
Mulut Aster terus berkomat-kamit langsung hilang sudah ketika melihat Harsa terbaring lemas di jejeran kasur rumah sakit. “Sa! Ya, ampun kamu nggak apa-apa?”
“Uahh!” Harsa terkejut karena masih setengah tidur. “Heii! Ter! Kak!”
“Ayo, bangun. Tidak ada lagi waktu untuk diam.” Kata Adi tegas. “Nanti terlambat.”
Mereka bertiga pergi ke gedung Kementrian Kemasyarakatan di dekat alun-alun. Di sana, anak-anak peserta ujian standarisasi sudah berkumpul. Mereka dibagi dalam beberapa portal mozaik warna-warni sesuai dengan tanggal mendaftar ujian standarisasi.
Ketika menjejakkan kaki di antrian itu, anak-anak yang mengantri langsung menyadari keberadaan Aster dan Harsa. Beberapa di antara mereka berbisik-bisik dan beberapa langsung menampikkan ekspresi tak suka pada mereka. Harsa menghela nafas panjang, sementara Aster mulai meremas jari-jemarinya.
Adi sudah akan membuka mulutnya, namun Harsa langsung memotongnya.
“Ya, kak. Aku paham. Tak semua Kasarewang seperti itu. Aku juga percaya hal itu karena melihat kak Adi, papa, dan teman-teman kak Adi. Karena itu, aku berniat untuk ikut ujian ini. Aku tak akan menjadi sama dengan orang-orang itu dan menilai semua Kasarewang sama.” Kata Harsa tegas.
Adi tak bisa menjawab. Dia hanya mengambil satu pasang pedang dengan mengaktifkan salah satu cincin di tangannya. Adi mengulurkan dua pedang kembar itu pada Harsa. “Ini untukmu. Hadiah ulang tahun yang waktu itu.”
Pedang kembar itu hanya satu meter panjangnya. Kedua gagangnya terbuat dari kayu mahoni yang dipoles dengan halus. Dua gagang itu saling melekat satu sama lain. Sekali pegang, Harsa tahu ada gelombang elektromagnetik yang saling menarik dari kedua bilah pedang itu. Bilah pedang kembar itu dimasukkan ke dalam satu buah sarung yang terbuat dari bahan yang sama seperti gagangnya. Pedang itu terlihat sederhana, namun cukup berat. Ketika Harsa gagang pedangnya ditarik, dua buah bilah yang terbuat dari tanduk rusa tampil keluar. Kedua bilah pedang itu memiliki warna coklat yang jauh lebih gelap daripada warna-warna tanduk sebelumnya. Namun, seperti elemen yang dipakai oleh rusa yang ditangkap hari itu, terdapat beberapa corak seperti kristal kuning yang menyala redup.
“Di dalamnya ada kristal yang menyimpan mantra magnetic. Kamu bisa memakainya dengan memasukkan physis ke bilah pedang itu.” Jelas Adi.
“Wow, makasih, kak…. Ini hadiah ulang tahunku?” tanya Harsa masih kagum. Ini pertama kalinya dia memegang senjata seumur hidupnya.
“Ya.”
“Apa aku boleh pakai ini di ujian?” tanya Harsa ragu. DIa tidak melihat partisipan lainnya membawa senjata.
“Ya, tentu saja. Yang lain jug pasti bawa kok.” Kata Adi memenangnkan. “Tapi tentu saja untuk ujian praktik, bukan tertulis.”
“Makasih banyak, Kak.” Jawab Harsa tulus.
__ADS_1
“Jangan iri lagi kalau aku kasih macam-macam ke Aster, ya, karena harganya lumayan mahal.”
“Aku nggak iri, kok. Aku cuma…” Kata-kata Harsa berunjuk hilang setelah menangkap sosok Aster. Untunglah temannya itu tidak menyadari percakapan di antara mereka berdua karena sedang sibuk menghafal.
Adi melototi Harsa dengan wajah memerah. “Lalu jangan pakai ke manusia tentu saja.”
“Iyalah! Gak perlu diomongin juga aku tahu.”
“Ya, jangan lupa lakukan yang terbaik untuk tes mu. Aku tidak akan menekan untuk lulus, tapi semoga lulus ya!”
Para peserta dibagi ke dalam ruangan-ruangan yang memuat puluhan anak. Mereka semua duduk di meja yang tertutup. Di atas meja itu, sudah tersedia lembar jawaban dan cap untuk menulis. Suara tuk-tuk-tuk cap dari peserta ujian lainnya sama saja mendistraksinya dengan suara ketikan laptop ketika sedang mengikuti ujian lewat komputer.
Harsa dapat menjawab pertanyaan tentang pengetahuan umum dengan mudah. Sederhananya, soal-soal itu mengingatkan Harsa tentang soal-soal ujian sekolah anak SD dulu. Mungkin, bahkan lebih mudah dari itu. Bagian kedua dimulai ketika muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai keluarga Kerajaan Kasarewang dan peraturan-peraturan yang ada di Kota Drestha. Dahi Harsa mulai berkerut saat berkonsentrasi mengingat materi yang dia sikat selama kurang lebih dua bulan. Dia menyelesaikan bagian kedua itu dengan keringat dingin.
Tibalah bagian tiga. Pertanyaan-pertanyaan tentang mahkluk sihir. Harsa mulai dengan mencari pertanyaan-pertanyaan yang dapat dia jawab seperti habitat naga, dan nama naga, dan…. Harsa mulai membaca pertanyaan dari awal lagi. Tangannya mulai lengket karena keringat.
Habitat kuda bertanduk… Unicorn bukan? Meski Harsa dapat menebak-nebak nama-nama binatang itu dari legenda yang dia tahu, Harsa tidak dapat menjelaskan dari mana asal mereka, apa penguasaan dekrit mereka, dan bagaimana ekosistem binatang-binatang itu tinggal. Lebih parah lagi, di pertanyaan terakhir, Harsa diminta untuk mendeskripsikan seluruh penampilan, kekuatan, makanan, dan tempat tinggal dari singa berapi. Padahal, Harsa tidak pernah memikirkan nama itu sebelumnya.
Harsa tidak merasakan waktu ujian yang selesai dengan begitu cepat. Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang binatang sihir seadanya. Sebagian besar dari jawabannya merupakan khayalannya sendiri. Para pengawas ujian langsung mengambil kertas mereka ketika suara bel tanda berakhirnya ujian terdengar dari sebuah batu akik yang dipasang di depan ruangan itu. Sembari mengumpulkan kertas-kertas itu, mereka membagikan kertas kecil berwarna berbeda-beda pada setiap peserta ujian. Harsa mendapatkan warna merah.
“Warna itu menentukan dengan siapa kalian akan menjalani ujian praktik. Segera membagi diri sendiri dalam kelompok!” Perintah pengawas ujian mereka.
Harsa mendesah lega mendapati dirinya satu kelompok dengan Aster, namun tampaknya tidak dengan teman-temannya yang lain. Tiga orang Kasarewang menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda. Satu orang Kasarewang perempuan dengan rambut pink panjang dan mata hijau muda tersenyum manis, satu orang Kasarewang laki-laki memandang Harsa dengan curiga, dan Kasarewang lainnya tampak lesu.
“Halo, namaku Rucira.” Kata Kasarewang berambut pink sambil mengulurkan tangannya pada Harsa dengan senyum kekanak-kanakan. “Aku dengar kita berdua peserta termuda tahun ini. Salam kenal, ya.”
“Salam kenal.” Kata Harsa menyambut uluran tangan itu. “Aku Harsa.”
Selanjutnya, dia juga mengelurkan tangan pada Aster, namun temannya yang laki-laki menarik tangan Rucira. “Apa sih? Nggak usah ramah-ramah banget. Ini cuma satu kali ujian.”
__ADS_1
Baik Aster maupun Rucira sama-sama terlalu shock untuk menanggapi kata-kata anak laki-laki itu. Sementara itu, Harsa sibuk menahan rasa marahnya. Sementara itu, anak laki-laki yang satunya tetap menolak ikut percakapan kecil mereka dan tetap memasang wajah lesu.
Perkenalan singkat mereka dipotong oleh pengawas ujian mereka. “Setelah berkelompok, kalian akan dipindahkan ke area kelompok masing-masing dimana terdapat satu binatang sihir liar yang harus kalian jinakkan. Mereka berbahaya, tapi jangan khawatir. Akan ada pengawas ujian yang memastikan kalian baik-baik saja…. Dan juga menentukan apakah kalian akan lulus atau tidak. Tugas kalian hanya satu. Setiap binatang sihir punya kekuatan dan keunikan masing-masing. Oleh karena itu, untuk menghadapi masing-masing binatang sihir dipengetahuan yang berbeda-beda pula. Begitu masuk sini, kalian harus pertama-tama bertahan menghadapi binatang sihir selama jenjang waktu yang ditentukan, dan kalau bisa, menjinakkan binatang sihir tersebut. Melukai atau membunuh binatang sihir itu sangat tidak disarankan kalau kalian ingin lulus. Apa ada pertanyaan?”
“Berapa lama waktu yang ditentukan itu?” tanya salah seorang anak.
“Akan ditentukan oleh pengawas kalian nanti.”
Tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan lain, setiap kelompok terpaksa melangkah masuk melalui portal itu. Kelompok Harsa dan Aster masuk ke sebuah hutan belantara. Baik Harsa dan Aster mengira mereka berada dalam gunung di tengah kota Drestha, tapi reaksi anggota kelompok-kelompok lainnya terlihat berbeda.
“Nggak mungkin… Kita nggak dikirim ke luar tembok bukan?” tanya laki-laki yang tadi terlihat lesu. Dia menunjuk tembok tinggi lebar yang jauh mengatasi pepohonan dan rumah-rumah kota Drestha.
“Gila kamu, ya? Nggak mungkin lah! Kita pasti di bagian pinggir dalam kota!” kata Kasarewan yang menghentikan salam dari Rucira.
“Apa? Kalau di sini, berarti mahkluk sihir yang harus kita hadapi yang tadi di soal?” tanya Rucira dengan gemetaran. “Kriya! Aku takut!”
Kriya, Kasarewang laki-laki yang menjadi temannya itu segera berdiri ke samping Rucira. “Jangan takut aku akan-”
Kata-katanya dipotong oleh suara auman keras yang dapat menghancurkan gendang telinga. Untunghlah baik Harsa dan Aster telah menaruk physis di telinga mereka. Tanah tempat mereka berpijak sampai bergetar keras.
“Aaaa!” Rucira berteriak takut.
Tak bisa dipungkiri, Harsa juga mulai merasa tegang.
“Heii! Sudah jangan takut! Aku di sini!” Suara asing itu terdengar dari atas pohon. Salah satu tentara kerajaan duduk di batang pohon di atas mereka dengan santai. “Aku akan menilai ujian kalian dan akan turun ke sana kalau sampai ada apa-apa! Kalian harus menghadapi binatang sihir yang ada di sekitar sini sampai aku bilang ‘Selesai’! Sudah siap kan?”
Tanpa menunggu jawaban mereka, si pengawas ujian itu dengan gampangnya memutuskan sendiri. “Siap. Ujian, dimulai!!”
__ADS_1