
Harsa memainkan pembakar kata yang baru saja dibelikan Adi untuknya dan Aster. Balok kecil yang terbuat dari dari bahan seperti resin dan batang kayu itu jujur tampak indah jika diperhatikan. Ukuran balok itu kecil, hanya seluas satu hingga satu sentimeter. Meskipun indah, cara pakainya tak semudah yang Harsa kira. Sebelumnya, dia pikir dia hanya perlu mencap-cap kertas, tanpa perlu kemampuan motorik halus yang baik. Namun, ternyata, untuk membentuk huruf-huruf itu dengan physis jauh lebih sulit dari yang dia kira. Meskipun pembakar kata itu berbentuk cap, tulisan dia masih saja jelek.
“Ugh.” Keluh Harsa. Dia meletakan pembakar kata itu di ujung meja. “Nanti saja deh.”
Dia kembali fokus pada buku pelajaran Mahkluk Sihir yang baru dia baca hingga setengahnya. Harsa mendahulukan buku pelajaran Sejarah Keluarga Kerajaan Kasarewang. Sungguh, setelah menyelesaikan satu buku itu, Harsa merasa judul bukunya sangat melenceng. Isi buku itu bukan hanya tentang keluarga kerajaan Kasarewang, melainkan juga tentang peraturan dan undang-undang yang berlaku di Kota Drestha. Mulai dari peraturan tidak boleh membuah sampah sembarangan, gaji minimum di Kota Drestha, sampai ke pajak dan batasan kekuasan Raja, yaitu sebenarnya, hampir tidak terbatas. Untuk menyelesaikan satu buku Sejarah Keluarga Kerajaan Kasarewang, Harsa menghabiskan tiga bulan penuh. Lalu, dia berusaha untuk mengejar ketertinggalannya dalam hal buku pelajaran Mahkluk Sihir. Harsa menghabiskan tiga minggu penuh untuk mempelajari buku Mahkluk Sihir Kasarewang. Dia sangat panik karena sudah tinggal satu minggu lagi menuju ujian, dan Harsa baru mencapai setengah buku Mahkluk Sihir.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan kamar Harsa masih terang benderang. Pintu kamarnya diketuk dua kali, sebelum kepala Erik muncul dari balik pintu kamar Harsa.
“Kamu belum tidur?” tanya Erik dengan nada khawatir. “Besok sekolah kayak biasa, loh.”
“Iyaa, Pa. Besok tolong bangunkan ya, kalau aku sampai gak bangun…” Pinta Harsa lemas.
“Kamu kenapa, lagi banyak tugas dan ulangan?”
“Minggu depan sudah ujian, Pa. Ujian standarisasi Kasarewang.” Harsa lanjut curhat. “Aku baru setengah baca buku Mahkluk Sihir. Gimana, nih. Bingung banget.”
“BIngung gimana nyelesainnya?” tanya Erik.
“Iya…”
“Kalau memang tidak keburu, kamu nggak perlu paksa ikut.”
“Aku kan sudah daftar.” Kata Harsa. Lalu dia menceritakan semua yang terjadi ketika dia mendaftar ujian dengan Aster dan Adi.
__ADS_1
“Begitu, ya.” Erik megangguk-angguk.
“Kalau sudah begitu, aku malah lebih pengen ikut ujian pa. Aku ingin buktikan ke mereka kalau manusia dan setengah manusia juga bisa dapat cap kewarganegaraan itu.”
“Aku nggak mau melarangmu, sih. Kalau kamu mau, ya berjuanglah, tapi tetap jaga Kesehatan, ya.” Kata Erik sebelum kembali menutup pintu kamar Harsa. “Papa tidur dulu. Malam.”
“Malam, Pa.”
Selepas ayahnya pergi, Harsa kembali berkonsentrasi membaca buku Mahkluk Sihir.
“Banyak dari formskitter yang berbentuk binatang sihir dan menguasai sihir, namun terdapat perbedaan antara binatang sihir dan formskitter.” Kata Harsa keras-keras dalam bahasa Kasarewang, untuk melatih pelafalannya. “Perbedaan itu terletak pada insting mahkluk sihir dan formskitter. Mahluk sihir cenderung takut dan menghindari Kasarewang, tapi fomskitter sangat agresif pada Kasarewang. Binatang sihir dan formskitter sama-sama memiliki inti, namun, dalam inti formskitter, terdapat mantra yang membuat formskitter dapat merubah bentuknya.”
Ketika sedang enak-enaknya belajar, bulu kuduk Harsa berdiri. Tangannya langsung berkeringat dingin ketika auranya merasakan sesuatu yang jahat berjalan ke arah rumahnya. Dari auranya, Harsa dapat merasakan formskitter yang telah terbentuk berkeliaran di rumah sana.
Kebetulan sekali, lagi dibahas langsung muncul. Pikir Harsa.
Seluruh ruang kamarnya berubah menjadi lembah berumput ketika Harsa menginjakkan kaki di Tepi Dunia Roh. Seperti biasa, gravitasi bumi seolah menaik sepuluh kali lipat, namun Harsa sudah mulai terbiasa dengan tekanan itu. Dia dapat berdiri dengan sedikit physis yang dialirkan ke seluruh tubuhnya.
Seratus meter di depan, dia dapat melihat gerombolan tawon terbang mendekatinya. Meski sudah mulai percaya diri, keringat dingin mulai mengucuri dahinya. Sepertinya, bagaimana pun juga, Harsa tidak akan terbiasa bertarung dengan formskitter.
Dia melompat ke depan. Harsa mengumpulkan physis di tenggorokannya dan mengubahnya dari elemen api. Api menyembur keluar dari mulut Harsa bagai naga. Api merah itu membakar ratusan lebah dan tawon sekaligus. Akan tetapi, jumlah tawon-tawon itu tak berkurang. Selalu ada tawon baru yang tampaknya terbentuk dari udara kosong. Tawon-tawon itu menyerang dengan sengat mereka. Harsa memperkuat physisnya hingga sengat tawon berphysis itu tidak menyentuh kulitnya. Harsa berkali-kali membakar tawon-tawon itu, namun usahanya sia-sia.
Kalau begini terus, aku akan kelelahan membuka Kai sebelum bisa mengalahkan formskitter ini. Dimana intinya??!! Tanya Harsa panik.
__ADS_1
Dengan susah payah, Harsa meledakkan api dari sekujur tubuhnya selebar-lebarnya, membakar sekian banyak dari tawon itu. Sisa-sisa tawon itu berkumpul menjadi satu tawon raksasa. Sengatnya mencuat seperti pedang keras dari besi. Harsa tahu, dia tidak akan dapat menahan serangan dari sengat besar karena physisnya juga sangatlah padat.
Dia berkali-kali menghindari tusukan sengat raksasa itu sebelum akhirnya dapat memunculkan pedang api putihnya. Dengan pedang putihnya, Harsa dapat menahan serangan sengat tawon itu. Meskipun begitu, Harsa terus terdesak ke belakang. DIa kesulitan untuk menyeranag balik karena baik badan ataupun pikirannya sudah lelah. Biasanya, dia sudah tidur jam segini.
Harsa terus melompat ke belakang. Dia berkali-kali berteriak agar otaknya berpikir untuk mencari cara membunuh formskitter itu, namun tidak ada respon apa-apa.
Kenapa? Dimana intinya? Tawon-tawon kecil itu tak berinti. Atau….apakah intinya tersebar di setiap tawon kecil, lalu ketika menyatu mereka menjadi inti yang besar?
Saat itulah, akhirnya, Harsa menemukannya. Jauh di belakangnya, di salah satu pohon jati di lembah itu, dia melihat sebuah sarang lebah yang memancarkan aura aneh. Tak perlu bertanya lagi, dia sembilan puluh sembilan persen yakin bahwa sarang lebah itu adalah intinya.
Harsa tahu dia berjudi, namun tanpa berpikir lagi Harsa melemparkan pedang putihnya ke sarang lebah itu, sembari menghindari serangan sengat tawon raksasa di depannya. Sekali lagi. Tawon itu kembali menyerang Harsa dengan sengatnya. Ujung sengat tawon itu satu senti jauhnya dari dada Harsa ketika pedang api putih Harsa mengenai dan membakar sarang lebah tersebut.
Tiba-tiba, tawon raksasa itu berhenti, lalu tubuhnya berubah menjadi abu dan terbang dibawa oleh angin. Harsa bernafas lega. Dia menjatuhkan badannya ke tanah berumput, lelah secara fisik dan mental.
“Hampir saja.” Batinnya.
Harsa sedang enak-enaknya beristirahat ketika satu burung gagak terbang di antara bintang-bintang malam. Dia tidak memikirkan banyak soal burung gagak itu, hingga burung itu terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Harsa, lalu sesuatu benar-benar terasa salah.
Burung itu membesar dan sosoknya berubah menjadi seorang pria yang tidak dia kenal. Yang lebih mengerikan, pria itu tiba-tiba mengeluarkan aura seorang formskitter. Dia jatuh tepat ke atas Harsa. Baru juga setengah bangun, tangan pria itu mencengkap mulut dan hidung Harsa. Dia tertawa bagai orang gila.
“Hahahahahah!! Kena juga kauu!!!”
Mata Harsa melotot. Dia meronta-ronta untuk melepaskan diri dari formskitter itu. Usahanya sia-sia ketika tubuhnya semakin lama semakin lemas, dan kesadarannya berujung hilang.
__ADS_1