
Dua buah panah bermuatan elemen angin melesat dari atas dan langsung menancap di inti dua formskitter di kiri-kanan Harsa.
“Itu tubuh asli formskitter bulat!!” Teriak Bedo sambil menunjuk formskitter yang berbentuk raksasa dengan tinggi empat meter. Bukan hanya besarnya yang meng Formskitter itu memang terasa jauh lebih kuat daripada yang lainnya. Beberapa formskitter di sekitar mereka memiliki bentuk ghoul yang sama seperti di ruang ujian. Beberapa dari antara mereka ada yang memiliki dua atau empat pasang tangan. Mereka semua tampak mengerikan karena tak punya kulit.
Empat formskitter lainnya menyerang mereka dari empat penjuru. Bedo langsung pergi berpindah ke tempat lain sementara Aster merubah elemen tanah di bawahnya untuk menjadi tombak dari batu dan menahan serangan formskitter itu. Harsa, menarik salah satu pedangnya dan menahan tonjokkan formskitter yang penuh fisik itu. Tangan kirinya semakin sulit digunakan ketika dirinya semakin lelah.
Dua buah panah kembali melesat dan menghancurkan inti dua formskitter lain yang menyerang mereka bertiga. Dari atas, seorang wanita Kasarewang mendarat di depan mereka. Kedua sayap beningnya yang terbuat dari physis dan elemen angin mengepak sekali sebelum menghilang. Angin menyembur dari kepakan sayapnnya itu, menerbangkan formskitter lain yang masih mengerumuni Harsa dan Aster.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” teriak Costa marah sambil berbalik pada Harsa dan Aster.
“Uh, kami mengejar formskitter yang harus dibunuh di ujian standarisasi.” Jawab Harsa.
“Omong kosong! Nggak mungkin para penguji mengirim kalian ke sini!”
“Memangnya ini dimana?” tanya Aster sambil mengelap lumpur yang terbang ke pipinya.
“Kalian berada di luar tempok pelindung Kota Drestha! Garda terdepan dari perang antara Kasarewang dan Formskitter!”
Baru saja penjelasan Costa selesai, dua buah formskitter sudah siap menyerang mereka kembali. Costa menebaskan angin tajam yang dapat memotong tubuh ghoul formskitter itu menjadi dua. Sementara itu, Harsa memanaskan bilah pedangnya hingga menjadi pedang api. Untuk mendapatkan kekuatan ekstra, Harsa mengandalkan vasalnya untuk membuka Kainya dengan lebih lebar. Namun, dia sangat terkejut.
Ketika berada di ruangan marmer putih itu, vasalnya tidak lagi berbentuk dirinya. Sosok dalam ruang marmer putih itu memang Harsa, tapi tangannya yang hitam itu berubah-ubah bentuk seperti api hitam asing yang tak bisa dikendalikan. Saat itu, Harsa beru menyadari seberapa mengerikan apa yang formskitter lakukan padanya. Mereka telah memasangkan sesuatu yang asing, yang bukan Harsa, yang di luar kontrolnya pada jiwanya.
Sangking terkejutnya, bukannya terbuka lebar, Kai Harsa malah tertutup rapat. Elemen api di pedangnya hilang sudah. Dia bersiap-siap untuk menerima pukulan penuh dari tonjokkan formskitter berbentuk ghoul di depannya, namun Aster maju dengan tombak tanahnya.
Ujung tombak tanah itu menembus lengan ghoul formskitter dan tidak dapat dikeluarkan. Formsktter itu memanfaatkannya untuk menonjok Aster, tapi lengannya berubah menjadi abu ketika Bedo tiba-tiba muncul di belakang formskitter itu dan menusuk inti di kepala formskitter itu.
Pertarungan mereka belum selesai. Formskitter raksasa yang merupakan badan utama menerjang mereka bagai badai.
__ADS_1
“Kita serang mereka bersama-sama!” Teriak Bedo. Mereka bertiga lalu berpindah tempat begitu saja ke atas formskitter itu.
Bedo memotong leher formskitter itu, sementara Harsa menusuk perutnya dann Aster memotong salah satu kakinya. Formskitter itu jatuh berlutut, namun dia tidak juga kalah. Dia berteriak kencang hingga membuat kepala Harsa pusing dan tangannya berkeringat dingin. Dari belakang, Costa melepaskan ratusan pisau angin yang menjauhkan Harsa, Aster, dan Bedo dari formskitter itu sekaligus memotong-motong tubuh ghoul formskitter itu menjadi puluhan bagian. Setelah terpotong-potong, Harsa menangkap keberadaan intinya yang berada di bagian dada kiri formskitter. Harsa refleks mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menembakkan elemen laser ke tengah inti formskitter itu. Dia memaksakan vasalnya untuk membuka pintu Kainya lebar-lebar.
Inti formskitter itu hancur menjadi debu dan tubuhnya hilang menjadi abu. Harsa menghela nafas lega karena akhirnya formskitter itu sudah mati. Namun, berbeda halnya dengan Costa. Dia tiak akan tenang sampai anak-anak itu keluar dari garis depan peperangan ini.
“Kalian tidak bisa ada di sini! Kalian harus segera pergi!” Teriak Costa sambil menembakkan sinyal angin pada timnya. Tak lama, Gilda datang bersama serigala-seriga Resa. Dia membawa Harsa, Aster, dan Bedo ke dalam tembok yang melindungi kota Drestha.
Dia membawa mereka ke ruang medis, yang jauh lebih terang daripada ruang-ruang lainnya. Harsa bahkan tak punya tenaga untuk membaringkan dirinya di salah satu kasur yang ada di ruang medis itu. Dia terbaring begitu saja di lantai setelah turun dari serigala yang dia naiki.
Harsa tidak dapat mengeluh, terutama melihat bagaimana di ruangan itu terbaring Kasarewang lain dengan keadaan yang jauh lebih buruk. Tanpa dia sadari, Bedo adalah salah satunya. Bedo tak sengaja terkena serangan pisau angin dari Costa dan lehernya berdarah. Wajahnya terlihat pucat. Dia tak bisa tertawa, menangis, dan berbicara.
“Ya, ampun!” Kata perawat yang berjaga-jaga di sana. “Tolong panggilkan dokter dan perawat yang lain di ruang istirahat. Aku tak akan bisa menangani ini sendiri!” Katanya tanpa berhenti merawat Kasarewang lain.
Gilda mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
“Ka, ka, kamu…. Benar-benar menguasai dekrit hidup?!” kata Bedo terbelalak karena tak percaya.
Aster menggangguk. “Yang sederhana tentu saja.”
“Ooh.” Muka Bedo memerah. “Terima kasih.” Katanya pada akhirnya.
Tak lama dokter dan perawat Kasarewang masuk ke dalam ruangan, Mereka memuji pertolongan pertama yang diberikan oleh Aster. Meskipun sudah berada di ruang perawat, adrenalin Harsa baru menghilang ketika dia melihat wajah Adi yang khawatir masuk ke dalam ruang medis itu. Dia tahu kakaknya akan berteriak dengan penuh pertanyaan, namun entak kenapa Harsa baru merasa dirinya tak lagi berada di dalam bahaya.
***
Keadaan Harsa membaik setelah dia meminum cairan penuh physis yang diberikan oleh perawat di sana. Mereka semua mempertanyakan tangah hitam Harsa, namun tidak ada yang bisa mengambil tindakan atas luka pada vasalnya. Mereka semua hanya berkata bahwa Harsa perlu istirahat.
__ADS_1
Adi memijat-mijat dahinya setelah mendengar cerita Harsa akan apa yang terjadi di ujian. “Aku tak paham. Tak mungkin mereka memberikan formskitter yang begitu berbahaya untuk ujian standarisasi. Memangnya mereka pikir ini ujian untuk kenaikan pangkatku di militer?! Aku akan melaporkan masalah ini, pasti. Keluarga dari siswa yang satu kelompok denganmu juga akan protes.”
“Yah. Aku cuma bisa merasa lega karena ujian ini sudah selesai.” Kata Harsa. “Ujian ini sudah benar-benar selesai kan?”
“Ya. Jangan khawatir.” Kata Adi meyakinkan. “Kamu tinggal menunggu hasilnya saja.”
Harsa menghela nafas. “Kalau kak Adi ngomong itu, aku jadi tegang lagi.”
Mereka berdua sedang berjalan-jalan di atas benteng pertahanan yang mengelilingi Kota Drestha karena Harsa sangat penasaran dan tidak ingin tinggal di ruang medis dimana selalu ada Kasarewang masuk ke sana dengan luka parah. Adi, yang khawaatir akan kondisi adiknya, diizinkan Costa untuk mengambil cuti setengah hari. Di atas benteng itu, Harsa benar-benar dapat merasakan kesibukan tentara Kasarewang yang menghadapi formskitter di atas benteng itu. Mereka saling berjaga, berawas-awas di mana formskitter akan muncul dan menyerang.
“…” Harsa terdiam menikmati pemandangan indah di atas benteng itu. Mereka seperti di puncak gunung, berdiri mengatasi awan-awan. Meskipun indah, suasana di sana sangat mencengkam. “Kenapa aku tidak bisa melihat keberadaan benteng ini dari tengah Kota Drestha?” tanya Harsa. Memang, ada hutan luas antara pusat kota dan benteng itu, namun dinilai dari tingginya, seharusnya benteng itu terlihat dari pusat kota.
“Ada sihir cahaya yang memberikan ilusi bahwa benteng ini tidak ada.” Jawab Adi. “Raja memerintahkan untuk menaruh sihir itu agar penduduk Kota Drestha tidak merasa tercengkam dan terperangkap tinggal di Drestha.”
“Aku tak pernah terpikirkan kalau banyak sekali formskitter yang menyerang kota ini.”
“Ya, tentu saja kita diserang. Ribuan Kasarewang yang tinggal bersama di satu kota menarik perhatian ratusan formskitter setiap harinya.”
“Lalu pekerjaan kak Adi melawan formskitter itu setiap harinya?”
“Ya.” Kata Adi dengan wajah datar. “Kamu bisa bilang ini kantorku.”
Harsa tak terbayang berapa banyak pengalaman bertarung Adi setelah bertahun-tahun bertarung melawan formskitter setiap harinya. “Wow.”
Adi menghela nafas. “Ada bagusnya kamu ke sini. Biar kamu bisa ingat, tak seperti anak-anak Kasarewang yang tak pernah selangkahpun keluar dari pusat kota, kalau Kasarewang sedang berada dalam perang abadi melawan formskitter.”
__ADS_1