
Hari-hari sebelum pembelajaran intensif sekolah berlangsung dengan sangat damai. Damai, sedamai murid kelas tiga SMA yang akan menghadapi ujian akhir dan UTBK. Harsa menikmati hari-hari dimana dia tersiksa dengan soal-soal fisika, matematika, dan biologi, daripada mengkhawatirkan formskitter. Terlebih lagi, dia menikmati melihat teman-temannya yang tersiksa, terutama Barasa, yang sangat tertekan dengan UTBK.
Tiba-tiba, pembicaraan mengenai kampus idaman menjadi makanan sehari-hari. Ketika Elis sedang sibuk mencari-cari beasiswa untuk sekolah di luar negeri, Barasa melakukan riset pekerjaan paling dicari sepuluh tahun ke depan. Dengan dasar itu, Barasa menentukan tujuan kampusnya.
“Kamu yakin memilih jurusan berdasarkan lowongan pekerjaan saja? Bagaimana dengan minat kamu?” tanya Harsa ragu ketika mendengar pilihan jurusan Barasa. Pilihan pertama, teknologi informasi, pilihan kedua, akutansi, ketiga psikologi. “Tiga pilihan ini sama sekali nggak nyambung.”
“Aku nggak begitu peduli soal itu. Pokoknya nanti yang penting aku bisa kerja.” Putus Barasa tegas. “Lagipula kalau mau pilih pelajaran yang kusuka pun, aku nggak suka semua!”
“Hahaha! Kamu memang seperti itu, ya!” Elis merasa terhibur. “Kalau kamu gimana, Sa?”
“Aku mungkin mau ambil fisika karena aku suka fisika, meskipun sering menyiksa, sih.” Kata Harsa sambil ikut tertawa. “Tapi entah… Aku masih galau mau belajar di mana.”
“Kalau Gilda?”
Gilda hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Dia tidak tahu apa-apa soal dunia perkuliahan. Gilda hanya tertawa. “Seadanya saja.”
Tak terasa, mereka acara pembelajaran intensif hingga menginap di sekolah itu. Harsa menyiapkan baju dan bukunya dengan penuh semangat. Pembelajaran intensif di akhir pekan yang guru-guru mereka berikan sangat melelahkan sulit, dan menguras otak. Akan tetapi, Harsa menikmati setiap detiknya. Dia jauh lebih senang belajar bersama teman-teman daripada sendirian. Rasanya jadi seperti bermain daripada belajar. Harsa juga menikmati ekspresi daya juang dari Barasa dan teman-teman yang lain. Semangat belajar mereka menular pada Harsa.
Setengah dari kelas mereka di sekolah dikosongkan untuk menjadi kamar anak-anak perempuan, sementara semua anak laki-laki tidur di aula. Sleeping bag berjajar bagai mereka tinggal di mes. Bukan acara menginap yang paling ideal, tapi Harsa senang acara-cara yang di luar rutinitas. Oleh karena itu, meskipun guru-guru mereka baru saja memanggang otak mereka (secara kiasan tentu saja), mood Harsa masih bagus malam itu. Sayangnya teman-temannya terlalu lelah untuk menanggapi semangat Harsa. Mereka menolak berbicara dengannya karena ingin segera tidur agar malam itu berakhir.
Jadilah Harsa berbaring dalam sleeping bagnya dengan mata terbuka menatap langit-langit aula. Walau lelah, dia tidak bisa tidur. Sebagian karena semangat mengobrol bersama teman-teman, sebagian karena tidur di tempat baru, sebagian karena kewaspadaannya akan serangan formskitter.
Melalui auranya, Harsa dapat merasakan pergerakan dari Edi dan Lisa. Mereka sepertinya membagi jam jaga. Lisa sepertinya sedang tertidur di lantai satu sekolah, sedangkan Edi berjalan-jalan di tempat parkiran. Sementara itu, Gilda diam di antara anak-anak perem puan. Harsa tidak tahu Gilda tertidur atau sadar, tapi dia yakin Gilda tidak akan lengah kalau sampai ada formskitter datang.
Menyerah untuk tidur, Harsa berjalan keluar dari aula menuju kamar mandi. Dia berjalan pelan-pelan agar tidak harus kembali ke aula. Semilir dingin angin malam membuat Harsa semakin sadar. Untunglah dia keluar memakai jaket. Dia memperhatikan kelap-kelip bintang-bintang di langit malam ketika berjalan di koridor sekolah yang terbuka. Harsa jadi ingin berpatroli. Dia tidak enak jika hanya mengandalkan Edi dan Lisa. Namun, bagaimana meminta izin pada gurunya?
__ADS_1
Ketika sedang berjalan-jalan sendirian di lorong, suara seorang perempuan dengan lembut memanggilnya.
“Sa!”
Harsa tidak terkejut. Dia telah merasakan ada orang di belakangnya melalui auranya, tapi dia tidak tahu apakah itu laki-laki perempuan. Yang paling mengejutkanya, perempuan yang memanggilnya adalah Elis.
Harsa berbalik dan tersenyum. “Lis! Belum tidur?”
Elis menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa tidur. Banyak pikiran.”
Tanpa bicara, Elis memposisikan diri di sebelah Harsa. Dia ikut melihat langit malam yang berbintang. Harsa diam, menunggu kelanjutan cerita Elis.
“Aku sudah banyak masukin permintaan beasiswa ke mana-mana, tapi belum ada yang merespon. Aku takut banget. Aku takut tak akan menerima beasiswa, dan harus kuliah kedokteran seperti keinginan orangtuaku. Aku juga takut, kalau aku melawan, aku takut tinggal sendirian. Aku merasa nggak siap untuk mandiri. Mungkin karena nggak biasa tidur di sleeping bag juga, sih. Kalau kamu? Kenapa belum tidur?”
“Karena nggak bisa tidur juga. Bukan karena banyak pikiran sih. Aku hanya….” Harsa berhenti berbicara. Dia mendesah panjang. “Begitulah…”
“Heeh.” Kata Harsa pasrah, tapi dia kaget juga mendengar nada bicara Elis yang penuh pengertian.
“Semoga masalahnya cepat selesai, ya.”
Perang abadi…. Batin Harsa. “Makasih, ya.” Katanya menghargai ketulusan dan perhatian Elis.
“Sama-sama. Oh, iya. Aku juga mau minta maaf.”
“Buat apa?”
__ADS_1
“Kemarin itu, kelihatannya kamu tersinggung karena aku menertawakan sulapmu. Maaf kalau aku lancing dan sok tahu.”
Harsa merasa lega, benar-benar lega. Dia kembali memberikan senyum tulusnya yang terbaik pada Elis. “Nggak apa-apa. Aku juga minta maaf kalau terlalu sensi. Kamu tahu? Aku yakin kamu pasti baik-baik saja. Kamu pasti bisa kuliah di tempat yang kamu mau dan baik-baik saja dengan orangtuamu.”
“Kenapa kamu berpikiran begitu?”
“Karena kamu memang berpendirian teguh, tapi kalau sudah bicara soal meminta maaf dan menyelesaikan konflik seperti tadi, kamu selalu tulus.” Jawab Harsa sungguh-sungguh.
Elis tertawa senang karena dipuji seperti itu. “Makasih, loh. Andai aja hubunganku sama orangtuaku sebagus itu.”
Harsa tidak menjawab lagi. Dia larut menikmati momen berduaan itu bersama Elis. Dia tak percaya momen seperti itu bisa ada. Dia tidak ingin momen itu berakhir.
Tanpa sadar, mulutnya terus mengungkapkan isi hatinya. “Elis, kamu tahu, waktu pertama kali ketemu kamu di MOS, aku sebenarnya sudah su-”
“Meong.” Kata-kata Harsa dipotong oleh seekor kucing liar yang baru menaiki tangga sekolah mereka.
Dahi Harsa berkerut. Dia tidak merasakan keberadaan kucing itu melalui auranya. Apakah dia terlalu larut dalam momen bersama Elis?
“Wah, aku nggak tahu kalau sekolah kita punya kucing liar.” Kata Elis senang. Dia sangat suka kucing. Elis pergi mendekati kucing itu untuk membelainya, tapi Gilda tiba-tiba keluar dari kelas tempatnya tidur dan berlari ke arah mereka.
“JANGAN SENTUH!” Teriaknya kencang.
“Gilda?” Elis berbalik ke arah Gilda kebingungan. Kucing itu melompat ke arah Harsa, namun Gilda yang sigap membuka tudung transparan ke Tepi Dunia Roh di antara kucing itu dan Harsa. Kucing itu melompat masuk ke Tepi Dunia Roh.
“Panggil kakakmu!” Teriak Gilda menyusul masuk ke Tepi Dunia Roh, lalu menutup tudung transparan itu.
__ADS_1
Harsa masih bingung, dan dia tak bisa menghindari tatapan tanda tanya dari Elis. Namun, dalam sesaat, semuanya menjadi jelas. Buku kuduk Harsa bergetar ketika dia merasakan langkah tenang dari manusia yang telah bergabung dengan formskitter berjalan ke arah mereka.