Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Akhir Sekolah (6)


__ADS_3

Harsa merasa aneh. Di matanya, bahkan di kulitnya, dia dapat merasakan angin beliung itubertiup dengan kencang. Akan tetapi, dia, Gilda, Edi, dan Barasa tidak terbawa oleh angin beliung itu. Hanya para formskitter yang terbang jauh dan tersayat-sayat oleh angin kencang ini. Angin ini pasti merupakan sihir seseorang. Harsa yakin itu.


Harsa merasa buta ketika dia tidak dapat memakai auranya setelah auranya aktif sekian lama. Dia biasanya langsung dapat menyadari siapa yang datang, namun kali ini, dia tidak bisa tebak siapa yang menghempaskan sihir itu.


Seharsnya Harsa bisa menebak, tentu saja, Adi. Kakak laki-laki Harsa itu datang dengan langkah tegap. Dia tidak datang sendiri. Seluruh regu Adi datang. Costa siap dengan sayap transparannya yang terbentang. Resa siap dengan serigala-serigalanya yang siap menerkam.


“Sihir angin milikmu sudah spektakuler.” Puji Costa. Dia tersenyum bangga. “Aku tahu kamu bisa melakukannya.”


Adi tidak sedang mendengarkan Costa. Matanya tertuju pada dua orang formskitter yang mereka hadapi. Matanya memicing melihat formskitter bertopeng dan bertudung itu. Tangannya terkepal karena marah. Namun, Adi menahan teriakkan dalam dadanya.


“Apakah kita akan bertarung?” tanya Adi pada kaptennya.


“Kita harus mengamankan adikmu dan Gilda dulu.” Jawab Costa tegas. “Kecuali jika mereka memaksa bertarung.”


Adi maju selangkah. Tubuh lemas Gilda masuk ke jarak pandangnya, tapi matanya tak bisa teralih dari formskitter bertudung hitam itu. Dia sudah ingin memprovokasi formskitter-formskitter itu, karena dia ingat jelas, siapa formskitter itu. Jika saja tidak ada Harsa atau Costa…


Mereka bertatap-tatapan untuk beberapa lama. Kemudian, formskitter itu menaruh tangannya ke depan. Ikatan hitam yang melumpuhkan Harsa berubah bentuk menjadi seekor kucing hitam raksasa. Harsa terikat di ekornya yang bercabang-cabang. Kucing hitam raksasa itu berlari kencang ke arah para formskitter.


“Enak saja!” Teriak Adi mengejar. Dia merubah physisnya menjadi elemen air. Dengan cambuk air di tangannya, Adi menjegal kucing rakasa itu. Tak kurang, dia memerintahkan agar elemen airnya menyelimutinya kucing raksasa itu, kemudian membekukannya.

__ADS_1


Adi berlari dan berdiri di atas kucing-formskitter bersama Harsa yang baru saja dia bekukan. Wajahnya masih menantang kedua formskitter itu. Adi tak tahan untuk menyerang mereka, walapun dadanya masih berdegup kencang karena ketakutan.


Pada akhirnya, formskitter itu meletakkan tangannya, lalu mereka mulai berlari dari Adi dan teman-temannya.


“Tidak perlu dikejar! Ini bukan waktunya untuk mengejar!” Kata Costa memperingatkan Adi.


“Aku tahu.” Kata Adi kecewa. Dia turun dari batu es yang baru saja dia buat, kemudian membelahnya menjadi dua bagian. Badan kucing hitam itu dia hancurkan, sementara ekornya dia cairkan.


Harsa terbatuk-batuk karena tidak bisa bernafas selama badannya ikut terbekukan. Naluri pertamanya adalah mengeluarkan api dari tubuhnya. Akan tetapi, dia tak sanggup membuka Kainya. Jadi dia hanya tergeletak di sana dan menggigil kedinginan.


“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Adi sambil membantunya berdiri.


Adi menghela nafas, kemudian beralih menggendongnya. “Apa kamu terluka di bagian lain?”


Harsa menggeleng. “Sepertinya nggak…. Aku belum merasakan sakit dimanapun.”


“Baguslah.” Jawab Adi datar.


Mereka berdua kembali ke tempat Gilda dan yang lain. Di sana, Edi dan Resa sedang memberikan Barasa pertolongan pertama. Resa berkomat-kamit sendiri ketika berkonsentrasi menyihir luka Barasa untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Harsa sedikit lega, Resa ada di sini. Dia menguasai Dekrit Hidup. Harsa menjadi lebih yakin bahwa Barasa dapat baik-baik saja.

__ADS_1


“Barasa! Bagaimana keadaannya?”


“Hush!” Edi berdiri, menarik Harsa ke tempat lain. “Dia sedang konsentrasi. Edi bilang padaku bahwa luka Barasa cukup fatal untuk ukuran manusia. Formskitter itu menyerang langsung ke otaknya. Ubun-ubunnya mungkin retak, atau lebih parah lagi. Kamu harus tahu, aku sudah melarang anak itu untuk pergi ke sini. Tapi dia bersikeras sendiri. Dia bilang-”


“Dia janji padaku untuk membantuku kalau aku dalam bahaya.” Potong Harsa penuh penyesalan. “Aku…”


“Dia akan hidup.” Janji Resa yakin. “Aku tak yakin dia akan sadar, tapi.”


Harsa malah semakin ingin menangis.


Adi membawanya pergi dari pemandangan itu. Dia berjalan ke arah Gilda yang terbaring lemas. Costa sedang terduduk di sebelah tubuh Gilda yang terbaring lemas itu. Wajahnya pucat dan senang. Dia diam tak berkata apa-apa.


“Kapten.” Panggil Adi, alam Bahasa Kasarewang tentunya. “Gilda….  Bagaimana denganya?”


Costa menggeleng. “Dia telah terhempas ke Dunia Roh.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2