Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Akhir Sekolah (5)


__ADS_3

Muka menyesal Harsa menjawab pertanyaan Gilda.


Kasarewang wanita itu menghela nafas lelah. “Kau belum menghubunginya, ya?” tanyanya kecewa. “Aku akan mengirimkan pesan padanya sekarang.”


“Bagaiman dengan formskitter yang pertama, apa kamu sudah menghabisinya?”


Gilda menggeleng sambil memasukkan physis ke salah satu tubuh cincin batu akik yang sedang dia kenakan. “Dia sangat ahli dalam menyembunyikan diri. Aku tak bisa melacaknya dengan auraku dan karena itu serangannya juga selalu mendadak dan tak terduga. Dia tipe pengecut yang menusuk dari belakang, tapi karena itu sulit sekali untuk diselesaikan.”


“Apa dia penyebab kenapa kita gagal mendeteksi serangan mereka tadi dan di Bali?” tanya Edi.


“Ya, kemungkinan besar.” Gilda setuju dan menyelesaikan pesannya untuk Adi.


Lisa datang ke tempat mereka dengan tertatih-tatih. “Aku pikir aku tidak bisa bertarung lagi.” Butuh seluruh tenaganya untuk terus berdiri di Tepi Dunia Roh. Persis seperti Harsa ketika dia pertama kali mengalahkan formskitter.


Tepat ketika Lisa selesai berbicara, tanah di bawahnya menaik tinggi. Lisa menjatuhkan dirinya sendiri ke belakang, dengan tipis menghindari serangan dari lunjakan tanah tajam itu menembus kepalanya dan membunuhnya seketika. Gilda, Harsa, Edi, dan Barasa langsung sigap mengantisipasi serangan lain.


“Dia datang!” Teriak Gilda memperingati mereka.


“Aku tidak merasakan apa-apa!” Teriak Harsa tegang. Dadanya berdegap kencang karena dia adrenalinya menaik lagi.


“Justru itu!” Balas Gilda.


“Aku harus mengeluarkan Lisa dulu dari sini!” Kata Edi mengangkat tubuh Lisa yang lemas tak bergerak. Serangan formkitter itu ternyata tepat menghantam dagu Lisa, membuatnya terpelanting ke belakang, menyebabkan kepala Lisa terbentur tanah dan dia hilang kesadaran. “Aku akan segera kembali!”


“Edi! Bagaimana dengan rencana kita sebelumnya?!” tanya Gilda di tengah kepanikannya.


“Masih berlaku, kok!” Teriak Edi kencang sebelum menghilang ke Dunia Material.


“Sa! Selalu gesit untuk menghindar!” Peringat Gilda.

__ADS_1


Harsa menarik Barasa untuk menghindari serangan bebatuan lancip lagi. Kali ini, seluruh tanah di sekitar mereka berubah menjadi stalagmit. Harsa dan Gilda meloncat hingga mengapung di udara. Dari atas, Gilda menebas pedangnya yang penuh physis. Seluruh stalagmit di bawah mereka terbelah menjadi dua, hingga mereka bertiga punya tempat untuk mendarat.


“Uahh!” Muka Barasa pucat pasi. “Aku pikir aku akan mati di sana.”


Kata-katanya tidak ditanggapi oleh Gilda maupun Harsa. Mereka berdua sama-sama berkonsentrasi pada aura masing-masing untuk medeteksi letak dan serangan dari mereka. Physis… Harsa mengingat-ingat bagaimana rasanya mendeteksi physis lain yang bukan physis lingkungan. Physis lain milik formskitter ini….


Gilda duluan yang mendeteksi serangan selanjutnya dari formskitter itu. “Loncat!!!”


Serangan kali ini berbeda dari sebelumnya, tanah di bawah mereka bergetar, dan dua buah patung fbatu berbentuk naga muncul dari bawah tanah. Mulut raksasa mereka menganga. Gigi-giginya dari batu siap menghancurkan tubuh satu orang. Sisik-sisik  yang tajam melenting ke segala arah.


“Gilda! Biarkan aku saja yang mengatasi ini!” Teriak Harsa. “Kamu fokus cari dimana formskitter itu berada!”


Gilda mengangguk.


Vasal Harsa berusaha untuk membuka Kainya dengan lebih lebar, tapi gagal. Lengannya yang menghitam kesulitan untuk mempertahankan bukaan gerbang batu marmer besar itu. Apalagi semakin melebarkannya. Vasalnya terasa terkoyak karena dorongan dari physis yang keluar dan tarikkan ke Dunia Roh. Vasal Harsa melihat ke Dunia Roh di balik Kainya dengan keringat dingin. Cahaya terang hanya menyisakan warna putih polos di sana. Dia tidak pernah tahu kalau membuka Kai lebar-lebar akan mengerikan. Yah, Dunia Roh itu sendiri tidak terasa mengerikan, tapi ide bahwa dia akan meninggalkan keluarga dan teman-temannya di Dunia Material itulah yang mengerikan.


Harsa berkonsentrasi dan melakukan hal yang sama pada patung naga hidup satunya lagi. Saat itulah, Gilda mendaptkan petunjuk. Tanpa ragu, dia mengarahkan pedangnnya ke bawah dan menjatuhkan dirinya dengan kecepatan tinggi. Ledakan besar terjadi ketika pedangnya menghantam tanah. Walaupun, kekuatan Gilda begitu spektakuler, Harsa tidak yakin apa yang sebenarnya tentara Kasarewang itu tusuk.


Dia melepaskan sihir elemen elektromagnetiknya dan terjun ke bawah bersama Barasa. Lalu, Harsa menyerosot ke tengah kawah bear yang Gilda buat  dalam proses memojokkan formskitter itu. Dahi Harsa berkerut melihat apa yang Gilda tusuk.


“Cacing?” tanya Harsa tersejut.


Tak lama, cacing yang dia maksud itu berubah menjadi formskitter berbentuk manusia. Formskitter berwujud pria pucaat berambut panjang yang dulu menculiknya. Sekali lagi, dia tertawa keras-keras. Dada Harsa langsung berdegup kencang mendengar tawa seperti itu. Dia teringat lagi peristiwa penculikkannya. Harsa langsung mundur dua langkah ke belakang. Nafasnya menjadi berat karena cemas. Tubuhnya bergetar karena takut.


“Kamu tak apa?” tanya Gilda yang juga sudah berantakan.


“Mungkin kita nggak perlu menjalankan rencana Edi. Bunuh saja dia di sini!” Pinta Harsa sambil menutup telinganya, mencoba menghalangi suara tawa mengerikan itu masuk ke otaknya.


“Diam kau!” Gertak Gilda. Formskitter itu tentu menghiraukannya. “Diam atau kubunuh kau!”

__ADS_1


“Sejak kapan formskitter takut dengan Kasarewang?! Hahahaha.” Balasnya tanpa gentar.


Saat itulah, Edi kembali masuk ke Tepi Dunia Roh. “Wah, kalian berhasil memojokkannya.” Kata Edi senang sambil memeriksa formskitter itu.


Barasa yang dari tadi menenangkan dirinya sehabis pertarungan yang menantang maut, kali ini melihat Harsa dengan rasa kasihan. Dia merangkul Harsa untuk menenangkan temannya itu.


“Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai…” Kata Barasa dengan tenang.


“Sudah selesai?” Sebuah suara yang terdistorsi menanggapi Barasa dari belakang mereka.


Sebelum Barasa sempat menengok ke belakang, sis umber suara itu menembakkan physisnya yang khusus ke kepala Barasa. Anak laki-laki malang itu terpental dan berguling beberapa meter ke depan Harsa.


“Barasa!” Teriak Harsa semakin panik. Rasa bersalahnya langsung menhujam Harsa. Elis… dan sekarang Barasa… Kakinya sudah mau berlari untuk menghampiri Barasa, namun lengannya yang menghitam tiba-tiba terasa sakit. Dari sana, keluar formskitter berbentuk kucing yang akan digabungkan olehnya. “Argghhh!!!”


Formskitter berbentuk kucing itu meledak menjadi cairan hitam yang mengikat Harsa di tempat. Harsa kehilangan kendali akan vasalnya yang sudah kelelahan. Tanpa kendali akan vasalnya, Kainya tertutup rapat-rapat sementara semua physis Harsa telah habis terpakai. Badannya langsung lemas terkena tekanan physis di Tepi Dunia Roh.


Gilda melepaskan tusukan pedangnya dari formskitter itu dan berbalik menyerang si sumber suara. Dia adalah formskitter bertudung dan bertopeng hitam. Sekarang, aura mengerikan dari formskitter itu terasa jelas ketika formskitter pria yang satunya sudah tak berdaya. Gilda tidak akan lengah lagi, dia berjanji dalam hati. Gilda memfokuskan diri untuk mendeteksi serangan physis dari formskitter itu sementara Edi menjebak formskitter yang satunya.


Gilda menebaskan pedangnya dari jauh. Serangannya yang terbuat dari physis melayang cepat mengejar formskitter itu kemana pun dia pergi. Formskitter itu melesat cepat menghindari semua serangan Gilda. Namun, jarak mereka semakin mengecil. Gilda mendekatinya dengan hati-hati, menghindari semua physis tak terlihat yang dapat menembus physis pertahannya dan melentingkan tubuhnya. Gilda sudah tak terlalu lagi melingkupi tubuhnya dengan physis. Dia memfokuskan sisa-sisa kekuatannya untuk menyerang. Lukanya dari pertarungan sebelumnya membuat gerakan-gerakan Gilda tertahan. Dia belum sembuh sama sekali.


Tentara Kasarewang itu sudah siap-siap akan menebas formskitter di depannya dari atas ke bawah, namun Gilda tak pernah mengira bahwa formskitter itu bisa bergerak lebih cepat lagi. Tangan kiri formskitter bertudung itu menyentuh perut Gilda duluan, tepat dimana Kainya berasa. Dengan satu sentuhan itu, Gilda terdorong ke belakang. Ketika terjatuh terlentang di antara rerumputan hijau, tubuhnya sudah tak berdaya.


“HAHAHAHAHA!” tawa mengerikan formskitter yang tertahan oleh Edi semakin menjadi-jadi. Dahi Edi berkerut dan bingung apa yang harus dia lakukan. Di tengah kebingungannya itu, formskitter pria yang dia tusuk membebaskan dirinya sendiri dengannya mengoyakkan tubuhnya menjadi dua, lalu kembali menggabuhkan kembali dirinya setelah terbebas dari tombak Edi.


Dia berlari kegirangan ke arah Harsa yang masih berusaha sekuat tenaga untuk bergerak.


“Haha!!! Dapat kau!! Dapat kau!!”


Harsa tidak bisa menahan air matanya karena harus menghadapi mimpi buruknya lagi. Seolah menyesuakan dengan suasana hati Harsa, angin di sekitar mereka mulai mengencang. Tepat sebelum tangan formskitter laki-laki itu menyentuh Harsa, putih beliung menimpa mereka.

__ADS_1


__ADS_2