menutup matanya seolah-olah tidur, dia tidak terkejut dengan panggilan Aster yang keras. Dia sudah merasakan keberadaan Aster dari jauh dengan auranya. Harsa membuka mata dan duduk dengan tegak.
“Belum pulang?”
Aster menggeleng. “Aku menunggu Adi.”
Dahi Harsa berkerut. “Ngapain lagi sama kak Adi?”
“Katanya nanti Adi mau bantu bawa soal tertulis dari tahun lalu.” Jawab Aster. “Oh, iya. Dia juga minta tolong supaya aku ngasih ke kamu juga, tapi maaf, aku lupa. Hehe. Aku nggak paham dah, kenapa kamu nggak langsung ngasih ke kamu aja.”
“Mungkin karena aku nggak punya cincin berisi mantra suara yang jadi teleponnya mereka.” Kata Harsa, namun dalam hatinya dia membatin, itu karena kak Adi mau ngobrol sama kamu. Tentu saja, dia tidak akan membeberkan perasaan Adi begitu saja.
“Jadi nanti dia mau dateng? Ke sekolah?”
Aster menggangguk.
“Ya, udah sekalian aku ikut, yah. Bosen banget nunggu sendirian.”
Adi muncul dari udara kosong tak lama kemudian. Untunglah, kantin sekolah sudah kosong dan tutup sehingga tidak ada yang memperhatikan kedatangan Adi. Dia datang dengan seragamnya seperti biasa, tapi Adi tampak lebih acak-acakan. Rambutnya seperti benang kusut. Bahkan daun-daun kecil tersangkut di sana. Di pipinya, masih ada luka goresan yang sedang sembuh dengan cepat, namun fakta bahwa luka itu tak langsung sembut, berarti luka itu cukup dalam.
__ADS_1
“Wow, Kak. Untung loh lagi sepi.” Komentar Harsa langsung.
“Aku keluar begini karena aku tahu tempat ini sepi. Kalau nggak, aku bakal ke Dunia Material dari tempat yang sepi baru jalan ke sini.” Kata Adi sambil duduk di meja mereka. Dia terdengar tidak berada dalam mood yang paling bagus.
“Kamu kayak baru dirampok.” Kata Aster khawatir. “Apa kamu nggak apa-apa?”
Nada bicara Adi melembut sedikit. “Tidak apa-apa. Selesai menyelesaikan misi aku langsung ke sini. Aku tidak memperhatikan bagaimana penampilanku.”
Dari udara kosong, Adi menarik dua buah jilid modul. Dia memberikan satu pada Harsa dan satu pada Aster.
“Ini soalnya?” Tanya Aster sembari mulai membuka-buka jilid tebal itu.
“Iya. Itu kumpulan soal ujian standarisasi sejak satu dekade lalu.” Jawab Adi.
“Kok, Kak Adi bisa punya? Ini curang gak sih?” tanya Harsa. Walau dia sendiri sudah mulai membaca soal pertama yang ada dalam modul tersebut.
“Bisa diminta dari balai kota. Ujian standarisasi harus mudah agar orang sebodoh apa pun bisa lulus asal belajar dengan benar. Kalau tidak, Raja dapat pusing sendiri karena rakyatnya tak terdaftar. Tapi, aku harus menekankan agar kalian tidak meremehan ujian ini. Kalau nilai kalian tidak cukup bagus, maka tidak akan dapat melanjutkan pendidikan lanjutan ke Universitas Drestha.”
Aster mengangguk-angguk serius.
“Tunggu, kak. Ini apaan? Aku nggak tahu kita harus menghafal undang-undah di Kerajaan Kasarewang juga?!” tanyanya panik setelah mulai membaca lebih jauh.
Adi merengut. “Ya ampun, Sa. Kamu memangnya baru belajar sampai mana?”
“Jujur. Aku baru sampai bab dua di Sejarah Keluarga Kerajaan Kasarewang dan bab satu di Mahkluk Sihir.” Rasa takut dan cemas mulai mencengkram Harsa. Kakinya mulai bergerak-gerak gelisah. “Masih banyak banget ya?”
Adi menghela nafas lelah. “Bagian penting-pentingnya justru ada di bagian belakang! Gimana kamu mau tinggal di Drestha kalau nggak tahu peraturan yang berlaku di sana!”
“Ya, maaf kak. Kemarin aku ada lomba dan UAS juga!”
Adi melototi Harsa. “Jangan bilang kamu belum tahu konsekuensi lulus ujian ini juga?”
“Konsekuensi? Maksud kakak dapat cap yang jadi tanda kedewasaan dan kewarganeraan, bukan?”
Kepala Adi menunduk lalu menggeleng-geleng pelan. “Lalu kalau kamu udah punya itu efeknya gimana?”
Aster merasa kasihan melihat Harsa dipojokkan. Dia ikut turut menjelaskan. “Kalau sudah dapat cap kewarganegaraan. Kita bisa memilih satu dari dua program pemerintahan yang diajukan oleh kabinet mentri dan raja. Itu hak demokrasi Kasarewang. Sebaliknya, karena sudah dianggap dewasa, kita harus mulai memberikan dua jenis pajak. Jenis pertama merupakan upeti pada keluarga kerajaan setiap tahunnya. Jenis lain merupakan pajak untuk program kerajaan.”
__ADS_1
“Apa? Demokrasi?” Harsa sudah sulit mengikuti penjelasan Aster. “Aku pikir sistem pemerintahan Kasarewang itu monarki!”
“Ya, tapi raja dan mentri-mentrinya masih ingin memberikan pilihan akan ke arah mana kerajaan akan bergerak tahun-tahun ke depan.” Jawab Adi frustasi.
“Intinya mereka mengadakan referendum setiap sepuluh tahun sekali. Jadi pajak juga akan diminta setiap sepuluh tahun sekali.” Aster menambahkan.
“Apa itu referendum?” Harsa kebingungan.
“Maaf, aku lupa kamu anak IPA.” Jurusan Aster adalah IPS. “Sama seperti pemilu, tapi kamu memilih bukan untuk orang, melainkan kebijakan. Kayak, apakah kebijakan A ini mau dijalankan atau tidak.”
Harsa mengangguk-angguk. Dia agak menyesali karena Harsa pikir hari ini dapat dia habiskan dengan berleha-leha. “Sepertinya liburan ini aku nggak bisa liburan.” Keluh Harsa. Kepalanya mulai terasa penat.
“Iya.” Adi setuju.
“Kalau aku takut banget dengan mahkluk sihir justru. Mereka beda banget sama binatang yang ada di Dunia Material.” Kata Aster panik. “Terus, jumlahnya banyak banget.”
“Tentang itu memang harus beruntung.” Kata Adi. “Setiap orang akan mendapat pertanyaan tentang binatang sihir yang berbeda-beda. Jadi, tidak ada yang tahu binatang sihir apa yang akan keluar dalam ujian.” Adi menegaskan. “Oh, iya. Kapan kalian berdua ada waktu? Minggu ini kita harus kembali ke Drestha untuk mendaftar ujian.”
“Apa? Daftar? Kan ujiannya masih beberapa bulan lagi?!” Harsa benar-benar tidak siap.
Lagi-lagi Adi mengeleng. “Empat bulan itu waktu yang sangat singkat.”
“Tinggal empat bulan, Sa. Bukan masih.” Kata Aster setuju.
“Ahhhh.” Harsa semakin pusing. “Oke, oke. Karena lagi libur, aku tiap hari juga kosong, kok! Aku akan belajar sebisa mungkin. Janji.”
Akhirnya Adi sedikit bersimpati pada Harsa. “Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk ikut ujian tahun ini.”
“Lebih baik tahun ini, kak. Sekarang aja sudah capek setengah mati. Apalagi kalau nanti ambilnya di kelas tiga?” Keluh Harsa.
“Mangat, Sa! Kamu pasti bisa.” Kata Asster.
“Plis jangan 'yok, bisa yok,' aku.” Balas Harsa dengan rintihan.
Sementara itu, dalam batin Adi, dia membuat catatan mental untuk bertanya apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
__ADS_1