Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Penyergapan (1)


__ADS_3

Hati Harsa berbalap dengan nafasnya yang berburu selagi mereka berusaha untuk diam tak bersuara. Tim itu menutup Kai mereka rapat-rapat agar posisi mereka tak terungkap. Harsa, Adi, dan Edi berada dalam tim yang sama.


Mereka telah membagi diri menjadi dua tim.  Tim penyerang dari dalam dan dari luar. Harsa , Edi dan Adi merupakan tim penyerang. Rucira, Kriya, dan Lisa menjadi penyerang dari luar, yang akan membantu mereka jika terdapat apa-apa. Lisa dan Edi dipisah menjadi dua tim agar dapat menyeimbangkan kekuatan mereka. Adi yang mengajukan pembagian dan serangan ini.


Setelah tiga hari, mereka memutuskan untuk menyergap formskitter itu, karena dia sudah tidak berpindah-pindah lagi. Formskitter itu berdiam diri di daerah Surabaya. Jadi, mereka berenam kembali naik kereta ke sana. Lagi-lagi, Rucira menikmati travel naik kereta seperti berwisata. Harsa hanya bisa menggeleng-geleng kepala.


“Ini bukan tamasya!” Teriak Kriya kesal, tapi Rucira tidak mendengarkan..


Mereka membahas startegi penyerangan di kereta dan memutuskan bahwa membagi kekuatan mereka menjadi dua bagian adalah pilihan terbaik. Mereka berenam membagi diri menjadi dua buah tim. Mereka akan melancarkan serangan yang menghimpit markas formskitter itu. Tim pertama harus masuk dalam markas mereka tanpa ketahuan untuk melancarkan serangan mendadak.


“Tim Pertama harus bisa membawa mereka ke Tepi Dunia Roh.” Kata Adi tegas dalam kereta. “Kita tidak bisa membiarkan pertarungan ini berlangsung di Dunia Material.”


“Tapi siapa yang menyangka kalau mereka benar-benar bersembunyi di Dunia Material? Aku kira mereka semua bersembunyi di Tepi Dunia Roh…” Kata Kriya tidak yakin.


“Aku juga awalnya berpikir begitu, tapi sekarang setelah dipikir-pikir, jadi masuk akal juga karena itu menjelaskan bagaimana kita tidak bisa menemukan mereka di Tepi Dunia Roh.”


“Sebagian anggota mereka merupakan manusia. Jadi bukankah wajar saja kalau para anggota manusia itu menyediakan gedung untuk menjadi markas mereka di Dunia Material?” kata Edi.


”Ya! Memangnya tidak ada yang bisa menangkap orang-orang itu?” Keluh Kriya.


“Dengan undang-undang yang sekarang tidak mungkin, tahu.” Jawab Edi tertawa sarkas. “Tapi berkat pelacakan ini, kami jadi tahu siapa dalangnya. Oleh karena itu, kami akan lebih mudah melacak komplotan mereka.”


Markas utama para formskitter itu terdapat dalam proyek kompleks gedung apartmen yang sudah ditinggalkan. Harsa sedikit bersyukur karena itu artinya pertarungan mereka setidaknya akan jauh dari peradaban dan aktivitas manusia.  Dari jauh, mereka sudah harus hati-hati dan menjaga auranya masing-masing agar kedatangan mereka tidak ketahuan.

__ADS_1


Adi memutar kepalanya, menunjuk pada Edi untuk memimpin. Adi dan Harsa mematikan aura mereka. Untuk mengetahui lokasi formskitter itu, mereka mengandalkan Edi. Pria itu akan terus melihat handphonenya un` tuk mengawasi pergerakan formskitter itu. Sementara itu, Rucira, Kriya, dan Lisa akan diam di luar hingga Harsa memberikan sinyal api ketika mereka sudah terdesak.


Malam hari itu, mereka mulai menyusup masuk ke dalam konstruksi bangungan yang sudah ditinggalkan. Kayu, batu, dan semen yang tidak jadi ditinggalkan berserakkan begitu saja. Mereka masuk ke koridor-koridor gelap tanpa pencahayaan. Hanya beberapa sinar rembulan yang bisa menyusup masuk dari jendela yang belum dipasang dan retakan dinding bangunan.


Suasana di sana sangat sepi. Tak ada satupun suara selain nafas mereka. Dari luar, tidak tampak mahkluk-mahkluk lain yang menjaga wilayah itu. Tampaknya formskitter-formskitter itu sangat percaya diri bahwa mereka tidak akan ditemukan.


Tangan Edi mengarah ke atas, menunjukkan bahwa formskitter itu berada di lantai atas mereka lagi. Namun, tidak ada tangga menuju lantai di atas mereka. Hanya ada bolong di langit-langit di tempat tangga itu harus dibangun.


Harsa dan Edi saling bertatapan bingung. Mereka tidak bisa memakai sihir supaya tidak ketahuan. Adi menepuku punggung Harsa. Dia mengulurkan lengannya di atas lantai, menyuruh Harsa menginjak lengan Adi. Harsa menurut, lalu Adi mengangkat dan melempar Harsa ke atas dalam satu kali hentakkan.


Tubuh Harsa melesat ke atas, dia segera memengang lantai atas dan merangkak naik agar Edi bisa segera naik juga. Namun, tubuh dan pikirannya terdiam ketika dia melihat, di ujung ruangan itu, ada bayang-bayang hitam. Satu ekor ular raksasa sedang duduk dengan tenangnya di pojokan. Ular itu berwarna hitam gelap dengan diameter tubuh setidaknya tiga puluh senti. Akan tetapi, yang paling mengerikan, wajah ular itu merupakan seorang monyet.


Bulu kuduk Harsa berdiri. Ular itu jelas adalah formskitter. Dalam hatinya Harsa berdoa kencang-kencang agar formskitter itu tidak terbangun. Edi ikut naik dengan cara yang sama dengan Harsa. Sayangnya Adi melemparnya sedikit lebih keras.


Mata Harsa beralih cepat dari tubuh Edi ke formskitter itu. Satu pasang mata kuning bercahaya dalam kegelapan malam. Ekor ular itu bergerak cepat ke muka Harsa. Refleks, Harsa menendang dengan physis yang dia ubah menjadi elemen api. Satu sayatan api itu membelah ular itu menjadi dua dan membakar tubuh serta inti formskitter itu.


Terakhir, Adi naik ke lantai itu. Dia melihat seluruh proses yang ada. Dari atas, terdengar suara obrolan berbisik-bisik.


“Formskitter itu datang ke sini!” Bisik Edi panik.


“Yah, berarti kita ketahuan.” Kata Adi tetap tenang. Dia membuka auranya lebar-lebar dan mulai merasakan dimana formskitter itu berada. “Tahan auramu, mereka belum tahu jumlah kita.” Suruh Adi.


Harsa mengangguk. Adi mengirimkan semburan api biru tepat ke arah formskitter itu. Semburan apinya menghancurkan dua lantai di atas mereka, lalu tepat mengenai formskitter itu. Tubuh fromskitter pria berambut panjang itu terbakar.

__ADS_1


“Hati-hati. Formskitter satunya lagi sedang menuju ke sini, lalu ada beberapa orang manusia di daerah ini.”


“Apa aku harus kirim sinyal untuk Lisa?” tanya


Adi menggeleng. “Belum waktunya.” Dia meloncat ke atas dan terbang dengan elemen anginnya. Siap menghadapi formskitter pria itu yang sedang membungkus dirinya dengan kapsul tanah, untuk memadamkan api Adi.


Dengan satu gerakan tangan, Adi membuka tudung ke Tepi Dunia Roh. Dia menendang kapsul tanah berisi formskitter itu ke dalam Tepi Dunia Roh, lalu masuk juga ke dalamnya. Sengaja, dia tidak langsung menutup tudung transparan itu.


“Kita juga lebih baik menyusul Adi ke sana!” Kata Edi sambil berusaha naik ke dua lantai di atas mereka, tempat tudung itu berada.


Harsa mengangguk dan mengikuti Edi. “Rasanya salah satu dari kita harus tinggal di sini! Untuk berjaga-jaga jika ada formskitter lain yang datang.”


“Mungkin kamu bisa membuka auramu supaya kita bisa tahu!” Usul Edi.


Belum sempat Harsa memikirkan usulan Edi, lengan kanan pria itu meledak menjadi serpihan-serpihan kecil. Dia terkena serangan physis jarak jauh. Darah segar mengalir keluar dari bahu Edi.


“AAaaaah!!!” Teriak pria itu kesakitan. Tangan kirinya memegang bahunya untuk menghentikan pendarahan.


Tanpa pikir panjang, Harsa melebarkan auranya. Dia merasakan aura formskitter yang kejam dari luar bangunan itu. Muka Harsa berbalik ke kanan. Dia melihat lubang kecil yang terbentuk di dinding bangunan itu. Tiba-tiba dinding bangungan itu hancur lebur.


Formskitter bertudung dan bertopeng hitam itu sedang terbang di atas udara menggunakan satu pasang sayap hitam yang baru dia ciptakan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2