
Sebelum pulang ke rumah, Adi ingin mampir ke toko. Mereka kembali menyusuri jalan yang sama, menuju perkotaan. Harsa menyerap seluruh pemandangan kota Drestha. Rumah-rumah mereka sangat berbeda. Rumah-rumah itu dibangun oleh lempengan batu-batu putih yang bertingkat-tingkat. Kebanyakan dari mereka memiliki atap datar yang di atasnya dipasang bangku dan meja tanam. Di atas atap-atap itu, mereka juga menanam pohon-pohon kecil, terutama bunga dan sayuran. Di antara jalanan kota itu, tak satupun terlihat ada kendaraan. Semua orang berjalan kaki.
Adi membawa mereka ke sebuah toko kecil di dekat alun-alun. Masuk melalui pintu kaca yang blur, mereka masuk ke ruang kecil yang di dinding kiri-kanannya dipenuhi oleh lemari-lemari kecil berisi batu-batu akik dan batu berharga lainnya dari berbagai macam warna, ukuran, dan bentuk.
“Wooaahh, rasanya seperti masuk ke dunia lain.” Komentar Harsa terserap oleh benda-benda berkilauan itu. “Ini semua asli?”
“Ya, tentu saja asli.” Jawab Adi heran. “Kenapa kamu pikir ini palsu?”
“Maksudku, untuk toko perhiasan, pengamanannya sangat rendah. Aku jadi bertanya-tanya apakah mereka asli bukan. Mungkin kalau di kota Drestha tingkat kejahatannya sedikit ya.”
“Toko perhiasan? Kenapa kamu berpikir ini toko perhiasan?”
Pembicaraan mereka terputus oleh sang penjual toko itu. Adi memberitahu apa saja yang dia inginkan, dan pria itu kembali dengan satu bungkusan kertas kecil. Setelah membayar dengan satu buah koin emas, mereka keluar dari toko tersebut.
“Ini.” Kata Adi menyerahkan bungkusan itu pada Aster. “Batang cincin untuk cadangan physis yang kamu buat. Cadangan physis itu akan sangat berguna untuk kamu bertarung.”
“Lah! Aku yang ulang tahun, kok Aster yang diberi hadiah.” Protes Harsa.
“Hadiah ulang tahunmu kan nanti, kalau sudah jadi!”
“Eh, benar apa nggak apa-apa nih? Kamu baik sekali, sudah mau membantuku latihan sihir, mau mencarikan mentor, sampai membelikan ini. Aku nggak tahu gimana cara bales kak Adi.”
“Tidak masalah. Aku tulus memberikannya.”
Ragu-ragu, Aster menerima bungkusan kertas itu.
Sebelum pulang, mereka memutuskan untuk memakan kue kering yang dibelikan oleh Aster sebagai kado ulang tahun Harsa di taman alun-alun kota Drestha. Mereka duduk di salah satu meja taman yang terbuat dari besi. Entah kenapa, Adi terlihat ragu dan malu-malu untuk makan di taman Kota Drestha, tapi melihat Aster sudah kelaparan, Adi tak punya hati untuk menolak.
“Hm. Ini enak banget, Ter!” Puji Harsa setelah mencicip satu. “Kamu buat sendiri?”
“Ya, enggaklah. Aku beli dari toko.”
Baru beberapa menit mereka duduk di taman, Harsa mulai menyadari beberapa tatapan heran dari orang-orang di sekitar mereka.
“Uh, kak, kenapa orang-orang melihat kita ya?” tanya Harsa. “Ap akita melanggar peraturan tertentu?”
“Nggak. Kasarewang jarang makan. Itu saja yang membuat mereka bingung. Tidak ada peraturan tentang makan, kok. Kamu tidak perlu pedulikan.”
Meskipun Harsa berusaha tak peduli, dia tetap merasa tak nyaman ditatap terus seperti itu.
__ADS_1
“Bentar, ya. Aku ganjel perut sebentar lalu kita langsung cau.” Kata Aster mulai mengunyah dengan lebih cepat.
“Santai saja.” Kata Adi.
“Tapi aku nggak paham. Kenapa kak Adi tidak bisa mengajariku sihir elemen ruang dan lain-lain? Padahal tadi Kak Adi bisa melakukan sihir dekrit ruang, teleportasi dan membuka dimensi lain.” Tanya Astser bingung.
“Aku hanya bisa sihir dekrit ruang karena mantra.” Kata Adi sambil memperlihatkan cincin-cincin batu akik yang dia pakai.
“Mantra?”
“Ya. Mantra…” Setelah mendapatkan tatapan bingung dari Aster dan Harsa, barulah Adi sadar bahwa dia tidak pernah menjelaskan soal mantra. “Mantra itu seperti apa ya, bahasa Indonesianya? -------? Seperti cetak biru?”
“Template?” usul Harsa.
“Ya, template dari sihir.” Jawab Adi walaupun dia tidak paham apa itu template. “Jadi dengan membuat template, orang-orang lain yang tidak punya keselarasan dengan dekrit tertentu bisa melakukan sihir hanya dengan mengalirkan physis ke mantra tersebut.”
“Lalu apa hubungannya dengan cincin-cincin batu akik kak Adi?” tanya Harsa.
“Mantra hanya bisa disimpan dalam batu yang terbuat dari cadangan physis. Aku tak tahu justru kenapa kalian menyebut cincin ini batu akik.” Kata Adi bingung. “Batu ini terbuat dari physis yang dipadatkan. Sama seperti cadangan physis yang dibuat Aster di tubuhnya.”
“Ooohh.” Baik Aster dan Harsa mengangguk-angguk mengerti.
“Ya.”
“Jadi itu kenapa orang-orang di sini semuanya memakai aksesoris yang mencolok.” Kata Harsa lebih pada dirinya sendiri.
Adi tetap kebingungan. “Apa? Tidak mencolok sama sekali, kok. Semua cincin-cincin ini kan hanya alat yang dipakai sehari-hari.” Bantahnya. “Nanti deh ulang tahun depan aku belikan kamu satu mantra untuk bisa mengendalikan elemen air. Jadi, kita bisa pergi menyelam sama-sama ke Samudra Pasifik dengan tenang.” Kata Adi mengingat janji Harsa akan menemaninya menyelam. “Hah… aku benar-benar butuh liburan.” Keluhnya.
“Kalau begitu belikan sekarang saja, nggak perlu tahun depan.”
“Aku masih butuh menabung untuk beli rumah di sekitar sini.” Kata Adi sambil menunjuk daerah perumahan di dekat alun-alun. “Yha, setidaknya kalau aku nggak bisa beli rumah di sini, akum au rumah portabel yang ada halamannya. Punya aparatemen portabel memang praktis, tapi tidak nyaman untuk berkeluarga. Tidak ada jendela, tidak ada teras, dan juga harus terus mengisi ulang oksigen.”
“Mengisi ulang oksigen? Oksigen di kamar apartemen kak Adi bisa habis?” Hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh Harsa sebelumnya.
“Ya, tentu saja. Tipe apartemenku itu paling murah di antara semua hunian portabel lainnya. Apartemenku itu tidak dibuat di dimensi khusus seperti tempat-tempat pemerintahan atau rumah-rumah mewah. Apartemenku dibuat di tempat kosong di luar angkasa, jadi, ya tentu saja oksigen di sana bisa habis.”
Kali lini Harsa dan Aster menatap Adi dengan terkejut. “Jadi maksud kamu, selama ini kita tidur di luar angkasa setiap menginap di sana?” tanya Aster gelapan.
“Ya.” Jawab Adi bingung melihat kekagetan Harsa dan Aster. “Selama ini ketika masuk ke apartemenku, kita berteleportasi ke luar angkasa. Memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Wow.” Harsa tak bisa berkata-kata. “Apakah aman?”
“Ya, tentu saja. Selama tidak ada masalah dengan pintu teleportasinya tidak masalah. Tidak ada mahluk sihir di luar angkasa. Para arsitektur juga pasti memilih tempat yang bukan merupakan orbit dari planet atau obyek tertentu.”
“Kenapa nggak buka daerah tempat tinggal saja di bumi?” Aster menggeleng-geleng tak mengerti.
“Lebih mudah dan murah daripada memasang mantra yang bisa menyembunyikan sihir dari formskitter. Dari dulu, kadang raja sering memberikan isu untuk Kasarewang membuka kota lain selain Drestha di bumi, tapi sampai saat ini tampaknya belum ada kemajuan dalam hal sumber daya manusia. Lagipula, kalau mau membuat kota baru, yang dipikirkan bukan hanya formskitter tapi habitat mahkluk sihir lain. Jadi, yah. Sampai sekarang wacana itu belum ada perkembangannya.”
“Aku tak percaya… Kalau begitu, dengan sihir dekrit ruang, aku bisa pergi ke bulan?” tanya Harsa.
“Ya, tapi buat apa? Di sana tidak ada apa-apa.”
“Aku cuma mau menancapkan bendera kok di sana.”
“Rasanya aku semakin mengerti kenapa manusia-manusia yang tahu sihir ingin pengetahuan Kasarewang.” Kata Aster pada dirinya sendiri. “Banyak hal yang bisa dilakukan dengan sihir.”
Mereka makan kue di taman sambil menikmati pemandangan kota Drestha yang jauh berbeda dengan pemandangan alun-alun Kota Bandung. Semakin sore tampaknya semakin banyak orang-orang yang berkumpul di alun-alun. Setelah puas makan, mereka kembali memegang tangan Adi dan bertelportasi ke rumah Harsa. Sudah hampir tengah malam ketika mereka kembali ke rumah.
“Ter, apa kamu nggak masalah pulang jam segini?” Tanya Harsa khawatir saat Aster sedang mencoba mencari taksi online.
Aster mengacungkan kunci rumahnya. “Jangan khawatir, aku bisa masuk, kok.”
“Tetap saja, di jalannya kan bahaya.” Kata Harsa berbisik. Kedua orangtuanya sudah tidur.
“Bahaya? Bahaya apa?” tanya Adi.
“Ya, perampok, geng motor, begitu.”
“Aku temani saja.” Putus Adi cepat. “Tanpa sihirpun, aku cukup terlatih bela diri.”
“Ya, aku tadi ingin mengusulkan kita bertiga-”
“Nggak usah. Kamu istirahat saja di rumah.” Potong Adi cepat.
Harsa melirik kakaknya bingung, tapi akhirnya dia tutup mulut dan membiarkan kakaknya ikut naik taksi online ke rumah Aster. Setelah mereka pergi, Harsa terbaring di kamarnya dengan pikirannya. Harsa tahu bahwa dirinya tidak tahu banyak informasi soal Kasarewang dan bagaimana Kasarewang hidup. Sebelumnya, Harsa telah meyakinkan dirinya sendiri untuk lebih memahami kakak dan ayahnya. Namun, bayangan akan interaksinya dengan tentara-tentara di Kota Drestha dan tatapan-tatapan penduduk Kota Drestha membuatnya resah.
Harsa tidak bisa membayangkannya, tapi Adi telah berkata bahwa dirinya bisa hidup hingga delapan ratus tahun. Apakah jika sudah seratus tahun berlalu, atau dua ratus tahun berlalu, dia bisa tetap hidup di Dunia Material, di Bandung, seperti ini, dengan tenang?
Pulang dari menghadapi Adit yang tampaknya tidak menyukai Kasarewang, Harsa sudah sempat membicarakan hal ini dengan Erik. Oleh karena itu, dia sangat bersemangat untuk melihat Kota Drestha. Dia juga setuju dengan Kak Adi, bahwa lebih baik setidaknya dia bisa mendapatkan kewarganegaraan di Kerajaan Kasarewang, tapi…. Benarkah dia bisa hidup di sana?
__ADS_1