
“Sa, kamu nggak apa-apa?” tanya Barasa ketika Harsa menginjakan kaki ke ruang kelas. “Kamu kemana aja?” Seolah memastikan bahwa temannya itu benar-benar nyata, dia memegang bahu dan lengan Harsa.
Bukan hanya Barasa, seluruh teman-teman satu kelas Harsa juga mengerumuni Harsa. “Kamu benar diculik, Sa?” tanya Gina khawatir.
Benar juga, aku sudah hilang selama satu minggu ke belakang.
“Eeh, nggak apa-apa kok genks, aku baik-baik saja.” Kata Harsa menenangkan. Dia tidak merasa nyaman menceritakan tentang formskitter pada teman-temannya.
“Jadi kamu benar-benar lari dari rumah?” tanya yang lain dengan terkejut.
“Hah? Lari dari rumah? Nggak, kok!” Rumor yang beredar di sekolah ternyata di luar bayangan Harsa. Di tambah dengan rumor bahwa Harsa merupakan ‘berandalan’ karena menghajar kakak kelas, imej Harsa di sekolah semakin hancur rasanya.
Untunglah pagi ini Darma datang ke sekolah untuk menjelaskan hilangnya Harsa. Jadi, Harsa tidak dipanggil ke ruang guru untuk masalah ini. Menyerah dengan imajinasi teman-temannya, Harsa menampik semua pertanyaan-pertanyaan tanpa menjelaskan banyak hal. Namun, tatapan khawatir dari Barasa dan Elis tak bisa dia tampik.
“Beneran kamu nggak apa-apa, Sa?” tanya Elis di pinggir meja belajarnya. “Aku khawatir banget loh, waktu dengar pengumuman di sekolah untuk melaporkanmu kalau sampai ketemu.”
Muka Harsa memerah membayangkan seperti itu terjadi. “Iya, nggak apa-apa kok.”
“Kamu memangnya kemana sih? Masa gak mau cerita?” tanya Barasa penasaran.
Harsa tersenyum tak enak. “Nanti ya, aku pikirkan dulu. Daripada ngomongin itu, aku mau minta tolong fotokopi catatan dong. Aku pasti ketinggalan banyak banget pelajaran.”
Barasa mengancungkan jempolnya tinggi-tinggi. “Siap! Ee…, tapi sebenarnya, Sa, ak juga punya permintaan…”
“Iya? Apa?” Tanya Harsa tanpa banyak pikiran. Dia masih sibuk membuka-buka buku pelajarannya.
“Hm, mau bertarung dengan kakekku nggak?”
__ADS_1
Harsa langsung menatap Barasa. “Hah?”
***
“Jadi, setelah ketemu satu hari itu, mau bertarung denganku karena aku ‘beda’?” tanya Harsa tak mengerti. Pulang sekolah, Harsa menumpang motor Barasa ke rumahnya. Pada akhirnya, dia setuju karena orang yang meminta ini merupakan sahabatnya sendiri. Namun, Harsa masih tak lepas pikir, kenapa kakek itu ingin bertarung melawannya?
“Ya…” Barasa mengangguk-angguk. “Ayolah, Sa. Beneran deh. Kakekku juga pasti akan sangat terhibur kalau sampai ada apa-apa dengan perguruan kami.”
“Lah, memangnya kenapa dengan perguruanmu? Bukannya kemarin Aster jadi ikut belajar di sana?”
“Ya, tapi dia sudah berhenti. Yah, wajar saja sih anak kelas tiga kan mau ujian. Selain Aster, ada satu orang anak lagi sih. Yang masuk karena melihatku lomba. Tapi, selain itu, kami tak punya murid lagi.”
Ketika sampai di ruang untuk latihan, murid itu sedang belajar merasakan physis bersama kakek Barasa. Begitu Harsa masuk ke ruangan luas itu, Harsa langsung beradu pandangan dengan kakek Barasa. Seolah kakek itu, bisa tahu bahwa Harsa akan masuk ke ruangan. Setelah salaman singkat, kakek Barasa meminta semua orang untuk keluar dari ruangan tempat latihan itu.
“Dengan begini, kamu bisa memakai teknikmu dengan sebaik mungkin, bukan?”
“Siap?” tanyanya.
Harsa menggangguk. “Ya, aku rasa. Tapi, kek. Aku tak paham kenapa kakek ingin bertarung denganku.”
“Bukan kah sudah jelas? Karena kamu berbeda. Orang seperti aku dan Barasa bisa memanfaatkan tenaga dalam dengan semaksimal mungkin, tapi kamu… Kamu meluaskan tenaga dalammu ke luar.”
Tanpa menunggu jawaban Harsa, dia menyerang ke depan dengan langkah-langkah yang terlatih. Tonjokkannya gesti dan tak terbaca oleh gerakan mata. Untunglah, dengan auranya, Harsa masih dapat merasakan dimana dan bagaimana tonjokkon itu akan mendarat. Bukan berarti Harsa dapat membalas serangan-serangan itu. Dia hanya dapat menguatkan bagian tubuh yang dia serang dengan physis.
“Ayo, aku tahu kamu bisa lebih dari ini!” Teriak Kakek Barasa.
Ugh. Batin Harsa. Dia tidak benar-benar ingin aku memakai elemen, bukan?
__ADS_1
Namun, tampaknya kakek Barasa memang ingin Harsa memakai elemennya. Apa boleh buat. Pikir Harsa. Dia merasakan setiap elemen elektromagnetik di dalam auranya, lalu memerintah mereka untuk memberikan muatan positif pada dindidng seberang ruangan, dan muatan negatif pada dirinya. Dalam sekejap, Harsa tertarik ke dinding ujung yang belasan meter di seberang ruangan. Setelah terdapat jarak di antara mereka, Harsa mulai mengirimkan tebasan-tebasan api kea rah kakek Barasa.
Sekejap, Harsa menyesali keputusannya. Dia takut membakar rumah Barasa. Namun, kakek Barasa menerima serangan itu. Tangannya mengebaskan elemen apinya dengan physis dirinya yang meledak-ledak. Saat itulah, Harsa tahu bahwa dia tidak bisa menang.
Kakek Barasa menutup jarak di antara mereka. Harsa yang tak termotivasi untuk bertarung, menyerah begitu saja. Dia membiarkan tubuhnya dibanting dan ditindih. Berkat physis, badannya tidak merasa sakit meski ditonjok dan dibanting. Setelah beberapa lama, Kakek Barasa melepaskannya.
“Ah..” kata Harsa memegang bahunya yang terasa pegal.
“Kenapa kamu menahan diri?” tanyanya.
Dahi Harsa berkerut. “Aku tak mau sampai merusak rumahmu atau membunuhmu.” Kata Harsa jujur. Jika mau, dia pasti bisa menembakkan laser pada kakek Barasa, tapi dai tentu tidak bisa melakukan hal seperti itu.
Kakek Barasa tertawa. Dia seolah senang mendengar bahwa Harsa dapat menghancurkan rumahnya. “Ya ampun. Kamu anak baik-baik yang memikirkan orang lain, ya.” Ungkap kakek itu sambil duduk bersila. Harsa mengikutinya. “Sekarang aku punya pertanyaannya. Waktu pertama kali kamu ke sini, kenapa kamu nggak mau mengaku?”
“Aku… aku cuma merasa aku manusia biasa saja.” Kata Harsa sejujurnya.
“Kenapa kamu merasa begitu?”
“Ehh, karena aku sudah hidup menjadi manusia biasa sepanjang hidupku.” Kata Harsa mulai bingung.
“Tapi, kamu bukan kan? Yang aku lihat dari kamu, kamu tak nyaman dengan dirimu sendiri.”
Harsa menggeleng. “Bukan seperti itu. Tapi aku tak melihat ada tempat untukku di sini, ataupun tempat untukku di sana.” Ketika dia bercerita, memori ketika dia dan Aster dibicarakan ketika mereka mengantri untuk mendaftar ujian atau ketika dia tak nyaman membicarakan hal ini dengan ayahnya. Tanpa sadar, Harsa terus berbicara. “Aku juga sudah berusaha untuk masuk ke masyarakat sana,” katanya merujuk pada ujian standarisasi yang baru dia ikuti. “Tapi aku juga tak merasa nyaman. Sementara dengan teman-teman di sini…” Tentu saja dia tidak bisa menceritkan tentang dirinya sebagai Kasarewang.
Percakapan dengan kakek Barasa itu menyerap jauh dalam diri Harsa. Dia terus menerus merenunginya, sampai kesadaran bahwa dia berbeda muncul seolah-olah nyata di depan mata. Walaupun aku merasa lahir dan besar seperti manusia biasa… aku bukan, bukan?
__ADS_1