
Masa-masa SMA.
Orang-orang bilang mengatakan bahwa masa-masa SMA adalah waktu yang paling tak terlupakan. Oleh karena itu, Harsa telah menantikan minggu pertama sekolahnya bahkan, jauh sebelum liburan keluarga mereka. Sejauh ini, Harsa menikmati waktu-waktunya berkenalan dengan teman-teman baru. Pelajarannya jauh lebih sulit dari yang Harsa bayangkan dan kegiatan klubnya sangat aktif. Puas walaupun lelah, itulah perasaan Harsa. Namun, di balik semua keseruan yang dia nikmati dari sekolah barunya, perhatian Harsa terfokus pada kegiatannya di akhir pekan.
Belajar sihir dengan Adi.
Setiap hari Sabtu dan Minggu, Adi membawanya ke Tepi Dunia Roh dan mengajarinya tanpa ampun. Dari subuh di hari Sabtu hingga malam di hari Minggu, Harsa harus berlatih membuka dan menutup Kainya di bawah pengawasan Adi. Berlatih untuk menggunakan sihir sangat melelahkan, namun memuaskan. Terutama bagian dimana Adi mengangguk, tanda bahwa Adi mengakui kemajuannya dalam sihir.
“Kerja bagus. Kamu sudah mampu mengalirkan physis murni ke seluruh tubuhmu dengan lancar.” Puji Adi. “Dari sepuluh kali percobaan, delapan kali kamu juga berhasil mengeluarkan physis, bukannya elemen api dari tubuhmu. Sekarang, mungkin sudah waktunya aku menjelaskan tinggkat selanjutnya.”
Harsa mengangguk. Dia masih terengah-engah.
“Selanjutnya, aku mau mengajari kamu aura.”
“Aura?”
“Ya. Coba kamu keluarkan physis secara perlahan dalam jumlah kecil. Seperti ini.” Dari Adi, Harsa bisa merasakan ada aura tipis yang keluar walaupun aura itu sama sekali tidak mencengkam seperti biasanya. Selain itu, sangking tipisnya physis yang keluar dari tubuh Adi, ‘penampilan’ manusianya tidak berubah. “Dapat? Fungsi aura itu untuk mempersepsi physis murni yang ada di sekitarmu. Tabrakan antara physis dari kamu dan physis dari lingkungan, akan memudahkan kamu mempersepsi sekelilingmu.”
Mengalah, Adi juga ikut duduk. “Baiklah, tapi kalau sedang bertarung kamu tidak dapat istirahat seperti ini lho.”
Harsa tidak bisa menjawab Adi. “Ya, aku setuju. Memangnya, kalau Kak Adi kehabisan physis dan tenaga untuk membuka Kai kembali, apa yang akan Kak Adi lakukan?”
Mulut Harsa kaku memikirkan bahwa dia telah salah bertanya. Pada awalnya, dia pikir Adi akan menjawabnya dengan sinis, ‘Aku tak pernah terlalu lelah untuk membuka pintu Kai ku lagi.’, namun Adi menjawabnya tanpa nada. “Pada saat itu, aku memakai physis yang tersedia di lingkungan. Kalau memang dekat dengan sumber air, biasanya aku menggunakan elemen air dari sumber air itu.”
“Hm benar juga. Kalau begitu sihir jadi lebih mudah dan tidak melelahkan kan? Kalau menggunakan physis dari lingkungan.” Kata Harsa, mulai mempertanyakan kenapa dia repot-repot harus belajar membuka dan menutup Kai.
Tanpa ditanya, Adi sudah menjelaskan. “Tapi resikonya besar ketika kita mengunakan physis lingkungan. Jika sihir yang dilakukan terlalu besar, maka keseimbangan elemen di sana bisa terganggu, lalu bencana alam bisa terjadi. Sebenarnya bukan saja menggunakan physis di lingkungan, terlalu banyak physis yang dikeluarkan ke lingkungan juga bisa menganggu keseimbangan alam. Dalam kasusmu, kamu paling mungkin menyebabkan kebakaran, angin putting beliung, atau kekurangan oksigen dalam satu wilayah.” Jelas Adi. “Jadi, itu pentingnya untuk kamu untuk kamu bisa menyerap physis juga. Setidaknya, kamu bisa kembali menetralkan elemen dan physis yang sudah terlalu banyak di lingkungan.”
Harsa mengangguk-angguk. “Begitu.”
“Tapi kalau kamu menyerap physis hanya untuk makan dan mengisi tenaga kembali, itu nggak apa-apa. Kalau sedikit, tidak akan berpengaruh. Apalagi kalau kamu menyerap elemen api ketika ada kebakaran. Cara itu lebih cepat, lebih kenyang, dan lebih efesien dari makan bukan? Sekarang, coba kamu mulai latihan lagi.” Kata Adi sembari membantunya berdiri.
Iya, tapi nggak enak. Nggak akan ada rasanya seperti kalau makan masakan mama. Batin Harsa dalam hati. “Jadi nggak ada istirahat ya?” Tanya Harsa berharap Adi akan lebih toleran.
__ADS_1
“Tidak.” Tolak Adi tegas.
Harsa menghela nafas, tapi dia tak punya pilihan. Nggak masalah, Kata Harsa pada dirinya sendiri. Tantangan macam apapun pasti akan kulewati.
***
Harsa punya banyak pertanyaan tentang Barasa, namun Adi tak sanggup menjawab satu pun pertanyaannya.
“Maaf, aku tidak tahu banyak soal sihir manusia. Aku akan coba tanya ke temanku yang mengambil mata kuliah Studi Manusia.” Jawab Adi dengan wajah memerah. “Atau coba kamu tanya Ayah. Dia tahu banyak soal manusia karena tinggal lama dengan manusia.”
“Ya, aku tanya papa deh. Kayaknya memang harus begitu.” Harsa agak takut Erik akan marah kalau dia tahu bahwa ada satu orang lain yang tahu soal sihirnya, namun sepertinya dia tak punya pilihan lain.
Jadi, di pagi hari, pada waktu Erik mengantarnya ke sekolah, Harsa membeberkan pertanyaannya. “Pa, aku punya teman namanya Barasa. Waktu formskitter datang ke sekolah kemarin, dia bantu menahan formskitter. Nah, aku udah yakin banget dia pakai physis untuk memperkuat badannya, tapi dia bilang iitu tenaga dalam. Terus dia juga bilang kalau formskitter itu legenda bayangan. Aku nggak paham, Pa.”
“Ohhh. Soalnya formskitter itu kalau datang ke Dunia Material, tetap bisa terlihat oleh manusia. Memang kasusnya jarang, tapi dulu sempat juga ada formskitter yang datang ke Dunia Material untuk membunuh Kasarewang. Ketika terlihat oleh manusia, mereka membuat legendanya sendiri tentang formskitter. Soal tenaga dalam temanmu itu, aku yakin itu physis kok. Kadang-kadang manusia suka membuat cerita mereka sendiri tentang physis. Jadi temanmu mungkin menggunakan physis, walau dia tidak menyadarinya.”
“Ooohh. Begitu.” Harsa mengangguk-angguk. Dalam pikiran Harsa terlintas satu pemikiran random. “Apa kalau begitu dukun-dukun juga memakai sihir?”
“Iya, santet gitu.”
“Hmm. Kadang ada yang bisa dijelaskan pakai sihir, tapi kalau sudah soal berinteraksi dengan makhluk roh seperti melihat hantu atau menjadi medium gitu, itu sudah berada di luar lingkup sihir. Karena mereka berhubungan langsung dengan mahkluk roh. Kemampuan seperti itu lebih seperti psychic daripada sihir.”
“Aku kira tidak ada yang bisa ke Dunia Roh.”
“Iya. Apa Adi sudah menunjukkan peta dunia yang berupa diagram venn itu?”
“Yaps. Aku masih ingat jelas.”
“Kamu ingat Dunia Material? Letak Dunia Material berada di antara tumpang tindih antara dua dunia roh. Artinya, ketika kita berada di Dunia Material, kita berada juga di Tepi Dunia Roh, dan Kedua Dunia Roh, baik yang positif dan negatif. Jadi di Dunia Material ini, ada juga mahkluk roh. Yang Adi maksud nggak ada yang bisa ke Dunia Roh itu, nggak ada yang bisa ke Dunia Roh di luar Tepi Dunia Roh. Di sana, hanya mahkluk roh yang bisa hidup.”
“Jadi hantu itu nyata?” Tanya Harsa, bulu kuduknya bergidik. Kembali membayangkan bagaimana kuatnya aliran physis di sana yang dia intip dari Kainya, dia tahu bahwa kata-kata Ayahnya benar.
Erik tersenyum. “Ya. Meski aku bilangnya mahkluk roh. Tapi tenang saja. Sekarang aku memang nggak bisa mendeteksi physis lagi, tapi dulu waktu aku masih bisa, aku nggak pernah menemukan mahkluk roh yang cukup kuat untuk menggerakan physis di dunia material.”
__ADS_1
“Gimana papa bisa menemukan mahkluk roh?”
“Kalau yang bisa mengendalikan physis terasa ada physis berkumpul di sekitar mereka. Dulu pas aku masih siswa, aku pernah bertemu satu di bagian dalam Tepi Dunia Roh. Agak menakutkan memang. Nggak kelihatan, tapi physisnya besar sekali. Kalau kamu sampai berjumpa satu di Tepi Dunia Roh, jangan dilawan. Hanya Raja Kasarewang yang mampu berhadapan dengan mahkluk roh seperti itu.”
“Hanya Raja Kasarewang? Apa mahkluk roh itu benar-benar kuat?”
“Hmm, sulit dilawan karena kita nggak punya sihir untuk melukai roh. Sementara mahkluk roh yang mampu mengendalikan physis, bisa menyerang kita yang punya badan materi, sedangkan kita nggak bisa melukai mereka. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Kalau yang di dunia material… Aku nggak pernah menemukan yang sampai bisa menggerakkan physis atau elemen. Kalaupun ada, biasanya jumlah physis yang bisa mereka kendalikan sedikit.”
“Ohh.” Harsa mengangguk-angguk, bersyukur mereka membicarakan topik ini di pagi hari.
“Yang perlu kamu khawatirkan itu formskitter. Mereka ganas banget sama Kasarewang. Apalagi sekarang segel kamu sudah hancur, mereka lebih mudah mencari kamu.”
Deg. “Apa mereka akan datang lagi?” tanya Harsa khawatir. Bukan semata-mata pada dirinya sendiri, tapi dia juga teringat Aster dan Barasa yang terluka kemarin.
“Ya. Pasti. Tinggal tunggu waktu saja.”
Sekarang Harsa bukan cuma takut, tapi cemas. “Kalau begitu apa nggak apa-apa aku ke sekolah? Kalau misalnya mereka datang lagi dan melukai teman-teman….”
“Jangan khawatir. Mereka tidak akan datang secepat itu. Kamu fokus saja berlatih menjadi lebih kuat sama Adi. Lagipula Adi sering pulang sekarang. Dia pasti akan memperingatimu kalau formskitter mau menyerang.”
Harsa mengangguk, meski dia belum benar-benar yakin.
“Kamu pulang jam berapa hari ini?” tanya Erik. Mobil mereka sudah sampai di gerbang sekolah.
“Ah, iya. Hari ini aku pulang sore, Pa. Mau ada kegiatan klub. Mungkin jam empat atau jam lima gitu.” Kata Harsa sambil bersiap untuk turun.
“Oke, nanti aku bilang ke Darma.” Jawab Erik. “Kamu ikut klub apa?”
“Hari ini klub sulap.” Atau sepertinya klub sihir. Tambah Harsa dalam hati. Ya, hari ini adalah hari pertama dia akan menepati janjinya pada Aster. Janji untuk ikut klub sulap sambil mencoba mengajarinya sihir.
__ADS_1