Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Akhir Sekolah (1)


__ADS_3

Harsa menghembuskan nafas lega ketika melihat wajah Gilda muncul di hari kedua sekolah setelah liburan dari Bali. Dia terlihat sedikit pucat, namun dia tetap tersenyum lebar. Dia terlihat kurang sehat, namun tak kesakitan.


“Kamu baik-baik saja, Gil?” tanya Harsa khawatir.


Gilda mengebaskan tangannya. “Lebih penting daripada itu, kita harus rapat.”


“Siang nanti, pulang sekolah. Aku, kamu, Edi, dan Lisa.”


“Apa ini soal kesehatanmu?” tanya Harsa sekali lagi. Dia masih ragu kalau Gilda baik-baik saja.


“Ini soal penyerangan kemarin!”


“Hush!” Mereka berdua diteriaki oleh guru. Gilda segera kembali melihat ke depan, berhenti berdiskusi dengan Harsa. Pulang dari Bali, ujian sekolah sudah di depan mata. Guru-guru harus serius mengajar mereka.


Suasana kelas menjadi sepi total ketika semua murid mulai serius belajar. Banyak dari teman-teman Harsa sudah mulai les intensif untuk mengejar masuk universitas-universitas pilihan. Harsa, merupakan satu di antara sedikit teman-temannya yang belum mulai les intensif. Pascanya, Harsa masih tidak bisa memutuskan kemana dia ingin menempuh pendidikan lanjutan. Atau lebih tepatnya, apa yang dia ingin dia lakukan di masa depan. Oleh karena itu, saat ini, Harsa hanya belajar serius di kelas, dan tentu saja, melindungi dirinya sendiri dari formskitter.


Meskipun Gilda mengikuti pelajaran seperti biasa (dengan tidak begitu serius), Harsa merasa cukup khawatir dengan tingkah Gilda. Dia sering ditegur guru karena melamun. Namun, Gilda selalu mengaku bahwa dirinya baik-baik saja setiap kali ditanya oleh teman-teman.


Tak lama, wali kelas mereka juga memberikan surat lain dari sekolah untuk orangtua murid. Sekolah akan mengadakan acara menginap untuk intensif belajar ujian akhir sekolah. Acara itu diadakan hari Sabtu dan wajib diikuti oleh seluruh murid. Tangan Gilda bergetar ketika mendengar bahwa Harsa harus menginap di sekolah lagi.


“Kita bicarakan ini nanti.” Kata Gilda singkat di pergantian kelas.


Jadi, mereka berempat berkumpul di belakang gedung sekolah. Satu orang murid laki-laki, satu orang murid perempuan, dan dua orang petugas kebersihan berkumpul di tempat anak-anak berandalan biasa merokok. Satu kumpulan yang terlihat cukup aneh. Mereka berempat berjongkok mengikuti Edi.


“Jadi, apa yang mau kita bicarakan?” tanya Lisa.


“Formskitter yang menyerangku kemarin.” Di luar dugaan, Harsa yang memulai percakapan duluan. “Formskitter berbentuk pohon itu, aku pikir kita sudah mengalahkannya pertama kali. Formskitter yang kedua itu muncul kembali, dengan bentuk yang sama, tapi lebih kuat. Apakah itu formskitter yang sama?”


“Aku seratus persen yakin kalau formskitter itu sama dengan formskitter sebelumnya.” Kata Gilda yakin. “Formskitter yang pertama adalah bagian dari formskiter yang memalsukan intinya. Formskitter yang sesungguhnya bergabung dengan manusia. Aku yakin inti dari yang sebenarnya dari formskitter ada di tangan manusia yang waktu itu.”

__ADS_1


“Jadi serangan pertama itu hanya untuk memperkirakan kekuatan kita saja?” tanya Lisa. “Lalu mereka menyerang kita habis-habisan di Bali.”


“Tapi kalau habis-habisan, kenapa mereka lari di akhirnya?” tanya Gilda. “Harusnya mereka serang kita sampai habis-habisan. Lagipula serangan kedua itu bisa masuk ke kamar Harsa tanpa deteksiku sama sekali. Aku tak nyaman karena hal itu.”


“Bukannya itu karena kamu sedang tertidur?” tanya Edi.


“Nggak! Sudah kubilang, tidurpun, aku pasti sadar.”


“Apakah dia masuk lewat sihir teleportasi dari dekrit ruang? Jadi dia bisa masuk ke kamarku tanpa terdeteksi.” Pikir harsa.


“Mungkin.” Gilda setuju. “Tapi itu berarti bahaya sekali. Formskitter yang menguasai dekrit ruang sebenarnya cukup jarang.”


“Aku jadi teringat waktu aku diculik oleh formskitter. Waktu itu juga formskitter datang tiba-tiba.” Cerita Harsa. “Aku tidak melihat formskitter yang sama datang sih.”


“Jadi menurutmu apa yang mereka rencanakan?” tanya Lisa.


“Mereka mencoba menculik Harsa untuk menyelesaikan ekspremen mereka.” Kata Gilda yakin. “Tapi entah kenapa mereka menyerang kita perlahan-lahan, seolah-olah tidak serius. Mereka mungkin mengukur kekuatan kita. Atau… mencoba sesuatu yang kita nggak tahu apa.”


“Ada benarnya juga. Harsa, nanti akan ada acara menginap di sekolah untuk belajar ujian, kan?”


“Ya, aku akan minta ke orangtuaku supaya mereka meminta izin agar aku dibolehkan tidak ikut.” Putus Harsa langsung, meski dengan berat hati. Dia bisa belajar sendiri di rumah. Walau tentu, lebih menyenangkan belajar bersama teman-temannya.


“Tapi apakah mereka akan langsung menyerang setelah gagal di Bali kemarin?” kata Lisa skeptis.


“Kita nggak tahu, tapi kita tetap harus waspada.”


“Justru aku terpikir sebaliknya.” Kata Edi. “Kita harus memanfaatkan serangan mereka, bukan hanya defensif. Sudah dua tahun ini aku menginterogasi Adit tentang lokasi operasi mereka. Tentunya, mereka banyak berkumpul di tepi dunia roh. Setelah dua tahun interogasi, dia mulai membuka sedikit informasi akan bagaimana sistem mereka berkumpul. Sayangnya, tempat mereka berkumpul ada banyak, dan mereka terus berpindah-pindah setiap rapatnya. Untuk tahu dimana mereka akan berkumpul, kita harus mengikuti mereka.”


“Yeah, kita sudah tahu sistem itu sejak lama.” Kata Gilda tak terkesan. “Tapi maksudmu, kita akan sengaja untuk menunggu serangan mereka untuk tahu kemana mereka berkumpul?”

__ADS_1


“Ya.”


Gilda menggeleng-geleng. “Seratus tahun lalu strategi seperti itu mungkin berhasil. Sekarang… formskitter biasanya berpencar dahulu sebelum berkumpul di satu tempat. Kalaupun kita terus-terus membuntuti mereka, biasanya akan masuk ke perangkap yang sudah mereka siapkan sebelumnya.”


“Tidak masalah.” Kata Edi dengan senyum penuh percaya diri. “Kita bisa menunggu mereka sampai beberapa hari dan tetap menemukan sarang mereka tanpa masuk ke dalam perangkap. Kita punya budget untuk hal itu sekarang. Lalu, setelah kita tahu tempat mereka, kita bisa ganti menyerang mereka.”


Gilda melihat Edi dengan khawatir. “Apa kamu yakin kamu bisa melakukan itu?”


“Ya.” Kata Edi percaya diri. “Lagipula kamu harus belajar untuk mengejar nilaimu kan?”


Wajah Gilda memerah mengingat nilainya yang terbakar. “Hahaha, tapi aku tidak perlu lulus. Bagaimana dengan kamu Sa? Apa kamu mau mengambil resiko lagi?”


“Yah… Mereka lari sih kemarin. Aku rasa kita cukup kuat untuk mengatasinya. Lagipula menginap itu cuma satu hari. Belum tentu juga mereka akan menyerang kita.” Kata Harsa mulai bersemangat dia bisa ikut menginap di sekolah. Acara menginap di MOS sudah kacau di angkatan mereka, hingga dia ingin sekali mengalami menginap di sekolah.


“Lisa?” tanya Gilda.


“Aku percaya dengan strategi Edi.” Kata Lisa santai.


“Baiklah. Aku akan coba untuk menegosiasikan bantuan.” Kata Gilda menyetujui rencana mereka pada akhirnya.


Harsa tersenyum senang.


“Kamu bahagia sekali.” Komentar Lisa.


“Yah. Hehe. Tentu saja, jadinya bisa belajar bersama dengan teman-teman. Lagipula aku merasa senang juga karena rasanya kita benar-benar bekerja sama. Kasarewang dan manusia.”


Gilda ikut tersenyum. “Jangan khawatir! Ini baru awalnya saja!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2